로그인***
“Apakah kalian tidak bisa lebih dekat lagi?” Lama-lama David kesal sendiri melihat hasil foto Savana dan Leon. Mereka benar-benar menjaga jarak untuk satu sama lain. Ini jauh dari kata foto prewedding.
“Semua orang akan langsung sadar kalau kalian hanya pura-pura.” Komentar David sembari memijit dahinya.
Tck!
Leon berdecak tak suka. Suara David dan photographer sejak tadi bergantian memberi arahan. Membuat Leon benar-benar muak. “Sial! Kenapa aku harus melakukan ini?” kesalnya.
“Dan kamu, jangan pura-pura tak suka bersentuhan denganku. Cepat kemari!” ujarnya kepada Savana.
Savana menggerutu sebal. Dia memang tak suka terlalu dekat dengan Leon. Setiap kali melihat pria itu membuat Savana kembali teringat kakeknya. Savana tentu tak lupa pada apa yang David katakan, bahwa kakek mereka mati karena pengkhianat Smith, kakek Leon.
“Cepat ke sini!” Tanpa peduli pada ekspresi wajah Savana yang menatap jijik padanya, Leon menarik paksa hingga Savana berada dalam dekapannya.
“Sial!” pekik Savana. Dia hampir saja melayangkan tamparan ke wajah Leon andai tak melihat tatapan tajam kakaknya.
Dengan gerakan anggun, tangan yang sempat terangkat Savana pindahkan pelan ke atas dada Leon. “Baiklah,” katanya. Lagi-lagi wajahnya berubah lembut. Senyum tipis muncul di antara sudut bibir gadis itu, membuat Leon bertanya-tanya sebanyak apa kepribadian Savana.
“Benar seperti itu!” ujar photographer saat Leon dan Savana melakukan pose yang benar layaknya pasangan yang saling jatuh cinta. Pasangan yang bahagia karena akan menjadi pengantin pria dan wanita.
Savana sedang menatap Leon dengan tatapan lembutnya. Sementara Leon tersenyum tipis sembari membalas tatapan Savana. Kini David yakin siapapun tak akan meragukan hubungan mereka.
“Tunggu sebentar!” ujar photographer bernama Jonathan itu. Dia buru-buru menghampiri pasangan kontrak tersebut. Memintak izin untuk memindahkan tangan Savana agar berada di belakang leher Leon.
Sementara tangan Leon berpindah ke pinggang Savana. “Dipeluk tuan,” ucap Jonathan. “Anggap dia benar-benar wanita yang Anda cintai.”
Sebenarnya bukan hal yang sulit bagi Leon melakukan apa yang Jontathan arahkan sejak tadi, namun karena yang jadi pengantinnya adalah Savana yang kesan pertamanya sudah sangat rusak di matanya, membuat Leon kesulitan menerima arahan.
Namun, demi kepentingannya sendiri, Leon tak akan menunda lagi. Dia akan menahan diri untuk tidak memulai keributan dengan wanita menyebalkan ini.
“Nona Savana Anda adalah aktris yang luar biasa. Tak mungkin sulit melakukan arahan saya, bukan?” Jonathan menyindir Savana terlalu terang-terangan.
Savana mendengus. Namun, tak urung dia melakukan apa yang Jon arahkan. Sesuai yang semua orang kenal, Savana pandai bermain peran. Dia dengan mudah menetralisir perasaannya agar tenang di depan Leon demi berakhir suksesnya sesi potret mereka.
“Okay! Ini bagus. Jangan bergerak lagi.” Jon dengan cepat kembali ke kameranya. Ia berdecak kagum melihat visual Savana dan Leon. Mereka benar-benar serasi. Savana cantik, sementara Leon luar biasa.
***
Sesi potret itu selesai. Walaupun lebih lama dari yang Savana kira, tapi dia merasa lega. Media hampir melupakan skandalnya sejak berita pernikahannya dengan Leon terbit. Ditambah foto-foto prewednya mulai bertebaran di media, semakin hilang berita soal dia yang menjadi selingkuhan Ava.
Khalayak kini menganggap kejadian malam itu hanya kebutuhan acting saja. Sesuai dengan rencana Leon.
Mia datang ke agency sehari kemudian. Wanita itu tak kalah cantik dari Savana. Namun, Leon tahu seperti apa kelicikannya.
“Leon aku sudah sangat lama menantikan pertemuan ini,” ucap Mia jujur. Dia tak segan menyentuh dada Leon. Mengusapnya penuh rayuan. Dia tak pernah berbohong tentang perasaannya, tapi Leon tak pernah menganggapnya ada. Padahal mereka telah lama saling mengenal. Walaupun, selama ini Mia selalu berada di belakang Clara.
Leon hanya diam. Bukan menikmati sentuhan Mia, tetapi menunggu waktu yang tepat untuk menepisnya.
“Apa yang sedang kalian lakukan?” Namun waktu yang Leon harapkan tidak pernah datang karena pintu yang tiba-tiba terbuka dan menampakan sosok Savana merenggut semuanya. Pekikan Savana mewakili amarahnya walau Leon tahu itu hanya pura-pura.
Savana masuk, lalu tanpa basa-basi dia mendorong Mia hingga Mia menjauh dari Leon. “Siapa kau? Berani sekali menyentuh suamiku.” tanyanya.
Mia mendengus sebal. Meremehkan. “Perkenalkan, aku wanita yang sangat dekat dengan Leon sejak lama. Kau jalang yang menjadi istri barunya?” Suaranya seangkuh wajahnya saat memperkenalkan diri kepada Savana.
Pertanyaan Mia memancing emosi Savana. “Kau!” ujarnya sembari menunjuk wanita itu. Baru saja Dia ingin mengeluarkan cakarannya, tetapi Leon dengan cepat menariknya. Leon mendekap lembut Savana.
“Sayang sudahlah, dia bukan siapa-siapa. Dia hanya parasite yang tidak tahu malu.”
Mendengar itu membuat Savana tertawa, sementara Mia mengepalkan tangannya. Leon selalu saja bersikap jahat kepadanya, padahal selama ini hatinya hanya untuk pria itu.
To be continued.
***“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon ketika melihat Savana terdiam sembari menatap selembar foto yang telah kembali pada bingkainya itu.Savana melirik sekilas pada Leon. “Kalau benar kakek Hans berkaitan dengan meninggalnya kakekku, entah apa yang akan David lakukan,” ucapnya lirih.“Aku takut dia nekat membalaskan dendamnya pada kakek Hans.”Leon mendekat, lalu mendekap. “Tenanglah, aku akan membicarakan masalah ini dengan David. Aku janji semua masa lalu kakek kita akan terungkap!” ujarnya.“Tapi bagaimana dengan makam kakekmu? Aku takut nenek tirimu itu akan bertindak begitu sadar kau mulai melawan,”“Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku tahu apa yang wanita mata duitan itu inginkan. Dia tidak akan bertindak selama the blue agency masih berada di tanganku.”“Benarkah?”Leon mengangguk. “Sekarang mari kita lupakan dulu masalah itu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu,” ucapnya terdengar tulus di telinga Savana.Savana terkekeh. Dia menyimpan kembali bingkai foto ke atas meja nakas
***Leon menarik napasnya berat. Setelah menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin beberapa menit yang lalu, kekecewaannya akibat kebohongan yang Savana dan David lakukan sedikit mereda. Setidanya kini dia bisa berpikir lebih bijaksana.“Kakek yang memberikannya padaku.” Ucapnya menjawab pertanyaan Savana. Selembar foto yang terus digenggam kakeknya ketika menemui ajal, kini sudah berada di tangan Savana. Leon ingin menguji Savana, apakah benar gadis remaja di foto itu adalah dirinya, dan lelaki berusia sekitar Lima belas tahun itu adalah David?“Kau mengenalnya?”Leon memang telah mendengar beberapa kalimat yang membingungkan dari David dan Savana beberapa saat yang lalu, namun dia masih membutuhkan kepastian. Benarkah dua orang yang ada pada foto tersebut adalah Savana dan David?“Ini … ” Savana ragu mengakui. Dia kebingungan harus bersikap seperti apa. Dia juga masih bertanya-tanya apakah Leon dan kakek Smith juga merencanakan hal jahat kepadanya dan David? Apakah semua yang terj
***“Lepaskan dia!” Suara itu tidak membentak, justru terkesan dingin dan tegas. Membuat siapa pun yang mendengarnya merasa terintimidasi.Langkah David yang seharusnya bergerak lebih cepat justru melambat. Bahkan pria itu berhenti hanya sekedar untuk memastikan pendengarannya tak salah.David berbalik. “Leon?” beonya dengan rahang yang mengeras.Sementara itu, Savana merasa lidahnya terasa kelu. Entah bagaimana dia harus menjelaskan situasi ini. Mungkinkah Leon telah mendengar semua yang dia dan David bicarakan?“Lepaskan Savana!” Tanpa peduli pada ekspresi David yang terkejut melihatnya, Leon kembali mengulangi ucapannya.David menyeringai tipis. Mungkin sudah saatnya Leon tahu kebenaran yang dia dan Savana sembunyikan agar pria itu tak semena memberinya perintah. “Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?” Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan penolakan.Terlihat jelas Leon tak suka pada jawaban David. Tangannya mengepal erat, siap melayang pada David andai Savana tak sedang berada di b
***“Kak, terima kasih,” ucap Savana kepada David setelah keduanya berada di dalam mobil yang David kendarai.David menoleh singkat. “Karena membelamu dari si brengsek itu?” tanyanya.“Iya.”Tck!David berdecak. “Seharusnya kau bisa lebih tegas kepadanya. Tendang tulang keringnya jika perlu!” ujarnya.“Kakak serius?” tanya Savana tidak percaya.“Kenapa tidak?”Kemudian mereka terkekeh bersama. Rasanya sudah cukup lama keduanya tak merasakan perasaan semacam ini. David lebih sering bersikap dingin, sedangkan Savana lebih suka menghindarinya.“Aku senang kita bisa tertawa bersama,” ucap Savana jujur dari hatinya.David tak tahu harus menanggapi ucapan Savana dengan cara seperti apa. Pada akhirnya dia memilih diam. Keadaan menjadi canggung dalam sekejab.Savana melirik sekilas, namun bibirnya kelu untuk melanjutkan obrolan.“Kak, aku mengantuk. Tolong bangunkan aku setelah kita tiba di tempat tujuan.” Dan, Savana pun memilih untuk memejakan matanya.David menghela napas dengan berat begi
***Bukan ini yang David inginkan meski tujuannya memang menahan Savana agar tetap berada di rumah lama. Memaksa sang adik menikahi pria seperti Kael, tentu bukan keinginannya. Dia hanya ingin Savana jauh dari Leon agar tidak terjerumus terlalu dalam.“Maaf, Kakek Hans, aku tidak setuju adikku menikahi cucumu.”Savana menoleh pada kakaknya. Tak menyangka David akan membelanya.“Apa maksudmu, David?” Kael terdengar tidak suka dengan penolakan David.David tersenyum sinis. Memandang Kael dengan tatapan hina. “Kau yakin sanggup menikahi adikku, Kael? Jujur, kau tak pantas.” Katanya.Terang saja kata-kata itu membuat David murka. “Memangnya apa kurangku hingga kau menghinaku seperti itu, David?” tanyanya kesal.“Serius kau tak menyadari kekuranganmu?”“Sialan! Aku terlalu sabar padamu.” Kael hampir saja melayangkan gelas di depannya andai Hans tak kembali menegurnya.“Tak bisakah kau tenang, Kael?”“Tapi Kek …”“Itulah kenapa David menganggapmu tak pantas untuk adiknya.” Potong Hans denga
David melirik Savan lewat ekor matanya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanyanya.Savana mengangguk kecil. Tak berminat sebab pikirannya sedang berada di tempat lain.“Savana fokus!” tegur David. “Kakek Hans bukan orang sembaranga. Kita berdua tahu betapa liciknya dia.” Ujarnya.Savana melirik malas. “Lalu kenapa kakak masih percaya pada ucapannya?” tanyanya merujuk pada keyakinan Hans tentang siapa pembunuh kakek mereka.Sejujurnya Savana mulai goyah. Dia menolak kenyataan tentang surat terakhir di atas meja kakeknya beberapa tahun yang lalu.“Itu hal yang berbeda!”“Apanya? Bisa saja kakek Hans memanipulasi semuanya, Kak.”David menatap sang adik dengan tajam. “Kau benar-benar telah terpengaruh oleh keturunan Smith itu.” kesalnya.Mata Savana memicing sebal. “Tunggu hasil penyelidikkanku, Kak. Aku yakin ada yang keliru,” ucapnya.Seringai tipis muncul di antara sudut bibir David. Ada yang tidak Savana ketahui tentang pertemuan ini. Mereka tak hanya datang berkunjung, t







