LOGINDua jam berikutnya seolah-olah menjadi les privat hukum secara langsung dari Rolan. Lelaki itu mengajari Miranda untuk menulis setiap kejadian secara runut dan rapi, agar tidak terkendala pada bagian pengajuan gugatan. Rolan juga meminta Miranda menyusun berapa kerugian secara materi dan meminta membuat daftar benda/barang yang dibeli menggunakan uang dari Miranda, termasuk pakaian dan sepatu yang dikenakan Bayu saat wisuda.
Miranda adalah wanita yang cerdas, dia mampu menyerap semua ilmu dan juga tugas yang diberikan oleh Rolan dengan baik, kemudian mulai membuat surat gugatan seperti yang disarankan oleh Rolan. Berkas tersebut selesai sore hari, tepat ketika asisten Rolan tiba dan menyerahkan laporan. “Susan … ini rekan kamu yang baru. Kamu kan kewalahan apalagi baru punya bayi, tolong ubah penampilan dia, dia bakal jadi asisten pribadiku, setara sama kamu. Biar kamu lebih banyak waktu sama keluarga, hal lainnya aku sendiri yang ajarin,” kata Rolan kepada Susan. “Wah, makasih, Bos. Ayo ikut saya,” sahut Susan senang. Melihat penampilan Susan yang begitu modis, seketika Miranda menjadi rendah diri. Kepalanya tertunduk dan mengikuti langkah wanita di depannya yang bergerak begitu lincah. Tanpa banyak bicara, Susan mengikuti setiap instruksi Rolan melalui sebuah pesan. Wanita itu memilih sepuluh stel pakaian formal untuk bekerja, dua gaun malam untuk keperluan bertemu klien kelas atas dan tiga pasang sepatu yang tampak sangat mahal dan elegan. Semua dipilih dengan seksama oleh Susan, tidak ada kecemburuan sama sekali atas perlakuan tersebut. Pasalnya, Susan dulunya mengalami kekerasan dalam keluarganya dan menjadi korban pelecehan keluarganya sendir. Rolan menyelamatkannya dan memberinya pekerjaan, sama persisi seperti yang dilakukan terhadap Miranda kali ini. “Oh, nomer rekening Mbak Mira berapa? Bos minta beli Perlengkapan pribadi juga. saya gak tau seleranya Mbak,” kata Susan. Miranda menyebutkan beberapa angka dan notifikasi dari bank pun masuk di ponselnya. Wanita itu terkejut melihat angka yang begitu besar, wajahnya tampak cemas, berapa lama dia akan potong gaji dengan pengeluaran yang begitu banyak. “Jangan takut, Bos orangnya baik. Paling setahun lunas. Kan nanti ada bonus kalo kasusnya selesai, bisa bertahan dari situ,” lontar Susan yang mengerti kecemasan Miranda. “Begitu, yah. Mbak Susan pulang aja. Biar saya belanja sendiri, kan ada bayi di rumah,” usul Miranda. “Serius? Duh, makasih yah,” balas Susan dengan senang. “Iya. Kamu pulang aja, saya yang antar Mira nanti,” celetuk Rolan yang kini berada di belakang mereka. Tanpa membuang waktu, Susan mengucapkan terima kasih dan meninggalkan Rolan beserta Miranda. Situasi menjadi canggung, Miranda merasa begitu gugup berdekatan dengannya ketika memilih pakaian dalam. “Anu … saya agak malu milih pakaian dalam kalo Tuan ikut,” ucap Miranda pelan. “Oh … maaf. Silakan pilih sendiri, hitam dan merah bagus.” Rolan meninggalkan Miranda. “Hah? Maksudnya …,” gumam Miranda. Wajah Miranda bersemu merah, dirinya memilih beberapa set pakaian dalam dan baju tidur yang sudah lama dia idamkan, tidak lupa membeli handuk dan peralatan mandi serta parfum dengan aroma lembut berkelas. Usai membayar seluruh belanjaannya, Rolan membantu Miranda membawa barang belanjaannya yang lumayan banyak, biaya belanja yang digelontorkan juga terbilang tidak sedikit. Kini mereka sudah tiba di sebuah apartemen yang berada di seberang kantor sekaligus tempat tinggal Rolan, kemudian memintanya beristirahat. Keesokan harinya, Miranda datang ke kantor dengan penampilan yang jauh berbeda. Sangat cantik dan elegan. Kehadirannya mengundang decak kagum dari lawan jenis dan juga karyawan wanita. “Hari ini kamu antar surat somasi ini. Kirim langsung ke suami kamu,” kata Roland dingin. “Baik, Tuan,” sahut Miranda. Sementara itu di tempat lain, sebuah taksi berhenti di depan gang kontrakan sempit. Bayu turun dari mobil dengan mengangkat dagunya, mengenakan kemeja barunya yang dibelikan oleh Leni, setelah mereka merayakan kelulusan di restoran mewah. Pria itu melangkah menyusuri gang dengan gaya sombong, menatap sinis kepada beberapa tetangga yang sedang duduk di teras ketika menyapanya. Dia ingin memarahi Miranda karena kelancangannya datang ke kampus dan membuatnya malu di depan Leni. “Mira! Buka pintunya!” seru Bayu ketus sambil menggedor pintu kayu kontrakan mereka, “kurang ajar kamu ya, berani ngancem-ngancem aku kemarin!”Rolan tersenyum kecil, dia menyandarkan punggungnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.‘Mira cerdas juga, dengan posisi itu … maka posisi Bayu ada di bawahnya. Dia manfaatkan posisi dia di perusahan ini, di kantorku dia cuma bantu sesekali,’ batin Rolan.Wajah Bayu tampak bimbang, benaknya dipenuhi oleh rasa enggan dan dadanya menahan amarah yang bergemuruh, Bayu akhirnya terpaksa menganggukkan kepalanya, menerima tawaran itu daripada harus menanggung malu menjadi pengangguran bertitel sarjana.“Baiklah, karena Anda setuju dengan posisi ini. Maka kami memberitahukan bahwa upah pokok yang Anda dapatkan adalah lima juta rupiah, tunjangan dan potongan pajak dan sebagainya akan muncul di bulan kedua.”“Masa percobaan adalah tiga puluh hari, akan dievaluasi kemudian untuk kontrak enam bulan selanjutnya,” terang pria kurus berkacamata.“Wawancara seleksi selesai, bawa surat rekomendasi ini ke ruang HRD,” kata pria gemuk, pamannya Leni.Dia berpikir bahwa dengan gaji lima juta rupiah
Bayu menatap Miranda dengan penuh amarah, merasa wanita itu tidak layak duduk di sana.“Kamu itu benar-benar gak tahu malu ya, Mira! Tempat ini adalah khusus terhormat, bukan pasar atau tempat babu bisa duduk seenaknya!” bentak Bayu sambil menunjuk wajah Miranda dengan map ijazah di tangannya, mengabaikan tata krama dasar seorang pelamar kerja. “Para bapak penguji yang terhormat, wanita yang duduk bersama Anda ini adalah pembantu saya yang melarikan diri dari rumah. Dia sama sekali tidak punya pendidikan tinggi, hanya lulusan SMA, dan tidak pantas berada di ruangan ini!” seru Bayu dengan wajah pongah.Mendengar makian yang keluar dari mulut Bayu, tiga orang pewawancara senior yang duduk di sisi kiri langsung mendelik ke arah Miranda.Bayu yang melihat reaksi tersebut seketika merasa di atas angin, menduga bahwa seluruh pewawancara terkejut dan merasa tertipu oleh kehadiran wanita yang dia sebut sebagai pembantu itu. Namun, pria itu terlalu buta oleh keangkuhan untuk menyadari kenyata
“Minggir, Pak, Saya tidak punya waktu untuk melayani orang asing yang menghalangi jalan saya,” sahut Miranda dengan suara yang tenang dan dingin.Tatapan mata Miranda yang semula lembut kini menjadi tajam, menatap lurus ke mata mantan suaminya tanpa ada sedikit pun rasa takut.Bayu merasakan dadanya bergemuruh hebat karena amarah, dia tidak terima melihat wanita yang biasanya lemah, selalu memohon belas kasihannya kini menatapnya dengan pandangan merendahkan seperti itu.“Jangan berlagak sombong kamu, Mira! Kamu ke sini pasti mau mengacaukan wawancara kerjaku, kan? Dasar murahan!” sergah Bayu dengan wajah penuh amarah.“Sadar diri, Mbak, blazer mewah itu nabrak banget di badan mbaknya. Itu kalo blazernya bisa ngomong, pasti udah menjerit gak mau dipake sama babu.”“Oh, mana pengawalmu kemarin? Baya berapa dia ke Mbak buat sekali celup? Jangan-jangan gratis, kan situ murahan,” ejek Leni.“Mira, biar kamu dandan, pake baju mahal, itu gak akan bisa mengubah asal-usulmu yang cuma lulusan
“Besok?” tanya Miranda heran.“Aku dengar dia akan wawancara besok di salah satu perusahaanku. Kau dan aku akan hadir secara langsung di sana sebagai pewawancara,” jawab Rolan dingin.“Tuan, dia pasti buat keributan. Aku malu,” sahut Miranda.“Untuk apa malu? Kau bekerja sebagai asisten dan dia sedang wawancara demi tidak menganggur. Jika otaknya pintar, dia akan menahan diri dan ini balas dendam kecil,” balas Rolan.Miranda merasa perkataan Rolan ada benarnya, posisi Bayu besok sebagai pengangguran yang sedang wawancara, sedangkan dirinya adalah karyawan tetap Rolan di firma hukumnya.‘Balas dendam pertama, kau hina aku sebagai babu, bukan? Kali ini akan kutunjukkan, bahwa aku memang menjadi babu juga, tapi posisiku asisten pribadi,’ pikir Miranda.“Oh, aku hampir lupa. Pertemuan nanti malam diundur, kau bisa pulang lebih awal untuk istirahat,” ungkap Rolan.“Baik, Tuan,” sahut Miranda.Rolan kembali ke ruangannya dengan senyum di bibirnya, tidak ada pertemuan nanti malam, dia hanya
“Pak Manajer! Anda ini sudah tua tapi buta, ya, ada kesalahan di sini!" teriak Leni dengan suara nyaring.Wanita itu tidak peduli lagi dengan etika di dalam mall, membuat beberapa pengunjung mall menghentikan langkah dn menonton keributan tersebut. "Anda mau saja ditipu oleh akting pelayan kampung ini! Dia itu cuma babu! Pasti itu uang haram atau entah mencuri kartu itu dari mana untuk pamer di sini! Bagaimana bisa Anda malah memberikan baju gratis untuk wanita murahan seperti dia,” sambung Leni."Benar! Saya ini seorang sarjana hukum, saya juga tau kalo dia tidak punya kapasitas untuk memiliki uang sebanyak itu! Tindakan Anda ini sangat tidak profesional dan merugikan pelanggan lain seperti kami!" seru Bayu tidak mau kalah.Danu yang sudah habis kesabarannya, juga takut posisinya terus terancam oleh hasutan kedua orang ini, langsung membalikkan tubuhnya dengan wajah merah."Security! Pengawal!" teriak Danu lantang.Empat orang petugas keamanan mall bertubuh besar langsung masuk ke d
Bayu beralih menatap Rika si kasir dengan tujuan memprovokasi, agar Miranda diusir dari sana usai mereka puas menghina."Mbak Kasir, saya sarankan jangan lanjutkan pembayarannya. Dia ini cuma babu, buruh cuci. Kerja serabutan, gak punya uang sepeser pun. Paling-paling kartu yang dia bawa itu hasil mencuri atau hasil belas kasihan dari lelaki hidung belang!" seru Bayu mulai menghasut.Mendengar hasutan Bayu, Rika si kasir langsung menarik kembali tangannya dari mesin EDC."Masuk akal sih. Maaf, Mbak, silakan keluar dari butik ini. Kami gak mau reputasi butik kami rusak karena melayani wanita seperti Anda," ucap Rika ketus.Leni tertawa terpingkal-pingkal melihat Miranda yang terpojok, dengan sikap angkuh, Leni melangkah maju dan menepuk bahu meja kasir."Mbak Kasir tenang saja, dia mana mungkin bisa bayar jas seharga puluhan juta.”“Hei, Mira ... kalo kamu benar-benar bisa bayar jas itu, aku rela jilat semua lantai mall ini dengan lidahku sendiri!" tantang Leni penuh percaya diri, yaki







