LOGINAroma daging panggang dan gurihnya kuah rempah memenuhi aula utama Benteng Langit Hitam. Gelak tawa para prajurit Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno membumbung tinggi, mengalahkan hembusan angin dingin yang menerpa dinding-dinding batu. Setelah pertempuran brutal yang meruntuhkan gerbang utama, pertahanan musuh di Dataran Tengah akhirnya lumpuh total. Bagi ribuan prajurit yang telah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan ketakutan, malam ini adalah kali pertama mereka bisa bernapas lega tanpa perlu khawatir tersergap oleh panah beracun.Aku duduk di ujung meja kayu panjang bersama Su Chen, Kaelan, dan Kakek Lu. Di sekeliling kami, deretan cawan perak berisi anggur buah merah berbaris rapi. Su Chen tampak sedikit lebih tenang, warna kemerahan mulai kembali ke pipinya yang sempat pucat setelah menyalurkan energi pemulihan sepanjang hari."Yang Mulia," Kakek Lu berdiri sambil mengangkat cawan peraknya tinggi-tinggi, matanya yang tua berbinar haru. "Malam ini kita tidak hanya merebut
Aroma asap belerang dan bau darah pekat menyergap indra penciumanku saat kami memandang benteng raksasa di hadapan kami. Benteng Langit Hitam berdiri kokoh mencakar angkasa, dipagari oleh dinding batu hitam berukir mantra iblis purba yang memancarkan pendar keperakan dingin. Tempat ini adalah gerbang terakhir dan benteng pertahanan paling ganas yang memisahkan wilayah perbatasan dengan Dataran Tengah tempat Istana Surgawi berada.Di atas dinding benteng, ribuan prajurit iblis berbaju zirah besi tebal berdiri rapat, menggenggam busur panah raksasa yang sudah dilapisi racun pemakan jiwa. Di tengah-tengah mereka, berkibar panji raksasa bergambar tengkorak berduri, lambang dari Komandan Zhurong, salah satu jenderal kepercayaan Mo Tian yang terkenal sadis dan tak kenal ampun.Aku berdiri di puncak bukit batu, membiarkan jubah kasarku berkibar diterpa angin kencang yang membawa hawa membeku. Di sebelah kiriku, Kaelan berdiri bagaikan gunung batu yang tak tergoyahkan, memegang belati raksasa
Suara getaran lonceng besi dari menara pusat Kota Dinding Merah berdentang tiga kali, menandakan masuknya pergantian jaga malam. Di dalam ruang strategi balai kota, peta kulit binatang yang membentang di atas meja kayu pualam dipenuhi oleh penanda-penanda merah. Kaelan berdiri tegap di sudut ruangan, sibuk mengasah belati raksasanya dengan batu asah, sementara Su Chen duduk di sisiku, dengan cermat memeriksa daftar pasokan obat-obatan dan batu sihir yang baru saja diserahterimakan oleh tiga keluarga bangsawan.Keberadaan Naga Xuanwu yang menampakkan diri di Lembah Bintang semalam benar-benar melumpuhkan niat perlawanan dari para simpatisan Mo Tian di sekitar kota. Tak ada satu pun faksi yang berani melakukan gerakan mencurigakan. Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna ini, dadaku justru merasa tidak tenang. Ada firasat aneh yang terus mengusik jalan pikiranku sejak pertempuran di tebing berakhir."Yang Mulia," Kakek Lu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru, wa
Malam turun menyelimuti Lembah Bintang dengan hening yang teramat pekat. Jauh di bawah sana, lampu-lampu Kota Dinding Merah tampak bagaikan sekumpulan kunang-kunang yang tersebar di atas kain beludru hitam. Setelah berhasil mengamankan jalur logistik dan merekrut Kaelan ke dalam barisan kami, pasukan aliansi Sembilan Sekte akhirnya mendapat kesempatan untuk beristirahat sejenak sebelum pertempuran besar di Dataran Tengah dimulai.Aku berdiri sendirian di tepi tebing batu, membiarkan angin malam yang dingin mengibarkan ujung jubahku. Suasana malam yang sepi ini selalu membawaku kembali pada bayang-bayang masa lalu. Di tempat sehening inilah, ratusan tahun lalu, aku sering menghabiskan waktu sendirian saat masih bertahta di Istana Surgawi. Dulu, aku mengira kejayaan dan puncak kekuatan adalah segalanya. Tapi kehancuran yang kualami mengajariku betapa rapuhnya puncak kekuasaan jika dibangun di atas dinginnya kepalsuan."Kamu selalu punya kebiasaan berdiri sendirian di tempat yang paling
Suara derap langkah kaki kuda besi dan gemerincing zirah berat memecah keheningan fajar di gerbang luar Kota Dinding Merah. Kota megah yang berdiri tepat di garis perbatasan Dataran Tengah ini dikelilingi oleh tembok tinggi berwarna merah batu bata, melambangkan benteng kekuasaan yang tak tersentuh selama ratusan tahun.Aku berjalan perlahan di barisan depan bersama Kakek Lu dan Su Chen. Di belakang kami, sekitar tiga ribu prajurit aliansi Sembilan Sekte melangkah rapi dengan panji-panji berlogo lotus keemasan yang berkibar tertiup angin dingin. Setelah keberhasilan kami membersihkan Lembah Tengkorak, wilayah Selatan kini sepenuhnya berada di bawah kendali kami. Tapi Kota Dinding Merah ini adalah ujian politik pertama yang harus kami hadapi sebelum benar-benar menggempur Istana Surgawi.Kota ini tidak dikuasai langsung oleh pasukan iblis Mo Tian, melainkan oleh Konsorsium Tiga Keluarga Bangsawan: Klan Zhao, Klan Qian, dan Klan Sun. Mereka adalah para pengusaha dan pejabat oportunis ya
Kemenangan mutlak di Puncak Matahari Terbit bertindak bagaikan benturan guntur yang memecahkan keheningan panjang di seluruh penjuru Alam Langit. Dalam waktu singkat, spionase dan burung-burung pembawa pesan sihir menyebarkan kabar kebangkitan kembali sosok pengguna Api Teratai Putih hingga ke pelosok-pelosok terpencil yang dulunya tunduk dalam ketakutan.Tetapi perjalananku untuk merebut kembali Istana Surgawi bukanlah sekadar jalan tol yang lurus tanpa rintangan. Wilayah Selatan memang telah bersih dari cengkeraman Garuga, namun untuk benar-benar menembus ke Dataran Tengah—wilayah jantung kekuasaan tempat perbatasan Istana Surgawi berada—pasukan kami harus melintasi sebuah celah berbahaya yang dikenal sebagai Lembah Tengkorak.Lembah itu adalah bekas medan pertempuran kuno saat aku memimpin pasukan Dewa Perang menumpas pemberontakan kaum iblis ribuan tahun lalu. Di sana, jutaan tulang belulang prajurit dari kedua belah pihak tertimbun tanah, memancarkan hawa kemarahan dan kabut ilus
Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela
Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela
Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng
Suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin yang dingin menusuk terasa aneh di kulitku. Rasanya… entah, asing. Seperti perasaan kedinginan yang sudah lama hilang. Perlahan, aku membuka mata, mencoba memahami situasi aneh ini. Di atas sana, awan-awan kelabu menggantung rendah, menyelubungi langit.







