Share

2

Author: Dinara Sofia
last update publish date: 2026-06-17 12:11:00

“Lepas tangan kotormu itu!” sergah Bayu, “memang kamu pembantu, kan? Memangnya mau berharap apa dari aku? Sadar diri, aku ini sarjana, gak pantes buat kamu.”

Kata-kata Bayu menghujam begitu  dalam, bak ribuan anak panah yang menembus tubuhnya secara bersamaan. Miranda tersenyum sinis, mengangkat satu sisi bibirnya saja dan menatap lekat suaminya.

Miranda masih berdiri di sana, menganggap bahwa ini hanya candaan yang jahil dari suaminya saja, wanita itu masih menolak kenyataan pahit yang begitu jelas di depan mata.

“Bayu, kamu jangan keterlaluan. Ga usah becanda, aku ini istri kamu, bukan pembantu!” seru Miranda.

Mendengar itu, kedua bola mata Leni terbelalak dan melepas tangannya dari lengan Bayu dengan kasar. Bibirnya cemberut sambil menatap lelaki di depannya penuh rasa cemburu yang begitu besar.

“Bayu, dia istri kamu? Brengsek banget sih kamu.” Leni memukul dada Bayu dengan marah.

“Kamu salah paham, Sayang. Jangan percaya sama kata-kata dia, lagian … kalo aku suaminya, gak mungkin ada kamu. Menurutmu, aku pantes gitu sama dia?” tanya Bayu alih-alih menyudutkan Miranda.

“Bener tuh, Len. Masa sih Bayu seleranya pembantu,” celetuk teman Bayu.

“Tadi malam ibuku telepon, katanya barangnya udah sampai belum? Dia ini namanya Miranda, pembantu ibuku di kampung. Disuruh anter barang sama periksa papan bunga buat foto wisuda,” terang Bayu tenang.

Mendengar penjelasan Bayu yang begitu runut dan tenang, Leni yang membuang pandangan ke arah lain sambil menyilangkan kedua tangannya di dada melirik Miranda. Tatapannya dihiasi dengan angkuhan yang menghias wajah cantiknya.

Leni melangkah maju, mendekati Miranda dengan tatapan merendahkan sambil memperhatikan penampilan Miranda dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.

"Oh ... jadi benar-benar cuma pembantu? Aduh, Mbak … Mbak. Kamu itu kok ga tau diri banget, ya. Kain lap kok berharap dilirik sarjana anak orang kaya.”

“Punya nyali dari mana sih berani suka sama pacar saya? Makanya jangan kebanyakan nonton drama, mana ada orang kaya beneran mau sama pembantu? Itu cuma ada di drama, biar laku. Jangan halu, deh,” ejek Leni dengan wajah angkuhnya.

Miranda seketika terdiam, genggaman tangannya di lengan jas Bayu terlepas begitu saja dengan perlahan, lagi-lagi tubuhnya terasa lemas karena dihantam oleh kenyataan pahit sekali lagi.

Miranda memegang dadanya yang terasa nyeri, sakit tetapi tidak berdarah. Tidak ada luka nyata yang bisa dilihat, tetapi begitu menyakitkan.

Lututnya terasa begitu lemas, tatkala kata-kata Leni yang menyebut suaminya adalah kekasih bagi wanita cantik itu. Pernyataan itu terngiang-ngiang dengan jelas di benaknya, Miranda tidak menyangka, selama dirinya memeras keringat sebagai buruh cuci di kediaman Rolan, suaminya malah membagi cinta dengan wanita lain.

"Maaf ya, Len. Ibuku di kampung emang agak kurang tegas sama pembantunya, makanya yang begini jadi ngelunjak dan gak tahu diri," sahut Bayu tanpa merasa bersalah kepada istrinya, "huss … pergi sana! Tugas kamu kan udah selesai, jangan keluyuran di kampus ini, bikin malu aja."

“Pacar? Mbak … dia itu suamiku. Bayu, jelaskan ada apa ini? Kamu selingkuh sama dia selama ini? Kamu bilang sama dia kalo kita suami istri,” kata Miranda menaikkan nada suaranya.

Bayu menatap Miranda dengan mata melotot dan wajah penuh kebencian serta amarah, lalu mengibaskan tangannya seolah sedang mengusir lalat yang mengganggu saja. 

“Mira, kamu jangan keterlaluan. Kamu itu cuma tamat SMA, gak pantes buat aku yang sarjana,” balas Bayu sinis.

Mira tidak kuasa menahan amarahnya lebih lama lagi, tangan yang tadinya terkepal dengan cuping hidung yang kembng kempis, melayangkan sebuah tamparan keras di pipi Bayu.

Tidak terima dirinya dihina di depan kekasih dan teman-temannya, Bayu membalas tamparan itu hingga Miranda terhuyung.

“Bayu, kau … kau berani pukul aku?” tanya Miranda dengan suara bergetar.

“Memang kamu pantas dipukul. Dengar, aku menghargai kamu sebagai pembantu yang setia, tapi ini udah keterlaluan. Leni, ayo pergi,” ajak Bayu sambil menggandeng tangan Leni.

"Bentar dulu, Sayang," ucap Leni sambil menahan dada Bayu.

Wanita itu merogoh tas mahalnya, mengeluarkan selembar uang pecahan seratus ribu, lalu melempar uang itu tepat di wajah Miranda hingga lembaran merah itu jatuh di atas lantai keramik, di dekat buket bunga yang telah hancur diinjak oleh Bayu tadi.

Uang itu seperti tamparan keras yang meruntuhkan harga diri Miranda sebagai seorang wanita, dirinya hanya diam saja sambil menatap Leni dengan tatapan yang aneh.

"Apa liat-liat? Ga pernah dikasih uang segitu? Oh … biasa dikasih receh, sih. Itu tuh ongkos buat kamu.”

“Kamu ambil uangnya, oh, jangan lupa bersihkan sampah bunga kampunganmu ini. Lantai jadi kotor gara-gara ulah kamu, setelah itu, kamu cepat angkat kaki dari sini sebelum satpam kampus menyeret kamu keluar. Tempat ini terlalu mewah untuk diinjak orang kumal sepertimu," kata Leni ketus, disambut tawa mengejek dari teman-teman kuliah Bayu.

Miranda menatap lembaran uang di lantai, lalu beralih kepada Bayu. Air matanya menetes tanpa bisa dibendung  lagi. Hatinya begitu hancur, ingin rasanya dia berteriak histeris, memaki untuk meluahkan semua perasaan dan melepaskan emosi yang kini membara di dadanya, guna memberitahu di depan semua orang yang berada di sana, bahwa pria yang mereka puji ini adalah suaminya! 

Pria yang kuliahnya dibiayai dari setiap tetes keringat yang keluar dari tubuhnya yang ringkih dan kurus. Semua urung dia lakukan, dan memilih tetap tenang.

Miranda maju satu langkah agar mendekat ke arah suaminya, Bayu malah mundur satu langkah seolah enggan didekati oleh Miranda. Lelaki itu justru merangkul pinggang Leni dengan mesra di depan matanya.

"Ayo, Len, teman-teman. Kita ke aula, ngapain juga aku melayani pembantu stres ini, buang-buang waktu aja," ajak Bayu sekali lagi dengan suara lantang.

Miranda menahan langkah Bayu dengan menahan lengannya, berdiri tepat di sisinya dengan posisi di samping telinga lelaki pengkhianat itu.

"Oke, aku kan pembantumu, dan kamu malah ngaku anak orang kaya dan berlagak di sini. Bayu ... pastikan kamu ingat kata-katamu hari ini dengan baik."

"Soalnya … setelah hari ini, kamu harus bayar setiap uang yang pernah dikasih 'pembantu' ini, demi kamu bisa lancar kuliah, membelikan jas rapi yang lagi kamu sombongkan sekarang," bisik Miranda.

Bayu mengerutkan kening, wajahnya berubah ketika mendengar ancaman yang terdengar begitu tenang itu.

"Maksudmu apa?" tanya Bayu berbisik, tentu saja karena tidak ingin Leni mendengar.

Miranda melirik sekilas ke arah buket bunga yang telah hancur diinjak sepatu Bayu. 

Tangannya terkepal, matanya dipenuhi sorot kebencian mendalam. Beberapa mahasiswa yang lewat berbisik-bisik sambil menunjuk Miranda dengan pandangan jijik.

Miranda perlahan menyentuh kelopak bunga yang sudah hancur tidak berbentuk di atas lantai. Bayangan bahagia dirinya beberapa waktu lalu di perjalanan berputar jelas di pelupuk mata dengan jelas, Miranda tertawa kecil, sebuah tawa getir yang menertawai nasibnya saat ini, sekaligus merutuk atas kebodohannya yang percaya akan janji Bayu di masa lalu.

‘Dasar manusia gak tau diri, lima tahun kita menikah dan aku mencintaimu dengan bekerja untuk memenuhi impianmu yang menumbalkan aku. Bayu … kamu sarjana hukum, kan? kupastikan kamu kembalikan semuanya sampai sen terakhir,’ batin Miranda dengan perasaan terluka.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dinara Sofia
sabaaaaar, sabaaaaar, jangan mayah--mayah, nanti aus lagi, lagi musim.ooamas soalnya, Kak
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
tahan esmosi nur tahan dulu .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Mantan Majikan   94

    "Hei, kok Jam tangan itu aneh. Itu bukan jam biasa, Leni. Itu GPS!" seru pengemudi panik.Leni membalik tubuh, matanya melebar melihat titik merah di pergelangan Adhyastra berkedip. "Copot! Cepat copot!" teriak Leni panik.Sayangnya sebelum mereka bisa bertindak, lampu sorot polisi menyala di depan. Tiga mobil patroli menghadang jalan di ujung gang. Suara pengeras suara menggema. "Berhenti, keluar dari mobil!” seru suara dari pengeras suara.Di belakang, mobil Rolan berhenti tepat di pintu masuk gang. Miranda turun langkahnya tegas menghampiri mobil polisi. Rolan menyusul, dengan wajah cemas.Dua jam kemudian, di kantor Polsek.Adhyasta duduk di pangkuan Miranda, wajahnya masih sedikit merah tetapi sudah tersenyum karena Bi Minah membawakan cokelat kegemaran Adhyasta.Rolan berdiri di meja interogasi, menghadapi Leni yang kini diborgol."Leni, kau tahu kau sudah melanggar pasal 330 ayat (1) KUHP tentang penculikan dengan permintaan tebusan?" tanya Rolan tenang. "Ancaman pidana p

  • Dekapan Mantan Majikan   93

    Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S

  • Dekapan Mantan Majikan   92

    “Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik

  • Dekapan Mantan Majikan   91

    Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y

  • Dekapan Mantan Majikan   90

    Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe

  • Dekapan Mantan Majikan   89

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu dijaga begitu ketat hingga ketegangan terasa menusuk sampai ke lorong luar. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap menyisir setiap sudut area gedung, memastikan proses peradilan berjalan dengan aman dari kerumunan media maupun simpatisan.Sesuai ketentuan hukum untuk kasus kejahatan seksual dan tindak pidana berat yang melibatkan trauma korban, majelis hakim menetapkan persidangan berlangsung secara tertutup.Davian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih lusuh dan celana kain hitam. Wajahnya yang dahulu penuh keangkuhan kini tampak kusam, menyisakan bekas luka memar yang mengering di sekitar pipi dan bibirnya. Pria itu terus menunduk kaku, menatap lantai dingin tanpa berani menegakkan kepala, seolah sadar bahwa kehancuran total telah mengepung hidupnya dari segala penjarah.‘Meski kau adikku, aku bersumpah membiarkanmu membisik di penjara,’ batin Rolan.Di meja penuntut umum, Rolan duduk berdampingan dengan tim jaksa penuntut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status