Share

Bab 3

last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 19:12:33

"Beb, kamu dengar nggak apa yang nenek tua itu katakan. Ternyata si culun itu, selain kutu buku juga memiliki aura yang suram. Pantas aja selama ini sikapnya aneh begitu," kata Tasya kepada Farhan dengan salah satu lengan di bahu Farhan.

Tasya adalah pacar Farhan. Farhan sendiri adalah orang yang berkuasa di sekolah sekaligus anak kepala sekolah. Dia adalah orang paling suka membully dan memerintah kepada siswa dan siswi, terutama Fanny dan Ricko. Di balik sifatnya itu, dia tidak pernah bertindak keterlaluan. Dia tidak mau berurusan sama polisi walaupun papanya bisa membebaskannya.

"Aku dengar sayang," sahut Farhan yang duduk di atas sepeda motornya.

"Vicky, jadikan malam jum'at lusa kita melakukan uji nyali?" tanya Farhan kini ikut merangkul Tasya.

"Tapi, kalau kita gagal bagaimana?" tanya Vicky memikirkan resiko gagal.

"Katanya kamu bisa panggil arwah," ejek Coki.

"Bilang saja kalau kamu tukang bohong. Kamu itu hanya menipu kami kan. Kamu mau sok-sokan bilang kalau kamu itu juga keturunan paranormal," pancing Doni.

"Aku tidak bohong! Kalian lihat saja nanti. Malam jum'at lusa aku akan membuktikan jika aku bisa memanggil para arwah," jawab Vicky tidak terima dituduh berbohong.

"Nah gitu dong," ucap Coki dan Doni.

Coki dan Doni bertos ria karena berhasil membujuk Vicky. Mereka begitu mudah mengelabui Vicky. Hanya ditambah bumbu sedikit, maka Vicky sudah terpancing. Jangan panggil mereka Coki dan Doni kalau masalah sekecil itu tidak bisa mereka lakukan.

"Tapi untuk melakukan ritual pemanggil kita butuh tumbal. Tumbalnya sebagai media penghubung antara arwah dan kita," ujar vicky menatap teman-temannya.

"Bagaimana tumbal yang harus dicari? Masalah tumbalnya biar aku yang urus. Aku mau semuanya berjalan sesuai rencana aku. Nanti aku juga akan mengundang seluruh siswa kelas kita. Jika ada yang tidak datang, mereka akan aku keluarkan dari sekolah ini," kata Farhan serius.

"Jika masih ada yang tidak mau ikut, beb?" tanya Tasya manja.

"Kamu tenang saja sayang. Aku pastikan semua orang akan ikut dan wajib ikut. Aku akan minta izin pada papaku untuk membiarkan kita menginap semalam di sekolah. papaku pasti akan menuruti semua kemauanku," jawab Farhan.

"Kamu memang hebat, beb," puji Tasya bangga.

"Gimana? Apa kamu sudah tahu siapa orang yang cocok jadi tumbal?" tanya Farhan lagi ke Vicky.

"Tumbal yang cocok menurut aku adalah Fanny. Kalian dengar sendiri tadi, Fanny memiliki aura yang negatif. Orang yang memiliki aura negatif akan mudah dirasuki. Aku juga bisa merasakan sendiri aura negatif Fanny. Jadi aku rasa dia yang paling cocok jadi tumbal," terang Vicky.

"Kalian serahkan saja urusan Fanny sama aku. Biar aku dan teman-temanku yang urus," kata Tasya dengan senyum miring.

"Sekarang masalah tumbalnya sudah beres. Nanti bagian siswa lain aku yang urus. Sisanya kalian bertiga yang menyiapkan perlengkapannya," suruh Farhan.

"Siap Bos," hormat Coki dan Doni dengan semangat.

"Tapi bagaimana jika ada kesalahan? Jika fatal nyawa Fanny bisa jadi taruhannya," tanya Vicky yang masih gelisah.

Vicky sebenarnya tidak mau melakukan uji nyali ini. Teman-temannya yang penasaran memaksa dia. Jika dia tidak mau melakukan uji nyali maka Farhan akan mengeluarkan dia dari kelompok mereka. Farhan juga mengancam akan mengeluarkan Vicky dari sekolah. Vicky sedikit menyesal saat dia mengatakan jika dia juga keturunan paranormal.

"Jika gagal itu masalah kamu. Jika kamu tidak mau mengambil resiko, maka aku harap kamu tidak membuat semuanya menjadi kacau," kata Farhan datar.

Setelah berkata seperti itu Farhan segera pergi dari sana. Tasya dan lainnya mengikuti langkah Farhan yang memasuki ke gedung sekolah. Vicky masih menimbangkan apa yang harus dia lakukan itu sudah benar atau salah.

"Selama aku tidak membuat kesalahan semuanya pasti baik-baik saja. Lagian metodenya juga tidak rumit. Apa yang perlu aku khawatirkan, ritual seperti ini sudah pernah aku lakukan. Yah, walau bukan menggunakan tumbal manusia. Aku juga belum pernah gagal melakukan ritual seperti ini. Pasti semuanya akan berjalan lancar," guman Vicky.

Vicky segera menyusul teman-temannya yang sudah tidak terlihat lagi. Mereka sudah berada di lorong kelas. Vicky sedikit berlari kecil untuk menyusul mereka.

Tanpa mereka sadari pembicaraan mereka didengar oleh suatu sosok. Wajahnya dingin tanpa ekspresi sama sekali. Sosok itu kemudian pergi dari sana dengan cepat. Di bibirnya ada sebuah senyuman yang penuh makna.

Bersambung ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dendam Arwah Bully   Bab 32. Histeris Farhan

    Hal pertama yang Farhan lihat adalah kondisi Adam dengan punggung yang menyentuh lantai. Dengan kedua kaki yang berada di atas kepalanya. Ternyata Adam baik-baik saja. Hanya saja posisi dia yang sangat membingungkan. "Kamu tidak apa-apa, Adam?" tanya Farhan. "Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya kaget," sahut Adam. Adam segera bangkit dari lantai. Dia memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh. Punggungnya juga tidak kalah sakit terbentur keras dengan lantai. "Ahhh .… Kita ada di mana?" tanya Adam yang masih merintih kesakitan. Farhan terdiam. Dia juga bingung mereka ada di mana. Farhan mencoba melihat ke sekitar. Kemudian mata Farhan kembali terkejut dengan melihat sosok tubuh Sonya terikat di kursi yang bersimbah darah. "Sonya!" teriak Farhan. Farhan dengan sekuat tenaga menarik tangannya yang berada di balik tembok. Sehingga menyebabkan Abian, Mila dan Raya juga ikut tertarik ke dalam balik tembok. "Huwaaa …," teriak mereka bertiga kaget. Karena tiba-tiba tertari

  • Dendam Arwah Bully   Bab 31. Mencari Tasya

    "Salah satu dari kita pasti bukan pelakunya. Yang mengambil botol itu pasti orang lain," tebak Adam. "Terus, siapa yang mengambilnya?" tanya Abian dan Farhan. "Yang mengambil botol itu pasti pak Agus," jawab Naura tiba-tiba ikut nimbrung. Naura, Mila dan Raya tiba di depan mereka bertiga. Mereka masih setia memapah Naura berjalan. "Apa yang terjadi sama kaki kamu Naura?" tanya Abian mendekati Naura. Farhan dan Adam juga ikut mendekati mereka. Mereka membantu memapah Naura. Dari wajah Mila dan Raya, mereka terlihat sangat kelelahan. Mereka membiarkan Naura untuk duduk supaya Naura lebih nyaman. Tubuh keduanya sudah tidak kuat memapah Naura. "Yang membuat kaki aku seperti ini adalah pak Agus," sahut Naura. "Pak Agus? Tidak mungkin itu pak Agus. Pak Agus kan orang baik," bantah Adam. "Aku tidak mungkin bohong. Buat apa juga aku berbohong. Kita sedang dalam kondisi yang bisa diajak bercanda," ucap Naura berdecak kesal dikira berbohong.. Adam, Farhan dan Abian terdiam. Mereka masi

  • Dendam Arwah Bully   Bab 30. Penyesalan Farhan

    Farhan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan menatap ke depan, kiri dan kanan. Dia dengan serius melihat sekeliling berharap tidak bertemu Fanny. "Kalian jika melihat yang lain kabarin aku ya," ujar Farhan. "...." Tidak ada satupun suara yang menjawab. Hanya ada bunyi daun yang bergesekan. "Kalian dengar aku tidak?" tanya Farhan tanpa menoleh ke belakang. "Tasya, Mila, Raya, kalau aku tanya jawab do … wah!" teriak Farhan setelah berbalik. Farhan tersandung dengan sebuah dahan pohon. Dia sampai terjatuh terduduk. Pantatnya duluan yang menghantam lantai. Sekarang pantatnya berdenyut kesakitan. "Ah, sial. Kalian kenapa …." Farhan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tidak melihat lagi satupun temannya. Dia tinggal sendiri. Farhan dengan cepat bangkit berdiri. Dia menepuk sekilas tangan dan bagian belakang celana yang kotor. "Tasya! Mila! Raya!" teriak Farhan menggema. "Kalian dimana? Kalian jangan menakuti aku!"

  • Dendam Arwah Bully   Bab 29. Titik Terang 2

    Tasya menghindar sendiri kali ini. Dia sudah bisa menguasai tubuhnya. Dengan cepat Tasya berlari ke arah seberang meja. Meja yang menjadi penghalang antara dia dan pak Agus. "Nak, jangan takut. Bapak tidak akan melukai kamu," ujar pak Agus dengan senyum ramah. Senyum itu membuat Tasya merinding disko. Seluruh bulu di tubuhnya ikut berdiri. Siapa juga yang percaya dengan perkataan pak Agus. Tidak sesuai antara perkataan sama tindakan. "Bapak gila ya! Siapa yang mau percaya sama Bapak!" teriak Tasya dengan keras. "Bapak tidak gila kok, Nak. Bapak baik-baik saja. Ayo ke sini! Temani Bapak bermain ya," ajak pak Agus dengan menggerakan tangan. "Whusss …." Tongkat kembali diayunkan. "Bapak pikir aku bodoh. Awas saja ya, Pak. Jika aku lepas dari sini, aku akan pastikan Bapak menyesal seumur hidup!" kata Tasya dengan mengancam dan menekan rasa takut. Tasya tidak akan pernah mengampuni pak Agus. Pak Agus sudah berniat melukainya. Jika dia bertemu Farhan, Tasya akan melaporkan sem

  • Dendam Arwah Bully   Bab 28. Titik Terang

    Di dalam memori, Doni melihat jika ada seorang gadis yang sangat ingin berteman dengan suatu kelompok. Tetapi kelompok itu malah mengerjai gadis itu sehingga gadis itu mendapatkan hukuman dari pihak sekolah, yaitu dikeluarkan dari sekolah. Dia meminta pertanggung jawab sama teman-temannya itu. Tapi teman-teman itu malah bilang kalau mereka hanya mengerjai dia saja. Kemudian mereka menyuruh gadis itu pergi begitu saja Gadis itu tidak mau pergi dan tetap minta pertanggung jawaban. Dia mengancam akan melapor kepada sekolah jika perbuatan yang dia lakukan itu mereka yang suruh. Kelompok itu yang tergantung dengan suaranya, mereka mengurung gadis itu di sebuah ruangan yang ada di gudang sebagai pelajaran. Mereka kembali tertawa puas saat mendengar teriakan gadis itu yang terkurung di gudang. Mereka melanjutkan kegiatan mereka sambil merokok. Tidak sengaja salah satu diantara mereka membuang puntung rokok ke sembarang arah. Puntung rokok itu mengenai kain bekas yang kering. Tanpa mereka

  • Dendam Arwah Bully   Bab 27. Persahabatan

    Coki, Doni dan Mahmud sudah menunggu terlalu lama di ruang penyimpanan. Mereka mulai bosan bersembunyi. Sejak insiden Wati tenggelam, mereka terlalu takut pergi ke tempat lain. "Apa sebaiknya kita keluar saja?" tanya Coki sangat jenuh. "Tapi bagaimana dengan keadaan di luar?" tanya Mahmud takut. "Kalau kita hanya menunggu di sini saja, kita juga belum tentu selamat," sambung Coki. "Ya, aku setuju sama Coki. Kita juga bisa mencari kawan kita yang lain. Siapa tahu kita ada kesempatan keluar dari sekolah," sahut Doni. "Lebih baik kita segera mencari yang lain daripada kita menunggu di sini tanpa kejelasan," ucap Coki setuju dengan ide Doni. Mahmud tidak punya pilihan lain dia juga ikut. Dia tidak mau jika tinggal sendiri. Terlalu menakutkan ditinggal sendiri daripada berkeliling. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mencari yang lain. Mereka keluar dari sana dengan cara menyelinap dan hati-hati. Mereka berjalan pelan-pelan supaya tidak bertemu dengan Fanny atau hantu l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status