Home / Fantasi / Dendam Kaisar Surgawi / Pembentukan Fondasi

Share

Pembentukan Fondasi

Author: M. Sevian F
last update publish date: 2024-11-14 16:31:44

Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap masuk dari jendela kecil menerpa wajahku. Cahaya itu hangat, tapi entah kenapa malah membuatku mengerang pelan. Sakit kepala ini... ya ampun, seperti ditampar bolak-balik semalaman. Aku memegang kepalaku, mencoba meredakan denyutan di pelipis. Ini gara-gara apa, sih?

Oh. Benar. Malam tadi, aku menghabiskan waktu mencoba merasakan energi Qi yang tersisa di dalam tubuh ini. Cuma sisa-sisa kecil, tapi sepertinya aku agak keterusan… ya, gimana ya, namanya juga aku terlalu bersemangat. Sudah lama aku nggak menyentuh energi murni. Jadi begitu merasakannya lagi, ada rasa kangen yang aneh. Seperti orang kelaparan yang dikasih roti cuma sepotong, bawaannya malah pengin lebih.

Aku menarik napas dalam-dalam, duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin. Lantai ini... keras, dingin, dan sedikit berdebu. Tapi yah, apa boleh buat, kan? Mau seenak apapun hidupku dulu sebagai Kaisar Surgawi, sekarang aku cuma punya ini. Tubuh lemah seorang anak manusia, tanpa sedikit pun kekuatan yang bisa diandalkan.

“Kembali ke dasar, ya…” gumamku, menatap kedua tanganku yang tampak kurus. Tidak ada lagi tangan yang bisa menghancurkan batu atau memanggil petir. Sekarang cuma... tangan biasa, yang bahkan gemetaran kalau dipakai meninju dinding.

Aku menghela napas lagi, tapi kali ini dengan sedikit senyum getir. Kembali ke dasar… ya, ironis sekali. Aku, yang dulu berdiri di puncak kekuatan, sekarang harus mulai dari nol. Tapi… mungkin ini justru sebuah kesempatan. Kalau aku bisa membangun fondasi tubuh ini dengan benar, mungkin aku bisa melampaui kekuatan lamaku suatu hari nanti. Iya, suatu hari nanti.

“Baiklah, Lin Feng,” aku bicara pada diriku sendiri, menepuk kedua pipi sambil menarik napas panjang. “Ayo mulai lagi. Kita mulai dari pembentukan fondasi.”

Dengan tekad baru, aku keluar dari rumah, mencari tempat yang sepi untuk berlatih. Di tepi desa, ada lapangan kecil yang dikelilingi oleh pohon-pohon tinggi, tempat yang jarang dilewati orang. Di situ, aku duduk lagi, bersila di atas rumput yang masih basah oleh embun pagi.

Kurasakan udara di sekitarku, mencoba mengumpulkan Qi sedikit demi sedikit. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan hawa dingin menyusup ke paru-paru, lalu melepaskannya perlahan. Setiap helaan napas itu kurasakan dalam-dalam, seolah mengisi tubuh ini dengan sedikit energi.

Namun… ada sesuatu yang terasa aneh. Qi di sekitar sini… tipis sekali. Seperti kabut yang nyaris menghilang. Aku membuka mata, sedikit frustasi.

Bagaimana mau maju kalau begini caranya? pikirku sambil menggerutu dalam hati. Dulu, aku hanya perlu mengangkat tangan, dan Qi dari seluruh penjuru akan datang seperti badai, mengisi tubuhku hingga terasa penuh. Sekarang? Ah, susah sekali, hanya untuk sekedar merasakan ada atau tidaknya.

Aku mencoba lagi, menutup mata dan memusatkan perhatian. Kali ini, aku mencoba lebih perlahan. Satu tarikan napas, satu helaian energi Qi. Kalau dulu aku terlalu terbiasa dengan energi yang melimpah, mungkin ini saatnya aku belajar untuk bersabar. Ya, mungkin memang harus lebih pelan.

Setelah beberapa menit, aku mulai bisa merasakan sedikit aliran Qi yang halus masuk ke tubuh. Meski sedikit, tapi setidaknya… ada. Perlahan, aku mulai mengumpulkan Qi itu, mengarahkannya ke titik di bawah pusar, di mana Dantian seharusnya berada.

“Pelan-pelan, Lin Feng… jangan terburu-buru,” bisikku, mencoba menenangkan diri. Sekali saja aku tergesa-gesa, Qi yang sudah susah payah kukumpulkan bisa saja menghilang lagi.

Aku terus berlatih sampai matahari mulai naik. Peluh membasahi dahiku, dadaku naik turun dengan napas yang terengah-engah. Meski tubuh ini masih lemah, ada sesuatu yang terasa sedikit lebih kuat sekarang. Dantian-ku mulai terasa sedikit lebih kokoh, meski baru seujung kuku. Tapi, hey, lumayan, kan? Setidaknya aku mulai bisa merasakan kalau tubuh ini memang punya potensi, walau sedikit.

Saat aku duduk istirahat di bawah pohon, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Aku mendongak, dan melihat Chen Hao, teman satu desa yang cukup akrab dengan Lin Feng yang asli.

“Lin Feng! Sedang apa kamu di sini?” tanyanya dengan nada ceria, sambil menghampiriku dan duduk di sebelahku. Wajahnya tampak penuh rasa ingin tahu, meski ada sedikit rasa prihatin juga di matanya.

“Ah, cuma… latihan sedikit,” jawabku sambil tersenyum tipis, mencoba terlihat santai. Tapi mungkin senyumku malah terlihat canggung. Jujur saja, aku belum terlalu nyaman berinteraksi dengan orang-orang di sini. Mereka semua begitu... ramah, sesuatu yang aneh buatku.

Chen Hao menatapku sejenak, lalu mengangguk. “Bagus itu! Aku dengar setelah kejadian di tebing itu, kau jadi jarang keluar rumah. Tapi, hei, melihatmu latihan lagi rasanya menyenangkan.”

Aku tersenyum kecil, meski agak bingung harus menanggapi apa. Latihan… menyenangkan? Di kehidupanku yang dulu, latihan adalah sesuatu yang tak pernah berhenti. Tapi bagi Chen Hao, sepertinya latihan adalah sesuatu yang dinikmati.

“Eh, ngomong-ngomong, Lin Feng, kau serius ya pengin kuat lagi?” tanya Chen Hao sambil menatapku. Matanya memancarkan semacam rasa kagum, tapi juga penasaran.

“Ya… tentu saja. Kalau tidak latihan, aku akan jadi lebih lemah, kan?” jawabku sambil tersenyum kecil, mencoba tidak terlalu terlihat serius. Padahal, di dalam hati, tekadku jauh lebih dalam dari sekadar ingin kuat. Aku ingin membalas dendam, ingin mencapai kekuatan yang tidak bisa diganggu gugat lagi.

Chen Hao mengangguk-angguk, lalu menepuk bahuku dengan antusias. “Nah, itu semangat, Lin Feng! Tapi jangan sampai terlalu memaksakan diri, ya. Tubuhmu masih lemah sekarang.”

Aku hanya mengangguk pelan, meski di dalam hati agak geli. Memang, tubuh ini lemah, tapi tekadku… ah, kalau saja dia tahu apa yang sebenarnya aku rencanakan. Aku bukan cuma mau ‘kuat’ lagi. Aku mau lebih dari itu—aku ingin menjadi yang terkuat. Satu-satunya. Dan kali ini, aku tidak akan berhenti sebelum aku mencapai puncak itu.

Setelah Chen Hao pergi, aku kembali ke posisi bersila dan mencoba merasakan Qi di sekitarku lagi. Ini memang latihan yang membosankan, mengumpulkan Qi sedikit demi sedikit seperti ini. Tapi entah kenapa, ada semacam kepuasan di dalamnya. Seolah-olah setiap helai Qi yang berhasil kukumpulkan adalah langkah kecil menuju sesuatu yang lebih besar.

“Mungkin aku memang perlu belajar menikmati proses ini,” gumamku, mencoba menenangkan diri. Dulu aku terlalu terbiasa dengan kekuatan yang langsung datang. Tapi mungkin… mungkin kali ini aku harus belajar dari bawah, membentuk fondasi yang benar-benar kuat, bukan sekadar kekuatan instan yang datang dan pergi. Ya, mungkin ini caranya.

Aku menutup mata lagi, memusatkan pikiran. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, aku mulai merasa... sedikit lebih yakin. Entahlah, mungkin karena aku tidak punya pilihan lain. Atau mungkin karena aku benar-benar merasakan ada sedikit perubahan dalam tubuh ini.

“Lin Feng… tenang saja. Ini semua baru permulaan,” gumamku pada diriku sendiri, seolah memberi semangat pada Lin Feng yang asli. Meskipun dia mungkin sudah tidak ada, aku merasa dia masih… hadir, entah bagaimana.

Dan aku berjanji, mulai hari ini, setiap tetes keringat, setiap hembusan napas yang kuambil, akan menjadi langkah kecil menuju kekuatan yang sebenarnya.

Kali ini, aku akan bangkit. Dan siapa pun yang menghalangi jalanku… aku tidak akan segan-segan menghabisinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 25

    Raungan Mo Tian masih menggema ketika tubuhnya terlempar ke belakang.Cahaya emas memenuhi ruang takhta.Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Kemudian terdengar suara retakan.Krakk.Salah satu pedang kegelapan pecah menjadi serpihan energi.Pedang kedua menyusul.Pedang ketiga masih bertahan, tetapi bilahnya telah dipenuhi retakan halus.Mo Tian berlutut.Sebagian tubuhnya telah kehilangan bentuk manusia. Sisik hitam menutupi wajah dan lehernya, sementara api keemasan dari Naga Xuanwu terus mengikis aura kegelapan yang mengelilinginya.Lin Feng tidak mengejar.Tatapannya justru tertuju kepada Lian Xue.Perempuan itu terbaring di lantai.Wajahnya pucat.Napasnya sangat tipis.Cacing Jiwa Iblis masih bergerak di bawah kulit lehernya.Su Chen berlutut di sampingnya."Jiwanya semakin lemah."Lin Feng mendekat.Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.Cacing itu bukan sekadar parasit.Ia telah menanamkan akar ke dalam jiwa Lian Xue selama bertahun-tahun. Sebagian kesadaran Lian X

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 24

    Ledakan itu belum berhenti.Ruang takhta berguncang hebat. Pilar-pilar kuno retak dari tengah, serpihan batu berjatuhan, sementara cahaya keemasan dan kegelapan saling menekan di udara.Lin Feng masih berdiri di tengah benturan.Kedua telapak tangannya menahan pedang ketiga Mo Tian.Jarak mereka tidak lebih dari beberapa langkah.Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, Mo Tian tidak tertawa.Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya.Lin Feng juga tidak dalam keadaan lebih baik. Darah merembes dari sela jarinya. Energi dari pedang ketiga terus mencoba memutus hubungan antara jiwanya dan dunia.Ia menarik napas.Kemudian menoleh sedikit.Su Chen masih melindungi Lian Xue.Kaelan berdiri di depannya dengan satu tangan menekan bahu yang terluka akibat pedang kedua.Mereka masih bertahan.Itu cukup."Kaelan."Kaelan mengangkat kepala."Tarik mundur Su Chen.""Dan kau?"Lin Feng menatap Mo Tian."Aku akan mengakhiri ini."Mo Tian mendengar kalimat itu.Ia tertawa."Sendirian?""Sia

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 23

    Ruang takhta tidak lagi terasa seperti bagian dari Istana Surgawi.Dinding-dinding marmer yang dulu memantulkan cahaya keemasan kini menghitam. Urat seperti akar menjalar dari lantai, merambat ke pilar, lalu menghilang di balik langit-langit. Sesekali salah satu urat itu bergerak.Berdenyut.Seperti sesuatu yang hidup di dalam tubuh raksasa.Lian Xue masih berada di atas Takhta Teratai Surgawi.Kepalanya tertunduk. Rambut putih keemasannya jatuh menutupi sebagian wajah.Lin Feng tidak langsung mendekat.Ada sesuatu yang salah.Sejak memasuki ruangan itu, ia bisa merasakan aliran energi yang mengelilingi mereka. Bukan sekadar aura iblis. Energi tersebut berasal dari seluruh istana.Dinding.Lantai.Pilar.Bahkan segel kuno yang tertanam jauh di bawah fondasi Istana Surgawi.Semuanya sedang mengalir menuju satu titik.Mo Tian.Pria itu berdiri beberapa langkah dari takhta dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Wajahnya masih menyerupai manusia, tetapi bayangan di bawah kakinya

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 22

    Pintu Ukir Lotus Emas yang telah retak hancur berantakan saat dorongan auraku menyentuhnya. Debu pualam dan pecahan batu mulia beterbangan ke udara, tertiup oleh hembusan angin dingin yang berbau hanyir darah dan belerang. Di dalam aula takhta yang dulunya dipenuhi oleh cahaya keemasan yang megah, kini suasana tampak begitu remang dan mencekam. Pilar-pilar raksasa yang menopang atap istana telah dilapisi oleh urat-urat hitam yang berdenyut lambat, mengisap sisa-sisa energi murni Alam Langit.Di ujung tangga pualam tertinggi, berdiri Takhta Teratai Surgawi.Di atas takhta itu, duduk Permaisuri Lian Xue. Gaun kebesarannya yang berwarna putih keemasan tampak koyak di beberapa bagian, ternoda oleh bercak darah kering yang menghitam. Kepala wanita itu tertunduk lunglai, dengan rantai-rantai sihir berwarna merah pekat yang menembus kedua pergelangan tangan dan dadanya, mengikatnya erat pada sandaran takhta.Di samping takhta, berdiri sesosok pria tinggi tegap yang dibungkus oleh jubah kegel

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 21

    Lautan awan putih di puncak tertinggi Alam Langit mendadak terbelah dihantam tebasan angin puyuh keemasan. Dari balik celah dimensi yang terbuka, Naga Xuanwu melayang turun dengan raungan menggelegar, membumbung tinggi tepat di atas pelataran Pintu Gerbang Gerhana. Di belakangnya, lima ribu prajurit gabungan Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno melayang dengan jubah dan zirah yang membara, memancarkan aura pertarungan yang sanggup menggetarkan pilar-pilar langit.Di hadapan kami, Gerbang Gerhana berdiri megah namun mengerikan. Struktur batu hitam setinggi puluhan meter itu dipagari oleh rantai-rantai sihir sebesar tubuh naga, menumpahkan uap pekat berwarna ungu kehitaman yang berbau belerang. Di atas benteng gerbang, belasan ribu prajurit zirah iblis milik Mo Tian berbaris rapat. Di tengah-tengah mereka, berdiri empat Jenderal Pelindung Takhta dengan jirah baja berduri dan senjata raksasa yang sudah teraliri petir hitam.Aku berdiri di atas puncak kepala Naga Xuanwu, membiarkan juba

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 20

    Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su

  • Dendam Kaisar Surgawi   Konflik

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pertemuan dengan Guru Bai

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Kenangan Masa Lalu

    Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng

  • Dendam Kaisar Surgawi   Keluarga Lin

    Aku berjalan perlahan di jalan tanah yang sempit, mencoba meresapi setiap langkah dengan tubuh baruku ini. Kaki terasa lemah, nyaris tak bertenaga. Rasanya seperti membawa beban berat di kedua kaki—padahal dulu aku biasa melayang di angkasa, melampaui awan, melawan badai tanpa takut. Sekarang? Jala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status