Masuk"Ke kantor Rolan & Partners ya, Pak."
Miranda duduk di jok belakang motor ojek, mengenakan helmnya lalu memeluk map transparan itu di dadanya.
Sepeda motor pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota yang mulai terik dan berdebu. Angin panas menyapa wajah Miranda yang sudah dipoles riasan tipis. Di sepanjang jalan, matanya menatap deretan gedung-gedung tinggi di pusat kota. Pikiran Miranda kini fokus menyusun strategi. Dia tahu, Bayu adalah lulusan hukum, pria itu pasti tahu celah-celah hukum untuk menghindar tuntutannya, itulah sebabnya Miranda membutuhkan seseorang yang jauh lebih tinggi, lebih berkuasa, dan sangat pengalaman dalam urusan hukum daripada sekadar sarjana baru seperti Bayu. ‘Aku harus menang, ayo semangat, Mira,’ pikir Miranda menyemangati dirinya. Miranda memilih mendatangi mantan majikannya, pria dingin yang selalu menuntut kesempurnaan dalam hal kebersihan dan kerapian pakaian, tetapi selalu menghargai kejujuran Miranda melebihi apa pun. Tidak pernah arogan atau bersikap pongah kepada seluruh pekerja di kediamannya yang luas tersebut. Laju sepeda motor akhirnya melambat saat memasuki kawasan bisnis utama, di depan Miranda kini berdiri sebuah gedung pencakar langit dengan dinding kaca yang memantulkan cahaya matahari. Di bagian depan gerbang, logo firma hukum raksasa milik Rolan tampak berkilau. Miranda turun dari motor, membayar ongkos ojek, dan merapikan kemeja hijau muda yang sedikit kusut karena angin jalanan. Dia mendongak, menatap puncak gedung yang seolah menembus awan. “Akhirnya balik lagi ke sini. Miranda tersenyum tipis. Dulu dia masuk ke gedung ini lewat pintu belakang, khusus karyawan dan pelayan untuk membersihkan penthouse pribadi Rolan di lantai paling atas. Namun hari ini, kaki Miranda yang dibalut sepatu lusuh dengan tipis itu melangkah penuh tekad dan keyakinan menuju pintu kaca otomatis utama di bagian depan lobi. Miranda tidak tahu apakah Rolan akan bersedia membantunya atau justru mengusirnya, karena panggilan teleponnya tidak kunjung berbalas, juga pastilah kedatangannya akan mengganggu waktu sibuk seorang pengacara elite. Namun, Miranda tidak punya pilihan lain, baginya ini adalah satu-satunya jalan untuk bertarung guna merebut kembali harga diri dan pengorbanannya yang sudah diinjak-injak oleh Bayu. Pintu kaca terbuka perlahan, Miranda melangkah ke dalam. Tampak olehnya kemewahan lobi yang sunyi dua lampu kristal besar yang mewah berada di tengah lobi, pada bagian tengah sebuah meja penerima tamu mewah berdiri di sana dengan bunga anggrek bulan impor yang memperkuat kemewahaan tempat itu. “Selamat siang, nama saya Miranda. Boleh bertemu dengan Pak Rolan?” tanya Miranda sopan dengan bahasa resmi. “Udah ada janji? Ada keperluan apa, Bu?” tanya petugas sambil memperhatikan pakaian Miranda yang lusuh. Miranda menggeleng pelan, kemudian mengemukakan maksud kedatangannya kepada petugas tersebut. Meski tatapan sinis dan meremehkan tertuju kepada Miranda, wanita itu sama sekali tidak memperhitungkannya. “Untuk kasus perceraian? Kantor lain kan banyak, Mbak. Di sini itu tempat orang kaya cari perlindungan hukum. Minimal kaum menengah lah, keluhan receh begitu mending ke pengadilan … cari pengacara gratis aja,” ucap petugas penerima tamu ketus dengan tatapan sinis. “Tapi, Mbak. Saya kenalnya Pak Rolan,” tolak Miranda. “Mbak … Mbak. Di sini tuh, biaya konsultasi satu jam lima juta, itu juga sama anak buah Pak Rolan. Kebayang bayar berapa kalo sama Pak Rolan, kan? Emang situ punya duit?” tanya petugas tersebut kesal. Miranda hanya diam, meremas ujung map plastiknya dengan wajah putus asa. Petugas penerima tamu tersebut berdecih, lalu melanjutkan pekerjaannya. “Mahal sekali,” gumam Miranda. Bukan Miranda namanya jika menyerah begitu saja, dia kembali menatap petugas yang tampak sibuk mencatat sesuatu dan kini sedang menghubungi seseorang. Miranda kemudian menunggu hingga wanita di depannya selesai berbicara di telepon, dan meraih tangannya. “Mbak … tolonglah bantu saya sekali ini aja,” pinta Miranda. “Denger, ya. Di sini tuh ada aturannya sendiri, kalo punya duit bisa langsung masuk untyuk konsultasi. Kalo miskin … pulang aja sana. Di luar sana ada LBH gratis,” balas wanita tersebut mengusir Miranda. “Di luar sana mana ada yang sehebat Pak Rolan, tolonglah, Mbak. Ini berharga banget buat saya,” kata Miranda dengan nada memohon. “Nah itu tau, ada harga ada kualitas. Yang gratis juga banyak yang bagus, kok. Sesuaikan aja sama budget, Mbak. Tolong pulang aja sana, jangan nyusahin saya di sini,” usir petugas tersebut. Miranda menggigit bibirnya, dia sudah berusaha bertemu Rolan, tetapi malah diusir. Beberapa jam yang lalu dia diusir karena dianggap pembantu kumal, dan di sini dia kembali diusir karena dianggap miskin tidak punya modal untuk biaya konsultasi. Dunia ini benar-benar begitu kejam bagi orang miskin!. "Gak mau pulang juga? Oke, saya panggil satpam buat usir Mbak keluar," ucap petugas tersebut. “Jangan, Mbak. Saya pulang, kok. Saya ijin duduk sebentar nunggu ojek, ya,” kata Miranda dengan wajah memelas. Petugas itu mendengus, tangan yang tadinya bersiap menekan tombol interkom untuk memanggil satpam di depan gerbang, kini meletakkan kembali gagang telepon tersebut dengan perlahan. Miranda melangkah gontai, menatap ke lantai marmer mewah yang dingin. Wanita itu bisa melihat pantulan dirinya dengan jelas di sana, kemudian dengan bahu yang lemas, duduk di kursi lobi dengan gerakan yang canggung, lalu meraih ponselnya guna memesan ojek untuk pulang. ‘Hari ini gagal, mending besok aku coba lagi masuk lewat tempat biasa,’ pikir Miranda sambil menatap ponselnya. Suara denting nyaring dari lift terdengar dari arah di sudut lobi, pintu lift yang terbuat dari baja terbuka perlahan. Dua petugas penerima tamu di meja marmer itu langsung berdiri, menegakkan posisi mereka, memasang senyum paling manis dan membungkuk penuh hormat. Seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas mahal melangkah keluar dari lift. Auranya terasa begitu dominan, dingin, dan penuh wibawa, di belakangnya dua asisten berjalan berjarak setengah langkah, sambil membawa iPad dan berkas-berkas tebal. Lelaki itu adalah Rolan, petugas yang tadi mengusir Miranda buru-buru menundukkan kepala saat Rolan berjalan melewati meja penerima tamu. "Selamat siang, Tuan Rolan. Mobil Anda sudah siap di depan," ucap petugas itu dengan suara yang mendadak lembut penuh hormat, berbeda dengan suaranya yang ketus saat mengusir Miranda tadi. Rolan hanya melirik dingin tanpa menghentikan langkah. Namun, tepat saat kakinya akan melewati pilar besar lobi, matanya menangkap sosok wanita berkemeja hijau muda yang Duduk menatap ponsel. Langkah kaki Rolan terhenti seketika. Pria itu menoleh menatap lekat wajah Miranda yang tampak sedikit lelah. "Miranda. Ngapain kamu di sini?" tanya Rolan sambil menatap Miranda heran.“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan
“Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya
“Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d
Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki
Bayu melangkah mendekat, menatap Miranda dengan pandangan menghina. Sebuah kesempatan untuk menghina Miranda yang sudah membuatnya diusir dari rumah sewa, juga menuntut cerai serta tuntutan mengganti kerugian materi dan fisik senilai 350 juta.Lelaki itu merasa bahwa gelar sarjana hukum, yang baru dia sandang hampir satu bulan ini, membuat dirinya merasa berada di atas angin. Terlebih kini Leni di sisinya, yang akan mendukungnya secara penuh karena sangat mencintai dirinya.“Iya, Sayang. Kok dia bisa ada di sini? Apa dia mau beliin jas buat manga barunya? Eh … tapi babu emangnya punya duit cukup buat beli jas di sini? Ga ada yang murah, loh,” ejek Bayu dengan sikap pongah.Leni tertawa kecil, Bayu menghampiri Miranda dan berdiri tepat di sisinya dengan posisi berlawanan arah.Bayu meletakkan tangannya di bahu Miranda, lalu sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu."Oh, jadi ini alasan kamu kabur dari kontrakan kumuh? Hebat ya kamu, Mira. Belum sebulan kita pisah, kamu sudah
[Selamat, ya. Maaf aku sibuk.] Miranda mengakhiri panggilannya.Roland mendengar percakapan itu, melihat dari reaksi Miranda, dia yakin bahwa yang baru saja menghubungi asistennya itu pastilah Bayu.“Bernostalgia? Pasti kau berdebar-debar dan rindu lelaki itu, kerjakan semua berkas hingga selesai. Aku mau dalam waktu satu uam berkas gugatanmu sudah rapi dan ada di mejaku,” celetuk Rolan dengan nada ketus dan wajah masam.“Baik, Tuan,” sahut Miranda sopan.Miranda melipat keningnya heran, Rolan tiba-tiba datang ke mejanya dan sikapnya ketus. Wanita itu berpikir, apakah gerangan kesalahan yang sudah dia perbuat? Sehingga atasannya menjadi marah.‘Perasaan aku ga ada salah, kok Tuan malah judes begitu? Apa ada masalah? Sudahlah, aku kerjakan aja dulu tugas ini,’ pikir Miranda.Miranda mengerjakan tugasnya dengan teliti, di balik meja kerjanya, Rolan duduk tegak dengan wajah kesal. Tatapan matanya terfokus kepada selembar dokumen di depannya, tetapi pikirannya terusik.Rolan teringat awa







