Share

Bab 39 — Topeng Pertama

Penulis: Vyn
last update Tanggal publikasi: 2026-07-11 12:15:09

Pagi itu, suasana mansion terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya.

Beberapa orang hilir mudik membawa kotak-kotak besar, koper pakaian, dan berbagai perlengkapan yang belum pernah Zoey lihat selama tinggal di sana. Para pelayan bekerja cepat tanpa banyak bicara, seolah semua telah mengetahui tugas masing-masing.

Zoey berdiri di ambang pintu ruang tamu sambil mengernyitkan dahi. "Ada apa sebenarnya?"

Belum sempat siapa pun menjawab, terdengar langkah kaki mendekat dari arah lorong.

Dimitri mun
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 48 — Di Antara Ketakutan dan Rasa Percaya

    Pintu rahasia itu akhirnya tertutup sepenuhnya.Suara alarm yang sebelumnya memekakkan telinga perlahan menghilang, digantikan oleh keheningan yang terasa asing.Dimitri berdiri diam di ujung lorong. Malam itu, ia tidak lagi mendengar suara langkah kaki, tembakan, ataupun suara orang-orang yang sedang mengejar mereka.Hanya suara napas. Dan suara langkah kaki mereka sendiri yang perlahan menjauh dari dunia yang baru saja mereka tinggalkan.Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Dimitri menyadari satu hal—Berpindah tempat bukan berarti mereka benar-benar aman. Karena jika pria di balik layar itu benar-benar seseorang dari masa lalunya… maka mungkin bahaya terbesar bukanlah orang-orang yang sedang mengejar mereka. Melainkan rahasia yang selama ini berusaha dikubur oleh masa lalu.Dimitri terus berjalan menyusuri lorong sempit itu. Lampu-lampu kecil di sepanjang dinding menyala redup, menerangi jalan menuju ruang perlindungan di bawah tanah.Zoey berjalan di sampingnya. Bebe

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 47 Wajah di Balik Bayangan

    Suasana di dalam rumah mendadak berubah tegang.Tak seorang pun bergerak. Hanya suara napas mereka yang terdengar samar di antara bunyi alarm yang terus meraung. Lampu indikator berwarna merah berkedip tanpa henti, memantulkan bayangan di wajah mereka.Dimitri masih menatap layar monitor.Pria yang berdiri di depan gerbang itu tidak bergerak sedikit pun. Wajahnya tertutup bayangan topi, tetapi ketika kamera memperbesar gambar, kemiripannya dengan Dimitri terlihat semakin jelas.Terlalu jelas. Seolah-olah Dimitri sedang melihat dirinya sendiri dari masa lalu.Dimitri mengepalkan tangan. Ia tidak tahu siapa pria itu, tetapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang terasa begitu familiar.Zoey berdiri beberapa langkah di belakangnya. Wajah gadis itu tampak pucat. Ia beberapa kali menatap layar, kemudian beralih kepada Dimitri."Dimitri..." suaranya terdengar pelan. "Siapa sebenarnya dia?"Dimitri tidak langsung menjawab.Tatapannya tetap tertuju pada monitor. "Aku belum tahu."Victor yang be

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 46 — Tamu di Tengah Malam

    Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 45 — Di Balik Topeng Malam

    Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 44 — Bayangan yang Mengawasi

    Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena

  • Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia    Bab 43 — Rencana Kedua

    Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status