Share

Dekapan Mantan Majikan
Dekapan Mantan Majikan
Author: Dinara Sofia

1

Author: Dinara Sofia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-16 10:32:31

“Tuan, hari ini suami saya wisuda. Tugas saya mendukung cita-citanya udah selesai, dulu dia janji mau bahagiakan saya kalo udah sarjana. Saya izin berhenti kerja,” ucap Miranda dengan kepala tertunduk.

“Loh, itu kan masih lama prosesnya, Mira. Ijazah juga ga langsung keluar, belum lagi cari kerja. Kerja lah di sini sementara, kamu sama suamimu mau makan apa nanti,” tolak Rolan.

Miranda bersikeras bahwa tabungannya cukup untuk menghidupi mereka berdua selama enam bulan ke depan. Rolan tidak bisa menahannya lagi, lalu mengabulkan permintaan Miranda.

“Padahal kamu rajin, jujur, bertanggung jawab. Pakaian saya semua rapi dan bersih, saya juga sering liat kamu baca buku saya yang ada di meja santai sana.”

“Oh … suamimu jurusan hukum, kan? Nanti aku bantu deh kerja di tempat aku,” sambung Roland.

“Serius, Tuan? Waduh … ngerepotin jadinya, terima kasih, Tuan,” sahut Miranda dengan wajah berbinar.

Kini Miranda sudah mengganti pakaiannya, wanita itu sengaja mengenakan pakaian terbaik yang dia miliki, kemudian memesan ojek untuk membeli buket bunga segar yang berada tidak jauh dari kediaman Rolan.

“Kalo naik ojek lagi, jalannya lumayan jauh. Bunga ini bisa layu. Kalo naik mobil ongkosnya mahal juga, empat puluh enam ribu,” gumam Miranda.

Miranda akhirnya memilih memesan mobil melalui sebuah aplikasi, sepanjang jalan bibirnya dihiasi senyum membayangkan betapa bahagia suaminya nanti saat melihat dirinya membawa bunga yang menurutnya mahal.

Miranda kini sudah tiba pada sebuah perguruan tinggi negeri yang terkenal, dia menarik napas dalam. Dirinya begitu gugup hendak bertemu suaminya, jantungnya berdebar kencang karena rasa bahagia. Usai merapikan pakaiannya yang sederhana tersebut, kakinya terayun menyusuri lorong mengikuti petunjuk arah yang tertera di dinding.

Sepatu lusuh dengan sol bagian bawah yang tipis tidak membuatnya rendah diri, dalam benaknya dia hanya ingin bertemu Bayu dan memeluknya erat. Tumitnya bahkan merasakan lantai keramik yang dia pijak, tetapi itu semua tidak dia pedulikan. Beberapa pasang mata yang mengenakan toga menatapnya dengan pandangan merendahkan, Miranda membalas dengan anggukan kecil dan tersenyum tulus sebagai sikap ramah.

Langkah kakinya terhenti seketika tatkala melihat suaminya sedang bergurau mesra dengan seorang wanita cantik. Bahkan keduanya begitu akrab, dikelilingi beberapa lelaki yang memuji Bayu, suaminya.

Wanita itu tampak begitu cantik mengenakan kebaya brokat biru muda dengan desain modern, dengan rok satin hitam yang memperindah penampilannya. 

Penampilan itu sungguh berbanding terbalik dengan Miranda yang mengenakan kemeja merah tua dan celana kulot hitam yang dia kenakan. 

Tangan wanita itu begitu santai menggelayut di lengan jas Bayu, sementara Bayu membalasnya dengan usapan lembut di punggung tangan sang wanita. Senyum Bayu begitu merekah dan tampak begitu bahagia, sebuah senyuman yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Miranda lihat di rumah kontrakan mereka yang sempit.

‘Oh, mungkin Bayu lagi cari orang dalam buat nanti lamar kerja. Makanya dia sengaja akrab begitu, cari kerja itu kan ga gampang, jadi butuh dekingan,’ pikir Miranda menepis pikiran buruknya.

Miranda kemudian kembali akan mengayunkan langkahnya, dia mengurungkan ketika melihat Bayu mencium kening wanita yang bergelayut manja di lengannya. Suara tawa pun berderai dari mereka yang berada di depan Bayu.

Miranda merasa kepalanya membesar, tangannya meremas tangkai buket bunga dengan hidung kembang kempis. Wanita itu merasa kedua bola matanya memanas, dadanya terasa begitu sesak, seolah oksigen tidak lagi cukup untuknya saat ini.

"Bayu … selamat atas wisudanya," ucap Miranda dengan suara bergetar. 

Miranda memeluk buket bunga segar di pelukannya begitu berat, bibirnya dipaksakan tersenyum menutupi hatinya yang luka. Mendengar suara yang begitu familiar, tawa Bayu langsung terhenti.

Bayu menoleh perlahan dan melihat sosok Miranda yang berdiri dengan pakaian terbaiknya, yang di mata orang-orang kampus tetap terlihat sangat lusuh, wajah tampan Bayu seketika berubah. Ketakutan statusnya terbongkar, rasa malu dan kemarahan tergambar begitu jelas dari tatapan matanya.

"Eh, Bayu. Siapa ini? Saudara kamu dari kampung?" tanya salah satu teman pria Bayu sambil memandang Miranda dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan merendahkan.

Wanita cantik di sebelah Bayu turut menoleh, menaikkan sebelah alisnya yang diukir rapi. Menatap penampilan Miranda dengan wajah heran.

"Iya, Sayang. Siapa dia? Kok penampilannya ... kumuh gitu? Mau kasih bunga ke kamu juga?" tanya Leni, wanita yang bersama Bayu.

Miranda menahan napas, bibirnya tetap mengukir senyum. Jantungnya berdetak kencang bak genderang perang, menanti jawaban dari bibir pria yang selama lima tahun ini dia hidupi dengan peluh dan air mata. Berharap lelaki yang sudah menjadi suaminya selama lima tahun itu, mengakui keberadaannya sebagai istri yang setia dan mendukung menggapai cita-citanya.

Bayu berdeham sebelum menjawab, kemudian berdiri di depan Miranda dengan begitu angkuh. Wanita itu menyodorkan buket bunga, lalu Bayu menarik buket bunga dengan kasar, dan menatap Miranda dengan tatapan dingin.

Miranda tersenyum, dia menarik napas lega dan bangga kepada suaminya yang akan mengenalkan dirinya kepada teman-teman suaminya.

"Dia itu bukan siapa-siapa, Leni," ucap Bayu dengan suara keras, seolah-olah memastikan seluruh temannya mendengar dengan jelas, "dia ... dia ini pembantu di rumah ibuku di kampung. Disuruh Ibu periksa papan bunga yang dipesan buat foto wisuda nanti, eh …, malah ikut-ikutan ke tempat wisudaku sambil bawa bunga."

Seketika senyum menghilang dari wajah Miranda, kini dia merasa bahwa bumi di bawah kaki Miranda rasanya runtuh seketika dan dia terperosok ke dalam lubang dalam yang tidak berujung. Lantai keramik yang dingin yang menembus sol sepatu lusuhnya kini bisa dia rasakan dengan jelas. 

“Oh … pembantu. Pantesan kumal begitu, mana mungkin anak orang kaya punya kenalan begini,” celetuk Leni.

“Pembantu … anak orang kaya …,” gumam Miranda sambil menatap suaminya.

Bibir Miranda bergetar dengan tubuh yang terasa lemas, tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Bahkan sekadar menelan ludah di tenggorokannya saja begitu sulit, tatapannya nanar melihat sekelompok orang yang kini menatapnya dengan sinis.

Hatinya semakin sakit, seolah diremas dari dalam tatkala melihat Bayu menghempaskan buket bunga yang dia beli dengan rasa cinta. Lelaki itu menginjak-injak bunga itu sambil menghina bahwa bunga itu begitu kampungan dan murahan, Miranda menahan kaki suaminya agar tidak menghancurkan buket bunga yang dia beli dengan uang yang susah payah dia cari. Namun, Bayu malah menginjak tangannya dan menendang tangan Miranda yang menghalangi buket bunga itu.

Miranda menggelengkan kepalanya, tangisnya pun pecah dan meratapi bunga yang kini sudah hancur. Sementara Bayu berdiri dengan sombong, mengenakan jas yang dibeli dari upah mencuci. 

“Bayu ... kau berani menyebutku pembantu?” tanya Miranda sambil menarik lengan Bayu dengan hentakan kasar dan mata yang memerah menahan amarah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dekapan Mantan Majikan   17

    Rolan tersenyum kecil, dia menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.‘Mira cerdas juga, dengan posisi itu … maka posisi Bayu ada di bawahnya. Dia manfaatkan posisi dia di perusahan ini, di kantorku dia cuma bantu sesekali,’ batin Rolan.Wajah Bayu tampak bimbang, benaknya dipenuhi oleh rasa enggan dan dadanya menahan amarah yang bergemuruh, Bayu akhirnya terpaksa menganggukkan kepalanya, menerima tawaran itu daripada harus menanggung malu menjadi pengangguran bertitel sarjana.“Baiklah, karena Anda setuju dengan posisi ini. Maka kami memberitahukan bahwa upah pokok yang Anda dapatkan adalah lima juta rupiah, tunjangan dan potongan pajak dan sebagainya akan muncul di bulan kedua.”“Masa percobaan adalah tiga puluh hari, akan dievaluasi kemudian untuk kontrak enam bulan selanjutnya,” terang pria kurus berkacamata.“Wawancara seleksi selesai, bawa surat rekomendasi ini ke ruang HRD,” kata pria gemuk, pamannya Leni.Dia berpikir bahwa dengan gaji lima juta rupiah

  • Dekapan Mantan Majikan   16

    Bayu menatap Miranda dengan penuh amarah, merasa wanita itu tidak layak duduk di sana.“Kamu itu benar-benar gak tahu malu ya, Mira! Tempat ini adalah khusus terhormat, bukan pasar atau tempat babu bisa duduk seenaknya!” bentak Bayu sambil menunjuk wajah Miranda dengan map ijazah di tangannya, mengabaikan tata krama dasar seorang pelamar kerja. “Para bapak penguji yang terhormat, wanita yang duduk bersama Anda ini adalah pembantu saya yang melarikan diri dari rumah. Dia sama sekali tidak punya pendidikan tinggi, hanya lulusan SMA, dan tidak pantas berada di ruangan ini!” seru Bayu dengan wajah pongah.Mendengar makian yang keluar dari mulut Bayu, tiga orang pewawancara senior yang duduk di sisi kiri langsung mendelik ke arah Miranda.Bayu yang melihat reaksi tersebut seketika merasa di atas angin, menduga bahwa seluruh pewawancara terkejut dan merasa tertipu oleh kehadiran wanita yang dia sebut sebagai pembantu itu. Namun, pria itu terlalu buta oleh keangkuhan untuk menyadari kenyata

  • Dekapan Mantan Majikan   15

    “Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan

  • Dekapan Mantan Majikan   14

    “Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya

  • Dekapan Mantan Majikan   13

    “Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d

  • Dekapan Mantan Majikan   12

    Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status