Home / Horor / Dendam Arwah Bully / Bab 12. Alarm

Share

Bab 12. Alarm

last update Last Updated: 2026-01-03 23:38:46

Tasya segera mengeluarkan arang yang diberikan oleh Vicky dengan tangan yang bergetar. Tasya menurunkan badan agar bisa mencapai pola mantra. Tetapi, sebelum arang yang dipegang oleh Tasya menyentuh pola mantra, ada sebuah lilin yang tiba-tiba menyala.

"Whusss …."

Vicky yang melihat lilin ada yang menyala jadi panik. Artinya ada hal yang buruk.

"Farhan cepat kamu matikan lilinnya segera!" teriak Vicky membuat mereka mengalihkan ke Vicky.

Farhan yang mendengar teriakan dan perintah Vicky segera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dendam Arwah Bully   Bab 70. Tamat

    Beberapa hari kemudian, Farhan, Abian, Doni, Coki, Raya, Mila dan Naura mengunjungi Fanny di rumah sakit. Fanny masih terbaring di rumah sakit. Sudah beberapa hari dia sama sekali belum sadarkan diri. Mereka setiap hari secara bergantian mengunjungi Fanny di rumah sakit. Tidak ada yang mengunjungi Fanny selain mereka. Pengobatan Fanny sepenuhnya ditanggung oleh keluarga Farhan. Kali ini Mila dan Raya membawa sebuah buket bunga yang sangat indah kepada Fanny. Mereka ingin ruangan rawat Fanny bisa segar. Setelah mereka tiba di kamar rawat Fanny, Mila dan Raya segera menata bunga itu di atas meja. Mereka terus menunggu Fanny sampai sadar. "Tumben kalian telat," ujar Vicky yang berada di dalam ruangan Fanny. Selama Fanny dirawat, Vicky yang menjaga dia sepenuhnya. Itu merupakan bentuk pertanggungjawaban Vicky yang telah membuat Fanny seperti itu. Orang tua Vicky sempat marah saat tahu anaknya hampir mencelakai orang. Untung saja Vicky mau melakukan apa saja agar orang tuanya memaafk

  • Dendam Arwah Bully   Bab 69. Perpisahan

    Nek Rumbi menatap ke sekeliling tempat mereka berdiri. Dia merasakan ada aura lain di sekitar mereka. Aura yang cukup lemah, seperti tanda minta pertolongan. Dia berjalan di sana dengan langkah yang tidak menentu. "Ada apa Nek?" tanya Farhan yang menyadari tingkah aneh nek Rumbi. "Di sini ada aura lain," sahut nek Rumbi tanpa melihat Farhan. "Maksud, nek Rumbi?" Nek Rumbi tidak lagi menjawab pertanyaan Farhan. Kakinya telah menginjak sebuah keramik yang kosong. Dia mengangkat kakinya dan mengetuk pada keramik itu. "Tuk … tuk … tuk …." "Ada apa Nek?" lanjut pak polisi bertanya melihat gelagat nek Rumbi. "Sepertinya itu berasal dari sini. Kalian, tolong bongkar di bawah keramik ini," suruh nek Rumbi. "Apa yang kalian tunggu. Cepat bongkar keramik ini," suruh pak polisi lagi ketika anak buahnya dan para pemadam kebakaran tidak bergerak. "Siap, Pak!" Mereka membongkar tempat yang ditunjukkan oleh nek Rumbi. Mereka segera membongkar plastik itu. Benar saja, setelah di bongkar mer

  • Dendam Arwah Bully   Bab 68. Keberadaan Laras dan Pak Agus.

    "Jadi pak Agus ini benar-benar sudah meninggal?" tanya pak polisi supaya bisa membuat laporan baru. "Iya, dia sudah meninggal. Saya sudah tiga puluh tahun bertemu dengan dia di sekitar sekolah. Hal itu bertepatan dengan dia menghilang. Kemungkinan mayatnya tidak ditemukan oleh siapapun." "Jadi tubuhnya juga masih ada di sekolah," gumam pak polisi mendengar perkataan nek Rumbi. "Tapi kenapa kami bisa melihatnya di siang hari, nek. Sedangkan Vicky tidak pernah melihatnya sama sekali?" ucap Farhan. "Itu karena jiwanya yang sangat kuat. Dia bisa menunjukkan wujudnya kepada siapapun. Mungkin dia tidak mau menampakan diri di depan Vicky karena Vicky bisa mengetahui jati dirinya. Maka nya, dia hanya menampakan diri pada kalian. Jika dia bertemu dengan saya, dia juga akan langsung menghilang," jawab nek Rumbi. "Jadi apa dia masih berada di sekolah, nek?" tanya Vicky. "Saya juga tidak tahu lebih tepatnya. Tapi kemarin saya hanya melihat Laras saja yang kabur." "Nek Rumbi yakin?" "Say

  • Dendam Arwah Bully   Bab 67. Identitas Psikopat

    "Tunggu! Sepertinya ada yang kurang," ucap Coki merasa ada yang ganjil. "Apanya yang kurang?" tanya Doni. "Entahlah, aku juga tidak tahu. Sepertinya ada yang kurang saja," sahut Coki. "Kamu jangan menambah masalah," kata Farhan tidak suka. "Aku tidak bohong. Kita seperti melupakan sesuatu!" teriak Coki tidak terima. "Apa yang kalian ributkan?" tanya nek Rumbi bangkit dari tempat duduknya. "Tidak tahu tuh, Nek. Coki hanya bicara ngawur," sahut Doni. "Aku tidak berbicara dengan ngawur. Kalian saja yang yang tidak percaya sama aku," bantah Coki. "Sudah kamu diam saja. Jangan banyak omong lagi," ucap Doni mengapit leher Coki dengan kedua tangannya. "Apa yang kamu lakukan. Lepas Doni. Ini sakit," teriak Coki memukul lengan Doni. "Kamu memang tidak bisa diam ya," gumam Doni menggoyangkan leher Coki tanpa melepaskan tangannya. "Lepas! Kamu itu seperti psikopat tahu," teriak Coki kewalahan melawan Doni. Seketika Doni berhenti menggoyangkan leher Coki. Tidak hanya Doni, Farhan

  • Dendam Arwah Bully   Bab 66. Kata-kata Terakhir

    Riska masuk ke dalam gudang. Hatinya sangat tidak karuan. Dia menyerahkan gadis kecil itu kepada pak Yanto. Mereka semua ikut masuk ke dalam gudang. Langkah Riska semakin pelan melihat kondisi suami yang terus membujuk Laras. Dengan tubuh yang terluka parah. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Dia semakin mempercepat langkah ingin menolong pak Bayu. Abian yang melihat sang ibu mendekati sang ayah langsung mencegahnya. Dia menahan ibunya agar tidak menghampiri ayahnya yang sedang membujuk Laras. "Ibu jangan mendekati bapak dulu," larang Abian. "Tapi bapakmu, Nak. Ibu mau menolong Bapak. Apa kamu tidak lihat bapak terluka sangat parah," jawab Riska memohon. "Abian tahu Bu. Abian juga tahu kondisi bapak sekarang. Tapi kita tetap tidak boleh mendekat. Bapak sedang membujuk Laras. Laras sudah mulai tenang. Jika ibu mendekat sekarang, usaha bapak bisa gagal, Bu," pinta Abian dengan berat. "Kenapa harus bapak yang melakukannya," ucapan Riska dengan tangisan yang sudah pecah. "Itu

  • Dendam Arwah Bully   Bab 65. Janji 2

    "Berani-beraninya kamu ingin menjebakku. Kamu memang pria brengsek," umpat Laras. "Laras, cukup Laras," ucap pak Bayu lemah. Suara pak Bayu terdengar cukup keras ke telinga Laras. Laras menatap ke arah pak Bayu, satu-satunya lelaki yang tidak pernah menyakitinya selama dia sekolah. "Bayu," ucap Laras lemah melihat pak Bayu yang terluka. Laras tidak menyadari kedatangan pak Bayu karena dia kesakitan akibat kalung yang dipakai paksa oleh pak Putra. Matanya iba melihat kayu yang ada di perut pak Bayu. "Tolong hentikan Laras," mohon pak Bayu. "Aku tidak akan pernah berhenti. Aku akan membunuh mereka semua. Mereka semua harus mati." Pak Bayu mengambil kalung yang jatuh di dekat kaki pak Putra. Pak Putra masih terkejut dengan kemunculan pak Bayu dan keadaan pak Bayu. Pak Bayu sempat melihat reaksi kalung itu. Dia sudah tahu jika itu adalah kelemahan Laras. "Laras cukup." "Aku tidak akan pernah berhenti. Kamu jangan menghalangi aku," ucap Laras marah. "Laras, kamu pernah berjan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status