Tuan Perkasa, Aku Kecanduan

Tuan Perkasa, Aku Kecanduan

last updateLast Updated : 2026-10-10
By:  DewaRaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
43Chapters
492views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dijual seperti barang oleh pria yang ia percayai, dunia Lily runtuh dalam satu malam. Hutang miliaran rupiah milik sang kekasih membuat Lily terpaksa menjadi jaminan bagi Gray, seorang pemimpin mafia kejam yang tak mengenal belas kasihan. ​Bagi Gray, Lily hanyalah pion dalam permainan kekuasaannya. Namun, sebuah pengakuan pilu tentang masa lalu Lily yang yatim piatu dan berjuang sendirian demi pendidikan, tanpa sadar merobohkan tembok pertahanan sang mafia. Gray menunggu Lily mau melayaninya, hingga cinta hinggap dan tubuh Lily menjadi candu bagi Gray. ​Lantas bagaimana endingnya, jika ternyata Lily bukan yatim piatu melainkan anak rival Gray yang juga Mafia.

View More

Chapter 1

Dijual

​"Ini, Tuan, gadis virgin yang saya janjikan," kata Justin seraya sedikit mendorong tubuh Lily.

​Rasa takut membakar dada Lily seketika. Dia enggan melepas genggamannya, justru semakin erat memeluk lengan Justin.

​"Justin, aku takut! Kenapa kamu bawa aku ke sini?" bisik Lily.

​"Duduk di sana bersama Tuan Muda Gray! Jangan bikin malu aku dengan sikap kamu," bisik Justin penuh penekanan sambil menahan geram.

​Lily menggeleng kuat. "Ngapain duduk di sana, Justin? Ayo kita pulang! Ini sudah malam!"

​Justin menghempaskan cengkeraman tangan Lily secara kasar, membuat gadis itu hampir kehilangan keseimbangan. "Tuan Gray sudah menunggu. Jangan buat dia murka!"

​"Aku nggak mau!" tolak Lily tegas.

​Melihat penolakan itu, Justin berbalik menatap pria berjas mahal yang duduk di sofa mewah. Pria itu sibuk menyesap cerutunya dengan aura yang sangat mengintimidasi.

​"Dia baru berusia dua puluh tahun, Tuan Gray. Masih kuliah semester empat dan sangat polos," ujar Justin dengan menyunggingkan senyum licik. "Selama berpacaran dengannya, jangankan ditiduri, ciuman saja dia selalu menolak. Saya jamin, dia masih utuh dan virgin untuk Anda."

​Mata Lily membelalak lebar. "Kamu menjual aku, Justin?!" teriaknya histeris. Kenyataan pahit itu menghantam kesadarannya bagai petir di siang bolong.

​"Kurang lebih begitu. Anggap saja ini balasan karena kamu selalu sok suci padaku yang kerap kali menolak keinginanku," sahut Justin santai.

​Dia kemudian melangkah mendekati meja Gray, membungkuk sedikit dengan patuh. "Jadi bagaimana, Tuan Gray? Dengan memberikan gadis ini, utang bisnis narkoba saya sebesar tiga miliar dianggap lunas, kan? Kita sudah impas?"

​Gray menghembuskan asap cerutu pekat dari mulutnya. Matanya yang tajam bak elang menatap Justin dengan kilat kekejaman.

​"Lunas?" Gray terkekeh dingin, suara beratnya memenuhi ruangan privat yang hening itu. "Wanita ini hanya jaminan awal agar kepalamu tidak kupisah dari lehermu malam ini, Justin. Jangan pernah mengajari aku cara berhitung."

​Justin menelan saliva kasar karena ketakutan setengah mati. Namun sebelum dia sempat memprotes, Gray mengibaskan tangannya pelan memberikan isyarat kepada kedua pengawalnya.

​Dua pria bertubuh tegap langsung mencengkeram lengan Justin dan menyeretnya paksa.

​"T-Tuan Gray! Tapi janji Anda…"

​"Seret dia keluar," titah Gray datar.

​"Lepaskan dia!" teriak Lily histeris saat melihat Justin diseret pergi.

​Dia meronta ingin mengejar, tetapi cengkeraman anak buah Gray di kedua sisinya menahan tubuh mungilnya.

​Dengan tubuh bergetar hebat, Lily berpaling menatap sosok di sofa. Pria itu memiliki garis wajah tegas, sempurna, namun dipenuhi aura kegelapan.

​"Tuan, saya mohon izinkan saya pergi. Saya tidak tahu-menahu soal utang Justin!" pinta Lily dengan air mata yang mulai merembes keluar.

​Gray mematikan cerutunya di asbak lalu berdiri. Ketukan sepatu pantofelnya menggema penuh ancaman saat dia melangkah mendekat.

​"Melepaskanmu?" terkekeh sinis Gray. "Setelah uang miliaran melayang karena bisnis kekasihmu yang gagal? Kamu pikir kamu siapa?"

​"Saya tidak ada hubungannya dengan bisnis itu, Tuan! Saya cuma mahasiswa biasa!" jerit Lily.

​"Kalau kamu mau bebas, bayar tiga miliar dulu," ucap Gray sedingin es.

​Tangis Lily pecah. Angka itu terlampau gila bagi seorang mahasiswi yatim piatu yang harus membanting tulang bekerja paruh waktu hanya demi membiayai kuliah dan makan sehari-hari.

​Melihat celah saat para pengawal sedikit lengah, Lily menggunakan sisa tenaganya untuk nekat berbalik dan mengambil langkah seribu menuju pintu keluar. Namun, sebelum jarinya menyentuh gagang pintu, tubuhnya sudah terangkat dan dihempaskan kembali ke lantai oleh pengawal pribadi Gray.

​BRUK!

​"Aww!" Lily meringis kesakitan, memegangi sikunya yang beradu dengan kerasnya lantai.

​Gray berlutut di hadapan Lily, jari kokohnya mencengkram rahang gadis itu cukup kuat, memaksanya menatap lurus ke dalam manik matanya. "Semua wanita merangkak memohon tempat di ranjangku, tapi kamu malah berusaha lari."

​"Tuan, saya mohon, lepaskan saya..." tangis Lily kian histeris.

​"Bawa dia ke mobil. Kita kembali ke mansion sekarang," perintah Gray dingin kepada anak buahnya, mengabaikan ratapan pilu gadis itu.

​Di sepanjang perjalanan menuju mansion, Lily tak berhenti menangis di kursi belakang. Suara isakan Lily membuat amarah Gray membuncah.

​"Diam! Atau aku lempar kamu keluar dari mobil ini!" bentak Gray murka.

​Seketika Lily bungkam. Dia meremas jarinya sendiri yang basah oleh keringat dingin.

​Sesampainya di mansion raksasa yang tampak seperti benteng terisolasi, Gray menyeret lengan Lily masuk ke kamar utamanya.

​BUK!

​Dengan kuat pria itu melempar tubuh Lily ke atas tempat tidur.

​"Tetap di situ!"

​Begitu Gray melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Lily memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari menuju pintu kamar.

​Namun ketika pintu dibuka, tiga pria kekar berpakaian serba hitam dengan senjata terselip di pinggang sudah berdiri melotot ke arahnya.

​Lily memundurkan langkah, menutup pintu kembali dengan rapat, lalu merosot di lantai.

​"Aku ingin pulang..." bisiknya lirih dengan air matanya membasahi pipi.

​Tak lama kemudian, Gray keluar dari kamar mandi hanya dengan selembar handuk melilit pinggangnya, memamerkan dada bidang berukir tato yang mengintimidasi.

​"Mau kabur lagi?" Gray berjalan santai lalu duduk di sofa. "Kabur saja, tapi hadapi dulu peluru anak buahku di luar."

​Lily hanya berdiri terpaku, tubuhnya gemetar hebat. Sepertinya untuk bisa kabur dari sini sangatlah sulit.

​"Kamu sudah dijaminkan padaku, jadi jangan coba-coba lari. Sekarang kemarilah dan layani aku!" tatapan Gray menajam, memberi perintah tegas.

​"Layani?" tanya Lily heran.

​"Ya, memangnya apa lagi?" jawab Gray.

​Lily yang merasa ambigu hanya diam di tempat sehingga membuat Gray kesal.

​"Cepat!" teriaknya.

​Perlahan dan dengan langkah berat, Lily berjalan mendekat, berdiri berjarak satu meter di hadapan Gray.

​"Buka pakaianmu," titah Gray singkat.

​Mata Lily membelalak terkejut. "T-Tuan, apa maksud Anda?"

​"Tugasmu sekarang melayani aku di tempat tidur," jawab Gray.

​Air mata Lily kembali merembes keluar, hatinya meronta, dia tidak mau memberikan pelayanan seperti ini.

​"Tidak!" Lalu dengan lantang dia menolak kemauan Gray.

​Kesabaran Gray sudah di ambang batas. Dengan kasar dia menarik tangan Lily dan sekali lagi melemparnya ke kasur.

​"Aku tidak pernah menerima penolakan!" geramnya.

​Tanpa aba-aba, Gray menindih tubuh mungil itu dan mencium kasar bibir Lily. Sedangkan Lily sekuat tenaga menolak dengan mendorong dada tegap pria itu.

​Tak berhasil dengan tangan, Lily dengan berani menggigit bibir Gray hingga terasa asin darah di indra pengecapnya.

​"Gadis sialan!" pekik Gray seraya melepaskan ciumannya dan mengusap bibirnya yang berdarah.

​"Saya tidak mau, Tuan. Tolong jangan..." Lily memohon, merapatkan kedua tangannya di depan dada dengan nafas memburu.

​Pemandangan darah di bibirnya justru makin membakar iblis di dalam diri Gray. Matanya berkilat murka. Tanpa mendengarkan ratapan itu lagi, tangan kekar Gray merenggut dan merobek pakaian yang melekat di tubuh Lily secara kasar. Bunyi kain tersobek beradu dengan jeritan histeris Lily yang berusaha menutupi tubuhnya.

​"Kamu sudah kubeli mahal! Kamu tidak punya hak untuk menolak!"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Sari Aldia
Sari Aldia
keren banget novel nya
2026-08-27 20:34:38
2
0
43 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status