Share

4

Penulis: Dinara Sofia
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 12:14:15

"Ke kantor Rolan & Partners ya, Pak."

Miranda duduk di jok belakang motor ojek, mengenakan helmnya lalu memeluk map transparan itu di dadanya.

Sepeda motor pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai terik dan berdebu. Angin panas menyapa wajah Miranda yang sudah dipoles riasan tipis. Di sepanjang jalan, matanya menatap deretan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Pikiran Miranda kini fokus menyusun strategi. Dia tahu, Bayu adalah lulusan hukum, pria itu pasti tahu celah-celah hukum untuk menghindar tuntutannya, itulah sebabnya Miranda membutuhkan seseorang yang jauh lebih tinggi, lebih berkuasa, dan sangat pengalaman dalam urusan hukum daripada sekadar sarjana baru seperti Bayu.

‘Aku harus menang, ayo semangat, Mira,’ pikir Miranda menyemangati dirinya.

Miranda memilih mendatangi mantan majikannya, pria dingin yang selalu menuntut kesempurnaan dalam hal kebersihan dan kerapian pakaian, tetapi selalu menghargai kejujuran Miranda melebihi apa pun. Tidak pernah arogan atau bersikap pongah kepada seluruh pekerja di kediamannya yang luas tersebut.

Laju sepeda motor akhirnya melambat saat memasuki kawasan bisnis utama, di depan Miranda kini berdiri sebuah gedung pencakar langit dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Di bagian depan gerbang, logo firma hukum raksasa milik Rolan tampak berkilau.

Miranda turun dari motor, membayar ongkos ojek, dan merapikan kemeja hijau muda yang sedikit kusut karena angin jalanan. Dia mendongak, menatap puncak gedung yang seolah menembus awan.

“Akhirnya balik lagi ke sini. Miranda tersenyum tipis.

Dulu dia masuk ke gedung ini lewat pintu belakang, khusus karyawan dan pelayan untuk membersihkan penthouse pribadi Rolan di lantai paling atas. Namun hari ini, kaki Miranda yang dibalut sepatu lusuh dengan tipis itu melangkah penuh tekad dan keyakinan menuju pintu kaca otomatis utama di bagian depan lobi.

Miranda tidak tahu apakah Rolan akan bersedia membantunya atau justru mengusirnya, karena panggilan teleponnya tidak kunjung berbalas, juga pastilah kedatangannya akan mengganggu waktu sibuk seorang pengacara elite. Namun, Miranda tidak punya pilihan lain, baginya ini adalah satu-satunya jalan untuk bertarung guna merebut kembali harga diri dan pengorbanannya yang sudah diinjak-injak oleh Bayu.

Pintu kaca terbuka perlahan, Miranda melangkah ke dalam. Tampak olehnya kemewahan lobi yang sunyi dua lampu kristal besar yang mewah berada di tengah lobi, pada bagian tengah sebuah meja penerima tamu mewah berdiri di sana dengan bunga anggrek bulan impor yang memperkuat kemewahaan tempat itu.

“Selamat siang, nama saya Miranda. Boleh bertemu dengan Pak Rolan?” tanya Miranda sopan dengan bahasa resmi.

“Udah ada janji? Ada keperluan apa, Bu?” tanya petugas sambil memperhatikan pakaian Miranda yang lusuh.

Miranda menggeleng pelan, kemudian mengemukakan maksud kedatangannya kepada petugas tersebut. Meski tatapan sinis dan meremehkan tertuju kepada Miranda, wanita itu sama sekali tidak memperhitungkannya.

“Untuk kasus perceraian? Kantor lain kan banyak, Mbak. Di sini itu tempat orang kaya cari perlindungan hukum. Minimal kaum menengah lah, keluhan receh begitu mending ke pengadilan … cari pengacara gratis aja,” ucap petugas penerima tamu ketus dengan tatapan sinis.

“Tapi, Mbak. Saya kenalnya Pak Rolan,” tolak Miranda.

“Mbak … Mbak. Di sini tuh, biaya konsultasi satu jam lima juta, itu juga sama anak buah Pak Rolan. Kebayang bayar berapa kalo sama Pak Rolan, kan? Emang situ punya duit?” tanya petugas tersebut kesal. 

Miranda hanya diam, meremas ujung map plastiknya dengan wajah putus asa. Petugas penerima tamu tersebut berdecih, lalu melanjutkan pekerjaannya.

“Mahal sekali,” gumam Miranda.

Bukan Miranda namanya jika menyerah begitu saja, dia kembali menatap petugas yang tampak sibuk mencatat sesuatu dan kini sedang menghubungi seseorang. 

Miranda kemudian menunggu hingga wanita di depannya selesai berbicara di telepon, dan meraih tangannya.

“Mbak … tolonglah bantu saya sekali ini aja,” pinta Miranda.

“Denger, ya. Di sini tuh ada aturannya sendiri, kalo punya duit bisa langsung masuk untyuk konsultasi. Kalo miskin … pulang aja sana. Di luar sana ada LBH gratis,” balas wanita tersebut mengusir Miranda.

“Di luar sana mana ada yang sehebat Pak Rolan, tolonglah, Mbak. Ini berharga banget buat saya,” kata Miranda dengan nada memohon.

“Nah itu tau, ada harga ada kualitas. Yang gratis juga banyak yang bagus, kok. Sesuaikan aja sama budget, Mbak. Tolong pulang aja sana, jangan nyusahin saya di sini,” usir petugas tersebut.

Miranda menggigit bibirnya, dia sudah berusaha bertemu Rolan, tetapi malah diusir.  Beberapa jam yang lalu dia diusir karena dianggap pembantu kumal, dan di sini dia kembali diusir karena dianggap miskin tidak punya modal untuk biaya konsultasi. Dunia ini benar-benar begitu kejam bagi orang miskin!.

"Gak mau pulang juga? Oke, saya panggil satpam buat usir Mbak keluar," ucap petugas tersebut.

“Jangan, Mbak. Saya pulang, kok. Saya ijin duduk sebentar nunggu ojek, ya,” kata Miranda dengan wajah memelas.

Petugas itu mendengus, tangan yang tadinya bersiap menekan tombol interkom untuk memanggil satpam di depan gerbang, kini meletakkan kembali gagang telepon tersebut dengan perlahan.

Miranda melangkah gontai, menatap ke lantai marmer mewah yang dingin. Wanita itu bisa melihat pantulan dirinya dengan jelas di sana, kemudian dengan bahu yang lemas, duduk di kursi lobi dengan gerakan yang canggung, lalu meraih ponselnya guna memesan ojek untuk pulang.

‘Hari ini gagal, mending besok aku coba lagi masuk lewat tempat biasa,’ pikir Miranda sambil menatap ponselnya.

Suara denting nyaring dari lift terdengar dari arah di sudut lobi, pintu lift yang terbuat dari baja terbuka perlahan. Dua petugas penerima tamu di meja marmer itu langsung berdiri, menegakkan posisi mereka, memasang senyum paling manis dan membungkuk penuh hormat.

Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal melangkah keluar dari lift. Auranya terasa begitu dominan, dingin, dan penuh wibawa, di belakangnya dua asisten berjalan berjarak setengah langkah, sambil membawa iPad dan berkas-berkas tebal.

Lelaki itu adalah Rolan, petugas yang tadi mengusir Miranda buru-buru menundukkan kepala saat Rolan berjalan melewati meja penerima tamu.

 "Selamat siang, Tuan Rolan. Mobil Anda sudah siap di depan," ucap petugas itu dengan suara yang mendadak lembut penuh hormat, berbeda dengan suaranya yang ketus saat mengusir Miranda tadi.

Rolan hanya melirik dingin tanpa menghentikan langkah. Namun, tepat saat kakinya akan melewati pilar besar lobi, matanya menangkap sosok wanita berkemeja hijau muda yang Duduk menatap ponsel.

Langkah kaki Rolan terhenti seketika. Pria itu menoleh menatap lekat wajah Miranda yang tampak sedikit lelah.

"Miranda. Ngapain kamu di sini?" tanya Rolan sambil menatap Miranda heran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Mantan Majikan   94

    "Hei, kok Jam tangan itu aneh. Itu bukan jam biasa, Leni. Itu GPS!" seru pengemudi panik.Leni membalik tubuh, matanya melebar melihat titik merah di pergelangan Adhyastra berkedip. "Copot! Cepat copot!" teriak Leni panik.Sayangnya sebelum mereka bisa bertindak, lampu sorot polisi menyala di depan. Tiga mobil patroli menghadang jalan di ujung gang. Suara pengeras suara menggema. "Berhenti, keluar dari mobil!” seru suara dari pengeras suara.Di belakang, mobil Rolan berhenti tepat di pintu masuk gang. Miranda turun langkahnya tegas menghampiri mobil polisi. Rolan menyusul, dengan wajah cemas.Dua jam kemudian, di kantor Polsek.Adhyasta duduk di pangkuan Miranda, wajahnya masih sedikit merah tetapi sudah tersenyum karena Bi Minah membawakan cokelat kegemaran Adhyasta.Rolan berdiri di meja interogasi, menghadapi Leni yang kini diborgol."Leni, kau tahu kau sudah melanggar pasal 330 ayat (1) KUHP tentang penculikan dengan permintaan tebusan?" tanya Rolan tenang. "Ancaman pidana p

  • Dekapan Mantan Majikan   93

    Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S

  • Dekapan Mantan Majikan   92

    “Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik

  • Dekapan Mantan Majikan   91

    Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y

  • Dekapan Mantan Majikan   90

    Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe

  • Dekapan Mantan Majikan   89

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu dijaga begitu ketat hingga ketegangan terasa menusuk sampai ke lorong luar. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap menyisir setiap sudut area gedung, memastikan proses peradilan berjalan dengan aman dari kerumunan media maupun simpatisan.Sesuai ketentuan hukum untuk kasus kejahatan seksual dan tindak pidana berat yang melibatkan trauma korban, majelis hakim menetapkan persidangan berlangsung secara tertutup.Davian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih lusuh dan celana kain hitam. Wajahnya yang dahulu penuh keangkuhan kini tampak kusam, menyisakan bekas luka memar yang mengering di sekitar pipi dan bibirnya. Pria itu terus menunduk kaku, menatap lantai dingin tanpa berani menegakkan kepala, seolah sadar bahwa kehancuran total telah mengepung hidupnya dari segala penjarah.‘Meski kau adikku, aku bersumpah membiarkanmu membisik di penjara,’ batin Rolan.Di meja penuntut umum, Rolan duduk berdampingan dengan tim jaksa penuntut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status