LOGIN"Tante, keluarga saya tidak–"Belum sempat Frans menjelaskan lebih banyak, Aminah sudah memotong ucapan pria tampan itu."Nak, Frans. Tante tadi masak banyak, ini ada sedikit buat kamu makan. Tadi Tante juga kasih Wira, tapi kalau kamu gak suka kamu kasih asisten rumah tangga di rumah kamu aja," ucap Aminah.Frans menatap tangan wanita paruh baya itu, ia pun menerima makanan yang di berikan Bu Aminah. Sementara Arnie menatap sang ibu dengan tatapan curiga, tidak biasanya ibunya seperti itu. "Kak Frans, sepertinya suasana hati ibu lagi gak baik. Aku mau ajak ibu bicara dulu ya!" bisik Arnie.Frans menghela nafas, lalu menganggukkan kepala. "Kalau gitu aku pulang ya!""Iya, sekali lagi terimakasih kue nya," ucap Arnie.Frans mengangguk kembali, lalu berterima kasih dan pamit pada Aminah. Setelah itu Arnie pun membawa sang ibu masuk kedalam rumah, lalu bertanya mengapa sang ibu berbicara seperti itu pada Frans. Padahal hampir setiap hari Frans dan Arnie pergi kerja bersama, selama ini A
"Ehm ... Lagi ngomongin apa sih, kok sepertinya seru banget," ucap Frans yang tiba-tiba datang ke rumah Arnie."Eh, pak pengacara. Sudah selesai sidangnya?" tanya Arnie dengan senyum ceria."Sudah untuk hari ini, tapi nanti ada sidang lanjutan lagi. Kamu jadi fitting gaun hari ini?" Frans balik bertanya."Jadi, tadi di temani Wira," ucap Arnie.Wira tersenyum, karena waktu sudah sore ia pun pamit kepada Arnie karena ingin segera mengistirahatkan badannya yang terasa lelah. Berapa Minggu ini jadwal pekerjaan Arga selalu full, itu membuat Wira sebagai asisten menjadi orang yang paling sibuk."Arnie, aku pamit pulang ya. Sampaikan terima kasih pada ibumu, aku sangat suka masakannya," ucap Wira."Hati-hati di jalan, nanti aku sampaikan pada ibu. Dia pasti senang kalau tahu kamu suka masakannya," ucap Arnie."Frans, aku duluan ya!" ucap Wira santai. Lalu masuk kedalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan rumah Arnie. Sementara Frans memperhatikan tangan Wira yang membawa sebungkus ma
Wira akhirnya masuk kedalam rumah keluarga Arnie, ia merasa tidak enak karena Arnie terus memaksanya. Mereka berjalan melewati ruang tamu, hingga berhenti di ruang makan."Cuci tangan dulu, setelah itu kita makan bersama!" ucap Aminah begitu ramah."Oke, Bu."Arnie mengajak Wira berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan, setelah itu kembali ke meja makan. Di atas meja, satu per satu hidangan khas Jakarta tersaji dengan rapi. Soto Betawi mengepul hangat dengan potongan daging empuk, nasi uduk pulen berbalut aroma santan dan daun pandan, semur daging dengan kentang, tahu dan tempe goreng keemasan, sayur asem segar, serta sambal terasi buatan sendiri. Semua itu adalah makanan kesukaan Arnie sejak kecil."Wah ibu beneran masak banyak," ucap Arnie."Iya, sibuk banget dari tadi sampai ayah diminta bantu potong-potong sayur," ucap Supriadi."Ibu lagi senang karena sebentar lagi kita diakui sebagai bagian dari keluarga Dharma Wicaksana. Dengan begitu Arga akan leluasa bertemu dengan kita
Daren berdiri menatap punggung Arnie dan Wira yang semakin jauh meninggalkan nya. Ia meremas dadanya merasakan sesak yang tak bisa di jelaskan, sahabat dan wanita yang dulu mencintainya kini membenci bahkan tak ingin melihatnya lagi. Ponsel di tangannya bergetar, satu nama muncul di layar membuat dadanya mengeras.Murni.Ia menghela napas panjang sebelum menekan tombol hijau."Daren," suara mamanya terdengar tegang, bercampur cemas. "Kamu di mana? Sudah dua minggu kamu tidak pulang.""Aku masih di Batam, Mah," jawab Daren singkat dan suara tak bersemangat."Kenapa masih di sana? Waktu berangkat, kamu bilang cuma seminggu."Daren memejamkan mata sejenak, suara Murni kembali terdengar dengan nada khawatir. "Apa ada kendala disana? Kenapa tidak memberi kabar, mama khawatir!" lanjut Murni "Kerjaan di Batam itu apa belum selesai?"Daren menjawab dibuat setenang mungkin. "Urusan pekerjaan sudah selesai seminggu lalu.""Sudah selesai?" Murni terdiam sesaat. "Kalau begitu, kenapa kamu belum p
"Kau tak pernah berubah, Daren. Selalu menuduh tanpa mau mencari tahu kebenaran." jawab Wira tenang, meski matanya menyiratkan luka lama. "Kau pikir aku menyukai Arnie hingga aku sengaja menyembunyikannya darimu?"Daren melangkah lebih dekat. "Bukankah itu masuk akal? Kamu playboy, Wira. Bisa saja kau menyukainya kan!"Wira tertawa lagi, kali ini getir. "Aku memang playboy dan kamu boleh menilai aku bagaimana pun, tapi satu hal yang sudah berkali-kali aku katakan sejak dulu-aku tidak pernah, dan tidak akan pernah, merebut istri sahabatku."Arnie akhirnya angkat bicara. Suaranya bergetar, tapi jelas. "Sudahlah, Wira. Percuma menjelaskan apapun padanya, dia tidak akan mau dengar dan tidak akan pernah percaya. Sejak dulu dimata nya aku selalu salah, selalu rendah, dan selalu hina."Daren menoleh padanya. "Arnie, tidak seperti itu dengarkan aku-""Tidak," potong Arnie tegas. "Aku tidak mau dengar apapun lagi darimu. Kamu tidak berhak menuduh dan menyalahkan siapa pun, aku meninggalkanmu k
Keesokan harinya.Arga datang ke rumah orang tua kandungnya. Arnie duduk di sofa bersama kedua orang tuanya, sementara Arga berdiri di dekat jendela, seolah sedang menimbang kata-kata yang akan ia ucapkan.Arga menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berbalik."Ayah, Ibu… Arnie," ucapnya pelan namun tegas. "Ada hal penting yang ingin aku sampaikan."Arnie mengangkat wajahnya, alisnya sedikit berkerut. "Hal penting apa, Kak?" tanyanya hati-hati.Arga melangkah mendekat, lalu duduk berhadapan dengan mereka. "Orang tua angkatku—keluarga Dharma Wicaksana—akan mengadakan sebuah pesta."Ibu Arnie saling pandang dengan suaminya. "Pesta?" ulangnya bingung.Arga mengangguk. "Bukan pesta biasa. Pesta itu akan menjadi pernyataan resmi… bahwa Arnie adalah anak angkat keluarga Dharma Wicaksana."Ucapan itu jatuh seperti petir di siang bolong."Apa?" Arnie spontan berdiri. Matanya membesar, napasnya tercekat. "Kak Arga… kamu serius?"Ayah Arnie ikut terkejut. "Arga, maksudmu… bagaimana dengan ka
"Antara kau dan Daren ada fitnah dan kesalahpahaman panjang yang harus diluruskan, kamu wanita baik, Daren pun lelaki baik. Jika aku bisa membantu menyelesaikan masalah ini dan kalian tetap bersama aku sangat senang," ucap Wira.Arnie tersenyum menatap Wira tak percaya, bertahun-tahun ia mengenal
"Aku sadar 100% ngomong apa, tapi kamu yang gak sadar kalau sedang kepanasan. Panas ya denger istrinya di incer lelaki lain," ucap Wira sambil tertawa puas.Daren masih menatap sahabatnya itu dengan tajam, sementara Wira dengan santainya duduk di sofa sambil memainkan ponsel."Aku sarankan kau cari
"Dapat, ternyata Dimas bukan ayah biologis Clarisa. Sudah dapat dipastikan Clarisa adalah anak Maya dengan selingkuhannya dan kamu tahu siapa selingkuhan Maya?" tanya Arga masih dari sambungan telepon."Ya Tuhan, jadi benar Clarisa bukan anak kak Dimas. Lalu siapa selingkuhan mbak Maya?" tanya Arni
Arnie mengganti baju yang ia kenakan dengan gaun yang kemarin ia beli, lalu memoles wajahnya dengan make up tipis. Tak lupa parfum ia semprotkan, wanita cantik itu pun menggunakan flatshoes dan tas berwarna senada.Sementara di ruang tamu Daren yang sudah selesai sarapan mulai merasa kesal karena m







