Mag-log inSetelah kehilangan kedua orang tuanya, Zoey tumbuh dengan satu tujuan: membalas dendam dan mengungkap kebenaran. Ia bertemu Dimitri Volkov, pewaris tunggal organisasi paling berkuasa dan ditakuti di kota. Ketika jalan mereka bertemu, Dimitri menawarkan sebuah perjanjian yang tidak bisa ditolak Zoey: pernikahan kontrak yang akan saling menguntungkan. Namun, kesepakatan tanpa perasaan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Dimitri dan Zoey terjebak dalam permainan berbahaya antara cinta dan balas dendam. Saat musuh mengintai dari segala arah dan kebenaran mulai terungkap, mereka harus memilih: bertahan atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang tak pernah mereka rencanakan.
view more“Apa kau meremehkanku? Aku sedang mencari calon istri, bukan wanita penghibur!”
Suara itu menggelegar di seluruh penjuru ruang VIP sebuah club malam. Di antara barisan wanita berpakaian seksi yang tengah menunduk takut, ada satu orang wanita yang tak terpengaruh oleh teriakan itu. Zoey Caroline. Wanita itu memperhatikan pria tampan yang duduk di tengah ruangan. Pria itu adalah Dimitri Volkov, pria paling berpengaruh di kota ini. Dan alasan Zoey datang jauh-jauh ke kota ini. Awalnya, ia hanya ingin melihat sendiri seperti apa sosok yang namanya begitu ditakuti dan dihormati banyak orang. Namun setelah menyaksikan pemandangan di hadapannya secara langsung, Zoey akhirnya mengerti. Pria ini benar-benar bisa membantunya balas dendam. Di tengah keheningan itu, seorang pria berjas hitam melangkah mendekati Dimitri, tampaknya hendak mengatakan sesuatu. Namun Dimitri bahkan tidak memberinya kesempatan. “Keluar.” Seluruh orang di dalam ruangan langsung bergerak. Para wanita yang sejak tadi berdiri berjajar segera bergegas menuju pintu keluar, dan tak sampai satu menit ruangan itu perlahan kosong. Namun Zoey tidak ikut bergerak. Ia tetap berada di tempatnya, menunggu dengan sabar. Dan seperti yang ia harapkan, tak lama kemudian perhatian Dimitri akhirnya tertuju padanya. "Kau belum pergi." Zoey memberanikan diri mengangkat wajah perlahan. "Tidak." Salah satu pengawal menatapnya seolah ia sudah kehilangan akal. Semua orang tahu reputasinya. Dimitri bukan pria yang bisa didekati sembarangan. Namun Zoey seolah tak takut padanya, meski sebenarnya jantungnya berdetak keras. Dimitri memperhatikannya selama beberapa saat sambil mengetuk sandaran kursi dengan jarinya. "Kau tidak terlihat seperti mereka." Zoey diam. Ia tahu pria itu sedang mengamatinya. "Gadis baru?" "Jika Tuan ingin menyebutnya begitu." Sudut mata Dimitri sedikit menyipit. Jawaban itu jelas bukan jawaban yang ia harapkan. "Melihat kau tak ikut keluar, sepertinya kau membutuhkan sesuatu dariku." Jantung Zoey kembali berdetak lebih keras. Namun ekspresinya tidak berubah. "Aku mendengar Tuan sedang mencari seorang istri." Hening. Tatapan Dimitri tidak lepas darinya. Seolah pria itu sedang mencoba melihat sesuatu yang tersembunyi di balik wajah tenangnya. Beberapa detik berlalu. Kemudian Dimitri menoleh singkat ke arah para pengawal. "Keluar." Mereka pun segera bergerak keluar, menyisakan Zoey dan Dimitri di ruangan itu. Dimitri bangkit dari kursinya, langkahnya tenang. Namun cukup untuk membuat tekanan di dalam ruangan berubah. Zoey menahan diri untuk tidak mundur ketika pria itu berhenti tepat di depannya. "Kau membutuhkan sesuatu dariku." Zoey tidak menyangkal. Pria seperti Dimitri terlalu cerdas untuk dibohongi dengan alasan murahan. "Aku bisa mengatakan hal yang sama tentang Tuan." Untuk beberapa detik, tak ada yang berbicara. Udara di antara mereka terasa semakin berat. Tatapan Dimitri tidak bergeser sedikit pun dari wajah Zoey. Seolah sedang membongkar setiap lapisan kebohongan yang mungkin ia sembunyikan. Kemudian, tanpa peringatan, pria itu mengangkat satu tangan. Zoey menegang. Jari-jari Dimitri mencengkeram dagunya dan memaksanya mengangkat wajah lebih tinggi. Tidak cukup kasar untuk menyakitinya, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan siapa yang memegang kendali. "Nyalimu besar." Suara berat itu terdengar rendah dan berbahaya. Zoey berusaha mempertahankan ekspresinya. Meski jantungnya berdetak semakin cepat, ia tidak memalingkan wajah. Dimitri sedikit memiringkan kepala, mengamatinya dari jarak yang sangat dekat. "Aku sudah melihat banyak orang datang kepadaku." Ibu jarinya bergerak perlahan di sepanjang rahang Zoey. "Mereka menginginkan uang." Hening. "Kekuasaan." Tatapan tajam itu seolah menembus pertahanannya. "Atau perlindungan." Zoey menelan ludah pelan. "Lalu kau?" Cengkeramannya sedikit mengencang. "Apa yang kau butuhkan dariku?" Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun Zoey tahu itu bukan sekadar pertanyaan. Itu adalah ujian. Satu jawaban yang salah bisa membuat semuanya berakhir malam ini. Ia menatap balik mata kelam pria di hadapannya. "Akses." Alis Dimitri terangkat tipis. "Hanya itu?" "Sementara ini." Keheningan kembali turun. Dimitri terus menatapnya beberapa saat, seolah menimbang apakah jawaban itu cukup jujur atau justru terlalu berani. Kemudian perlahan ia melepaskan dagu Zoey. Tidak ada senyum di wajahnya. Namun sorot matanya berubah sedikit. Seolah rasa penasaran yang sebelumnya hanya kecil kini mulai tumbuh. “Kau benar.” Dimitri menatapnya tanpa ekspresi. "Keluargaku memaksaku memilih satu wanita sebelum akhir bulan. Dan aku benci dipaksa." Keheningan kembali memenuhi ruangan. Lalu Dimitri berbicara. "Ikut aku pulang." Kalimat itu membuat Zoey membeku. "Apa?" "Jika kau memang datang karena membutuhkan sesuatu dariku..." Tatapan pria itu tertuju pada wajah Zoey. "...maka kau pasti bersedia membuktikan dirimu." Zoey tidak menjawab. Ini lebih mudah daripada yang ia bayangkan. Namun juga jauh lebih berbahaya. Karena semakin dekat ia dengan Dimitri, semakin besar risiko yang harus ia hadapi. Dimitri berbalik menuju pintu.."Mulai hari ini, kau ikut seleksi calon istriku." Ia berhenti sejenak. Lalu menoleh, tatapan tajam mereka bertemu. "Dan jika aku puas ..." Jantung Zoey berdegup keras. "... kau akan menjadi istri kontrakku." ***Pintu rumah perlahan terbuka bahkan sebelum Dimitri sempat mengetuk.Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun berdiri di ambang pintu. Rambutnya telah memutih, tetapi sorot matanya masih setajam pisau. Tatapannya langsung jatuh pada Dimitri."Kau terlambat.""Jalanan sedikit ramai," jawab Dimitri tenang.Pria tua itu mendengus pelan. "Kalau masih bisa bercanda, berarti keadaanmu belum terlalu buruk."Barulah pandangannya beralih kepada Zoey."Jadi... ini gadis yang kau bawa."Zoey sedikit gugup. "Saya Zoey."Pria itu mengangguk singkat. "Masuklah. Berdiri di luar terlalu lama bukan ide yang bagus."Rumah itu tampak sederhana dari luar, tetapi bagian dalamnya jauh berbeda. Dinding dipenuhi rak buku tua. Beberapa monitor keamanan menampilkan gambar dari kamera yang terpasang di berbagai sudut halaman. Tak jauh dari ruang tamu terdapat sebuah ruangan dengan peralatan komunikasi dan komputer yang masih menyala.Zoey memperhatikan semuanya dengan heran. "Tempat ini...""Bukan rumah bi
Petugas berseragam itu berdiri tepat di samping pintu mobil. Senyumnya tampak sopan, tetapi matanya terlalu dingin untuk seorang aparat yang sedang menjalankan pemeriksaan rutin."Silahkan turun, Tuan."Dimitri tidak segera bergerak. Ia justru menatap kartu identitas yang tergantung di dada pria itu beberapa detik lebih lama dari seharusnya."Lencana yang bagus," katanya datar.Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih.""Tapi sayangnya..." Dimitri memiringkan kepala. "Nomor registrasinya sudah tidak digunakan sejak tiga tahun lalu."Senyum di wajah pria itu menghilang.Dalam hitungan detik, Dimitri membuka pintu mobil dengan tenang lalu berdiri. Zoey yang masih duduk di kursi belakang menahan napas.Keheningan menyelimuti jalan itu. Beberapa pria berseragam lain mulai mengalihkan perhatian mereka ke arah Dimitri."Kalau kalian ingin menggeledah mobilku," ujar Dimitri santai, "setidaknya gunakan identitas yang lebih meyakinkan."Suasana langsung berubah tegang.Namun, pria yang berdiri
Peringatan anonim itu masih terpampang di layar ponsel Dimitri, seolah menjadi bayangan yang mengikuti mobil mereka menembus pekatnya malam."Jangan pernah buka flash drive itu... jika kalian masih ingin tetap hidup."Tak ada nama pengirim. Tak ada nomor yang bisa dilacak. Hanya sederet kata yang cukup membuat suasana di dalam mobil berubah mencekam.Zoey memecah keheningan lebih dulu. "Itu... ancaman?"Dimitri tidak langsung menjawab. Ia mengunci layar ponselnya, lalu menyandarkan tubuh ke jok belakang."Bukan sekadar ancaman," ucapnya tenang. "Itu peringatan."Zoey mengernyit. "Apa bedanya?""Ancaman dibuat untuk menakut-nakuti." Tatapan Dimitri tetap lurus ke depan. "Peringatan diberikan oleh seseorang yang tahu apa yang akan terjadi."Jawaban itu justru membuat Zoey semakin gelisah."Berarti... ada orang lain yang mengetahui kita berhasil mengambil flash drive itu?""Ada.""Padahal Dominic sendiri mengira kita pulang dengan tangan kosong.""Itulah yang membuat keadaan menjadi mena
Pesan singkat itu hanya terdiri dari beberapa kata."Misi gagal. Target sudah mengetahui pelacak."Dimitri membaca isi layar ponselnya tanpa mengubah ekspresi. Dalam hitungan detik, perangkat kecil itu kembali masuk ke saku jasnya.Zoey menatapnya cemas. "Gagal?" bisiknya.Dimitri mengangguk tipis. "Rencana A gagal."Jantung Zoey kembali berdebar. "Lalu sekarang?"Sudut bibir Dimitri terangkat membentuk senyum tipis. "Kalau seorang pemain catur hanya menyiapkan satu langkah, dia sudah kalah sejak awal."Zoey mengerutkan dahi. "Maksudmu...""Rencana B."Di sisi lain aula, Dominic Cassarius masih berdiri di tempatnya. Tatapannya sesekali mengarah kepada Dimitri, seolah memastikan tidak ada gerakan mencurigakan.Bagi Dominic, semuanya telah berakhir.Ia yakin orang-orang yang menyamar sebagai Sheikh Khalid Al Rashid itu tidak berhasil mendapatkan apa pun malam ini.Itul
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.