Share

Bab 2

Author: Puri
"Cepat temui aku sekarang! Kamu bikin aku jatuh ke lantai sampai nggak bisa berdiri."

"Kamu mau bunuh sahabatmu cuma buat lepas tanggung jawab, ya? Cepat, kalau nggak, kita putus hubungan saja!"

Panggilan itu tidak tersambung pengeras suara, tetapi suara Tania sangat keras, seolah-olah sengaja membuatku mendengarnya.

Kejadian seperti ini sering terjadi dulu. Meski aku memohon hingga histeris, Jonatan tetap akan pergi tanpa ragu.

Bahkan dia akan menuduhku sebagai orang jahat.

Namun kini, aku melemparkan senyum yang sangat pengertian kepada Jonatan.

"Pergilah, aku bisa pulang sendiri naik bus."

Dia tertegun. Dengan bibir menipis rapat, dia justru berkata kepada Tania, "Kamu nggak bisa urus diri sendiri? Aku mau pulang sama Anita, hari ini ulang tahunnya."

Aku pun ikut tertegun, lalu menekan kuat-kuat gejolak aneh di dadaku.

Jangan kepedean.

Entah apa yang dikatakan Tania padanya, Jonatan memintaku turun dari mobil, lalu berjanji padaku dengan rasa bersalah.

"Kalung itu bakal aku belikan. Aku mau jenguk dia sebentar, nanti malam aku pulang untuk merayakan ulang tahunmu."

Namun ketika malam tiba, Jonatan tetap menghilang seperti biasanya.

Kalung yang dijanjikannya justru melingkar di leher Tania.

Melihat unggahan pamer di akun media sosial Tania, aku tidak marah sama sekali.

Sebab apa pun yang dijanjikan Jonatan padaku, bisa kubawa pergi saat aku pergi kelak.

[Tuan, apakah Anda yakin ingin meninggalkan dunia ini? Tingkat rasa cinta pemeran utama pria pada Anda sudah mencapai 90%, lho!]

[Keluarganya sangat kaya. Kalau Anda bertahan dan menikah dengannya, Anda bisa terbebas dari kehidupan seperti budak dulu.]

Aku mengangkat bahu. "Bukannya itu artinya masih ada 10% bukan rasa cinta? Lagi pula, aku nggak mau makan makanan sisa. Siapa pun yang mau menikah dengannya, silakan saja."

Dulu rasa cinta Jonatan padaku mencapai 100%. Jika bisa berkurang 10 persen karena Tania, maka angka itu juga bisa habis sepenuhnya gara-gara wanita itu.

Mana ada cinta yang sekokoh uang?

Pukul sepuluh malam, Jonatan menelepon dan memberi tahu bahwa Tania menggelar pesta ulang tahun untukku.

Ketika aku tiba, mereka sedang bermain Truth or Dare.

Tania mengangkat kartu tinggi-tinggi sambil berkata dengan nada mengejek, "Siapa yang dapat kartu AS? Selamat, kamu dapat hadiah ciuman sepuluh detik sama aku yang cantik ini. Jangan malu-malu ya! Guys, ciumanku ini mahal harganya!"

Jonatan membuka kartunya. Huruf AS yang mencolok seketika membuat semua orang di ruangan itu bungkam.

Mereka refleks menatap ke arahku.

Dengan tenang aku duduk di samping Jonatan, lalu mengangkat ponsel untuk merekam mereka berdua.

"Mulai saja, aku rekam videonya. Nanti kalau kalian sudah tua, ini bisa jadi kenang-kenangan."

Tanpa amukan, tanpa meja yang dibalik, apalagi makian.

Ekspresiku sangat tenang hingga ke batas paling maksimal.

Namun, wajah Jonatan justru langsung muram.

Detik berikutnya, Tania merangkul lehernya. "Anita saja sudah setuju, kenapa? Kamu nggak berani? Tadi malam kamu bikin aku tersiksa setengah mati, sekarang kenapa jadi penakut?"

"Apa begini caraku mengajarimu? Ya sudahlah, kalau nggak mau, aku cari orang lain buat jadi penggantimu."

Tania mendorong Jonatan dengan kesal, lalu mengulurkan tangan hendak menarik pria di sebelahnya. Namun, dia mendadak ditarik kembali oleh Jonatan.

Ciuman mereka berdua makin dalam, seolah sedang bersaing ego, dan sudah melewati durasi sepuluh detik.

Orang-orang di sekitar yang melihatku tidak marah, mulai bersorak meramaikan suasana.

Bahkan ada yang menyenggol lenganku.

"Boleh juga kamu. Karena kamu tahu diri, kami para sahabat Kak Jonatan juga harus menghargaimu. Besok-besok kalau main, kami bakal ajak kamu."

Aku akhirnya diterima oleh lingkaran teman-teman Jonatan.

Sayangnya, itu terjadi saat aku tidak mencintainya lagi.

Ciuman Jonatan sama sekali tidak fokus, dia berkali-kali melirik ke arahku. Karena tidak terlalu paham maksudnya, aku mengacungkan jempol kepadanya.

Maksudku, ciumannya hebat.

Siapa sangka wajah Jonatan makin mendingin. Setelah mendorong Tania, dia menggenggam tanganku dan menyeretku ke koridor luar ruang VIP.

"Kenapa kamu nggak cemburu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 20

    Aku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 19

    Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 18

    Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 17

    Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 16

    "Pergi! Jangan sentuh istriku!" Melihat Jonatan pada saat itu, aku sangat terkejut. Dengan agak kehabisan kata-kata, aku menghubungi Sistem. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Jonatan bisa ada di sini?"[Jonatan bunuh diri di depan makam Anda. Saya juga tidak menyangka dia akan muncul di sini.]Aku mengerutkan dahi. "Dia gila? Bunuh diri di depan makamku?"[Benar, dia memilih mengiris pergelangan tangannya. Darahnya mengalir memenuhi tanah sampai membuat pengelola pemakaman umum ketakutan setengah mati. Sebelum mati, dia terus menyebut nama Anda, lalu jiwanya ikut menyeberang ke sini.]"Jadi sekarang statusnya apa? Orang yang hidup atau mati?"[Orang yang hidup. Saat menyeberang antar-dunia, Sistem mengalokasikan tubuh baru untuknya. Tapi di dunia ini, dia tidak punya informasi identitas atau aset apa pun, setara dengan orang tanpa identitas yang tidak punya apa-apa.]Aku menatap wajah Jonatan yang terasa familiar sekaligus asing itu. "Bagaimana dia bisa menyusul ke sini dan menemu

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 15

    Jonatan tidak membantahnya, bahkan tidak mau berpura-pura lagi. Dia merangkul wanita di belakangnya, lalu merapikan kerah bajunya dengan santai."Bukannya dari dulu kamu mau jadi pacarku? Sekarang kamu sudah jadi pacarku." "Tapi penderitaan yang harus ditanggung seorang pacar, kamu juga harus menanggungnya semuanya!"Dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Tania. "Dulu saat Anita melihatku dekat denganmu, apa yang dirasakannya? Sekarang kamu harus merasakannya juga."Bibir Tania bergetar hebat. "Jadi selama ini, kamu terus memikirkan Anita?"Jonatan menjawab dengan dingin, "Aku mencintainya, tentu saja aku memikirkannya. Kamu yang merencanakan penculikan itu sampai aku kehilangan dia selamanya. Kamu pantas mendapatkannya.""Pantas?" Tania tertawa histeris sambil meneteskan air mata. "Jonatan, walaupun aku yang merencanakan penculikan itu, memangnya kenapa? Kalau saja saat itu kamu mantap memilih Anita, dia nggak akan mati! Kamu yang membunuhnya!" "Orang yang paling pantas meneri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status