Home / Fantasi / Dendam Kaisar Surgawi / Kenangan Masa Lalu

Share

Kenangan Masa Lalu

Author: M. Sevian F
last update Petsa ng paglalathala: 2024-11-14 16:30:17

Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdengar samar, seperti bisikan lembut di tengah kesunyian.

“Aneh… ya, kok rasanya aku masih di sini,” gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Tubuh ini… rasanya lemah, tapi bukan cuma itu. Entah kenapa aku merasa ada beban aneh di dada, semacam perasaan sesak yang sulit dijelaskan. Mungkin karena aku masih terbawa dengan kenangan dari kehidupan lamaku. Rasanya baru kemarin aku hidup sebagai Kaisar Surgawi, sosok yang ditakuti dan dihormati. Dan sekarang? Aku ini cuma Lin Feng, seorang remaja yang nyaris mati dibunuh saudaranya sendiri. Dunia benar-benar… absurd.

Aku memejamkan mata sebentar, dan, ya ampun, mendadak semuanya datang kembali. Kilasan-kilasan wajah Lian Xue muncul di kepalaku—senyum lembutnya, caranya menatapku dulu, seolah-olah aku ini dunianya. Ah, aku benar-benar bodoh saat itu.

Dada ini terasa sesak tiap kali mengingatnya.

Aku ingat betul hari itu, saat dia berdiri di samping Mo Tian, Kaisar Iblis, dengan tatapan sinis yang belum pernah kulihat sebelumnya. Tangannya… ya ampun, tangannya bahkan menggenggam tangan Mo Tian, seolah aku ini tidak pernah ada. Dia yang kutemani, kusayangi, bahkan kubela dari fitnah dan tipu daya istana, ternyata cuma berpura-pura. Semua itu hanya kepura-puraan.

Dan sialnya, aku baru sadar ketika semuanya sudah terlambat.

Aku mendesah panjang, mengusap wajahku, seolah bisa menghapus kenangan pahit itu begitu saja. “Sudah, Lin Feng,” bisikku pada diriku sendiri. “Ini… ini hidup baru, kan? Bukan saatnya lagi memikirkan yang sudah berlalu.”

Tapi, tahu kan? Kata-kata itu memang mudah diucapkan, tapi sulit dilakukan. Setiap kali aku mengingat Lian Xue dan Mo Tian, rasa sakit di dada ini kembali datang. Dendam itu, benci itu… seperti api yang tak pernah padam.

Di tengah lamunanku, aku tidak sadar kalau langkahku sudah membawaku ke tepi sungai kecil di dekat desa. Airnya jernih, memantulkan wajahku. Dan ketika aku menatap bayangan itu… aku tidak tahu kenapa, ada rasa asing. Mungkin karena aku masih belum terbiasa melihat wajah baru ini—wajah Lin Feng yang sebenarnya. Wajah yang penuh bekas luka dan kelelahan.

Entah kenapa, melihat wajah itu membuat dadaku sedikit berat. Kasihan juga sebenarnya anak ini. Terluka, dikhianati, bahkan nyaris mati. Sama seperti aku dulu, meskipun dalam cara yang berbeda. Bedanya, mungkin, aku dulu memiliki segalanya—kekuasaan, kekuatan, bahkan “cinta” yang ternyata palsu. Sementara Lin Feng? Dia hanya remaja biasa yang tak berdaya di tengah kekacauan keluarganya.

“Maaf, Lin Feng,” gumamku pelan. “Aku tahu kau pasti punya mimpi dan harapan sendiri… tapi sekarang, tubuh ini sudah jadi milikku. Dan aku akan menggunakan hidup ini untuk membalas semua yang sudah mereka lakukan padaku. Pada kita, mungkin.”

Ada sedikit keheningan setelah itu, hanya suara gemericik sungai dan desiran angin. Terkadang aku merasa sedikit aneh berbicara dengan diri sendiri, tapi entah kenapa rasanya lega. Seolah ada sesuatu yang tersampaikan, meski hanya kepada bayangan di air.

Aku kembali ke rumah sederhana tempatku tinggal. Rumah ini… ya, mungkin lebih tepat disebut gubuk. Bangunan kayu reyot dengan atap bocor dan lantai yang berdebu. Tidak ada satu pun tanda kemewahan atau kenyamanan di sini, tapi toh ini satu-satunya tempat yang aku punya sekarang.

Saat aku masuk, aku melihat sesosok pria tua dengan janggut putih duduk di kursi kayu. Oh, ini… Guru Bai, orang yang menemukanku saat nyaris mati di tepi tebing. Entah kenapa, dia adalah satu-satunya orang di desa ini yang sepertinya benar-benar peduli padaku. Mungkin karena dia sudah tua, atau mungkin dia hanya… terlalu baik. Entahlah, tapi rasanya begitu.

“Lin Feng,” panggilnya sambil tersenyum tipis. “Kau baik-baik saja? Kulihat kau berjalan dalam hujan tadi.”

Aku mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan rasa lelah yang mulai merayap di tubuhku. “Iya, Guru Bai. Aku cuma… jalan-jalan sebentar, mencoba mengumpulkan pikiran.”

Pria tua itu mengangguk, ekspresinya sedikit cemas. “Lin Feng, aku tahu kau mengalami banyak hal. Kau pasti merasa… berat, kan? Kehilangan, pengkhianatan… itu bukan sesuatu yang mudah dilalui.”

Mataku menatapnya tajam. Terkadang, ucapan orang tua ini seperti menusuk langsung ke dalam hatiku. Seolah dia tahu apa yang kurasakan. Padahal aku belum pernah cerita apa-apa padanya. Tapi… entah, ada ketenangan dalam sorot matanya yang mengingatkanku pada seseorang di masa lalu. Seseorang yang selalu berkata, “Jangan terburu-buru, tenang saja…”

Aku menghela napas panjang. “Guru Bai, aku rasa… hidup ini memang seperti ini, ya? Orang baik pun bisa saja dikhianati, orang jahat bisa hidup bahagia.”

Guru Bai tertawa kecil, wajahnya sedikit melunak. “Ah, Lin Feng… dunia ini memang tidak selalu adil. Tapi, siapa tahu? Mungkin, suatu hari nanti, keadilan itu akan datang. Dan kalau kau cukup sabar… kau akan melihatnya.”

Aku tersenyum kecil, meski agak getir. Sabar, katanya. Entah kenapa, nasihat itu terdengar konyol bagiku sekarang. Sabar? Aku ini sudah mati sekali! Pengkhianatan Lian Xue, Kaisar Iblis, mereka merenggut segalanya dariku. Bagaimana bisa aku hanya… sabar?

Tapi aku tidak membantah. Hanya menatap lantai yang berdebu sambil menggigit bibir. “Ya, mungkin…” jawabku setengah hati.

Guru Bai bangkit dari kursinya, menghampiriku sambil menepuk bahuku pelan. “Lin Feng, apapun yang terjadi… ingatlah, kau tidak sendiri. Kau masih punya hidup, kesempatan untuk memperbaiki segalanya. Biar lambat, yang penting terus maju.”

Aku menatapnya, berusaha menelan kata-kata itu dalam hati. Mungkin dia benar. Mungkin aku harus fokus pada apa yang ada di depanku sekarang, dan tidak terus terjebak dalam bayang-bayang masa lalu.

“Terima kasih, Guru Bai,” kataku pelan. Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa bersyukur ada orang seperti dia di dekatku.

Malam itu, aku duduk di lantai kayu di dalam kamarku, menatap keluar jendela yang menghadap ke hutan. Bintang-bintang bertebaran di langit, meski sebagian tertutup awan. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Semua beban, semua kemarahan dan kebencian yang menyesakkan dada ini, aku coba lepaskan sejenak.

“Lin Feng… apa yang kau inginkan sebenarnya?” Aku bergumam pada diriku sendiri, berusaha merenungkan apa yang sebenarnya kuinginkan di kehidupan ini. Apakah benar hanya sekedar balas dendam? Apakah itu cukup untuk membuatku puas?

Dulu, aku berpikir kekuasaan adalah segalanya. Aku berpikir dengan menjadi Kaisar Surgawi, aku akan memiliki kendali penuh atas hidupku. Tapi nyatanya? Aku tetap dikalahkan oleh pengkhianatan dari dalam.

Apa sebenarnya yang aku kejar sekarang?

Di tengah keheningan malam, aku mulai merasakan ada sesuatu yang bergerak dalam diriku. Sebuah kekuatan kecil, mungkin sisa-sisa dari kekuatan lamaku, yang masih tertinggal. Aku menutup mataku dan memusatkan pikiran, mencoba merasakan energi itu, meski sangat lemah.

Dan malam itu, aku memutuskan satu hal.

Jika aku harus memulai lagi dari bawah, biarlah. Aku akan menguatkan tubuh ini, memperbaiki fondasi ini, dan, suatu hari nanti, aku akan berdiri kembali di puncak. Bukan sebagai Kaisar yang penuh kebanggaan kosong, tapi sebagai seseorang yang benar-benar kuat. Yang tak akan tergoyahkan oleh pengkhianatan, tipu daya, atau apapun itu.

Ya… perlahan tapi pasti, aku akan bangkit kembali.

Dan ketika hari itu tiba, aku akan membuat mereka yang menghancurkan hidupku berlutut di hadapanku.

Ini baru permulaan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 25

    Raungan Mo Tian masih menggema ketika tubuhnya terlempar ke belakang.Cahaya emas memenuhi ruang takhta.Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Kemudian terdengar suara retakan.Krakk.Salah satu pedang kegelapan pecah menjadi serpihan energi.Pedang kedua menyusul.Pedang ketiga masih bertahan, tetapi bilahnya telah dipenuhi retakan halus.Mo Tian berlutut.Sebagian tubuhnya telah kehilangan bentuk manusia. Sisik hitam menutupi wajah dan lehernya, sementara api keemasan dari Naga Xuanwu terus mengikis aura kegelapan yang mengelilinginya.Lin Feng tidak mengejar.Tatapannya justru tertuju kepada Lian Xue.Perempuan itu terbaring di lantai.Wajahnya pucat.Napasnya sangat tipis.Cacing Jiwa Iblis masih bergerak di bawah kulit lehernya.Su Chen berlutut di sampingnya."Jiwanya semakin lemah."Lin Feng mendekat.Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.Cacing itu bukan sekadar parasit.Ia telah menanamkan akar ke dalam jiwa Lian Xue selama bertahun-tahun. Sebagian kesadaran Lian X

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 24

    Ledakan itu belum berhenti.Ruang takhta berguncang hebat. Pilar-pilar kuno retak dari tengah, serpihan batu berjatuhan, sementara cahaya keemasan dan kegelapan saling menekan di udara.Lin Feng masih berdiri di tengah benturan.Kedua telapak tangannya menahan pedang ketiga Mo Tian.Jarak mereka tidak lebih dari beberapa langkah.Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, Mo Tian tidak tertawa.Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya.Lin Feng juga tidak dalam keadaan lebih baik. Darah merembes dari sela jarinya. Energi dari pedang ketiga terus mencoba memutus hubungan antara jiwanya dan dunia.Ia menarik napas.Kemudian menoleh sedikit.Su Chen masih melindungi Lian Xue.Kaelan berdiri di depannya dengan satu tangan menekan bahu yang terluka akibat pedang kedua.Mereka masih bertahan.Itu cukup."Kaelan."Kaelan mengangkat kepala."Tarik mundur Su Chen.""Dan kau?"Lin Feng menatap Mo Tian."Aku akan mengakhiri ini."Mo Tian mendengar kalimat itu.Ia tertawa."Sendirian?""Sia

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 23

    Ruang takhta tidak lagi terasa seperti bagian dari Istana Surgawi.Dinding-dinding marmer yang dulu memantulkan cahaya keemasan kini menghitam. Urat seperti akar menjalar dari lantai, merambat ke pilar, lalu menghilang di balik langit-langit. Sesekali salah satu urat itu bergerak.Berdenyut.Seperti sesuatu yang hidup di dalam tubuh raksasa.Lian Xue masih berada di atas Takhta Teratai Surgawi.Kepalanya tertunduk. Rambut putih keemasannya jatuh menutupi sebagian wajah.Lin Feng tidak langsung mendekat.Ada sesuatu yang salah.Sejak memasuki ruangan itu, ia bisa merasakan aliran energi yang mengelilingi mereka. Bukan sekadar aura iblis. Energi tersebut berasal dari seluruh istana.Dinding.Lantai.Pilar.Bahkan segel kuno yang tertanam jauh di bawah fondasi Istana Surgawi.Semuanya sedang mengalir menuju satu titik.Mo Tian.Pria itu berdiri beberapa langkah dari takhta dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Wajahnya masih menyerupai manusia, tetapi bayangan di bawah kakinya

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 22

    Pintu Ukir Lotus Emas yang telah retak hancur berantakan saat dorongan auraku menyentuhnya. Debu pualam dan pecahan batu mulia beterbangan ke udara, tertiup oleh hembusan angin dingin yang berbau hanyir darah dan belerang. Di dalam aula takhta yang dulunya dipenuhi oleh cahaya keemasan yang megah, kini suasana tampak begitu remang dan mencekam. Pilar-pilar raksasa yang menopang atap istana telah dilapisi oleh urat-urat hitam yang berdenyut lambat, mengisap sisa-sisa energi murni Alam Langit.Di ujung tangga pualam tertinggi, berdiri Takhta Teratai Surgawi.Di atas takhta itu, duduk Permaisuri Lian Xue. Gaun kebesarannya yang berwarna putih keemasan tampak koyak di beberapa bagian, ternoda oleh bercak darah kering yang menghitam. Kepala wanita itu tertunduk lunglai, dengan rantai-rantai sihir berwarna merah pekat yang menembus kedua pergelangan tangan dan dadanya, mengikatnya erat pada sandaran takhta.Di samping takhta, berdiri sesosok pria tinggi tegap yang dibungkus oleh jubah kegel

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 21

    Lautan awan putih di puncak tertinggi Alam Langit mendadak terbelah dihantam tebasan angin puyuh keemasan. Dari balik celah dimensi yang terbuka, Naga Xuanwu melayang turun dengan raungan menggelegar, membumbung tinggi tepat di atas pelataran Pintu Gerbang Gerhana. Di belakangnya, lima ribu prajurit gabungan Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno melayang dengan jubah dan zirah yang membara, memancarkan aura pertarungan yang sanggup menggetarkan pilar-pilar langit.Di hadapan kami, Gerbang Gerhana berdiri megah namun mengerikan. Struktur batu hitam setinggi puluhan meter itu dipagari oleh rantai-rantai sihir sebesar tubuh naga, menumpahkan uap pekat berwarna ungu kehitaman yang berbau belerang. Di atas benteng gerbang, belasan ribu prajurit zirah iblis milik Mo Tian berbaris rapat. Di tengah-tengah mereka, berdiri empat Jenderal Pelindung Takhta dengan jirah baja berduri dan senjata raksasa yang sudah teraliri petir hitam.Aku berdiri di atas puncak kepala Naga Xuanwu, membiarkan juba

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 20

    Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su

  • Dendam Kaisar Surgawi   Keluarga Lin

    Aku berjalan perlahan di jalan tanah yang sempit, mencoba meresapi setiap langkah dengan tubuh baruku ini. Kaki terasa lemah, nyaris tak bertenaga. Rasanya seperti membawa beban berat di kedua kaki—padahal dulu aku biasa melayang di angkasa, melampaui awan, melawan badai tanpa takut. Sekarang? Jala

  • Dendam Kaisar Surgawi   Regresi

    Suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin yang dingin menusuk terasa aneh di kulitku. Rasanya… entah, asing. Seperti perasaan kedinginan yang sudah lama hilang. Perlahan, aku membuka mata, mencoba memahami situasi aneh ini. Di atas sana, awan-awan kelabu menggantung rendah, menyelubungi langit.

  • Dendam Kaisar Surgawi   Konflik

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pembentukan Fondasi

    Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap masuk dari jendela kecil menerpa wajahku. Cahaya itu hangat, tapi entah kenapa malah membuatku mengerang pelan. Sakit kepala ini... ya ampun, seperti ditampar bolak-balik semalaman. Aku memegang kepalaku, mencoba meredakan denyutan di pelipis. Ini gara-gara

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status