LOGIN"Bunuh saja aku, dan semuanya selesai!" Alsya. "Tidak semudah itu." Elvan Dipaksa menikah dengan pria bayaran sang bibi, agar hidup Alsya semakin menderita. Tapi siapa sangka, Elvan. Pria bayaran itu malah memperlakukan Alsya dengan sangat baik. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, Alsya tahu siapa Elvan sebenarnya. Pria yang bisa membuat Alsya merasakan jatuh cinta itu, ternyata penjahat kelas kakap. Apakah Alsya akan tetap bersama Elvan, atau pergi bersama pria yang sejak lama mencintai Alsya? dan selalu ada saat Alsya sedang terpuruk.
View More"Besok kamu menikah."
Alsya yang masih berdiri di sisi meja makan setelah baru saja menyajikan menu sarapan dibuat terkejut dengan ucapan bibinya. Kata-kata itu jelas ditujukan untuknya, meski sang bibi tidak sedang menatap Alsya.
“Menikah, Bi? Tapi–”
“Aku tidak terima penolakan,” tukas Bibi Widia ketus. Ia menatap tajam pada Alsya, tampak tidak suka. “Masih untung ada yang mau sama anak haram kayak kamu. Harusnya kamu bersyukur!”
Alsya menundukkan kepalanya. Dikatai anak haram oleh sang bibi sudah menjadi santapan sehari-harinya. Ia dianggap aib oleh sang bibi, hanya karena ia lahir di luar nikah, dari perempuan yang tidak disukai oleh keluarga Widjaya.
Sudah begitu sejak hari pertama ia dibawa ke rumah ini, sampai hari ini, ketika usia Alsya sudah menginjak 22 tahun.
Meski begitu, bukan berarti Alsya tidak sakit hati. Namun, keberadaannya di sini seperti benalu yang harus dilenyapkan. Terbukti saat sang bibi memaksanya menikah.
"Alsya!"
Teriakan Bibi Widia membuat Alsya mengangkat wajahnya, lalu menatap sang bibi.
“I-iya, Bi–”
"Makanan macam apa ini yang kamu hidangkan hah!" seru bibi Widia, lalu melempar piring berisi nasi goreng ke tubuh Alsya.
Prang!
Piring jatuh dan hancur berkeping-keping di atas lantai. Membuat Alsya langsung memejamkan matanya sekilas karena terkejut.
"Dasar anak haram, bisa apa kamu hah! Masih untung, aku izinkan kamu tinggal disini. Buat Makanan saja tidak becus!" kata Bibi Widia sinis. "Apa kamu mau menyusul papa kamu ke neraka hah?"
"Maaf Bi, tapi aku tadi sudah mencicipi nasi gorengnya. Dan rasanya enak," Alsya memberitahu.
"Enak kamu bilang? Kalau begitu makan!” Bibi Widia menunjuk nasi goreng yang sudah berserakan di lantai.
"Bi–"
"Tunggu apa lagi? Cepat!" perintah bibi Widia, sambil mendorong tubuh Alsya hingga gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
Karena tidak siap, Alsya jatuh tepat di pecahan piring, membuat tangannya terluka.
"Ah!" pekik Alsya.
Jelas bibi Widia melihat darah mengalir dari tangan Alsya, tapi tidak ada rasa iba sedikitpun. Wanita paruh baya itu justru bangkit, dan berjongkok di hadapan Alsya sebelum kemudian menarik rambut Alsya dengan kencang.
“Ah! Bibi–”
"Makan!" Bibi Widia mendorong kepala Alsya mendekat ke tumpahan nasi di lantai.
Mau tidak mau, dengan tubuh gemetar dan tangan yang berdarah, Alsya akhirnya menuruti perintah itu. Disentuhnya nasi goreng yang tercecer di lantai tersebut menyentuh nasi goreng yang kotor, lalu memasukkannya ke mulutnya.
"Seperti itu anak haram harusnya makan." kata Bibi Widia. Kini ia tampak puas dan berdiri. “Bereskan, dan ingat. Besok kamu akan menikah.”
Alsya menahan agar tangisnya tidak pecah. Ia berlutut, lalu dengan hati-hati membereskan kekacauan di hadapannya meski tangannya gemetar.
“Non,” panggil salah seorang asisten rumah tangga yang bekerja di kediaman itu. Mbok Sumi, satu satunya penghuni rumah yang masih peduli dengan Alsya di sana. Beliau menghampiri Alsya dan membantunya membersihkan pecahan piring.
Setelah semuanya beres, Alsya kemudian dibawa ke kamar. Mbok Sumi mengeluarkan kotak obat setelahnya.
"Tangan Nona berdarah, Mbok akan memberi obat."
"Terima kasih Mbok." ujar Alsya. Hanya Mbok Sumi yang baik di rumahnya di kediaman ini. Keluarga ayahnya bisa jadi keluarga terpandang, tapi Alsya tidak merasa diperlakukan seperti manusia di rumah ini.
“Mbok,” ucap Alsya pelan. “Katanya besok aku harus menikah.”
“Laki-laki seperti apa yang akan kunikahi?” lanjut Alsya. Dipandanginya asisten rumah tangga yang kini tengah mengobati tangan Alsya dengan hati-hati.
"Maaf, Non. Mbok hanya tahu, pria itu masuk penjara karena kekerasan rumah tangga yang dia lakukannya pada mantan istrinya," ujar Mbok Sumi.
Sepasang mata Alsya bergetar menatap Mbok Sumi. "Mbok pernah melihat pria itu?" tanya Alsya.
Mbok Sumi menggelengkan kepalanya. "Tidak Non."
Alsya menghelas nafas kasar. "Apa pernikahan yang Bibi atur, hanya akan membuat aku semakin menderita Mbok?" tanyanya, wajah kembali murung.
Setelah membalut tangan Alsya dengan perban. Mbok Sumi mengelus pipi Alsya dengan lembut. Ia sudah tahu tujuan Bibi Widia menikahkan Alsya dengan mantan narapidana.
"Maaf, Non."
"Tidak apa-apa Mbok, terima kasih sudah mengobati lukaku." Ucap Alsya coba untuk tersenyum.
Gadis itu terdiam sejenak, berpikir. Ia sudah tidak punya keluarga lagi. Ayahnya sudah meninggal setelah membawa Alsya ke sini, meninggalkan dirinya menjadi mangsa keluarga Widjaya.
Sekarang, ia memang ada kesempatan untuk keluar dari keluarga ini. Namun, jika ia menikah dengan pria yang disodorkan oleh sang bibi, hidupnya pasti tetap akan berada di neraka.
"Mbok, aku ingin minta tolong." Alsya tiba-tiba berucap.
Mbok Sumi urung beranjak dari duduknya, dan menatap pada Alsya. "Minta tolong apa Non?"
"Aku ingin kabur dari sini, Mbok." jawab Alsya. "Apa Mbok mau membantu aku kabur?"
Mbok Sumi terkejut dengan rencana Alsya. Gadis penurut itu akhirnya akan mengambil langkah.
"Nona yakin dengan keputusan Nona?"
"Iya, aku yakin Bi. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang tidak aku kenal. Dan aku sudah lama berencana kabur dari rumah ini, karena rumah ini sudah seperti neraka bagiku."
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi. Sekarang Mbok mau mengambil makanan, pasti Nona lapar." Mbok Sumi beranjak dari duduknya, lalu keluar dari dalam kamar yang berukuran dua kali dua meter, dimana Alsya sekarang berada.
Kamar yang ditempati oleh Alsya selama tinggal di rumah tersebut, kamar yang harusnya di tempati oleh pembantu. Bukan Alsya yang memiliki darah dari keluarga Widjaya.
Sesuai dengan keinginan Alsya yang tidak ingin menikah esok hari, malam ini dengan di bantu mbok Sumi. Ia berhasil keluar dari rumah.
"Ambillah," Mbok Sumi memberikan sejumlah uang di tangan Alsya.
"Mbok."
"Mbok tahu, kamu tidak punya uang. Jadi pakailah ini, untuk bekal kamu."
"Mbok, terima kasih." ucap Alsya, lalu memasukkan uang ke dalam kantong celananya. Uang yang sangat berarti untuknya, karena selama ini Alsya tidak pernah di beri uang oleh bibi Widia.
"Cepat pergi, jangan sampai ada yang melihat kamu. Cepat!"
"Baik Mbok." Alsya segera berlari meninggalkan halaman belakang, dan menjauh dari rumah tersebut.
"Ya Tuhan, lindungi anak itu." ucap Mbok Sumi, dan langsung berbalik.
Dan Mbok Sumi terkejut, karena Bibi Widia sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya. "Nyo... Nyonya."
"Jadi ada pengkhianatan di rumah ini." kata Bibi Widia menatap sinis pada Mbok sumi.
"Maafkan saya Nyonya."
Plak!
Bibi Widia menampar pipi Mbok Sumi. Lalu menyuruh sekuriti dan penghuni rumah yang berada di pihaknya untuk mengejar Alsya. "Bawa anak haram itu kembali.”
Ethan akhirnya mencoba menerima kenyataan yang ada.Tidak peduli seberapa banyak kekurangan yang dimiliki Elvan di masa lalu, Alsya tetap memilih pria itu. Elvan adalah suaminya. Pria yang telah melewati begitu banyak hal bersamanya. Pria yang kini menjadi satu-satunya lelaki yang ingin Alsya cintai hingga akhir hidupnya.Terlebih lagi, Alsya kini telah mengetahui perasaan Ethan. Saat Alsya secara tegas memperingatkan Ethan untuk mengubur perasaannya, Ethan benar-benar menyadari bahwa ia tidak memiliki pilihan lain.Alsya bahkan mengatakan sesuatu yang membuat hati Ethan terasa begitu sakit.Jika Ethan tetap mempertahankan perasaannya dan terus berharap pada sesuatu yang mustahil, maka Alsya tidak akan mau lagi bertemu dengannya.Bukan hanya untuk sementara. Namun, mungkin untuk selamanya.Dan bagi Ethan, membayangkan hidup tanpa bisa melihat Alsya sama sekali terasa jauh lebih menyakitkan daripada harus memendam cintanya seorang diri.Akhirnya, Ethan mengalah. Ia berjanji kepada Alsy
Dua bulan telah berlalu.Waktu seolah berjalan begitu cepat setelah semua badai yang pernah menerpa kehidupan Elvan dan Alsya. Luka-luka yang dahulu menghiasi tubuh mereka kini telah sembuh. Bukan hanya luka fisik, tetapi perlahan luka di dalam hati mereka pun ikut pulih.Kini, Elvan dan Alsya telah kembali menjalani kehidupan yang jauh lebih tenang.Jangan ditanya bagaimana kehidupan mereka saat ini.Tentu saja, sangat bahagia. Alsya telah menerima seluruh masa lalu Elvan. Ia tidak lagi memandang suaminya sebagai pria dengan kehidupan kelam yang pernah dipenuhi darah, kekuasaan, dan dunia gelap.Elvan adalah suaminya, Pria yang selalu melindunginya.Pria yang pernah mempertaruhkan segalanya demi dirinya.Dan yang terpenting, pria itu kini benar-benar berusaha meninggalkan kehidupan lamanya.Elvan tidak lagi menjalankan bisnis gelap yang dahulu membuat namanya ditakuti banyak orang. Ia memilih untuk memulai kehidupan baru dan mengelola showroom mobil mewah yang kini menjadi pekerjaann
Zans merasa lega bukan main ketika melihat Elvan akhirnya membuka mata. Setelah berhari-hari berada dalam kondisi kritis dan membuat semua orang diliputi kecemasan, kini pria yang selama ini dianggapnya begitu kuat itu akhirnya sadar.Tanpa membuang waktu, Zans segera berlari keluar dari ruang ICU untuk memanggil dokter Dann."Dann! Bos telah sadar!" teriak Zans begitu melihat dokter Dann berada tidak jauh dari ruangan.Dokter Dann yang sedang berbicara dengan seorang suster langsung menoleh. "Apa? Tuan Elvan sadar?"Zans mengangguk cepat. "Iya, Dann. Bos sudah membuka matanya."Dokter Dann segera masuk ke dalam ruang ICU, diikuti Zans dari belakang.Sementara itu, Alsya yang sejak tadi berada di sisi ranjang Elvan langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar suara sang suami.Matanya yang sembap seketika kembali dipenuhi air mata."Sa... sayang," ucap Alsya lirih.Air mata kebahagiaan jatuh membasahi pipinya. Semua rasa takut yang memenuhi hatinya seolah menghilang begitu saja keti
"Nona sudah bangun?" tanya Zans, berusaha menghindari pertanyaan Alsya."Jangan mengalihkan pertanyaanku, Zans. Jawab saja, apa maksud dari perkataanmu tadi?" tanya Alsya, masih penasaran. Ia jelas mendengar Zans menyebut kata bayiku, sementara di salah satu tangannya terdapat susu hamil siap minum.Di dalam kamar itu hanya ada Alsya dan Ana, sahabatnya yang memang sedang hamil.Ana yang duduk di pinggir ranjang perawatan Alsya langsung menatap tajam ke arah Zans. Tatapannya seolah memperingatkan pria itu agar tidak mengatakan sesuatu yang bisa membongkar rahasia mereka.Zans sempat melirik Ana, lalu kembali menatap Alsya."Maaf, Nona. Tadi saya salah bicara. Maksud saya bayi yang sedang sahabat Nona, Nona Ana, kandung."Alsya mengerutkan kening. "Sepertinya kalian sudah akrab.""Tentu saja tidak," sahut Ana cepat.Alsya mengalihkan pandangannya kepada sang sahabat."Tapi kenapa dia tahu kamu hamil?""Saya pernah mendengar Nona dan Tuan membicarakan kehamilan Nona Ana," jawab Zans den
"Ka... kamu." ucap Alsya terbata. Tatapannya terus menatap pada pria yang ada di hadapannya.Namun, respon pria di hadapannya dingin sangat dingin, seperti tidak ada kehangatan di sorot matanya."Kenapa..." Alsya tidak jadi meneruskan ucapannya, tubuhnya yang tidak lagi memiliki tenaga karena peru
Sakit dan dingin.Itu yang Alsya rasakan, ketika membuka kedua matanya dengan perlahan.Entah sudah berapa lama Alsya pingsan, ia tidak tahu. Yang pasti sekarang seluruh tubuhnya terasa sakit, seperti semua tulang yang ada di tubuhnya remuk.Saat kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Alsya menging
Sementara itu, Alsya terus berjalan. Sesekali berlari. Ia tidak tahu kapan bibinya akan mengetahui pelariannya, jadi ia harus pergi sejauh mungkin dalam waktu singkat. Jika tertangkap, semuanya akan berakhir. Tiba-tiba, dari kejauhan, ia mendengar suara langkah kaki dan teriakan. "Jangan sampai l
"Besok kamu menikah."Alsya yang masih berdiri di sisi meja makan setelah baru saja menyajikan menu sarapan dibuat terkejut dengan ucapan bibinya. Kata-kata itu jelas ditujukan untuknya, meski sang bibi tidak sedang menatap Alsya.“Menikah, Bi? Tapi–”“Aku tidak terima penolakan,” tukas Bibi Widia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews