تسجيل الدخولRolan tersenyum dan mencium ponselnya, rasa cintanya semakin besar kepada Miranda.“Love you more, Sayang,” bisik Rolan dengan perasaan bahagia.Waktu berputar begitu cepat, Miranda dan Rolan semakin sibuk di pekerjaannya masing-masing. Keduanya saling memberi semangat melalui pesan saja.Tanpa terasa Miranda berhasil menempuh pendidikan sarjananya, malam ini adalah perayaan wisuda Miranda dan pencapaian karir yang semakin bersinar di dunia advokat. Acara tersebut berlangsung begitu megah di dalam ballroom salah satu hotel bintang lima paling bergengsi di pusat kota, tidak banyak tamu yang diundang. Hanya kalangan atas dan kaum elit saja yang diundang Rolan dan Aris, denting gelas kristal dan alunan musik instrumental lembut mengiringi obrolan hangat para pengusaha kelas atas serta pejabat tinggi yang hadir.Di tengah aula, Miranda berdiri anggun mengenakan gaun malam biru muda yang membalut tubuhnya dengan begitu elegan. Hari ini, dia resmi menyelesaikan masa ikatan dinasnya sebagai
“Tahan sedikit. Sayang. Aaah, sebentar lagi,” balas Rolan sambil mendesah.“Oooh, sa … kiit. Hmmmm, ssssh,” desah Miranda.Desahan Miranda malah membuat Rilan semakin cepat memompa gerakan pinggulnya, makin cepat … lebih cepat.Hingga dia merasa ujung kepala miliknya akan memuntahkan cairan.“Sssh … aaaaah, nikmat, Sayang,” racau Rolan.Cairan kental menyembur ke arah rahim hangat tersebut, perlahan gerakan pinggul mulai menurun ritmenya.Suara napas memburu terdengar bersahutan, tubuh sudah licin dengan keringat. Begitu pula seprai yang basah, bahkan meninggalkan cairan ketika Rolan menarik miliknya dari kawah kenikmatan itu. Rolan merebahkan tubuhnya di sisi Miranda dengan posisi telentang, membiarkan hembusan pendingin udara menyapu kulitnya. Keheningan menyelimuti ruangan tersebut, menyisakan gairah meluap dan menjadi saksi bisu pergumulan dua insan yang saling mencinta itu.“Yang … menurutmu apa aku murahan?” tanya Miranda pelan.Rolan melipat keningnya, pertanyaan ini sulit dij
“Mira! Sudah cukup!” panggil Aris.“Iya, Kak!” seru Miranda, “aku masuk dulu, ya. Nanti kita telponan lagi, aku rada geli bahasanya formal,” cakap Miranda.“Siapa suruh kamu terus-terusan panggil aku Tuan,” balas Rolan.“Dih, nyolot. Nah … kalo bahasanya begini kan enak. Udah, pulang sana, nanti masuk angin,” lontar Miranda.Rolan patuh dan pergi meninggalkan rumah tiga lantai tersebut, Aris meminta adiknya mengganti pakaian dan beristirahat.“Mira, kamu jangan salah paham. Aku kayaknya ga rela deh kalo ada Rolan,”” gerutu Aris.“Rolan baik, Kak. Cuma yah … dia tuh dominan aja. Sama kayak kakak,” sahut Miranda.“Asal kamu bahagia, Mira. Kakak dukung siapapun pilihanmu, asal jangan Bayu,” balas Aris.“Idih, siapa juga yang mau balikan sama dia,” gerundel Mira. Beberapa hari setelah peristiwa malam itu, Aris yang kini diberikan restu atas hubungan Miranda dan Rolan secara bertahap, Rolan meminta izin secara khusus untuk membawa Miranda pergi sejenak dari hiruk-pikuk kota.Mobil merek
Rolan menarik napas panjang, tatapan matanya tidak lagi dingin saat menyebut nama wanita yang selama beberapa minggu ini selalu menguasai pikiran dan hatinya.Di depan seluruh masyarakat negeri ini, Rolan memilih untuk meruntuhkan seluruh gengsi, ego, dan reputasi dinginnya demi memberikan kepastian hukum dan emosional yang layak didapatkan oleh Miranda.“Miranda itu bukan sekadar asisten saya. Kesalahan terbesar dalam hidup saya adalah menyembunyikan hubungan kami, dan hari ini saya meminta maaf secara terbuka kepada Miranda atas luka yang pernah saya torehkan,” ujar Rolan dengan kejujuran yang terpancar jelas dari raut wajahnya.“Apakah ini berarti Anda mengonfirmasi hubungan spesial di antara kalian berdua?” tanya wartawan media nasional, disambut sorotan lampu kilat kamera yang kian gencar.“Miranda adalah wanita terhormat dari keluarga berada, dan dia adalah satu-satunya wanita yang saya cintai. Di depan media hari ini, saya nyatakan bahwa dialah satu-satunya wanita yang ingin sa
“Tuan Rolan, kita berdua ini lelaki. Ada yang janji manis ada yang komitmen, saya tidak bisa menilai Anda dengan cepat, tetapi bertahap.”“Untuk saat ini, saya belum bisa melepas adik saya. Secara pribadi akan memantau cara Anda apakah bus membahagiakan Miranda atau tidak,” tegas Aris.“Tidak masalah, aku akan sabar menunggunya. Mira baru mulai kuliah, dia tidak mengambil paket. Kemungkinan dalam waktu 3-3,5 tahun dia bisa menyelesaikan studinya.”“Selama rentang waktu itu, tolong izinkan saya bertemu dengannya tanpa harus diusir. Anda tentu mengerti arti rindu, bukan?” sahut Rolan berdiplomasi.“Selama tidak membuatnya menangis, aku pertimbangkan,” balas Aris.‘Aku hanya bisa buat dia menangis di ranjang, Tuan Aris,’ pikir Rolan.Kesepakatan kedua pria itu akhirnya tercapai, Rolan bertekad dia akan mendukung karir Miranda terlebih dahulu, baru menikahinya. Jika perlu, Rolan akan bertunangan dengan Miranda. Tentu saja dengan demikian wanita itu akan terikat dengannya dan bisa bertemu
‘Haih, dasar keras kepala. Padahal udah diingatkan dari tadi, mau kasian … tapi dia terlalu sombong,’ pikir Miranda.Miranda yang berdiri di samping kakaknya menatap pemandangan itu dengan tatapan iba. Tidak ada riak kepuasan yang berlebihan di matanya, sebuah sikap kedewasaan yang lahir dari tempaan penderitaan masa lalu.Dia menggandeng lengan Aris dengan lembut, mengajak kakaknya melangkah pergi meninggalkan Leni yang masih menangis tersedu-sedu di atas lantai pameran, dibarengi tatapan cemooh para tamu undangan.“Yuk kita pergi dari sini, Kak. Jangan lupa traktiran karena telat,” bisik Miranda dengan suara yang sangat tenang dan elegan.“Oke. Mulai sekarang, gak akan ada satu orang pun yang berani menyentuh atau merendahkan kamu lagi,” sahut Aris sambil mengusap lembut jemari adiknya di atas lengannya.“Mana ada yang berani, kakaknya galak begini, hahaha.” Miranda tertawa lepas.“Kamu harus bahagia ya, Dek. Udah lama aku gak liat kamu ketawa begitu,” tutur Aris.Tanpa terasa, satu







