LOGINAku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku
Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in
Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman
Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b
"Pergi! Jangan sentuh istriku!" Melihat Jonatan pada saat itu, aku sangat terkejut. Dengan agak kehabisan kata-kata, aku menghubungi Sistem. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Jonatan bisa ada di sini?"[Jonatan bunuh diri di depan makam Anda. Saya juga tidak menyangka dia akan muncul di sini.]Aku mengerutkan dahi. "Dia gila? Bunuh diri di depan makamku?"[Benar, dia memilih mengiris pergelangan tangannya. Darahnya mengalir memenuhi tanah sampai membuat pengelola pemakaman umum ketakutan setengah mati. Sebelum mati, dia terus menyebut nama Anda, lalu jiwanya ikut menyeberang ke sini.]"Jadi sekarang statusnya apa? Orang yang hidup atau mati?"[Orang yang hidup. Saat menyeberang antar-dunia, Sistem mengalokasikan tubuh baru untuknya. Tapi di dunia ini, dia tidak punya informasi identitas atau aset apa pun, setara dengan orang tanpa identitas yang tidak punya apa-apa.]Aku menatap wajah Jonatan yang terasa familiar sekaligus asing itu. "Bagaimana dia bisa menyusul ke sini dan menemu
Jonatan tidak membantahnya, bahkan tidak mau berpura-pura lagi. Dia merangkul wanita di belakangnya, lalu merapikan kerah bajunya dengan santai."Bukannya dari dulu kamu mau jadi pacarku? Sekarang kamu sudah jadi pacarku." "Tapi penderitaan yang harus ditanggung seorang pacar, kamu juga harus menanggungnya semuanya!"Dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Tania. "Dulu saat Anita melihatku dekat denganmu, apa yang dirasakannya? Sekarang kamu harus merasakannya juga."Bibir Tania bergetar hebat. "Jadi selama ini, kamu terus memikirkan Anita?"Jonatan menjawab dengan dingin, "Aku mencintainya, tentu saja aku memikirkannya. Kamu yang merencanakan penculikan itu sampai aku kehilangan dia selamanya. Kamu pantas mendapatkannya.""Pantas?" Tania tertawa histeris sambil meneteskan air mata. "Jonatan, walaupun aku yang merencanakan penculikan itu, memangnya kenapa? Kalau saja saat itu kamu mantap memilih Anita, dia nggak akan mati! Kamu yang membunuhnya!" "Orang yang paling pantas meneri







