Share

3

Author: Dinara Sofia
last update publish date: 2026-06-17 12:13:25

Miranda melangkah dengan gontai, dirinya sibuk menenangkan pikirannya yang berisik dan emosi di dada yang bergemuruh. Larut dalam dunianya sendiri, tidak peduli dengan apapun di sekitarnya.

Wanita itu tidak lagi menangis, dia menatap jari manis tangan kanannya, lalu berhenti sejenak sambil menatap cincin perak sederhana tanda cinta suaminya saat menikah dulu.

“Sudah cukup.” Miranda membuang cincin itu ke tong sampah.

Miranda kembali ke rumah kontrakannya yang sempit, menuju kamar dan duduk di lantai dengan tatapan kosong ke arah dinding kamar yang terbuat dari triplek tersebut.

Andai saja wanita itu memiliki tempat untuk kembali … mungkin dia sudah berada di sana. Sayangnya, dirinya yatim piatu. Memiliki seorang Kakak yang saat ini entah di mana keberadaannya. Kakak laki-lakinya itu memutuskan hubungan keluarga dengannya ketika Miranda bersikeras menikah dengan Bayu ketika lulus SMA.

Ingatannya melayang ke lima tahun yang lalu, di mana Aris, kakaknya marah besar ketika Bayu melamar Miranda. Aris mengatakan bahwa lelaki seperti Bayu akan menjadi manusia tidak tahu diri, sebab di kampung terkenal keluarga mereka memiliki sikap yang buruk kepada siapa saja yang menentangnya. Miranda menghela napas dalam lalu menertawakan dirinya sekali lagi.

“Kakak benar … aku memang pintar dalam belajar tapi bodoh urusan perasaan,” gumam Miranda.

Miranda bangkit dan membuka lemari reot yang diganjal oleh batu bata, kemudian dia mengambil sebuah bungkusan dan meletakkan di atas tempat tidur beralaskan tilam tipis.

Wanita itu meraba bagian bawah lemari, dan menemukan sebuah amplop. Miranda mengambil amplop tersebut dan mengambil isinya yang ternyata buku tabungan yang dia sembunyikan dari Bayu.

Usai mengambil buku tabungan, Miranda mulai membuka bungkusan dan mulai mengeluarkan isinya. Ternyata berisi bukti transfer ketika dia bekerja sebagai TKW selama tiga tahun, juga bukti transaksi pembayaran uang semester juga catatan pengeluaran Bayu selama kuliah.

“Untung aja dulu aku catat semua pengeluaran kuliah Bayu,” ucap Miranda kepada dirinya sendiri.

Mira menyusun semua bukti transaksi berdasarkan bulan dan tahun, kemudian mencari sebuah map plastik transparan yang seingatnya menjadi alas pakaian di lemari. Usai menyusun semuanya, Miranda menghubungi seseorang dengan harapan bisa membantunya.

Sayangnya, hingga dering kelima, panggilannya tidak kunjung jua mendapat jawaban. Ketika akan menghubungi kembali, ponselnya berdering. Sebuah nama tertera di sana dan membuatnya menarik napas panjang.

[Lama amat sih angkat telepon doang. Kayak presiden aja!] sergah wanita di seberang sana, dia mertua Miranda.

[Maaf, Bu. Oh, ya … kok Ibu gak datang? Bayu wisuda hari ini,] sahut Miranda sopan.

[Duh, punya mantu kok ga ada otak begini, kamu belum kirim uang bulanan. Cepat kirim!] bentak Sari marah.

Miranda diam sejenak, menutup matanya untuk menenangkan pikiran dan dan mengatur napasnya agar tidak terbawa emosi yang mengusik.

‘Bukannya kasih selamat anaknya jadi sarjana, malah minta uangku. Mimpi,’ batin Miranda.

[Halo … halo. Mira, kamu masih idup apa udah mati? Oi … mantu durhaka!] seru Sari marah.

[Maaf, Bu. Mira lagi gak punya uang. Tabungan udah dipakai beli baju wisuda sama jas Bayu, bulan ini gak bisa ngirim. Maaf,] sahut Miranda santai.

[Loh? Mana bisa begitu? Ini tukang tagih arisan udah di rumah. Gak mau tau, kamu kirim hari ini juga.Kalo gak aku suruh Bayu ceraikan kamu, dasar ga berguna.] Sari mengakhiri panggilannya sepihak.

“Anaknya gak tau diri, ibunya lebih parah.” Miranda tertawa sinis.

Miranda meraih map plastik transparan, mengeluarkan kembali isinya dan memeriksa kembali apakah sudah sesuai urutan atau belum?

Usai memastikan semua rapi, Miranda membersihkan tubuhnya dan mengenakan pakaian bersih dan rapi. Penampilan tadi begitu berantakan dan bau keringat, kini dia memoles tipis wajahnya, memakai pewarna bibir dan mengenakan deodoran.

Miranda menyisir rambutnya dan mengikat dengan rapi, mematut penampilannya di cermin buram dan mengambil map transparan dan memesan ojek secara daring.

“Bayu, aku mau liat … kamu sampai kapan bisa makan enak tanpa hasil keringatku,” gumam Miranda.

Sambil menunggu ojek datang, Miranda kembali duduk di tepi ranjangnya yang tipis. Jemarinya meraba permukaan map plastik transparan di pangkuannya. Di dalam map itu, lembaran-lembaran kertas bukti transfer bank selama tiga tahun, sebuah buku tulis yang mencatat pengeluaran kuliah Bayu. Kertas-kertas inilah bukti bahwa dia pernah menjadi budak cinta dari seorang suami yang tidak tahu diuntung.

Miranda menatap jari manisnya, yang kini meninggalkan bekas lingkaran yang memutih, lalu menatap sekeliling kamar kontrakannya yang terasa pengap. Dinding triplek yang mulai berjamur, atap seng yang berkarat, saat hujan turun selalu berisik, dan gantungan baju tempat baju-baju kuliah Bayu dulu digantung dengan rapi.

Lima tahun ini, Miranda selalu menahan lapar dan lelah di perantauan demi bisa mengirim uang sesuai permintaan Bayu. Tujuannya agar suaminya bisa hidup nyaman di kota ini dan fokus kuliah. Dia rela mengerjakan banyak hal selain mencuci pakaian dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kain di rumah Tuan Rolan, menghemat setiap rupiah, bahkan untuk sekadar membeli es teh manis saja dia berpikir dua kali.

"Kamu sabar dulu, ya. Nanti kalo aku sudah jadi sarjana hukum dan jadi pengacara sukses, kamu gak boleh kerja lagi, Mira. Kamu cukup duduk manis di rumah kita nanti," ucap Bayu kala itu.

Miranda tersenyum getir. Air matanya hampir jatuh lagi, dia dengan cepat mendongak menatap seng yang berkarat, memaksa air mata itu masuk kembali.

"Bodohnya aku … malah percaya janji penipu," ucap Miranda lirih.

Suara klakson motor di depan rumah membuyarkan lamunan Miranda. Ojek daring pesanannya sudah tiba, Miranda mengambil napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan tekad dan keberanian yang lebih besar, lalu melangkah keluar dari rumah kontrakan sambil mengunci pintu kayu yang sudah lapuk tersebut.

"Eh, Mbak Mira! Kok baru jalan? Mas Bayu-nya udah wisuda dari pagi kan, ya? Wah, selamat ya Mbak, sekarang suaminya udah jadi sarjana hukum, sebentar lagi jadi orang kantoran!" seru salah satu ibu tetangga dengan wajah semringah yang tulus.

“Iya, nanti dia tinggal di rumah bagus. Jangan lupa kami, ya,” timpal tetangga lainnya.

Miranda memaksakan sebuah senyuman tipis, anggukan sopan dia berikan sebagai tanda kesopanan atas ucapan selamat tersebut. Hati Miranda kembali luka ketika mendengar ucapan selamat tersebut., kabar tentang wisuda Bayu sudah diketahui semua orang di sekitar sini, karena Miranda kerap bercerita tentang Bayu dengan bangga.

"Iya, Bu. Terima kasih loh atas ucapannya. Saya permisi," jawab Miranda singkat.

Dia sengaja tidak menceritakan apa yang terjadi di kampus tadi. Belum saatnya! Saat ini dirinya enggan menjadi bahan gunjingan tetangga sebagai istri yang dicampakkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
lumayan pinter juga km mira masih inget nyatet perngeluaran buat c kadal buntung
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Mantan Majikan   94

    "Hei, kok Jam tangan itu aneh. Itu bukan jam biasa, Leni. Itu GPS!" seru pengemudi panik.Leni membalik tubuh, matanya melebar melihat titik merah di pergelangan Adhyastra berkedip. "Copot! Cepat copot!" teriak Leni panik.Sayangnya sebelum mereka bisa bertindak, lampu sorot polisi menyala di depan. Tiga mobil patroli menghadang jalan di ujung gang. Suara pengeras suara menggema. "Berhenti, keluar dari mobil!” seru suara dari pengeras suara.Di belakang, mobil Rolan berhenti tepat di pintu masuk gang. Miranda turun langkahnya tegas menghampiri mobil polisi. Rolan menyusul, dengan wajah cemas.Dua jam kemudian, di kantor Polsek.Adhyasta duduk di pangkuan Miranda, wajahnya masih sedikit merah tetapi sudah tersenyum karena Bi Minah membawakan cokelat kegemaran Adhyasta.Rolan berdiri di meja interogasi, menghadapi Leni yang kini diborgol."Leni, kau tahu kau sudah melanggar pasal 330 ayat (1) KUHP tentang penculikan dengan permintaan tebusan?" tanya Rolan tenang. "Ancaman pidana p

  • Dekapan Mantan Majikan   93

    Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S

  • Dekapan Mantan Majikan   92

    “Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik

  • Dekapan Mantan Majikan   91

    Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y

  • Dekapan Mantan Majikan   90

    Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe

  • Dekapan Mantan Majikan   89

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu dijaga begitu ketat hingga ketegangan terasa menusuk sampai ke lorong luar. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap menyisir setiap sudut area gedung, memastikan proses peradilan berjalan dengan aman dari kerumunan media maupun simpatisan.Sesuai ketentuan hukum untuk kasus kejahatan seksual dan tindak pidana berat yang melibatkan trauma korban, majelis hakim menetapkan persidangan berlangsung secara tertutup.Davian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih lusuh dan celana kain hitam. Wajahnya yang dahulu penuh keangkuhan kini tampak kusam, menyisakan bekas luka memar yang mengering di sekitar pipi dan bibirnya. Pria itu terus menunduk kaku, menatap lantai dingin tanpa berani menegakkan kepala, seolah sadar bahwa kehancuran total telah mengepung hidupnya dari segala penjarah.‘Meski kau adikku, aku bersumpah membiarkanmu membisik di penjara,’ batin Rolan.Di meja penuntut umum, Rolan duduk berdampingan dengan tim jaksa penuntut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status