Mag-log in***
“Kenapa kita tidak bergegas mendaftarkan pernikahan kalian sekarang? Apakah kalian berdua batal menikah?” Lagi, David berusaha memisahkan Leon dan Savana yang saling melirik tajam.
Leon mendengus kesal. Pria itu mengalihkan perhatiannya kepada David. “Ayo lakukan sekarang!” ujarnya. Lalu melangkah pergi lebih dulu.
Sebelum menyusul Leon, kembali David memberi Savana peringatan agar tak macam-macam.
Tak butuh waktu yang lama, bukti pernikahan sudah berada di tangan Leon dan Savana. Buku bersampul merah itu mencatat tanggal yang seharusnya sakral untuk pasangan yang di mabuk cinta. Namun, dijadikan tanggal dimulainya kontrak pernikahan oleh mereka berdua.
“David, kau harus merekayasa waktu pernikahan kami. Jangan sampai orang lain menyadari kalau pernikahan ini hanya untuk menutup skandal dia.” Perintah Leon adalah keharusan bagi David. Tenang saja ia lihai urusan ini.
“Baik bos, semua akan disesuaikan dengan keinginan Anda.”
“Jadikan semua orang percaya kalau aku dan dia sudah lama menikah. Pernikahan terpaksa dirahasiakan atas keinginannya!” ujar Leon sembari melirik malas ke arah Savana.
Savana menunjuk dirinya sendiri. “Aku? Kenapa bukan kau?” Dia terlihat tidak terima.
“Nona Savana sebaiknya Anda diam.” David tak hanya menegur Savana sebagai aktris yang bermasalah, tetapi juga sebagai adiknya yang keras kepala.
Begitu mendengar suara David, Savana benar-benar menutup mulutnya.
“Jangan lupa tulis cerita bahwa apa yang dia lakukan di club hanya untuk kepentingan ektingnya. Soal dua orang lain yang ikut terlibat, aku yakin kau tahu apa yang harus kau lakukan?” Leon melanjutkan. Dia yakin seratus persen berita tentang pernikahannya akan membungkam seluruh media yang sedang rusuh saat ini.
Leon tersenyum licik. Pernikahannya juga akan membuat seseorang yang memanfaatkan skandal ini akan ikut bungkam. Tck! Bukan dia tak sadar yang membuat berita terus terbit adalah istri muda mendiang kakeknya.
***
Clara tertawa kencang saat membaca berita terbaru dari media tentang Leonan Vadas Smith, cucu tirinya yang sangat disayang mendiang suaminya itu. “Tidak masuk diakal!” ujarnya sembari melempar handphone miliknya hingga hancur berkeping-keping.
“Bagaimana mungkin Leon tiba-tiba saja menikahi wanita itu?” teriaknya tidak percaya. Padahal Clara yakin Dia masih memiliki kesempatan untuk menyingkirkan Leon karena skandal Savana, dan The Blue Agency akan menjadi miliknya seperti yang selama ini dia impikan.
Namun, tiba-tiba saja Leon diberitakan telah lama menikahi artisnya sendiri. Dan, skandal di club malam itu hanya demi kebutuhan acting sang aktris. Ayolah! Ini pasti hanya akal-akalan Leon untuk meredakan skandal itu. Skandal yang asalnya dari Savana.
Sungguh sial! Namun, bukan berarti Clara tak mempunyayi cara lain untuk menghempas Leon.
“Mia sudah saatnya kau bergerak.” Clara berkata dingin kepada anak dari adik kandungnya yang selama ini dia rawat.
Mia menghampiri Clara dengan anggun. Wajah lembutnya hanya sebuah topeng dari kelicikan yang gadis itu miliki. Jika bibinya memiliki rencana merebut the blue agency, maka dia pun mempunyai rencananya sendiri, yang tentu saja tak diketahui oleh Clara.
Mia akan menghancurkannya. Memiliki Leon dan the blue agency untuknya sendiri.
“Baik Bibi, aku akan merayu Leon. Bibi hanya perlu duduk manis menunggu kabar baik dariku.” Mia tersenyum tipis. Penuh rahasia, yang kadang membuat Clara sedikit was-was. Bukan dia tak pernah curiga pada keponakannya itu, tetapi Mia masih dibutuhkan untuk kesuksesan rencananya.
“Kau jangan pernah macam-macam, Mia. Kau tahu betapa kejamnya aku. Mendiang pamanmu saja bisa dengan mudah aku bereskan, mana mungkin kau tidak!” Itu adalah ancaman. Mia tahu dia tak boleh gegabah karena bibinya memang bukan wanita biasa. Dia wanita berdarah dingin yang menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Termasuk menyingkirkan suaminya sendiri.
“Tentu. Aku tak mungkin berani mengkhianati Bibi. Aku tak ingin bernasib sama seperti tua bangka itu.”
Clara tersenyum puas tanpa tahu niat busuk kepoanakannya. “Bagus!” ujarnya.
“Sekarang kau pergilah. Aku yang akan memaksa Leon untuk menjadikanmu salah satu artisnya!”
Mia sudah sejak lama menantikan permainan ini. Dia tak sabar untuk mendekati Leon. Mia percaya pesonanya mampu menaklukan pria dingin yang telah lama dirinya kagumi. Namun, dia harus menutupi keantusiasannya agar sang Bibi tidak curiga.
Sementara di sisi lain, Savana terus saja menggerutu karena dipaksa mengenakan gaun pengantin untuk melakukan sesi prewedding.
“Kenapa kita harus melakukan ini?” tanyanya kepada David dengan ekpresi tak suka.
David mendelik tajam kepadanya. “Diamlah! Turuti saja. Ini demi kepentingan kita bersama!” ujarnya.
Savana memutar bola matanya. Kesal karena harus terjebak bersama pria dingin seperti Leonal Vadas Smith. Impiannya menikah dengan pria romantis dan manis, bukan seperti Leon. Pria dingin yang sekalinya bicara dapat mengeluarkan kata-kata setajam mata pisau.
“Sial!” maki Savana.
“Aku yang sial karena harus menikahi wanita bar-bar sepertimu.”
Leon baru saja masuk ke ruang fitting setelah sempat mengangkat telepon dari nenek tirinya. Tentu untuk memaksanya menerima Mia sebagai aktris baru di agency. Leon tak bisa menolak karena Clara mengancam akan memindahkan makam kakeknya ke tempat yang tidak bisa dirinya jangkau.
Sejujurnya Leon tak menyukai Mia, namun dia tak bisa membiarkan makam kakek hilang begitu saja.
Melupakan sejenak soal Mia, Leon menatap dingin ke arah Savana. Si pembuat onar itu tampak terang-terangan membencinya.
“Kau!” ujar Leon sembari menunjuk Savana. Ingin sekali Leon membuang Savana dari agencynya, namun Savana adalah salah satu aktris yang bisa diandalkan andai skandal itu tak pernah ada. Makanya Leon masih terlalu sayang untuk membuangnya.
Ditambah dengan menikahi Savana, Leon juga bisa membuat Clara ketar-ketir. Kakeknya pernah berpesan, Clara tidak akan bisa memiliki sepeser pun harta peninggalannya ketika Leon menikahi wanita yang dicintainya.
Walaupun Savana bukan wanita yang dia cintai, tapi kehadirannya tentu bisa menggertak Clara. Buktinya, wanita itu tiba-tiba saja mengirimkan Mia kepadanya.
“Nona Savana!” Itu suara David. Penuh peringatan. Savana seketika mengubah ekspresi wajahnya.
“Ah, maafkan aku Pak Leon. Mulai sekarang aku tidak akan membuatmu menderita. Kau lihat ini, apakah gaunnya cantik?” Savana menarik sudut bibirnya.
Leon berdecak kesal. Savana memang cantik, apalagi gaun yang dia kenakan saat ini sangat cocok dengannya, tetapi maaf Leon tidak akan pernah memujinya.
“Lebih baik cepat selesaikan semua ini, David. Aku masih memiliki banyak pekerjaan!” Mengabaikan pertanyaan Savana, Leon bersiap untuk sesi foto ala preweding mereka. Foto ini nantinya akan mereka pajang di rumah sebagai bukti pernikahan kontrak ini. Agar tidak ada yang curiga kalau mereka hanya sekedar pura-pura.
To be continued.
***“Apa yang kau lakukan?” tanya Leon ketika melihat Savana terdiam sembari menatap selembar foto yang telah kembali pada bingkainya itu.Savana melirik sekilas pada Leon. “Kalau benar kakek Hans berkaitan dengan meninggalnya kakekku, entah apa yang akan David lakukan,” ucapnya lirih.“Aku takut dia nekat membalaskan dendamnya pada kakek Hans.”Leon mendekat, lalu mendekap. “Tenanglah, aku akan membicarakan masalah ini dengan David. Aku janji semua masa lalu kakek kita akan terungkap!” ujarnya.“Tapi bagaimana dengan makam kakekmu? Aku takut nenek tirimu itu akan bertindak begitu sadar kau mulai melawan,”“Kau tak perlu mengkhawatirkannya. Aku tahu apa yang wanita mata duitan itu inginkan. Dia tidak akan bertindak selama the blue agency masih berada di tanganku.”“Benarkah?”Leon mengangguk. “Sekarang mari kita lupakan dulu masalah itu. Kau tahu, aku sangat merindukanmu,” ucapnya terdengar tulus di telinga Savana.Savana terkekeh. Dia menyimpan kembali bingkai foto ke atas meja nakas
***Leon menarik napasnya berat. Setelah menyiram seluruh tubuhnya dengan air dingin beberapa menit yang lalu, kekecewaannya akibat kebohongan yang Savana dan David lakukan sedikit mereda. Setidanya kini dia bisa berpikir lebih bijaksana.“Kakek yang memberikannya padaku.” Ucapnya menjawab pertanyaan Savana. Selembar foto yang terus digenggam kakeknya ketika menemui ajal, kini sudah berada di tangan Savana. Leon ingin menguji Savana, apakah benar gadis remaja di foto itu adalah dirinya, dan lelaki berusia sekitar Lima belas tahun itu adalah David?“Kau mengenalnya?”Leon memang telah mendengar beberapa kalimat yang membingungkan dari David dan Savana beberapa saat yang lalu, namun dia masih membutuhkan kepastian. Benarkah dua orang yang ada pada foto tersebut adalah Savana dan David?“Ini … ” Savana ragu mengakui. Dia kebingungan harus bersikap seperti apa. Dia juga masih bertanya-tanya apakah Leon dan kakek Smith juga merencanakan hal jahat kepadanya dan David? Apakah semua yang terj
***“Lepaskan dia!” Suara itu tidak membentak, justru terkesan dingin dan tegas. Membuat siapa pun yang mendengarnya merasa terintimidasi.Langkah David yang seharusnya bergerak lebih cepat justru melambat. Bahkan pria itu berhenti hanya sekedar untuk memastikan pendengarannya tak salah.David berbalik. “Leon?” beonya dengan rahang yang mengeras.Sementara itu, Savana merasa lidahnya terasa kelu. Entah bagaimana dia harus menjelaskan situasi ini. Mungkinkah Leon telah mendengar semua yang dia dan David bicarakan?“Lepaskan Savana!” Tanpa peduli pada ekspresi David yang terkejut melihatnya, Leon kembali mengulangi ucapannya.David menyeringai tipis. Mungkin sudah saatnya Leon tahu kebenaran yang dia dan Savana sembunyikan agar pria itu tak semena memberinya perintah. “Kenapa aku harus menuruti ucapanmu?” Itu bukan sebuah pertanyaan, melainkan penolakan.Terlihat jelas Leon tak suka pada jawaban David. Tangannya mengepal erat, siap melayang pada David andai Savana tak sedang berada di b
***“Kak, terima kasih,” ucap Savana kepada David setelah keduanya berada di dalam mobil yang David kendarai.David menoleh singkat. “Karena membelamu dari si brengsek itu?” tanyanya.“Iya.”Tck!David berdecak. “Seharusnya kau bisa lebih tegas kepadanya. Tendang tulang keringnya jika perlu!” ujarnya.“Kakak serius?” tanya Savana tidak percaya.“Kenapa tidak?”Kemudian mereka terkekeh bersama. Rasanya sudah cukup lama keduanya tak merasakan perasaan semacam ini. David lebih sering bersikap dingin, sedangkan Savana lebih suka menghindarinya.“Aku senang kita bisa tertawa bersama,” ucap Savana jujur dari hatinya.David tak tahu harus menanggapi ucapan Savana dengan cara seperti apa. Pada akhirnya dia memilih diam. Keadaan menjadi canggung dalam sekejab.Savana melirik sekilas, namun bibirnya kelu untuk melanjutkan obrolan.“Kak, aku mengantuk. Tolong bangunkan aku setelah kita tiba di tempat tujuan.” Dan, Savana pun memilih untuk memejakan matanya.David menghela napas dengan berat begi
***Bukan ini yang David inginkan meski tujuannya memang menahan Savana agar tetap berada di rumah lama. Memaksa sang adik menikahi pria seperti Kael, tentu bukan keinginannya. Dia hanya ingin Savana jauh dari Leon agar tidak terjerumus terlalu dalam.“Maaf, Kakek Hans, aku tidak setuju adikku menikahi cucumu.”Savana menoleh pada kakaknya. Tak menyangka David akan membelanya.“Apa maksudmu, David?” Kael terdengar tidak suka dengan penolakan David.David tersenyum sinis. Memandang Kael dengan tatapan hina. “Kau yakin sanggup menikahi adikku, Kael? Jujur, kau tak pantas.” Katanya.Terang saja kata-kata itu membuat David murka. “Memangnya apa kurangku hingga kau menghinaku seperti itu, David?” tanyanya kesal.“Serius kau tak menyadari kekuranganmu?”“Sialan! Aku terlalu sabar padamu.” Kael hampir saja melayangkan gelas di depannya andai Hans tak kembali menegurnya.“Tak bisakah kau tenang, Kael?”“Tapi Kek …”“Itulah kenapa David menganggapmu tak pantas untuk adiknya.” Potong Hans denga
David melirik Savan lewat ekor matanya. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?” tanyanya.Savana mengangguk kecil. Tak berminat sebab pikirannya sedang berada di tempat lain.“Savana fokus!” tegur David. “Kakek Hans bukan orang sembaranga. Kita berdua tahu betapa liciknya dia.” Ujarnya.Savana melirik malas. “Lalu kenapa kakak masih percaya pada ucapannya?” tanyanya merujuk pada keyakinan Hans tentang siapa pembunuh kakek mereka.Sejujurnya Savana mulai goyah. Dia menolak kenyataan tentang surat terakhir di atas meja kakeknya beberapa tahun yang lalu.“Itu hal yang berbeda!”“Apanya? Bisa saja kakek Hans memanipulasi semuanya, Kak.”David menatap sang adik dengan tajam. “Kau benar-benar telah terpengaruh oleh keturunan Smith itu.” kesalnya.Mata Savana memicing sebal. “Tunggu hasil penyelidikkanku, Kak. Aku yakin ada yang keliru,” ucapnya.Seringai tipis muncul di antara sudut bibir David. Ada yang tidak Savana ketahui tentang pertemuan ini. Mereka tak hanya datang berkunjung, t







