LOGINSeperti jatuh lalu tertimpa tangga, Anya tidak mengerti mengapa hidupnya selalu banyak ujian. Baru saja ia melunasi hutang sang ibu, kini ia harus melunasi hutang kakaknya. Tidak hanya melunasi hutang saja, Anya menjadi tawanan Mafia kejam, ia harus tinggal bersama sang Mafia dan selalu dalam pengawasannya sampai hutang itu benar-benar lunas. Mampukah Anya terbebas dari tawanan sang Mafia?
View More"Kak, aku sudah siap, ayo kita..." Anya menghentikan langkahnya saat melihat banyak pria didalam rumah, pria dengan perawakan tinggi besar dan sangat menyeramkan. "Ka...kak Bima!" Anya terkejut saat melihat darah segar keluar dari hidung sang kakak.
"A...Anya, pergi!" Bima meminta adiknya pergi dari rumah. Namun, sang adik bukannya pergi, tapi ia menghampirinya. "Nggak mau, kenapa kalian melakukan ini pada kakakku." Anya menangis melihat kakaknya diperlakukan seperti ini. Anya menghampiri Bima, tapi Leon langsung menjambak kasar rambut panjang Anya. "A....ah, sakit!" Anya merintih. "JANGAN SENTUH DIA!" Bima mencoba bangkit. Namun, tangannya diinjak oleh pria yang ada didekatnya. "Apakah dia pacarmu?" Leon menatap pria yang terus mengeluarkan darah dari hidungnya. Bima tidak menjawab, ia mencoba mengambil ponselnya guna meminta bantuan, tapi ponsel itu segera diambil dan injak. "Sebenarnya kalian siapa!" Anya berteriak walaupun kepalanya sakit karena rambutnya masih dijambak dengan sangat kasar. "PACARMU PUNYA HUTANG PADA KAMI, SUDAH SETAHUN IA TIDAK MEMBAYAR!" Leon berteriak, ia sudah muak. Anya menatap sang kakak. "Ka...kak Bima, apakah itu benar?" tanyanya. "PERGI!" Bima tidak menjawab pertanyaan sang adik, ia terus meminta adiknya untuk pergi. "Oh, jadi kau adiknya." Leon mulai tersenyum menyeringai. Anya telat menyadari situasi yang ada, ia mencoba menendang kaki Leon walaupun tendangannya tidak sekuat pria, tapi ia mencoba yang ia bisa lakukan untuk saat ini. Leon melepaskan jambakan rambut Anya, dan Anya ingin pergi. Namun, dengan cepat Leon menarik tangan Anya, lalu Leon menampar pipi Anya membuat Anya jatuh tersungkur ke lantai. Anya menangis. "Sa...sakit!" Tangannya menyentuh pipinya sendiri yang terasa panas. "Ini belum seberapa!" Leon kembali menjambak. Leon menarik rambut Anya dan menyeretnya ke arah Bima, Bima menatap kesal dan ingin menghajar Leon. Namun, tidak bisa, karena tubuhnya sudah dipegangi oleh pria gagah yang berada di kanan dan kiri. "Pria lembek, beraninya dengan perempuan!" Bima tidak terima adiknya diperlakukan seperti ini. Leon seperti terhina, ia segera melepaskan Anya dan menarik Bima. Leon menghajar tubuh Bima berkali-kali hingga akhirnya Leon menendang tubuh Bima, dan Bima terpental menuju tembok yang didekat pintu utama rumah tersebut. "KAK BIMA!" Anya berteriak histeris saat melihat tubuh kakaknya seperti melayang. "A...Anya." Bima mencoba membuka matanya dan melihat adiknya. "Pe...pergi!" Terus saja Bima meminta adiknya untuk pergi. Tubuh Bima susah tidak karuan, wajahnya sudah babak-belur akibat Leon menghajarnya, dan darah segar terus keluar dari wajahnya. Bima ingin melindungi Anya, tapi sepertinya tidak bisa. "Pergi?" Leon tertawa. "Mana bisa adik cantikmu pergi!" Leon kembali menyeret gadis itu, gadis yang akan menjadi tawanannya. Anya masih terus menangis. "To...tolong ampuni kami." Anya semakin ketakutan, wajahnya sangat pucat. "A...aku akan mencicil hutang kakakku." "Berapa ratus tahun lagi saya menunggu?" Leon tertawa. Rehan menghampiri Leon dengan membisikkan sesuatu, dan Anya masih kesakitan karena rambutnya terus ditarik dengan kasar. Leon melepaskan Anya, ia segera menginjak kaki Bima. "BAYAR HUTANGMU!" Leon tetap ingin uangnya dikembalikan karena sudah setahun ia menunggu. "JIKA TIDAK, ADIKMU AKAN KU JADIKAN JALANG!" "Ja...jangan, tolong, aku akan segera membayar hu...hutang." Bima tidak ingin adiknya kenapa-napa. "Siapkan saja uang, maka adikmu akan selamat!" Leon kembali menjambak. "Adikmu akan melayaniku sampai kau membayarnya!" Senyum jahat mulai terpancar dari wajah Leon. Leon menarik kasar Anya, Anya dibawa oleh Leon, dan Bima tidak bisa melakukan apapun karena tubuhnya benar-benar tidak berdaya. "KAK BIMA!" Anya berteriak dengan menangis histeris, wajahnya sudah penuh dengan air mata. Leon tidak mempedulikan Anya, kini Anya sudah masuk kedalam mobil mewah. Leon, Rehan, dan para pria berbadan besar sudah masuk kedalam mobil masing-masing. Mereka semua segera pergi dari rumah sederhana itu, dan mereka juga membiarkan Bima dengan keadaannya yang mengenaskan. "A...aku mau dibawa ke mana?" Dengan polosnya Anya menanyakan itu pada pria yang ada di sampingnya, pria yang sangat mengerikan. Sekilas Leon melirik ke arah gadis itu dengan senyum menyeringai. "Kita akan pergi ke hotel, kau harus melayaniku dengan baik!" "Me...melayani apa maksudnya?" Anya tidak paham. Leon mulai berbisik. "Layani aku di ranjang, kamu akan menjadi jalangku mulai hari ini." Suaranya terdengar nakal. "PRIA MESUM!" Anya menampar pria itu, tangannya benar-benar tidak sengaja karena bisikan itu sangat menjijikkan. Leon ingin menampar balik Anya, tapi tangannya terhenti saat matanya melihat Anya semakin ketakutan. Leon hanya tersenyum datar, dan Rehan yang duduk dikursi depan hanya bisa memantau dari kaca. "Tamparanmu tidak ada apa-apanya." Leon hanya mengatakan itu dengan tangan yang menyentuh pipinya sendiri. Leon akui jika Anya adalah gadis pemberani, karena Anya adalah gadis pertama yang mampu menampar pipi Leon seperti itu. Anya yang semakin ketakutan hanya bisa terdiam, Anya hanya pasrah dengan hidupnya yang semakin berantakan. 'Hutang ibu sudah lunas dan sekarang kakak punya hutang juga,' batin Anya yang sangat menyedihkan. Didalam mobil itu sangat hening dan tidak ada percakapan apapun, mereka sedang sibuk dengan pikirannya masing-masing, terutama pikiran Anya. Anya khawatir dengan keadaan Bima yang begitu memprihatikan, tapi Anya tidak bisa berbuat apapun, karena saat ini Anya dibawa kabur oleh Leon. 'Bagaimana caranya aku kabur?' tanya Anya didalam hatinya, ia terus berpikir dan bermonolog sendiri. 'Aku harus pergi sebelum sampai di hotel,' batinnya lagi. Karena Leon mengatakan akan pergi ke hotel, pikiran Anya sudah tidak baik, apa lagi saat Leon mengatakan jika Anya harus melayani Leon dengan baik di ranjang, itu sama saja Anya harus memberikan tubuhnya pada Leon, dan Anya tidak ingin melakukan itu. "Bos, sepertinya tidak ada waktu jika kita mengantarnya, karena..." Rehan menoleh kebelakang. "Ya sudah ke kantor saja, setelah itu, kau bawa dia!" Leon memberikan perintah. "Baik." Rehan mengangguk. Rehan adalah asisten dan orang kepercayaan Leon, Rehan juga adalah sahabat Leon sejak kecil. 'Benar, dia adalah bosnya,' batin Anya yang melirik diam-diam pada pria disampingnya. Karena hampir tiba di tujuan Leon, Leon segera menutup mata Anya dengan kain hitam, ia juga mengikat lengan Anya dengan tali. Anya hanya bisa pasrah karena tidak ingin merasakan jambakan lagi, tapi otaknya Anya terus memikirkan caranya untuk pergi. "Jangan macam-macam, atau aku akan menembak mu!" Leon berbisik. "I...iya." Anya menelan salivanya dengan susah payah saat mendengar bisikan itu. Tidak lama kemudian. Mobil berhenti, dan terdengar suara pintu terbuka. Leon keluar dari mobil, dan Rehan mulai duduk disamping Anya guna menjaga Anya supaya tidak pergi. Sebelum pergi Leon menyentuh kepala gadis itu dan berkata. "INGAT, JANGAN MELAKUKAN APAPUN JIKA KAU INGIN KEPALAMU MASIH BERADA DISINI!" Leon terus saja mengancam.Seminggu berlalu. Anya sudah sadar. Keluarganya bahagia melihat Anya sudah membuka matanya. Namun, Anya masih terlihat linglung."Mama!" Nathan dan Nathalie memeluk Anya yang masih berbaring di ranjang rumah sakit. Tiba-tiba saja air mata Anya menetes. Anya tahu saat ini dirinya ada di rumah sakit."Sayang!" Leon mengusap lengan Anya dan mengecup lengan itu berkali-kali.Dokter dan asistennya segera memeriksa keadaan Anya, dan akhirnya kondisi Anya sudah membaik. Namun, memang harus banyak istirahat karena baru bangun dari operasi.Anya masih belum membuka mulutnya, Anya belum berbicara sama sekali.Dinda, Luki, dan Tasya sedih yang bercampur bahagia melihat Anya sudah membuka matanya.***Beberapa hari setelah Anya sadar. Anya diizinkan pulang ke rumah, dan pastinya Leon langsung segera membawa Anya pulang ke rumah.Leon tahu jika Anya tidak suka berlama-lama di rumah sakit. Anya tidak mencium aroma rumah sakit yang memiliki khas tersendiri."Mama, aku buatkan teh hangat untuk mama
Dinda bertanya dengan pelan. Ia tidak ingin membuat Leon bersedih akibat kecelakaan yang menimpa Anya."Kepala Anya terbentur dan harus operasi," jawab Leon.Dinda mengangguk paham. "Sebaiknya kita serahkan semuanya pada Dokter."Leon mengangguk. Leon setuju, dan Leon berharap jika Anya segera sadar.Dokter mulai menyiapkan ruanh operasi untuk Anya. Anya mengalami benturan dan harus melakukan operasi dibagian kepalanya.Dinda dan Leon hanya bisa menurut saja pada Dokter. Leon akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Anya. Leon berharap Anya segera sadar.Saat ini yang berada di rumah sakit hanya Leon dan Dinda. Luki dan Rehan keluar dari rumah sakit.Luki harus menjemput Tasya, Nathan, dan Nathalie.Sedangkan Rehan akan menjalankan perintah dari Leon. Rehan akan mencaritahu penyebab kecelakaan yang menimpa Anya.Leon memiliki firasat buruk tentang kecelakaan ini. Leon yakin kecelakaan ini adalah rencana dari Varell atau Vera. Namun, Leon masih belum memiliki bukti.Oleh sebab itu Leon
"Sakit kenapa?" tanya Leon. Raut wajah Leon terlihat khawatir. Nathan dan Tasya juga khawatir. "Tapi bohong!" Nathalie langsung menjulurkan lidahnya. Nathan kesal dengan kembarannya. Leon mulai geleng-geleng kepalanya. "Nggak boleh bohong gitu," kata Tasya. "Ya maafkan aku, Kak!" Nathalie meminta maaf. Leon pikir Nathalie benar-benar sakit, tapi ternyata hanya kepura-puraan. "Sudahlah, kita nggak perlu percaya lagi sama Nathalie." Nathan kecewa. "Ih, maafkan aku!" Nathalie menggoyangkan lengan Nathan. Namun, Nathan enggan melihat wajah kembarannya. "Sudah, jangan bertengkar!" Leon tahu jika Nathan kecewa dengan Nathalie, karena Leon juga seperti itu. Namun, Leon enggan menunjukkan kekecewaan itu. Leon lebih baik memendam kekecewaan itu, karena tidak mungkin juga Leon mudah marah didepan anak-anaknya. ** Pukul 12 siang. Anya akan menjemput anak kembarnya dan keponakannya di sekolah. Seperti biasa Anya bersama dengan sang supir. "Sepertinya hari ini aku ingin mengajak anak
Keesokan harinya. Anya baru saja menyiapkan bekal makanan untuk anak kembarnya, dan Anya juga tidak lupa menyiapkan bekal makan untuk Tasya juga.Anya seperti memiliki 3 orang anak, dan Anya senang melakukan itu. Namun, Leon selalu cemburu."Sayang!" Leon memeluk Anya dari belakang, Leon juga mengecup leher Anya dengan lembut."Diam bisa nggak, sih!"Sungguh Anya merasa risih dengan Leon, tapi Leon tetap saja bergelayut manja."Berhenti membuat bekal untuk Tasya, kalau kamu begini terus, nanti Kak Luki nggak bisa cari istri baru." Leon berbisik.Anya tertawa mendengar bisikan itu. Apa yang dikatakan Leon memang benar, tapi Anya tidak bisa membiarkan Tasya bersedih hanya karena bekal makan."Kamu cemburu sama Kak Luki apa sama Tasya?""Kak Luki."Anya tertawa. Tidak lama kemudian Dinda masuk ke dapur. Leon bukannya berhenti memeluk Anya, tapi Leon terus saja mengecup leher Anya."Sepertinya sebentar lagi kembar punya adik," gumam Dinda."Aku pengen punya anak lagi, tapi Anya nggak mau
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews