LOGIN"Ada apa, Nek?" tanya Fanny menatap takut nek Rumbi di balik kacamata tebalnya dan kepala yang menunduk.
Fanny merinding melihat mata nek Rumbi menatap matanya. Seluruh tubuhnya jadi bergetar. Dia memeluk buku yang ada di lengan dengan erat. Kedua ujung sepatu juga saling bergesekan, itu kebiasaan dia jika merasa takut. Matanya seketika bergerak ke arah lain menghindar mata nek Rumbi. Nek Rumbi mendekati Fanny. Matanya tidak lepas dari raut wajah Fanny. Setelah dekat, matanya beralih melihat ke sekeliling tubuh gadis di hadapannya. Tubuhnya semakin condong ke arah Fanny. Menelusuri setiap anggota tubuh Fanny. Fanny menutup mata sampai berkerut saat nek Rumbi sudah terlalu dekat. Dia bisa merasakan hembusan nafas nek Rumbi di sekitar wajahnya. Dia tidak tahan terlalu dekat dengan nek Rumbi, akhirnya dia segera memundurkan langkah dengan perasaan gelisah. "Aura di sekitar kamu sangat suram," ucap nek Rumbi setelah sedikit menjauhkan muka dari Fanny. Fanny antara lega dan takut. Dia lega dengan nek Rumbi yang sudah sedikit menjauh. Tapi, kelegaan dia hanya sebentar setelah mendengar perkataan nek Rumbi. ‘Apa … apa maksud nek Rumbi?’ batin Fanny tidak tenang. "Kring … kring … kring …." Fanny kaget dan tersentak dengan suara bel. Matanya langsung terbuka kembali. Jantungnya hampir saja copot. Dia tidak mengira jika nek Rumbi akan menyembunyikan bel di sekeliling tubuhnya. Bel yang digunakan oleh nek Rumbi bukanlah bel biasa. Fanny tidak tahu maksud dan tujuan nek Rumbi. Nek Rumbi sengaja membunyikan bel di sekeliling tubuh Fanny. Dia ingin mengusir aura negatif yang ada di tubuh Fanny. Nek Rumbi baru bisa merasakan aura positif Fanny kembali setelah membunyikan bel. Tubuhnya langsung mundur dua langkah dari hadapan Fanny. Setelah itu Fanny merasakan jika badan dia terasa ringan. Seolah-olah banyak beban terangkat dari badannya. Selama ini dia sering sekali cepat lelah dan capek. Kadang badannya lemas sendiri di saat dia tidak melakukan apapun. "Sebaiknya kamu segera pindah dari tempat tinggal kamu saat ini. Saya bisa merasakan, kalau aura itu berasal dari tempat tinggal kamu sekarang. Sekeliling tubuh kamu dipenuhi sama aura negatif," ujar nek Rumbi memperingati. Fanny jadi ketakutan mendengar perkataan nek Rumbi. Fanny bisa merasakan sendiri jika selama ini ada yang aneh sama tubuhnya. Fanny seakan-akan dikelilingi oleh banyak makhluk. Dia segera menggelengkan kepala mengusir pemikiran yang bisa membuatnya takut. Para siswa dan siswi juga melihat ke arah Fanny. Mereka semakin mencibir Fanny. Mereka sekarang jadi takut dekat sama Fanny. Mereka tidak mau berada di dekat Fanny. Nek Rumbi meraih kalung yang dipakai sama Fanny. Fanny tidak sempat menghindar. Dia menatap nek Rumbi yang sangat fokus menatap kalung yang dia pakai. Fanny ingin sekali menjauh dari nek Rumbi, tapi seluruh badannya membeku. Dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. "Sampai saat ini, kamu masih bisa bertahan hidup karena kamu memakai kalung ini. Kalung ini memiliki aura positif yang menjadi penangkal aura negatif di sekitar kamu. Kamu lebih baik mendengarkan saran saya jika kamu tidak mau celaka. Segera tinggalkan tempat itu sekarang juga," perintah nek Rumbi memperingatkan sekali lagi. "Kring … kring … kring …." Nek Rumbi melepaskan kalung Fanny. Kemudian membunyikan bel lagi dan kembali melakukan ritual yang sempat tertunda karena memperingati Fanny. Dia berjalan di ikut sama bawahannya. Dia belum selesai melakukan ritual penenangan arwah. Fanny memegang kalung pemberian almarhum sang kakek. Sejak kecil tubuh Fanny memang lemah, dia sering pingsan tiba-tiba. Oleh karena itu, kakek Fanny memberikan sebuah kalung. Kakek Fanny hanya berkata jika kalung itu hanya jimat agar dia tidak mudah sakit lagi. Fanny yang masih kecil tidak menanyakan lagi apa fungsi lain kalung tersebut. Fanny melihat kembali ke arah nek Rumbi yang menghilang. dia terbayang-bayang dengan perkataan nek Rumbi. Tinggal di tempat kontrakan sekarang bukanlah keinginannya. Hanya tempat itu yang harganya murah dan dekat dengan sekolah. Jika pindah ke tempat tinggal lain, dia tidak mempunyai uang lagi. Akhirnya Fanny memilih mengabaikan perkataan nek Rumbi dan lanjut berjalan ke arah kelas. Bersambung ....Hal pertama yang Farhan lihat adalah kondisi Adam dengan punggung yang menyentuh lantai. Dengan kedua kaki yang berada di atas kepalanya. Ternyata Adam baik-baik saja. Hanya saja posisi dia yang sangat membingungkan. "Kamu tidak apa-apa, Adam?" tanya Farhan. "Aku baik-baik saja. Tadi aku hanya kaget," sahut Adam. Adam segera bangkit dari lantai. Dia memegang pinggangnya yang terasa sakit karena terjatuh. Punggungnya juga tidak kalah sakit terbentur keras dengan lantai. "Ahhh .… Kita ada di mana?" tanya Adam yang masih merintih kesakitan. Farhan terdiam. Dia juga bingung mereka ada di mana. Farhan mencoba melihat ke sekitar. Kemudian mata Farhan kembali terkejut dengan melihat sosok tubuh Sonya terikat di kursi yang bersimbah darah. "Sonya!" teriak Farhan. Farhan dengan sekuat tenaga menarik tangannya yang berada di balik tembok. Sehingga menyebabkan Abian, Mila dan Raya juga ikut tertarik ke dalam balik tembok. "Huwaaa …," teriak mereka bertiga kaget. Karena tiba-tiba tertari
"Salah satu dari kita pasti bukan pelakunya. Yang mengambil botol itu pasti orang lain," tebak Adam. "Terus, siapa yang mengambilnya?" tanya Abian dan Farhan. "Yang mengambil botol itu pasti pak Agus," jawab Naura tiba-tiba ikut nimbrung. Naura, Mila dan Raya tiba di depan mereka bertiga. Mereka masih setia memapah Naura berjalan. "Apa yang terjadi sama kaki kamu Naura?" tanya Abian mendekati Naura. Farhan dan Adam juga ikut mendekati mereka. Mereka membantu memapah Naura. Dari wajah Mila dan Raya, mereka terlihat sangat kelelahan. Mereka membiarkan Naura untuk duduk supaya Naura lebih nyaman. Tubuh keduanya sudah tidak kuat memapah Naura. "Yang membuat kaki aku seperti ini adalah pak Agus," sahut Naura. "Pak Agus? Tidak mungkin itu pak Agus. Pak Agus kan orang baik," bantah Adam. "Aku tidak mungkin bohong. Buat apa juga aku berbohong. Kita sedang dalam kondisi yang bisa diajak bercanda," ucap Naura berdecak kesal dikira berbohong.. Adam, Farhan dan Abian terdiam. Mereka masi
Farhan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Dia berjalan menatap ke depan, kiri dan kanan. Dia dengan serius melihat sekeliling berharap tidak bertemu Fanny. "Kalian jika melihat yang lain kabarin aku ya," ujar Farhan. "...." Tidak ada satupun suara yang menjawab. Hanya ada bunyi daun yang bergesekan. "Kalian dengar aku tidak?" tanya Farhan tanpa menoleh ke belakang. "Tasya, Mila, Raya, kalau aku tanya jawab do … wah!" teriak Farhan setelah berbalik. Farhan tersandung dengan sebuah dahan pohon. Dia sampai terjatuh terduduk. Pantatnya duluan yang menghantam lantai. Sekarang pantatnya berdenyut kesakitan. "Ah, sial. Kalian kenapa …." Farhan tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Ketika dia menoleh ke arah belakang, dia tidak melihat lagi satupun temannya. Dia tinggal sendiri. Farhan dengan cepat bangkit berdiri. Dia menepuk sekilas tangan dan bagian belakang celana yang kotor. "Tasya! Mila! Raya!" teriak Farhan menggema. "Kalian dimana? Kalian jangan menakuti aku!"
Tasya menghindar sendiri kali ini. Dia sudah bisa menguasai tubuhnya. Dengan cepat Tasya berlari ke arah seberang meja. Meja yang menjadi penghalang antara dia dan pak Agus. "Nak, jangan takut. Bapak tidak akan melukai kamu," ujar pak Agus dengan senyum ramah. Senyum itu membuat Tasya merinding disko. Seluruh bulu di tubuhnya ikut berdiri. Siapa juga yang percaya dengan perkataan pak Agus. Tidak sesuai antara perkataan sama tindakan. "Bapak gila ya! Siapa yang mau percaya sama Bapak!" teriak Tasya dengan keras. "Bapak tidak gila kok, Nak. Bapak baik-baik saja. Ayo ke sini! Temani Bapak bermain ya," ajak pak Agus dengan menggerakan tangan. "Whusss …." Tongkat kembali diayunkan. "Bapak pikir aku bodoh. Awas saja ya, Pak. Jika aku lepas dari sini, aku akan pastikan Bapak menyesal seumur hidup!" kata Tasya dengan mengancam dan menekan rasa takut. Tasya tidak akan pernah mengampuni pak Agus. Pak Agus sudah berniat melukainya. Jika dia bertemu Farhan, Tasya akan melaporkan sem
Di dalam memori, Doni melihat jika ada seorang gadis yang sangat ingin berteman dengan suatu kelompok. Tetapi kelompok itu malah mengerjai gadis itu sehingga gadis itu mendapatkan hukuman dari pihak sekolah, yaitu dikeluarkan dari sekolah. Dia meminta pertanggung jawab sama teman-temannya itu. Tapi teman-teman itu malah bilang kalau mereka hanya mengerjai dia saja. Kemudian mereka menyuruh gadis itu pergi begitu saja Gadis itu tidak mau pergi dan tetap minta pertanggung jawaban. Dia mengancam akan melapor kepada sekolah jika perbuatan yang dia lakukan itu mereka yang suruh. Kelompok itu yang tergantung dengan suaranya, mereka mengurung gadis itu di sebuah ruangan yang ada di gudang sebagai pelajaran. Mereka kembali tertawa puas saat mendengar teriakan gadis itu yang terkurung di gudang. Mereka melanjutkan kegiatan mereka sambil merokok. Tidak sengaja salah satu diantara mereka membuang puntung rokok ke sembarang arah. Puntung rokok itu mengenai kain bekas yang kering. Tanpa mereka
Coki, Doni dan Mahmud sudah menunggu terlalu lama di ruang penyimpanan. Mereka mulai bosan bersembunyi. Sejak insiden Wati tenggelam, mereka terlalu takut pergi ke tempat lain. "Apa sebaiknya kita keluar saja?" tanya Coki sangat jenuh. "Tapi bagaimana dengan keadaan di luar?" tanya Mahmud takut. "Kalau kita hanya menunggu di sini saja, kita juga belum tentu selamat," sambung Coki. "Ya, aku setuju sama Coki. Kita juga bisa mencari kawan kita yang lain. Siapa tahu kita ada kesempatan keluar dari sekolah," sahut Doni. "Lebih baik kita segera mencari yang lain daripada kita menunggu di sini tanpa kejelasan," ucap Coki setuju dengan ide Doni. Mahmud tidak punya pilihan lain dia juga ikut. Dia tidak mau jika tinggal sendiri. Terlalu menakutkan ditinggal sendiri daripada berkeliling. Mereka bertiga akhirnya memutuskan untuk mencari yang lain. Mereka keluar dari sana dengan cara menyelinap dan hati-hati. Mereka berjalan pelan-pelan supaya tidak bertemu dengan Fanny atau hantu l







