LOGINDijual seperti barang oleh pria yang ia percayai, dunia Lily runtuh dalam satu malam. Hutang miliaran rupiah milik sang kekasih membuat Lily terpaksa menjadi jaminan bagi Gray, seorang pemimpin mafia kejam yang tak mengenal belas kasihan. Bagi Gray, Lily hanyalah pion dalam permainan kekuasaannya. Namun, sebuah pengakuan pilu tentang masa lalu Lily yang yatim piatu dan berjuang sendirian demi pendidikan, tanpa sadar merobohkan tembok pertahanan sang mafia. Gray menunggu Lily mau melayaninya, hingga cinta hinggap dan tubuh Lily menjadi candu bagi Gray. Lantas bagaimana endingnya, jika ternyata Lily bukan yatim piatu melainkan anak rival Gray yang juga Mafia.
View MoreTentu, ini adalah hasil penyempurnaan cerita dengan penulisan nama yang sudah disesuaikan menjadi Lily:Mendengar itu, Lily pun terperangah. "Anda, Tuan?" tanyanya tak percaya, matanya mengerjap cepat menatap pria di hadapannya."Apa kamu pikir Tuanmu ini bukan pebisnis yang terkenal?" balas Gray dengan nada bangga, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman arogan namun menawan. "Siapa di negara ini yang tidak tahu seorang Gray?"Lily langsung tersenyum lebar, beban berat di pundaknya seolah lenyap seketika. "Kalau begitu... bisakah saya mewawancarai Anda untuk tugas kampus saya?" tanyanya dengan antusias yang meluap-luap.Gray menyipitkan matanya, menatap lurus ke arah sang gadis. "Tentu saja bisa. Tapi tentu saja, ada syaratnya," bisik Gray dengan tatapan licik yang sarat akan makna tersembunyi.Lily menghela napas panjang, lemas seketika. "Ya ampun... Syaratnya apa lagi, Tuan?" keluhnya pelan."Selama kamu bisa menyenangkan aku di atas sana," jawab Gray santai sambil menunj
Hari ini, Lily tampak murung di mejanya. Tugas kuliah terbaru benar-benar membuat kepalanya terasa mau pecah: wawancara eksklusif dengan tokoh pebisnis penting.Sebuah tepukan pelan mendarat di pundaknya. "Sudah, ayo kita keluar sebentar," ajak Mia melihat wajah frustrasi sahabatnya.Lily menghela napas berat. "Aku masih bingung, Mi... Kamu sendiri rencananya mau mewawancarai siapa?""Jujur, aku juga tidak tahu. Aku tidak kenal dengan siapapun di kalangan pebisnis terkenal," sahut Mia ikut melempar pandangan lesu."Kalau kita nekat datang langsung ke kantor-kantor besar dan minta wawancara, kira-kira mereka bakal memberikan izin tidak, ya?" tanya Lily penuh keraguan."Entahlah, aku bingung juga..." desah Mia.Belum sempat mereka melanjutkan pembicaraan, Bianca dan gengnya melangkah anggun menghampiri meja mereka dengan senyum meremehkan."Kasihan sekali... Pasti bingung mau mewawancarai siapa, kan?" ejek Bianca sambil bersedekap dada."Tidak!" sahut Lily tegas, menatap lurus m
"Kenapa? Ada masalah?" tanya Gray dingin sambil mengarahkan tatapan tajamnya kepada Jack."T-tidak ada masalah, Tuan," sahut Jack buru-buru menundukkan kepala."Kalau begitu, sekarang beri tahu pihak kampus kalau aku sendiri yang akan datang ke sana," perintah Gray tanpa bantahan."Baik, Tuan."Jack segera melangkah keluar dari ruangan megah itu, kembali ke mejanya untuk langsung menghubungi pihak rektorat kampus. Begitu sambungan telepon terhubung dan Jack menyampaikan niat Gray, seluruh jajaran pimpinan kampus seketika dilanda kehebohan besar.Semenjak kepemilikan dan penyokong dana utama kampus beralih ke tangan Gray beberapa tahun lalu, pria itu tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di sana. Setiap acara penting selalu diwakilkan oleh Jack atau jajaran direksinya. Pihak kampus bertanya-tanya, entah angin apa yang tiba-tiba membuat seorang Gray ingin hadir secara langsung—apakah murni karena perayaan abad ke-100 ini, atau ada alasan terselubung lainnya.Di ruang rektorat, Pa
Lily terus berlari hingga langkahnya terhenti di sebuah bangku taman kampus yang sepi. Ia menyandarkan tubuhnya, mencoba menenangkan dada yang bergemuruh. Lily hanya tidak ingin Natasya menjadi korban kelakuan jahat Justin selanjutnya. Bagaimanapun juga, Natasya adalah teman masa kecilnya."Kamu kenapa, Li?"Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pelan pundaknya. Lily terkejut, bergegas mengusap air matanya sebelum menoleh dan memasang senyum tipis. "Eh, Mia..." sapanya pelan.Mia mendudukkan diri di samping Lily dengan raut cemas. "Kamu kenapa menangis?""Aku hanya sedih... Natasya malah berhubungan dengan Justin," jawab Lily menunduk.Mia menghela napas panjang, melipat kedua tangannya. "Pria seperti Justin itu memang tidak tahu malu! Bisa-bisanya dia mendekati Natasya setelah apa yang terjadi di antara kalian.""Bukan sekadar masalah itu, Mia. Ada hal yang jauh lebih buruk dari sekadar urusan asmara," kata Lily lirih."Memangnya kenapa, Li? Coba cerita padaku," desak Mia penasaran.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews