LOGINElena Restu terdesak ketika ayah tirinya menjualnya demi melunasi utang judi dan biaya pengobatan adiknya. Melarikan diri di lorong hotel mewah, ia bersembunyi di kamar penthouse milik Lucian Vance—CEO dingin dan paling mematikan yang sedang dijebak obat perangsang. Malam panas tak terelakkan terjadi. Namun, saat Elena mencoba melarikan diri esok harinya, Lucian menyandera kartu identitasnya dan memberikan satu-satunya pilihan: menandatangani kontrak pernikahan selama satu tahun. Elena terjebak dalam kehidupan Lucian yang penuh dengan konspirasi bisnis, musuh berbahaya, dan gairah terlarang yang membakar. Di saat benih cinta mulai tumbuh, rahasia besar masa lalu terkuak: Lucian mungkin adalah sosok di balik kehancuran keluarganya sepuluh tahun lalu.
View MoreElena terengah-engah. Sepatu hak tingginya berpacu menyusuri karpet tebal di lantai paling atas Hotel Grand Royale dengan irama kacau. Gaun malam merah marun yang melekat di tubuhnya terasa kian mencekik, seolah menyedot seluruh oksigen di sekitarnya.
Di belakangnya, samar-samar terdengar derap langkah sepatu pria yang berat disertai umpatan kasar.
"Cari wanita itu sampai dapat! Tuan Pramoedya sudah membayar mahal untuk malam ini!"
Elena mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya menancap ke telapak. Rasa sakit itu dipakainya untuk tetap sadar. Ayah tirinya yaitu pria jahat yang telah menguras habis harta peninggalan almarhum ibunya.
Tega menjualnya malam ini demi melunasi utang judi dan mengamankan bisnis. Pria itu memanfaatkan kondisi Maya, adiknya yang kini terbaring kritis di ICU dan membutuhkan ratusan juta rupiah untuk biaya pengobatan.
Tidak. Aku tidak boleh tertangkap, batin Elena sengit. Kalau aku hancur malam ini, siapa yang akan menyelamatkan Maya?
Elena membelok di sudut lorong VVIP. Pintu-pintu di lantai tersebut tertutup rapat dan dilengkapi sensor biometrik. Namun, di ujung koridor, ia melihat sebuah pintu kayu mahoni besar yang sedikit terbuka.
Tanpa berpikir panjang, Elena menyelinap masuk dan mendorong pintu berat itu hingga tertutup, tepat saat sosok para pengawal ayah tirinya melintas di luar.
Ruangan itu sangat luas, diterangi cahaya remang lampu dinding berwarna keemasan. Aroma kayu cendana dan alkohol mahal menyergap indra penciumannya. Elena menyandarkan punggung ke pintu, mencoba menenangkan napasnya yang naik-turun.
Namun, sebelum Elena sempat bernapas lega, cengkeraman dingin sekeras besi mendadak mengunci pergelangan tangannya.
"Argh!" Elena menjerit tertahan saat tubuhnya dihempaskan ke dinding dengan kasar.
Sosok tinggi menjulang mengurungnya. Dalam cahaya remang, Elena menatap wajah pria di hadapannya.
Rahang tegas, alis tebal, dan mata hitam pekat yang kini diselimuti kabut gairah membakar. Kemeja putih mahal yang beberapa kancingnya terbuka tampak berantakan.
Pria itu adalah Lucian Vance, CEO Vance Group yang terkenal dingin, tak tersentuh, dan kejam di dunia bisnis.
"Siapa yang mengirimmu?" Suara Lucian terdengar berat, serak, dan penuh ancaman. Napas panasnya menyapu leher Elena, membuat bulu kuduk wanita itu meremang. "Ibu tiriku? Atau para pengkhianat di dewan direksi?"
"Lepaskan! Kamu salah paham! Aku hanya bersembunyi!" pekik Elena, mencoba memberontak. Namun, setiap kali ia bergerak, tubuh Lucian justru kian merapat.
Elena dapat merasakan suhu tubuh pria itu sangat tinggi.
Kulit Lucian membara, dan denyut nadi di lehernya berpacu cepat. Elena segera menyadari sesuatu: Lucian tidak sekadar mabuk. Pria itu telah dijebak dan diberi obat perangsang dosis tinggi.
"Alasan yang buruk," bisik Lucian di sisi bibir Elena. Manik matanya berkilat liar menatap bibir merah wanita itu yang bergetar. "Tapi siapa pun yang mengirimmu, mereka tahu betul cara memilih umpan."
"Bukan! Lepaskan aku, Tuan Vance!" Elena mendorong dada bidang Lucian dengan kedua tangan, tetapi pria itu tak bergeming.
Lucian menunduk, menyapukan bibir di sepanjang garis rahang Elena. Sentuhan itu bagaikan arus listrik yang menyengat saraf, menimbulkan sensasi asing yang membuat lututnya mendadak lemas. Dominasi pria itu perlahan meluluhkan pertahanannya.
"Sudah terlambat untuk kabur, Sweetheart," gumam Lucian serak.
Cumbuan Lucian berpindah ke leher jenjang Elena, menuntut dan dominan. Jemari besar pria itu menyusup ke sela-sela rambut panjangnya, mengunci kepala Elena agar tak bisa menghindar.
Elena merintih saat gairah paksa dan dorongan insting berbenturan di dalam dadanya. Di bawah kungkungan pria sekuat Lucian, ia sadar tak punya tenaga untuk melawan secara fisik.
Sentuhan demi sentuhan berlanjut di bawah cahaya temaram kamar mewah itu. Di antara gesekan kain gaun yang terlepas perlahan dan elus panas yang membakar kulit, Elena memejamkan mata rapat, membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran hasrat terlarang bersama pria asing ini.
Malam itu, di atas tempat tidur king-size milik Lucian Vance, kepolosan dan harga diri Elena direnggut tanpa ampun, menyatukan takdir dua insan yang seharusnya tak saling kenal dalam ikatan dosa yang pekat.
Fajar mulai menyingsing, memancarkan sinar keemasan yang menerobos celah tirai tipis kamar penthouse.
Elena terbangun dengan rasa sakit yang menusuk sekujur tubuh. Ingatan tentang kejadian semalam menghantam kepalanya bagaikan godam. Ia menoleh ke samping dan melihat Lucian masih tertidur lelap, memamerkan dada bidang berototnya yang telanjang.
Dengan tubuh bergetar menahan perih, Elena turun dari tempat tidur. Ia memungut gaun merahnya yang terkoyak di lantai, lalu mengenakannya seadanya. Air mata menetes di pipinya, tetapi ia segera mengusapnya dengan kasar.
Aku tidak boleh lemah. Aku harus pergi sebelum pria iblis ini bangun, pikirnya panik.
Ia mencari tas kecilnya yang terlempar di dekat sofa. Tanpa memeriksa isinya, Elena bergegas berjalan pincang menuju pintu keluar. Namun, saat jemarinya baru saja menyentuh gagang pintu logam yang dingin...
KLIK.
Suara mekanisme kunci otomatis berbunyi.
"Mau ke mana setelah mengacaukan malamku, Nona Elena Restu?"
Elena membeku. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Ia berbalik perlahan dan melihat Lucian sudah berdiri tegak beberapa langkah di belakangnya.
Pria itu hanya mengenakan celana panjang hitam, memamerkan dada berototnya, dengan rambut hitam yang sedikit berantakan. Wajahnya kini tak lagi diselimuti kabut obat semalam; yang tersisa hanyalah tatapan tajam seorang predator.
Di antara jemari panjangnya yang elegan, Lucian menjepit sebuah kartu tipis berukuran persegi panjang.
Itu adalah Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Elena yang pasti jatuh dari tasnya semalam.
Elena menelan ludah dengan susah payah. "Tuan Vance, semalam itu murni kecelakaan. Tolong kembalikan kartuku dan biarkan aku pergi. Kita anggap hal ini tidak pernah terjadi."
Lucian melangkah maju perlahan. Setiap langkahnya memancarkan aura ancaman yang membuat Elena mundur hingga punggungnya kembali menempel rapat di pintu kayu.
Pria itu mengangkat tangan kanan, mencengkeram dagu Elena dengan keras hingga wanita itu terpaksa mendongak menatap matanya yang mematikan.
Bibir Lucian menyunggingkan senyum tipis penuh ironi.
"Kecelakaan?" bisiknya dengan suara serak yang membahayakan. "Kamu menyusup ke kamarku, menikmati malam bersama CEO Vance Group, lalu berpikir bisa keluar dari pintu ini begitu saja tanpa membayar harganya?"
"Kalau Anda berteriak sedikit saja, nyawa adik Anda melayang detik ini juga."Suara berat dan dingin dari pria berjas kelabu itu menghentikan napas Elena di ambang pintu ruang tamu belakang. Pria asing yang mengaku diutus oleh kakek Lucian itu memutar amplop cokelat di tangannya dengan senyum sinis.Jantung Elena bertalu keras, namun kepalanya berpikir cepat. Pria ini sengaja memanfaatkan celah di mansion saat Lucian sedang tidak ada di tempat."Kakek Lucian?" Elena melangkah satu tingkat lebih dekat, berusaha menjaga raut wajahnya tetap tenang. "Kalau Anda benar-benar orang Tuan Besar Vance, Anda tidak akan sembunyi-sembunyi bertamu lewat pintu belakang dengan memanfaatkan pelayan yang dendam."Bibir pria itu menyunggingkan seringai tipis. "Nyonya Vance yang cerdik. Tapi sayangnya, amplop ini bukan berisi ancaman palsu." Pria itu melempar sebuah foto dari dalam amplop ke atas meja.Foto itu memperlihatkan dua orang pria be
Napas Elena masih memburu. Pengakuan Lucian tentang dokumen Restu Group menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam ruang kerja yang remang-remang itu.Elena menatap pria di hadapannya. Manik mata sehitam malam milik Lucian tidak memperlihatkan kebohongan. Yang tersisa di sana hanyalah ketegasan murni dan aura dominasi yang tak tergoyahkan."Ayahku... menjual rahasia perusahaannya sendiri?" bisik Elena dengan suara gemetar, menahan sisa air mata yang menggenang di pelupuk matanya.Lucian menurunkan cengkeramannya di pergelangan tangan Elena, lalu mundur satu langkah untuk memberinya ruang bernapas. Ia mengambil map cokelat tua di lantai, lalu meletakkannya kembali ke dalam brankas baja di balik lukisan."Ayahmu terjerat utang judi pada konsorsium gelap sepuluh tahun lalu," ujar Lucian dengan nada suara yang rendah dan dingin. "Dia mencoba menjual dokumen paten Vance Group yang dipercayakan padanya. Aku h
Darah menetes dari telapak tangan Elena, membasahi kain kemeja putih Lucian saat pria itu membopongnya masuk ke dalam kamar utama mansion."Lucian, turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri," protes Elena pelan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan kokoh Lucian di pinggang dan lipatan lututnya.Lucian tidak mengindahkan protes itu sedikit pun. Wajah tampan sang CEO tampak begitu tegang, dengan rahang yang mengeras rapat. Setelah insiden penyusupan di rumah sakit dan ancaman racun lambat yang berhasil digagalkan tim keamanannya, Lucian langsung membawa Elena kembali ke mansion di bawah pengawalan tiga kali lipat lebih ketat.Brak.Lucian mendudukkan Elena di tepi tempat tidur king-size. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Lucian berbalik mengambil kotak P3K dari dalam lemari, lalu berlutut di lantai tepat di hadapan Elena."Berikan tanganmu," perintah Lucian dengan suara rendah dan bernada dingin yang tak terb
Kata-kata Devan terus bergema di kepala Elena bagaikandentang lonceng kematian.Lucian Vance adalah dalang di balik kebangkrutan dankematian ayahmu.Elena berdiri membeku di balkon, membiarkan angin malammenyapu wajahnya yang mendadak pucat. Saat berbalik untuk kembali ke ballroom, Devan sudahmenghilang dalam kegelapan, meninggalkan benih keraguan yang tertancap dalam dibenaknya.Apakah perlindungan dan sikap posesif Lucian selama inihanyalah topeng untuk menutupi rasa bersalahnya? Atau lebih buruk lagi sebuahcara untuk mengawasinya agar rahasia kelam sepuluh tahun lalu tak pernahterbongkar?"Elena?"Suara berat yang familier itu memecah lamunan Elena. Lucianberdiri di ambang pintu kaca balkon, memandangnya dengan kening sedikitberkerut. Pria itu melepaskan jas mewahnya, menyampirkannya di lengan, lalumelangkah mendekat."Kenapa berdiri di luar? Udara di sini dingin,"kata Lucian. Tanpa menunggu jawaban, ia melingkarkan jasnya ke bahu Elena yangterbuka. Aroma cologne mask












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.