Home / Romansa / Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan / BAB 82 — Pelan, Tapi sampai

Share

BAB 82 — Pelan, Tapi sampai

Author: Mommy Sea
last update Last Updated: 2026-01-02 09:22:27

Rumah sudah sepi. Lampu ruang tamu redup. Hanya ada suara jam dinding dan AC yang berdesis pelan.

Rafael sudah berbaring di sisi ranjang. Punggungnya menghadap dinding. Napasnya belum stabil betul—bukan karena lelah, tapi karena kepalanya penuh. Kalimat-kalimat Larissa dari makan malam tadi seperti diputar ulang di kepalanya.

“Aku mau kita coba lagi…”

Ia menutup mata. Lama. Tapi tidur tetap belum datang.

Di kamar mandi, air mengalir kecil. Lalu terdengar suara benda jatuh pelan. Setelahnya, suara napas Larissa terdengar lebih berat.

Rafael refleks bangun dan duduk.

“Ris?”

Tidak ada jawaban. Hanya suara muntah yang ditahan.

Rafael langsung turun dari ranjang, berjalan cepat ke kamar mandi. Pintu tidak terkunci. Ia buka pelan.

Larissa berlutut di depan toilet. Satu tangan bertumpu di tepi wastafel, satu lagi menahan perut. Bahunya naik turun. Wajahnya pucat. Rambutnya sedikit berantakan.

“Ris,” Rafael mendekat. Nada suaranya berubah pelan. “Kamu kenapa?”

Larissa buru-buru men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 99 -Nama yang Penuh Doa

    Malam itu, di dua kota yang berbeda, dua bayi baru saja belajar menangis. Dan di dua hati yang berbeda… ada rasa yang sama: takut kehilangan. *** “Apa Ibu sudah siap ?” suara bidan lembut sekali. Aku mengangguk pelan. Badanku masih lemah. Luka masih berdenyut. Tapi begitu bayi laki-lakiku diletakkan di dadaku, rasa sakit itu seperti mengecil. “Tarik napas pelan ya, Bu. Biarkan dia merasakan ibunya.” Aku menatap wajah mungil itu. Matanya masih tertutup. Hidungnya kecil. Tangannya mencari-cari, sampai akhirnya jemarinya menggenggam ujung jariku. “Kenapa… rasanya seperti mimpi?” suaraku bergetar. “Karena memang begitu rasanya jadi ibu untuk pertama kali,” jawab bidan sambil tersenyum. “Kalau nanti adiknya bangun, gantian ya. Bayi perempuan biasanya lebih sensitif.” Aku tertawa kecil. “Mereka berdua… baik-baik saja, kan Bu?” “Sehat. Yang lelaki kuat, refleksnya bagus. Yang perempuan sedikit lebih kecil, tapi aman. Kita pantau saja.” Aku mengelus rambut halus di kepalan

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 98 — Rumah Kecil untuk Kami Bertiga

    Delapan bulan. Tidak terasa, garis waktu yang dulu terasa seperti jurang panjang akhirnya hampir mencapai ujungnya. Perutku kini bulat penuh, seperti bulan yang sedang pasang. Setiap pagi, aku bangun dengan napas sedikit lebih berat, tapi ada kehidupan di dalam diriku yang menendang pelan, seolah ingin bilang: Aku ada, Bu. Aku kuat. Kamu juga harus kuat. Kadang aku memegang perutku lama sekali. Hanya diam. Mendengarkan. Merasakan. “Anak-anak Mama baik-baik saja di dalam, ya?” bisikku setiap malam. Ya. Anak-anak. Karena ada dua jantung kecil di sana, yang sejak awal mengajarkan aku arti bertahan. Keputusan itu datang pelan-pelan, bukan tiba-tiba. Mungkin sebenarnya sudah lama tersimpan di kepalaku, hanya menunggu keberanian untuk dilahirkan. Aku butuh rumah. Bukan apartemen sementara. Bukan kontrakan dengan tembok yang berganti warna setiap tahun. Aku butuh tempat yang… tetap. Tempat yang bisa disebut pulang, bukan sekadar persinggahan. Akhirnya aku menemukan sebuah rumah minim

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 97 — Mengulang Cara Mencintaimu

    “Larissa…” Suara Rafael terdengar pelan di ruang makan yang dipenuhi aroma roti panggang. Pagi itu matahari menyelinap lewat jendela besar apartemen, jatuh lembut di rambut Larissa yang tergerai ke bahu. Larissa menoleh. Senyumnya tipis, tapi hangat. “Ya?” “Aku… masakin sarapan,” ucap Rafael, agak canggung. “Cuma omelet. Jangan berharap banyak.” Larissa terkekeh kecil. “Harusnya aku yang masak. Kamu kan yang kerja.” “Boleh nggak hari ini pengecualian?” balas Rafael. “Aku cuma mau… ada di sini.” Larissa menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya—campuran ragu dan haru—lalu ia mengangguk. “Baik. Tapi kalau keasinan, jangan marah kalau aku komplen.” Rafael ikut tersenyum. “Silakan. Aku siap menerima evaluasi semua departemen.” Mereka duduk berhadapan. setelah sekian lama, meja tidak terasa seperti penghubung yang dingin, melainkan tempat yang sedang belajar kembali bernafas. Larissa menyuap perlahan. “Ini… nggak keasinan,” katanya pelan. “Bagus,” Rafael menghela napas lega. “So

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 96 — Jejak yang Tertinggal

    Apartemen itu terasa berbeda sejak pertama kali Rafael melangkahkan kaki ke dalamnya sore itu. Sunyi. Kosong. Seperti ruangan yang sudah lama berhenti bercerita. Ia berdiri di ambang pintu cukup lama sebelum akhirnya masuk dan menutupnya pelan. “Lampunya padam…” gumamnya. Jari-jarinya menyentuh tombol, dan cahaya pucat menyebar ke seluruh ruang. Sofa masih sama. Meja masih sama. Tirai masih sama. Tapi… “Ada yang hilang.” Suara itu keluar begitu saja. Arman yang ikut masuk beberapa langkah di belakangnya menarik napas pendek. “Raf… kalau kamu masih belum siap—” “Aku cuma mau lihat,” potong Rafael lirih. Ia berjalan pelan. Setiap langkah rasanya seperti menginjak ingatan. Piring di dapur tetap tersusun rapi. Sisa-sisa keberadaan Nayla — yang selama ini ia abaikan — kini terasa menyentak. Rafael membuka kulkas. Kosong. Lemari dapur. Kosong. Ia menelan ludah. “Dia bener-bener pergi…” Arman menatap sekeliling. “Sejak kapan apartemen ini kosong?” “Enggak tahu.”

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 95 —Sama-Sama Kontrol Rutin

    Pagi itu, matahari belum tinggi. Langit Jogja masih berwarna lembut seperti kain pastel yang belum dicuci. Di dalam kamar kos kecilnya, Nayla duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender yang ia tempel di dinding. Di tanggal hari ini, ada lingkaran kecil berwarna biru. Kontrol pertama. Tangannya refleks menyentuh perutnya. “Pagi… kalian,” bisiknya pelan. “Hari ini kita ketemu dokter, ya.” Ia tersenyum kecil. Ada degup halus yang tidak bisa dia jelaskan. Bukan hanya di rahimnya. Tapi juga di dadanya. Teleponnya berbunyi. Pesan dari Salsa. Salsa: Jadi beneran kontrol hari ini? Nayla: Iya. Salsa: Mau ditemenin nggak? Nayla: Nggak usah ya. Aku bisa sendiri 😊 Salsa: Oke. Tapi kalau selesai cerita ke aku 😤 Nayla terkekeh kecil. Lalu bersiap. Ruang tunggu rumah sakit itu sederhana. Tidak terlalu besar, tapi bersih dan wangi antiseptik. Beberapa ibu hamil duduk sambil mengelus perut. Ada yang ditemani suami. Ada yang ditemani orang tua. Dan ada Nayla.

  • Demi Kuliah Aku Rela Jadi Istri Simpanan    BAB 94 — Pelan-Pelan, Kita Hidup Lagi

    Pagi pertama di Jogja terasa seperti membuka jendela setelah hujan reda. Udara masih lembut, matahari belum terlalu tajam, dan jalan kecil di depan kos sudah ramai motor lalu-lalang. Ada tukang sayur lewat sambil berseru pelan, ada ibu-ibu duduk di teras sambil menyiram tanaman, ada anak kost yang buru-buru berlari ke parkiran karena hampir telat. Nayla berdiri di depan jendela kamarnya. Kaos longgar dan celana training sederhana. Rambutnya diikat asal. Tidak ada riasan. Tidak ada peran yang harus ia mainkan. Hanya dirinya sendiri. Ia menatap kaca jendela yang sedikit buram, lalu mengusap perutnya pelan. “Selamat pagi, ya… Kita mulai hari pertama kita di sini.” Perutnya masih datar — tidak ada perubahan berarti. Tapi di dalam sana, ia tahu ada sesuatu yang kecil dan rapuh… yang kini menjadi pusat dunianya. Senyum kecil muncul begitu saja. Bukan senyum yang bahagia berlebihan. Hanya… ringan. Dan ringan itu sudah lebih dari cukup. Hari itu, Nayla ke kampus baru untuk mengurus s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status