Mag-log inSetelah kehilangan kedua orang tuanya, Zoey tumbuh dengan satu tujuan: membalas dendam dan mengungkap kebenaran. Ia bertemu Dimitri Volkov, pewaris tunggal organisasi paling berkuasa dan ditakuti di kota. Ketika jalan mereka bertemu, Dimitri menawarkan sebuah perjanjian yang tidak bisa ditolak Zoey: pernikahan kontrak yang akan saling menguntungkan. Namun, kesepakatan tanpa perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Dimitri dan Zoey terjebak dalam permainan berbahaya antara cinta dan balas dendam. Saat musuh mengintai dari segala arah dan kebenaran mulai terungkap, mereka harus memilih: bertahan atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
view moreRiven
The air in the locker room was thick with the smell of sweat, old leather, and that kind of happiness that comes after a good win. We had fought for this one, and the feeling was good, but it was also heavy. Everyone was still buzzing, and talking over one another as we pulled off our helmets and shin guards.
"Greg! Get off here, man! I'm bathing. Don't look at my ass, you gay motherfucker!" Sean shouted, his voice cutting through the noise, and a wave of laughter erupted all around the room. It was just boys being boys, all of us being loud and happy and rough with one another. Sean threw a wet towel at Greg, who just laughed and threw it back.
I smiled at the noise, but it didn't quite get to me. I was good at this. I was good at this game, good at being the captain, and most of all, good at playing the part.
I was busy trying to unstrap a particularly stubborn shin guard that would not just let go of my shin when my phone started to ring.
It was a sharp, high-pitched ringtone that cut through the noise. It was Lara's ringtone. I had set it that way myself, years ago, when I still thought it was cute.
"Damn… Captain Riven, the lover boy's phone is ringing!" Jade called out, clearly trying to tease me. Then laughter started up again.
"He doesn't want to pick it up!" someone else added.
They were right. I didn't want to pick it up. I knew what it was all about already. A long talk about duties. Questions about why I was so distant. And a constant reminder of what everyone expected from me. So, it was just better that I let it ring. And I let it ring again.
I put the phone face down on the bench. I knew she was calling to check on me, to see if I was okay. Which is good, right? I mean, the thought of it should have made me feel warm, yeah?
But no. Not even in the slightest way did it make me feel warm. It just made me feel tired, bored, and extremely exhausted. I was so fucking tired of being what everyone wanted me to be.
"Is that not your girlfriend, Captain? Why don't you want to answer her call?" Jade asked, nudging me playfully on my arm.
I just gave a lazy shrug. "I'll call her back later. We just finished up," I lied.
We just finished up. Yes, that's what I said. But the truth was, I just didn't want to talk to her. It was always a conversation about what we were, not about who we wanted to be.
The locker room door swung open just then, and everyone fell silent. It was a funny thing. One moment, we were a bunch of rowdy boys, and the next, we were quiet men, standing to attention.
Lara walked in, and you could immediately perceive her. She was easy to identify—she smelled of perfume, money, expensive things, and the weight of tradition.
She was beautiful, of course. Everybody knew that. Her smile was bright and flawless, but I could see past that smile. It was a smile she used for the pack, for the cameras, and for our by-forced future.
She came straight to me, her eyes on me alone. She leaned in, with a soft voice. "Baby, I've been calling you."
A low chorus of "ooohs" and "awwwn" roared from my teammates. The cooing was loud, but it was also a sign of respect. They knew she was the future Luna, the one who held my hand when my reign began.
I pulled her into a hug. It was a familiar hug. I had done it so many times already, and I didn't have to think about it. It was more like an instinct now. "Hey, Lara. We just finished up. I didn't have my phone on me."
That was the lie I always told. And it was the lie she always accepted. We were both good at this. Good at pretending.
She didn't let go. She kept her arms wrapped around my neck, her lips brushing my ear. "I was worried about you."
"It was just a game, Lara," I said, trying to pull away. But no, she wouldn't leave me.
She held on tight. "No, Riven, everything you do out there is not just a game to me."
Her breath was warm against my skin, which on a good day was supposed to send shivers down my spine, right? But instead, it sent aches to my stomach.
She leaned in, her lips finding mine. I didn't kiss her back right away, but then I did, because that's what was expected. It was a public kiss, a show for all of the boys in the room—to make them jealous, to make them see perfection, and above all, a reminder of what we were.
When she finally pulled away, her eyes were no longer soft. They were hard, and they held my gaze with purpose. "I've been calling you because the council called. They want to see you this evening."
I felt my blood drain from my face. The council was the law. They were the ones who held the keys to our world. And they didn't just want to "talk." I knew that already. And that was what I had been avoiding. Their call always meant that they wanted to remind me of my place as an ‘Alpha’.
Zoey mengira malam itu akan menjadi malam pertama yang tenang sejak semua kekacauan dimulai. Ia salah. Suara air dari shower memang berhasil meredam sebagian isi kepalanya, tetapi tidak mampu menghapus kegelisahan yang terus menghantuinya. Bayangan rekaman CCTV, jasad Nikolai Volkov, dan kemarahan Dimitri masih berputar tanpa henti di benaknya. Ketika akhirnya ia keluar dari kamar mandi, uap hangat masih menempel di kulitnya. Namun langkahnya langsung terhenti—kamar itu kosong, Dimitri sudah tidak ada di sana. Di atas wastafel telah terlipat rapi beberapa pakaian baru, persis seperti yang dijanjikannya. Namun bukan pakaian itu yang menarik perhatian Zoey. Melainkan sebuah map hitam yang tergeletak diatas meja dekat ranjang. Map yang sebelumnya tidak ada. Dan entah mengapa, nalurinya mengatakan bahwa ia seharusnya tidak membukanya. Setelah mengenakan pakaian barunya, Zoey memutuskan turun ke lantai dasar. Pandangannya menyapu seluruh ruangan, berharap menemukan sosok Dimitri. Na
Zoey masih berdiri diam di tengah kamar Dimitri Volkov. Matanya menyapu seluruh ruangan sekali lagi. Setiap sudut kamar itu mencerminkan pemiliknya—mewah, rapi, dan nyaris tanpa kehangatan. Seolah tidak pernah ada tempat bagi kelemahan dalam kehidupan Dimitri Volkov. Zoey perlahan berjalan mendekati jendela besar yang menghadap ke taman mansion. Cahaya bulan memantul di kaca, memperlihatkan bayangan wajahnya sendiri. Lelah, tegang, dan dipenuhi terlalu banyak pertanyaan. Ingatannya kembali pada rekaman CCTV yang mereka lihat beberapa jam lalu. Tubuh Nikolai Volkov, pria-pria bertopeng, dan benda misterius yang diambil dari dalam jasad pria tua itu. Sesuatu yang bahkan membuat Dimitri kehilangan kendali atas emosinya. Zoey mengepalkan tangannya perlahan. "Apa sebenarnya yang mereka cari?" gumamnya pelan. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menyusun semua kepingan yang selama ini berceceran di kepalanya. Kematian kedua orang tuanya, kematian Nikolai Volkov, dan sekarang benda mi
Zoey duduk diam di kursinya, menatap jalanan malam yang melintas di balik jendela mobil. Suara mesin yang meraung pelan seharusnya terasa menenangkan, tetapi entah mengapa ketegangan di dalam mobil justru semakin menyesakkan.Ia melirik Dimitri sekilas. Pria itu duduk tegak dengan tatapan lurus ke depan. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya tampak lebih gelap dari biasanya.Nama itu kembali muncul, Starling. Mendengar nama itu disebut beberapa saat lalu membuat perasaan Zoey tidak nyaman. Ia tidak tahu banyak tentang keluarga tersebut, tetapi dari cara Dimitri bereaksi, jelas bahwa mereka bukan sekadar musuh biasa.Ponsel Andrian tiba-tiba bergetar. Zoey melihat pria itu memeriksa layar ponselnya sebelum ekspresinya berubah serius."Tuan..."Dimitri langsung menoleh."Ada perkembangan."Zoey tanpa sadar ikut menegakkan tubuh."Apa?" tanya Dimitri.Andrian menelan ludah sebelum menjawab."Salah satu tim kita menemukan sesuatu di rumah sakit."Tatapan Dimitri langsung berubah taj
Lorong bawah tanah itu panjang dan dingin. Zoey berjalan di belakang Andrian tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Suara langkah sepatu mereka menggema pelan di sepanjang dinding beton. “Ruangan ini aman untuk sementara, Nyonya,” ucap Andrian saat berhenti di depan pintu besi. Klik. Pintu terbuka. Zoey masuk lebih dulu. Matanya langsung menyapu seluruh ruangan. Tidak ada jendela. Satu pintu masuk. Satu kamera di sudut atas. “Tak ada yang boleh masuk tanpa izin Tuan Dimitri,” lanjut Andrian. Zoey meliriknya pelan. “Termasuk kau?” “Kalau diperintahkan, saya tetap masuk.” Zoey tersenyum kecil. “Setidaknya kau jujur.” Andrian hanya menunduk singkat sebelum keluar. BRAK. Pintu tertutup. Ruangan langsung sunyi. Zoey berjalan mendekati meja kecil di sudut ruangan sambil mengingat kembali kekacauan tadi. Serangan itu terlalu rapi. Target mereka jelas. Dimitri. Zoey memejamkan mata sesaat. “Starling...” bisiknya lirih. Nama itu selalu kembali. Namun sebelum






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.