Share

6

Author: Dinara Sofia
last update publish date: 2026-07-01 10:37:07

"A-asisten pribadi Tuan Rolan? Coba liat penampilan saya, apalagi pendidikan cuma tamat  SMA, Tuan. Tolong jangan hina saya dengan kebaikan hati Anda," tolak Miranda dengan tegas.

Rolan duduk di meja kerjanya, kemudian jemarinya bergerak lincah di atas papan ketik, begitu serius sehingga mengabaikan penolakan Miranda sejenak. Tidak sampai sepuluh menit, lelaki itu mencetak sesuatu yang tadi dia kerjakan dan menempelkan materai di sana, lalu mengamati penampilan Miranda dengan kemeja yang mulai pudar dan sepatu yang tampak kumal tersebut. Dia menarik napas dan menatap tajam ke arah Miranda, sehingga membuat wanita tersebut menundukkan kepalanya karena merasa terintimidasi. 

"Urusan penampilan, asistenku yang urusnya sore ini. Semua pengeluaran pakaian dan kebutuhan yang menunjang itu bakal dipotong dari gaji kamu secara bertahap, kamu tau kan kalo aku mau semua pakaian aku selalu terlihat sempurna?”

“Lagipula, kamu itu cukup teliti, bisa mengurutkan setiap bukti pembayaran dan catatan pengeluaran yang detail. Itu sebabnya penampilanmu harus diperbaiki, aku gak mau asisten pribadiku terlihat seperti orang yang habis ditindas," cakap Rolan mutlak, seolah-olah tidak menerima penolakan.

Lelaki itu kemudian menggeser selembar dokumen bermaterai yang dia siapkan tadi dan sebuah pena ke hadapan Miranda. 

"Tanda tangani ini, Miranda. Ini kontrak kerja samamu denganku, ingat … begitu pena ini menggores kertas, kamu bukan lagi mantan buruh cuci di rumahku, dan bukan lagi pembantu di mata suamimu. Kamu adalah asisten dari Rolan," kata Rolan dingin.

Miranda menatap dokumen di depannya dengan jantung yang berdebar kencang, kilasan kejadian di kampus, telepon mertuanya yang tidak tahu diri menyulut dendam yang begitu besar. Kali ini, debaran itu bukan karena takut atau sedih, melainkan karena gairah keberanian yang membakar jiwanya. Bayangan wajah angkuh Bayu dan Leni yang menginjak bunganya tadi kembali melintas, membuat dadanya bergemuruh.

‘Kalian menyebutku pembantu dan menginjak harga diriku, kan? Mari kita lihat, bagaimana kalian akan bersujud di bawah kakiku nanti,’ batin Miranda.

Miranda meraih pena tersebut, menekan ujungnya pada kertas, dan membubuhkan tanda tangannya di atas materai.

Rolan yang melihat itu menyipitkan mata, puas dengan ketegasan wanita di depannya. Pria itu mengambil kembali dokumen yang sudah sah, lalu menatap Miranda.

"Selamat bergabung, Miranda. Bersiaplah, karena besok pagi ... kejutan pertama untuk suamimu yang tidak tahu diri itu akan segera dikirimkan." Rolan tersenyum tipis.

“Sekarang, apa yang bisa saya kerjakan, Tuan?” tanya Miranda bersemangat.

“Dengar dan ingat ini baik-baik, Mira. Dalam kasus Perdata, siapa yang ingin menggugat atau mengendalikan sesuatu … maka dia harus memberi bukti atau berlandaskan bukti.”

“Kita akan pakai bukti ini dua perkara. Yang pertama untuk gugatan cerai dengan dalil penelantaran dan perselingkuhan. Kedua, untuk gugatan perdata mengenai perbuatan melawan hukum atas penyalahgunaan dana,” jawab Rolan.

Miranda mengangguk dan meminta selembar kertas untuk mencatat apa yang baru saja dia dengar. Wajahnya tampak serius dan menyimak dengan seksama.

Rolan menatap berkas yang berada di tangannya dengan teliti, memeriksa rekening tujuan dan juga buku catatan pengeluaran yang dicatat oleh Miranda. Suasana seketika menjadi hening, raut seius tampak dari keduanya. Miranda menunggu dengan sabar atas apa yang akan dikatakan Rolan kepadanya.

“Kalau aku perhatikan dari bukti transaksi dan catatanmu ini, aku mengerti kenapa suamimu merasa aman karena semua uang ini masuk ke rekening pribadinya, dan dia mengira ini adalah nafkah yang diberikan secara sukarela oleh seorang istri.”

“Tapi, catatan pengeluaran detail yang kamu buat ini membantah anggapan tadi. Catatan ini membuktikan adanya hubungan kausalitas, bahwa uang yang kamu kirim murni untuk biaya pendidikan dan fasilitas kuliahnya, bukan untuk biaya hidup bersama, karena kalian bahkan tidak tinggal bersama saat kamu jadi TKW,”  terang Roland.

“Benar, Tuan. Kata dia ibunya memang sering kirim uang buat dia selama aku jadi TKW. Jadi aku cuma kasih buat biaya kuliahnya aja, aku gak tau kalo uang itu juga dipake untuk pacaran,” sahut Miranda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Dinara Sofia
gaskeun! Makin semangat pokona mah, harus kawal Mira sampe sukses!
goodnovel comment avatar
Noor Sukabumi
lanjut thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Dekapan Mantan Majikan   94

    "Hei, kok Jam tangan itu aneh. Itu bukan jam biasa, Leni. Itu GPS!" seru pengemudi panik.Leni membalik tubuh, matanya melebar melihat titik merah di pergelangan Adhyastra berkedip. "Copot! Cepat copot!" teriak Leni panik.Sayangnya sebelum mereka bisa bertindak, lampu sorot polisi menyala di depan. Tiga mobil patroli menghadang jalan di ujung gang. Suara pengeras suara menggema. "Berhenti, keluar dari mobil!” seru suara dari pengeras suara.Di belakang, mobil Rolan berhenti tepat di pintu masuk gang. Miranda turun langkahnya tegas menghampiri mobil polisi. Rolan menyusul, dengan wajah cemas.Dua jam kemudian, di kantor Polsek.Adhyasta duduk di pangkuan Miranda, wajahnya masih sedikit merah tetapi sudah tersenyum karena Bi Minah membawakan cokelat kegemaran Adhyasta.Rolan berdiri di meja interogasi, menghadapi Leni yang kini diborgol."Leni, kau tahu kau sudah melanggar pasal 330 ayat (1) KUHP tentang penculikan dengan permintaan tebusan?" tanya Rolan tenang. "Ancaman pidana p

  • Dekapan Mantan Majikan   93

    Tepuk tangan riuh bertumpah ruah di dalam aula. Penjelasan Miranda yang gamblang, tanpa istilah kaku yang membingungkan, benar-benar memberikan pemahaman hukum yang mudah dicerna.Dari barisan belakang, Rolan berdiri bersandar di pintu keluar. Dia menatap istrinya dengan senyum tipis penuh rasa bangga. Miranda bukan lagi sosok yang bisa ditindas, melainkan wanita tangguh yang menjadi pelindung bagi sesamanya.Setelah acara selesai dan para peserta berangsur pulang, Miranda berjalan menghampiri Rolan."Bagaimana, Sayang? Bahasanya tidak terlalu membosankan, kan?" tanya Miranda sambil tersenyum lelah tapi puas.Rolan merangkul bahu Miranda, mengecup dahi istrinya dengan hangat. "Sempurna, Sayang. Luar biasa, mudah dipahami. Materi tadi benar-benar bikin orang sadar hukum tanpa harus pusing baca kitab undang-undang," jawab Rolan.Rolan lalu menggandeng tangan Miranda menuju mobil. “Adhyasta gimana? Udah dijemput, kan?” tanya Miranda.“Sudah, lagi di rumah sama Bi Minah,” jawab Rolan.S

  • Dekapan Mantan Majikan   92

    “Iiish, genit. Belom juga sehari, nanti tunggu dua bulan,” balas Miranda sambil menepuk punggung tangan suaminya.“Hahaha, aku becanda, Sayang. Tapi … serius, aku udah ga kuat. Di luar itu semua, aku bersyukur kamu dan anak kita selamat, sehat,” sahut Rolan."Terima kasih ya, Sayang. Tidak pernah membiarkan aku menyerah di masa-masa paling terpuruk." ucap Miranda tulus.Rolan tersenyum manis, memajukan wajahnya untuk mengecup bibir Miranda dengan lembut."Aku yang harus terima kasih pada kamu, Miranda. Kamu mengajarkan aku artinya bertahan dan berjuang yang sebenarnya. Dulu aku pikir aku bisa melindungi segalanya dengan kekuatan dan posisiku, tapi ternyata keteguhan hatimulah yang menyelamatkan keluarga kita," sahut Rolan jujur.Tiga tahun berlalu sejak kehadiran Adhyasta, melengkapi kebahagiaan Rolan dan Miranda. Rumah dua lantai mereka kini selalu ramai dengan suara langkah kaki mungil dan ocehan bocah tiga tahun itu. Di taman belakang, Adhyasta sedang asyik menendang bola plastik

  • Dekapan Mantan Majikan   91

    Tanpa terasa bulan demi bulan berlalu, membawa perubahan besar di kediaman Rolan dan Miranda. Proses pemulihan itu tidak terjadi dalam semalam, melainkan lewat kesabaran luar biasa dari Rolan yang tidak pernah absen mendampingi, serta kehangatan rumah tangga Aris dan Sari yang selalu menjadi tempatnya bersandar.Miranda kini berdiri di atas kakinya sendiri dengan cara yang jauh lebih matang. Dia kembali berpraktik di dunia hukum, bukan lagi sebagai wanita yang dibayangi ketakutan, melainkan pengacara yang disegani. Setiap melangkah ke dalam ruang sidang, aura ketenangan dan ketegasannya terpancar jelas. Pengalaman pahit di masa lalu tidak membuatnya terpuruk, melainkan menempa cara berpikirnya menjadi lebih tajam dan bijaksana dalam membela hak-hak orang lain.Sore itu, suasana di kantor firma hukum Rolan tampak tenang. Rolan baru saja menyelesaikan penandatanganan dokumen analisis kasus ketika pintu ruang kerjanya terbuka. Miranda melangkah masuk mengenakan gaun hamil krem lembut y

  • Dekapan Mantan Majikan   90

    Aris yang baru selesai menerima telepon dari markas kepolisian melangkah mendekati mereka berdua.“Davian sudah dipindahkan ke penjara dengan hukuman seumur hidup, dan Bayu baru saja dijebloskan ke sel tahanan Polda malam ini,” terang Aris dengan nada lega.“Proses hukum kita selesai. Mereka berdua mendapatkan hukuman paling maksimal tanpa ampun,” imbuh Aris lagi.Miranda menatap salinan berkas itu sejenak. Tidak ada lagi raut histeris atau ketakutan liar di wajahnya, dengan jemari tangannya yang lain, dia mengelus lembut perutnya yang terlindung di balik pakaian hangat.Bayangan buruk dan rasa terintimidasi yang selama ini menghantuinya perlahan terkikis, berganti dengan perasaan aman di tengah perlindungan orang-orang yang mencintainya.Rolan mengecup samping kepala Miranda dengan kelembutan mendalam, berbisik pelan tepat di telinganya."Keadilan sudah berdiri untukmu dan anak kita, Sayang. Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuh atau menyakitimu,” bisik Rolan.Miranda mengangguk pe

  • Dekapan Mantan Majikan   89

    Ruang sidang utama Pengadilan Negeri hari itu dijaga begitu ketat hingga ketegangan terasa menusuk sampai ke lorong luar. Puluhan personel kepolisian bersenjata lengkap menyisir setiap sudut area gedung, memastikan proses peradilan berjalan dengan aman dari kerumunan media maupun simpatisan.Sesuai ketentuan hukum untuk kasus kejahatan seksual dan tindak pidana berat yang melibatkan trauma korban, majelis hakim menetapkan persidangan berlangsung secara tertutup.Davian duduk di kursi pesakitan dengan kemeja putih lusuh dan celana kain hitam. Wajahnya yang dahulu penuh keangkuhan kini tampak kusam, menyisakan bekas luka memar yang mengering di sekitar pipi dan bibirnya. Pria itu terus menunduk kaku, menatap lantai dingin tanpa berani menegakkan kepala, seolah sadar bahwa kehancuran total telah mengepung hidupnya dari segala penjarah.‘Meski kau adikku, aku bersumpah membiarkanmu membisik di penjara,’ batin Rolan.Di meja penuntut umum, Rolan duduk berdampingan dengan tim jaksa penuntut

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status