Masuk***
“Leon kau keterlaluan.” Mia terlihat marah, tetapi Leon tak peduli. Leon merapatkan tubuhnya kepada Savana.
Savana sedikit terkejut, tetapi dia mengikuti permainan Leon. Selain tak suka pada Mia yang menempel pada suami kontraknya, Savana juga tak suka pada sikap arogan wanita itu. “Kau dengar? Kau hanya parasite. Pergi sana!” usirnya.
Mia terkekeh sinis. Dia tak akan kalah hanya karena Savana memiliki status sebagai istri Leon. “Kau tidak bisa mengusirku.”
“Kenapa? Memangnya kau siapa?”
“Leon belum memebritahumu? Aku Mia, aktris kesayangan Leon. Aku juga adalah keponakan dari nenek tiri Leon!” Mia berkata angkuh. Terselip nada bangga juga dari setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Savana terdiam untuk sesaat, namun beberapa detik kemudian dia menutup mulutnya, membuat gerakan seolah sedang menahan tawanya. “Itu artinya kau adalah bibinya Leon?” Ini bukan pertanyaan melainkan sebuah pernyataan yang sengaja Savana perjelas.
Wanita yang bagi Leon adalah bar-bar itu kini tak lagi berusaha menahan tawanya. Dia melepaskan semuanya, menertawakan status Mia.
Merasa dihina, Mia mengayunkan tangannya. Mencoba untuk menampar Savana, namun tentu saja Savana dengan cepat menepisnya. Dia mendorong tangan Mia hingga Mia terhuyung. “Enak saja ingin menamparku!” ujarnya.
“Dasar jalang!” Mia tak tahan untuk tidak memaki Savana. Kekesalannya tak terbendung melihat wanita itu.
Dengan santainya Savana mencondongkan tubuh ke arah Mia. “Walaupun aku jalang, tetapi aku istri sah Leon. Kau mau apa? Kau hanya Bibi baginya.” tegasnya.
Sial! Mia tak menyangka hari pertamanya di The Blue Agency berakhir seperti ini. Padahal, dalam bayangannya dia akan bermesraan dengan Leon.
“Dasar penyihir!” Entah sudah berapa banyak julukan untuk Savana. Jika menurut Leon dia adalah wanita bar-bar, maka menurut Mia dia jalang dan penyihir. Namun, Savana tidak tersinggung. Dia justru mengibaskan rambut panjangnya.
“Yup! Aku si penyihir yang telah berhasil menyihir hati Leon Smith. Kau iri padaku?”
Mia salah memilih lawan. Savana bukan wanita yang memilih menangis daripada membalas setiap kata-katanya. Bahkan wanita itu bisa menepis tamparannya.
Namun, bukan berarti Mia menyerah begitu saja. Mia bersumpah akan merebut Leon dari Savana.
Dia akan mundur hari ini, tetapi akan maju untuk hari-hari berikutnya. “Bersiaplah menjadi musuhku, jalang!” ujarnya sebelum berbalik pergi.
Savana terkekeh mendengar ancaman Mia. “Siapa takut?” tantangnya meskipun Mia tak lagi mendengarnya.
Sejak Savana terus mendebat Mia, Leon hanya menjadi pengamat saja. Entah kenapa dia merasa keberadaan Savana di sampingnya mendadak menjadi penting. Dapat dikatakan Mia kalah melawan Savana. Setidaknya untuk sesaat tadi.
“Kau sebaiknya berhati-hati dengan Mia.” Leon memberi Savana peringatan karena dia mengenal betapa liciknya Mia.
Savana menoleh. “Kau sedang mengkhawatirkanku?” tanyanya curiga.
Namun, Leon justru terkekeh sinis. “Tentu tidak. Aku hanya takut kau merepotkanku di kemudian hari.” Jawabnya.
Savana mendengus sebal. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya saat ingat tujuannya menemui Leon. “Ini!” ujarnya sembari melempar map berwarna hitam yang dia bawa.
“Kontrak?”
“Kenapa kau membawanya ke sini?” Terlihat jelas Leon marah setelah tahu yang Savana lemparkan kepadanya adalah kontrak pernikahan yang kemarin mereka sepakati.
“Aku merevisinya. Sebaiknya kau setujui!”
Leon masih tampak kesal saat membuka pelan isi map tersebut. “Aku setuju!” ujarnya setelah terkekeh sinis saat membaca bagian yang Savana tambahkan dalam kontrak pernikahan mereka.
Jika awalnya isi kontrak itu semuanya dari Leon, kini ada satu tambahan yang Savana berikan di bagian bawah. Bahwa, Leon tak berhak melarangnya jatuh cinta pada pria lain meski kontrak pernikahan mereka masih berlangsung.
Tentu saja Leon tanpa beban menyetujuinya. Siapa Savana sampai dia melarang wanita itu mencintai pria lain? Lagipula, persayaratannya juga cukup jelas. Savana dilarang mendekatinya. Dilarang jatuh cinta padanya. Dilarang merayunya karena dia tidak akan pernah jatuh cinta pada wanita itu.
Kontak fisik hanya boleh saat mereka sedang berada di depan media atau saat diperlukan saja. Sisanya mereka hanya akan menjadi orang asing untuk satu sama lain.
“Asal asmaramu itu tidak tercium oleh media, aku bebaskan kau memiliki pria lain.”
“Setuju!” ujar Savana gembira.
Garis wajahnya berubah begitu saja. Tidak ada lagi gadis pemarah yang kemarin Leon lihat hanya karena dia menyutujui syaratnya. Leon menggeleng, menepis kekaguman kecil yang tiba-tiba saja menghampirinya karena kegembiraan Savana.
“Ngomong-ngomong wanita tadi menyukaimu. Kenapa kau tak tertarik padanya? Aku lihat dia cantik, walaupun tak secantik diriku!”
Kerutan halus muncul di kening Leon mendengar betapa narsisnya istri yang baru kemarin dia nikahi itu.
“Itu bukan urusanmu.”
Tck! Savana mendecakan lidahnya. “Dasar pria dingin. Hati-hati berakhir sendirian seumur hidup.”
“Kau!”
Lagi, Leon dan Savana berdebat. Padahal, baru beberapa detik lalu terlihat akur. Sepertinya mereka memang tak akan pernah menjadi pasangan selamanya.
To be continued.
***“A-apa maksudmu?” tanya Dyana gugup. Meskipun dia paham apa yang David inginkan, tapi dirinya pun harus mencari tahu lebih dalam.David berdecak kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Dyana, David menarik Dyana dalam sekali hentakan. Terang saja hal itu membuat Dyana terkejut.“Apa yang kau lakukan?” pekiknya.“Kau terlalu banyak berpikir. Aku yakin kau menyukaiku!” ujar David percaya diri, tapi dia tak salah juga karena Dyana memang menyukainya.“Lepaskan aku! Kau …”“Diamlah jika tak ingin kucium!”“Apa?!”Sesungguhnya Dyana ingin sekali David melakukan itu padanya, tapi dia terlalu gengsi untuk berharap. Dyana memilih mematung agar David tak melaksanakan ancamannya.“Kau bisa diam juga ternyata,” kekeh David sedikit melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap lekat wajah Dyana. “Ternyata kau cukup cantik,” pujinya seakan tersadarkan akan pesona manager adiknya itu.Dyana salah tingkah. Dia tak berani membalas tatapan David. Khawatir tiba-tiba dirinya menerkam bibir pria itu.“Dyana, ka
***“Dasar mesum! Kau tak tahu tempat!” ujar Savana sembari merapikan rambutnya.Hukuman yang Leon maksud nyatanya tak sesederhana yang Savana pikirkan. Suaminya itu tak peduli di mana mereka sedang berada. “Kau tetap membuka celanaku, padahal kita sedang di basemant,” deliknya.Leon terkekeh. “Jangan salahkan aku. Kau yang selalu membuatku tergoda untuk melakukannya,” balasnya terlampau tenang.Tck!Savana benar-benar malu. Namun, dia juga menikmati setiap perlakuan yang Leon berikan kepadanya tadi.“Ayo pulang. Aku mulai merasa tidak nyaman,” protesnya.Leon mengacak rambutnya, membuat wanita itu kembali mendelikkan mata. “Aku baru saja merapikan rambutku, Leon!” ujarnya.Leon memilih acuh. Dia menghidupkan mesin mobil mewahnya, lalu menekan pedal gasnya. Kendaraan roda Empat itu pun bergerak perlahan. Meninggalkan parkiran apartemen. Selisih lima menit tamu yang Savana undang tiba dengan menaiki driver online yang Savana pesankan.Dyana, dia yang Savana maksud. Wanita itu menggerut
***David mengalihkan perhatiannya pada Savana. Kepalanya menggeleng untuk menjawab kekhawatiran adik semata wayangnya.“Aku terguncang, tapi aku tidak akan tinggal diam. Hans benar-benar telah mempermainkan kita!” ujarnya dengan tangan yang semakin kencang terkepal.“Tenanglah, David. Kita harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk menjebloskan pria tua itu ke dalam penjara. Aku tak sudi dia berkeliaran di dunia ini tanpa rasa bersalah!” Leon membalas tajam, seolah dapat membaca isi pikiran David saat ini.Benar, tadinya David akan menemui Hans lalu menghajarnya. Memaksa pria tua itu mengakui perbuatannya.Jika Leon tak menyadarkannya, mereka pasti telah kehilangan kesempatan untuk membuat Hans membayar mahal perbuatannya.“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi tolong jangan gegabah. Aku sedang mencari bukti untuk membuat Hans dan Clara tak bisa mengelak lagi.”“Kau juga belum menemukan asal peluru yang menembus kulit kakek Jordan hari itu, kan?” tanya Leon.David mengiyakan meskipun da
***“Apa maksudmu?” tanya Leon dengan rahang yang mengeras.Savana mulai khawatir. Dia kembali menggenggam tangan Leon. Wajahnya tampak sedih. “Sayang itu semua hanya salah paham, aku yakin,” ucapnya.“Mana mungkin salah paham, Savana? Aku dengar sendiri kalau kematian Benjamin berkaitan denganku,” sahut David cepat. Nadanya mulai gelisah, tak seangkuh tadi.Membuat Leon semakin penasaran. Namun, ada yang harus dirinya lakukan terlebih dahulu sebelum bertanya lebih lanjut tentang masalah ini.“Jangan khawatir, aku akan membuka apapun yang pernah menjadi rahasia di masa lalu kakek kita. Aku tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang aku terima. Tenanglah, Sayang,” ucapnya karena sadar Savana sednag mengkhawatirkan kepercayaannya.Savana akhirnya dapat menghembuskan napasnya dengan lega. Dia mengangguk sambil terus mengeratkan genggaman tangannya pada Leon.“Ayo aku antar kau beristirahat di kamarmu,”“Aku tidak mau, aku ingin tetap berada di sini, Leon.” Savana menolak saat Leon m
***Tak lekang David memandang Leon dengan tatapan tajamnya. Terlihat jelas pria itu teramat tidak menyukai keturunan Smith tersebut. Dia juga melirik Savana yang secara terang-terangan lebih membela Leon. Adiknya itu bahkan telah berpindah tempat duduk di samping Leon.“Katakan!” ujarnya terdengar malas.Savana ingin protes melihat cara kakaknya berbicara dengan Leon. Namun, dengan cepat Leon menghentikannya. Kepala pria itu menggeleng, sementara bibirnya tersenyum lembut.“Tenang dan dengarkan saja aku dan kakakmu bicara, Sayang,” ucapnya.Savana menghela napasnya, namun dia mengiyakan dengan anggukkan kepala. Melihat itu membuat David mendengus kesal. Dia tak suka adiknya menjadi penurut di depan Leon.“Bolehkah aku memanggilmu kakak ipar?” tanya Leon setelah perhatiannya terfokus pada David.“Kau tak pantas!” jawab David, yang lagi-lagi membuat Savana ingin mengeluarkan sumpah serapahnya. Akan tetapi, wanita itu ingat janjinya pada Leon. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik h
***“Apa kau mendengarku, Savana?” Suara David yang jauh berbeda dari bisanya membuat Savana paham betapa marahnya sang kakak saat ini.Savana tak berani menolak. Namun, Leon tak bisa menahan kekesalannya lagi. Pria itu mengabaikan permohonan Savana yang memintanya agar tetap diam.“Kau tak bisa membawanya pergi begitu saja, David.”Sejenak Savana memejamkan matanya. Ego seorang pria yang terluka memang tidak bisa dikendalikan. Lihat saja sekarang, Leon telah kehilangan kesabaran.“Aku bisa!” David membalas, keras dan terdengar tidak bersahabat.“Dia istriku!” balas Leon.David mendengus. “Kau mungkin baru kemarin mengetahui ikatan yang sebenarnya di antara kami berdua, tapi seumur hidupnya Savana adalah adik kandungku. Aku lebih berhak darimu!” ujarnya.Tentu saja Leon semakin kesal mendengar itu. “Tapi dia mencintaiku. Jangan memaksanya ikut denganmu,” ucapnya tak ingin kalah.“Kau pikir darah lebih kental dari ikatan semua istri kontrak kalian berdua?”“Kami sudah merobek kontrak i







