LOGINMiranda melangkah dengan gontai, dirinya sibuk menenangkan pikirannya yang berisik dan emosi di dada yang bergemuruh. Larut dalam dunianya sendiri, tidak peduli dengan apapun di sekitarnya.
Wanita itu tidak lagi menangis, dia menatap jari manis tangan kanannya, lalu berhenti sejenak sambil menatap cincin perak sederhana tanda cinta suaminya saat menikah dulu. “Sudah cukup.” Miranda membuang cincin itu ke tong sampah. Miranda kembali ke rumah kontrakannya yang sempit, menuju kamar dan duduk di lantai dengan tatapan kosong ke arah dinding kamar yang terbuat dari triplek tersebut. Andai saja wanita itu memiliki tempat untuk kembali … mungkin dia sudah berada di sana. Sayangnya, dirinya yatim piatu. Memiliki seorang Kakak yang saat ini entah di mana keberadaannya. Kakak laki-lakinya itu memutuskan hubungan keluarga dengannya ketika Miranda bersikeras menikah dengan Bayu ketika lulus SMA. Ingatannya melayang ke lima tahun yang lalu, di mana Aris, kakaknya marah besar ketika Bayu melamar Miranda. Aris mengatakan bahwa lelaki seperti Bayu akan menjadi manusia tidak tahu diri, sebab di kampung terkenal keluarga mereka memiliki sikap yang buruk kepada siapa saja yang menentangnya. Miranda menghela napas dalam lalu menertawakan dirinya sekali lagi. “Kakak benar … aku memang pintar dalam belajar tapi bodoh urusan perasaan,” gumam Miranda. Miranda bangkit dan membuka lemari reot yang diganjal oleh batu bata, kemudian dia mengambil sebuah bungkusan dan meletakkan di atas tempat tidur beralaskan tilam tipis. Wanita itu meraba bagian bawah lemari, dan menemukan sebuah amplop. Miranda mengambil amplop tersebut dan mengambil isinya yang ternyata buku tabungan yang dia sembunyikan dari Bayu. Usai mengambil buku tabungan, Miranda mulai membuka bungkusan dan mulai mengeluarkan isinya. Ternyata berisi bukti transfer ketika dia bekerja sebagai TKW selama tiga tahun, juga bukti transaksi pembayaran uang semester juga catatan pengeluaran Bayu selama kuliah. “Untung aja dulu aku catat semua pengeluaran kuliah Bayu,” ucap Miranda kepada dirinya sendiri. Mira menyusun semua bukti transaksi berdasarkan bulan dan tahun, kemudian mencari sebuah map plastik transparan yang seingatnya menjadi alas pakaian di lemari. Usai menyusun semuanya, Miranda menghubungi seseorang dengan harapan bisa membantunya. Sayangnya, hingga dering kelima, panggilannya tidak kunjung jua mendapat jawaban. Ketika akan menghubungi kembali, ponselnya berdering. Sebuah nama tertera di sana dan membuatnya menarik napas panjang. [Lama amat sih angkat telepon doang. Kayak presiden aja!] sergah wanita di seberang sana, dia mertua Miranda. [Maaf, Bu. Oh, ya … kok Ibu gak datang? Bayu wisuda hari ini,] sahut Miranda sopan. [Duh, punya mantu kok ga ada otak begini, kamu belum kirim uang bulanan. Cepat kirim!] bentak Yosi marah. Miranda diam sejenak, menutup matanya untuk menenangkan pikiran dan dan mengatur napasnya agar tidak terbawa emosi yang mengusik. ‘Bukannya kasih selamat anaknya jadi sarjana, malah minta uangku. Mimpi,’ batin Miranda. [Halo … halo. Mira, kamu masih idup apa udah mati? Oi … mantu durhaka!] seru Yosi marah. [Maaf, Bu. Mira lagi gak punya uang. Tabungan udah dipakai beli baju wisuda sama jas Bayu, bulan ini gak bisa ngirim. Maaf,] sahut Miranda santai. [Loh? Mana bisa begitu? Ini tukang tagih arisan udah di rumah. Gak mau tau, kamu kirim hari ini juga.Kalo gak aku suruh Bayu ceraikan kamu, dasar ga berguna.] Yosi mengakhiri panggilannya sepihak. “Anaknya gak tau diri, ibunya lebih parah.” Miranda tertawa sinis. Miranda meraih map plastik transparan, mengeluarkan kembali isinya dan memeriksa kembali apakah sudah sesuai urutan atau belum? Usai memastikan semua rapi, Miranda membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian bersih dan rapi. Penampilan tadi begitu berantakan dan bau keringat, kini dia memoles tipis wajahnya, memakai pewarna bibir dan mengenakan deodoran. Miranda menyisir rambutnya dan mengikat dengan rapi, mematut penampilannya di cermin buram dan mengambil map transparan dan memesan ojek secara daring. “Bayu, aku mau liat … kamu sampai kapan bisa makan enak tanpa hasil keringatku,” gumam Miranda. Sambil menunggu ojek datang, Miranda kembali duduk di tepi ranjangnya yang tipis. Jemarinya meraba permukaan map plastik transparan di pangkuannya. Di dalam map itu, lembaran-lembaran kertas bukti transfer bank selama tiga tahun, sebuah buku tulis yang mencatat pengeluaran kuliah Bayu. Kertas-kertas inilah bukti bahwa dia pernah menjadi budak cinta dari seorang suami yang tidak tahu diuntung. Miranda menatap jari manisnya, yang kini meninggalkan bekas lingkaran yang memutih, lalu menatap sekeliling kamar kontrakannya yang terasa pengap. Dinding triplek yang mulai berjamur, atap seng yang berkarat, saat hujan turun selalu berisik, dan gantungan baju tempat baju-baju kuliah Bayu dulu digantung dengan rapi. Lima tahun ini, Miranda selalu menahan lapar dan lelah di perantauan demi bisa mengirim uang sesuai permintaan Bayu. Tujuannya agar suaminya bisa hidup nyaman di kota ini dan fokus kuliah. Dia rela mengerjakan banyak hal selain mencuci pakaian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kain di rumah Tuan Rolan, menghemat setiap rupiah, bahkan untuk sekadar membeli es teh manis saja dia berpikir dua kali. "Kamu sabar dulu, ya. Nanti kalo aku sudah jadi sarjana hukum dan jadi pengacara sukses, kamu gak boleh kerja lagi, Mira. Kamu cukup duduk manis di rumah kita nanti," ucap Bayu kala itu. Miranda tersenyum getir. Air matanya hampir jatuh lagi, dia dengan cepat mendongak menatap seng yang berkarat, memaksa air mata itu masuk kembali. "Bodohnya aku … malah percaya janji penipu," ucap Miranda lirih. Suara klakson motor di depan rumah membuyarkan lamunan Miranda. Ojek daring pesanannya sudah tiba, Miranda mengambil napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan tekad dan keberanian yang lebih besar, lalu melangkah keluar dari rumah kontrakan sambil mengunci pintu kayu yang sudah lapuk tersebut. "Eh, Mbak Mira! Kok baru jalan? Mas Bayu-nya udah wisuda dari pagi kan, ya? Wah, selamat ya Mbak, sekarang suaminya udah jadi sarjana hukum, sebentar lagi jadi orang kantoran!" seru salah satu ibu tetangga dengan wajah semringah yang tulus. “Iya, nanti dia tinggal di rumah bagus. Jangan lupa kami, ya,” timpal tetangga lainnya. Miranda memaksakan sebuah senyuman tipis, anggukan sopan dia berikan sebagai tanda kesopanan atas ucapan selamat tersebut. Hati Miranda kembali luka ketika mendengar ucapan selamat tersebut., kabar tentang wisuda Bayu sudah diketahui semua orang di sekitar sini, karena Miranda kerap bercerita tentang Bayu dengan bangga. "Iya, Bu. Terima kasih loh atas ucapannya. Saya permisi," jawab Miranda singkat. Dia sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi di kampus tadi. Belum saatnya! Saat ini dirinya enggan menjadi bahan gunjingan tetangga sebagai istri yang dicampakkan.“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan
“Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya
“Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d
Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki
Bayu melangkah mendekat, menatap Miranda dengan pandangan menghina. Sebuah kesempatan untuk menghina Miranda yang sudah membuatnya diusir dari rumah sewa, juga menuntut cerai serta tuntutan mengganti kerugian materi dan fisik senilai 350 juta.Lelaki itu merasa bahwa gelar sarjana hukum, yang baru dia sandang hampir satu bulan ini, membuat dirinya merasa berada di atas angin. Terlebih kini Leni di sisinya, yang akan mendukungnya secara penuh karena sangat mencintai dirinya.“Iya, Sayang. Kok dia bisa ada di sini? Apa dia mau beliin jas buat manga barunya? Eh … tapi babu emangnya punya duit cukup buat beli jas di sini? Ga ada yang murah, loh,” ejek Bayu dengan sikap pongah.Leni tertawa kecil, Bayu menghampiri Miranda dan berdiri tepat di sisinya dengan posisi berlawanan arah.Bayu meletakkan tangannya di bahu Miranda, lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu."Oh, jadi ini alasan kamu kabur dari kontrakan kumuh? Hebat ya kamu, Mira. Belum sebulan kita pisah, kamu sudah
[Selamat, ya. Maaf aku sibuk.] Miranda mengakhiri panggilannya.Roland mendengar percakapan itu, melihat dari reaksi Miranda, dia yakin bahwa yang baru saja menghubungi asistennya itu pastilah Bayu.“Bernostalgia? Pasti kau berdebar-debar dan rindu lelaki itu, kerjakan semua berkas hingga selesai. Aku mau dalam waktu satu uam berkas gugatanmu sudah rapi dan ada di mejaku,” celetuk Rolan dengan nada ketus dan wajah masam.“Baik, Tuan,” sahut Miranda sopan.Miranda melipat keningnya heran, Rolan tiba-tiba datang ke mejanya dan sikapnya ketus. Wanita itu berpikir, apakah gerangan kesalahan yang sudah dia perbuat? Sehingga atasannya menjadi marah.‘Perasaan aku ga ada salah, kok Tuan malah judes begitu? Apa ada masalah? Sudahlah, aku kerjakan aja dulu tugas ini,’ pikir Miranda.Miranda mengerjakan tugasnya dengan teliti, di balik meja kerjanya, Rolan duduk tegak dengan wajah kesal. Tatapan matanya terfokus kepada selembar dokumen di depannya, tetapi pikirannya terusik.Rolan teringat awa







