Share

Konflik

Penulis: M. Sevian F
last update Tanggal publikasi: 2024-11-15 22:38:50

Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jelas bukan orang biasa. Ada sesuatu yang dalam di matanya, seperti seseorang yang sudah melihat banyak hal dalam hidup, tapi tetap bisa tersenyum.

Mungkin itu kenapa aku merasa sedikit… nyaman di dekatnya. Bukan berarti aku percaya begitu saja, ya. Setelah semua pengkhianatan yang aku alami di kehidupan sebelumnya, sulit bagiku untuk benar-benar mempercayai orang lain. Tapi untuk saat ini… mungkin dia bisa memberiku sedikit petunjuk.

Rumahnya terletak di ujung desa, agak jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya. Rumah kayu tua dengan halaman yang penuh rerumputan liar. Tapi anehnya, tempat ini terasa damai, seperti ada aura tenang yang melingkupi.

Aku mengetuk pintu pelan, mencoba sopan. Tapi, belum sempat aku mengetuk lagi, pintu itu sudah terbuka. Dan di sana, berdiri Guru Bai, dengan senyum lebar yang sedikit mengejutkanku.

“Hei, Lin Feng! Aku tahu kau akan datang. Ayo, ayo masuk,” katanya sambil mengangguk-angguk. Entah kenapa, senyumnya itu selalu membuatku sedikit… ragu. Seperti dia tahu sesuatu yang aku sendiri belum tahu.

“Eh, iya, terima kasih, Guru Bai.” Aku membalasnya dengan senyum canggung dan masuk ke dalam rumahnya. Di dalam, rumah ini cukup sederhana, dengan rak buku kayu yang penuh dengan kitab-kitab tua dan gulungan gulungan kertas yang tampak berdebu. Bau kayu tua dan sedikit aroma rempah-rempah menguar di ruangan itu.

Kami duduk di lantai, berhadapan di atas tikar bambu yang sudah usang. Ada secangkir teh hangat di depanku, uapnya naik perlahan, membuat bau teh yang harum tercium samar-samar.

“Lin Feng,” katanya tiba-tiba sambil menatapku dengan sorot mata yang dalam. “Apa kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?”

Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Jujur saja, aku bahkan tidak tahu dia akan memanggilku. Tapi, aku tidak mau terlihat bodoh, jadi aku mencoba menebak-nebak jawabannya.

“Mungkin… Guru Bai ingin berbicara soal latihan?” jawabku, meski tidak yakin juga. Sejujurnya, aku belum tahu seberapa jauh pria tua ini mengetahui situasiku. Apakah dia tahu aku ini bukan Lin Feng yang asli? Apakah dia tahu bahwa aku memiliki kehidupan lain sebelumnya?

Guru Bai tersenyum lagi, kali ini lebih halus, dan mengangguk-angguk pelan. “Ya, kurang lebih seperti itu. Tapi lebih dari itu, Lin Feng. Aku ingin kau tahu bahwa perjalananmu baru dimulai. Kau mungkin merasa lemah sekarang, tapi aku bisa melihat… ada api dalam dirimu, ada tekad yang membara. Kau ingin kuat, kan?”

Aku mengangguk, meski dalam hati terasa sedikit gelisah. Dia tahu terlalu banyak, tapi aku tidak bisa memastikan seberapa banyak dia benar-benar tahu. Mungkin hanya intuisi seorang pria tua yang bijaksana? Atau ada sesuatu yang lebih?

“Guru Bai,” aku memutuskan untuk berbicara jujur, “Aku ingin menjadi kuat, ya. Aku ingin… aku harus punya kekuatan, agar bisa melindungi diri sendiri, agar bisa... mencapai tujuan yang aku inginkan.”

Pria tua itu tertawa kecil, dan aku bisa melihat matanya menyipit, garis-garis kerutan di wajahnya semakin terlihat. “Melindungi diri, ya?” katanya dengan nada agak menggoda. “Kadang, orang yang paling ingin melindungi diri adalah mereka yang paling terluka, Lin Feng. Apa kau… menyimpan luka di dalam hatimu?”

Aku terdiam, mencoba mencerna pertanyaannya. Ya, aku punya luka. Luka yang mendalam, yang berasal dari pengkhianatan orang-orang yang seharusnya aku percaya. Tapi, apa aku benar-benar ingin mengakuinya di sini?

“Aku rasa… mungkin iya,” jawabku akhirnya, agak terbata-bata. Kata-kata itu keluar dengan sedikit berat. Tapi anehnya, ada rasa lega setelah aku mengucapkannya. Seolah mengakui luka itu sendiri adalah langkah pertama untuk menyembuhkannya, meskipun aku belum benar-benar tahu bagaimana caranya.

Guru Bai mengangguk pelan, seolah puas dengan jawabanku. “Bagus, Lin Feng. Orang yang menyadari luka di hatinya lebih mudah menemukan kekuatan sejati. Kekuatan sejati bukan hanya tentang otot atau teknik bertarung, kau tahu? Tapi tentang memahami dirimu sendiri.”

Aku menghela napas panjang. “Ya, mungkin benar, tapi… bukankah aku juga butuh kekuatan fisik, Guru Bai? Untuk menghadapi orang-orang di luar sana, aku harus bisa bertarung. Aku harus punya tenaga.”

Guru Bai tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah gulungan dari balik jubahnya yang lusuh. Dia meletakkannya di depan kami, lalu membuka gulungan itu perlahan. Di dalamnya, ada sketsa yang kasar, tapi cukup jelas menggambarkan diagram tubuh manusia, dengan beberapa titik yang terlihat menyala.

“Ini, Lin Feng, adalah dasar dari Pembentukan Fondasi. Kalau kau ingin kuat, kau harus mulai dengan membangun fondasi yang kokoh. Di dalam tubuhmu, ada titik-titik energi yang jika dibangunkan akan memberikanmu kekuatan.”

Aku menatap diagram itu dalam-dalam, mengamati titik-titik yang ditunjukkan. Dantian, titik pusat energi di bawah pusar, adalah yang utama. Tapi ada juga beberapa titik lain, di dada, di punggung, di kepala… semua terhubung oleh garis-garis tipis yang seolah membentuk jalur energi.

“Mulai hari ini, Lin Feng, kau akan belajar mengarahkan energi Qi ke titik-titik ini. Ini tidak mudah, tapi kalau kau bisa melakukannya, tubuhmu akan menjadi jauh lebih kuat.”

Aku menelan ludah, perasaan semangat bercampur dengan kegugupan. “Apa aku bisa melakukannya, Guru Bai?”

Dia menepuk bahuku, agak keras tapi penuh kehangatan. “Tentu bisa! Kau ini keras kepala, kan? Jadi, gunakan keras kepalamu itu untuk sesuatu yang berguna.”

Aku tersenyum kecil, merasa sedikit malu. Ya, mungkin aku memang keras kepala, tapi keras kepala inilah yang membuatku bertahan sejauh ini. Dan aku akan gunakan semua tekad ini untuk mencapai tujuanku.

“Kau mulai dari sini,” kata Guru Bai sambil menunjuk titik di bawah pusar pada diagram. “Bayangkan kau mengumpulkan Qi dari sekitarmu, menariknya masuk ke titik ini, dan biarkan ia berkumpul di sana. Kau tidak perlu memaksanya bergerak. Hanya biarkan Qi itu berdiam di sana dan perlahan menguatkan pusat energimu.”

Aku mengangguk, mencoba memahami instruksinya. Sepertinya sederhana, tapi aku tahu ini pasti sulit. Aku menutup mata, mencoba memusatkan pikiran. Seolah-olah seluruh dunia menghilang, hanya ada aku dan titik energi kecil di dalam tubuhku ini.

Pelan-pelan, aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara masuk ke dalam paru-paru, dan mengarahkan Qi itu ke dantian. Rasanya masih samar, tapi ada sesuatu yang mulai bergerak di dalam sana. Sesuatu yang hangat, tapi masih lemah.

“Baik, baik,” gumam Guru Bai sambil mengangguk-angguk. “Jangan terlalu cepat, Lin Feng. Perlahan saja, biarkan Qi itu mengalir seperti air yang tenang.”

Aku terus fokus, mencoba merasakan aliran energi itu. Meski hanya sedikit, tapi ada rasa hangat yang mulai menyebar dari titik di bawah pusar. Dan, untuk pertama kalinya sejak aku berada dalam tubuh ini, aku merasakan secercah kekuatan. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuatku merasa hidup lagi.

“Bagus sekali, Lin Feng!” suara Guru Bai terdengar, dan aku membuka mata. Dia menatapku dengan senyum bangga, seolah-olah aku telah mencapai sesuatu yang luar biasa.

Aku hanya mengangguk pelan, masih merasakan sisa-sisa energi itu di dalam tubuhku. Mungkin ini memang baru permulaan, tapi entah kenapa, ada rasa percaya diri yang muncul dari dalam. Meski kecil, ini adalah langkah pertama. Dan aku akan terus berjalan, selangkah demi selangkah, hingga aku mencapai puncak.

“Terima kasih, Guru Bai,” kataku sambil menatapnya dengan tulus. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku merasa… bersyukur.

“Jangan berterima kasih dulu,” jawabnya sambil tertawa. “Ini baru permulaan. Latihan ini akan menjadi bagian dari hidupmu mulai sekarang.”

Aku mengangguk, menyadari beban yang harus kupikul. Tapi kali ini, beban itu terasa tidak seberat yang kubayangkan. Dengan Guru Bai di sisiku, aku merasa lebih kuat.

Dan aku tahu, suatu hari nanti, aku akan membuktikan bahwa aku tidak hanya bisa bertahan, tapi juga melampaui diriku sendiri.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 21

    Lautan awan putih di puncak tertinggi Alam Langit mendadak terbelah dihantam tebasan angin puyuh keemasan. Dari balik celah dimensi yang terbuka, Naga Xuanwu melayang turun dengan raungan menggelegar, membumbung tinggi tepat di atas pelataran Pintu Gerbang Gerhana. Di belakangnya, lima ribu prajurit gabungan Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno melayang dengan jubah dan zirah yang membara, memancarkan aura pertarungan yang sanggup menggetarkan pilar-pilar langit.Di hadapan kami, Gerbang Gerhana berdiri megah namun mengerikan. Struktur batu hitam setinggi puluhan meter itu dipagari oleh rantai-rantai sihir sebesar tubuh naga, menumpahkan uap pekat berwarna ungu kehitaman yang berbau belerang. Di atas benteng gerbang, belasan ribu prajurit zirah iblis milik Mo Tian berbaris rapat. Di tengah-tengah mereka, berdiri empat Jenderal Pelindung Takhta dengan jirah baja berduri dan senjata raksasa yang sudah teraliri petir hitam.Aku berdiri di atas puncak kepala Naga Xuanwu, membiarkan juba

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 20

    Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 19

    Lantai pualam aula utama Benteng Langit Hitam hancur menjadi debu halus di bawah tekan aura yang meruap dari tubuhku. Gelombang panas berwarna merah darah bergulung kencang, menyapu habis racun dan asap hitam di udara hingga tak bersisa. Di belakangku, Kakek Lu dengan sigap mendekap tubuh Su Chen yang tak berdaya, melindunginya dari gejolak energi yang membakar sekeliling.Aku melangkah maju pelan, tapi setiap pijakan kakiku meninggalkan retakan mendalam yang memancarkan pendar lahar keemasan. Pandanganku terkunci rapat pada Guixu.Jenderal Guixu, yang tadinya bertingkah jumawa di atas pilar batu, kini merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Sensasi dingin yang merayap dari tulang belakangnya membuat napasnya tertahan. Ini bukan cuma aura seorang kultivator kuat, ini adalah niat membunuh murni dari sosok yang pernah bertakhta di puncak tertinggi alam semesta."Jangan cuma diam! Bantai dia! Meledakkan diri kalian sekarang juga!" teriak Guixu histeris, suaranya melengking tinggi penuh ke

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 18

    Aroma daging panggang dan gurihnya kuah rempah memenuhi aula utama Benteng Langit Hitam. Gelak tawa para prajurit Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno membumbung tinggi, mengalahkan hembusan angin dingin yang menerpa dinding-dinding batu. Setelah pertempuran brutal yang meruntuhkan gerbang utama, pertahanan musuh di Dataran Tengah akhirnya lumpuh total. Bagi ribuan prajurit yang telah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan ketakutan, malam ini adalah kali pertama mereka bisa bernapas lega tanpa perlu khawatir tersergap oleh panah beracun.Aku duduk di ujung meja kayu panjang bersama Su Chen, Kaelan, dan Kakek Lu. Di sekeliling kami, deretan cawan perak berisi anggur buah merah berbaris rapi. Su Chen tampak sedikit lebih tenang, warna kemerahan mulai kembali ke pipinya yang sempat pucat setelah menyalurkan energi pemulihan sepanjang hari."Yang Mulia," Kakek Lu berdiri sambil mengangkat cawan peraknya tinggi-tinggi, matanya yang tua berbinar haru. "Malam ini kita tidak hanya merebut

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 17

    Aroma asap belerang dan bau darah pekat menyergap indra penciumanku saat kami memandang benteng raksasa di hadapan kami. Benteng Langit Hitam berdiri kokoh mencakar angkasa, dipagari oleh dinding batu hitam berukir mantra iblis purba yang memancarkan pendar keperakan dingin. Tempat ini adalah gerbang terakhir dan benteng pertahanan paling ganas yang memisahkan wilayah perbatasan dengan Dataran Tengah tempat Istana Surgawi berada.Di atas dinding benteng, ribuan prajurit iblis berbaju zirah besi tebal berdiri rapat, menggenggam busur panah raksasa yang sudah dilapisi racun pemakan jiwa. Di tengah-tengah mereka, berkibar panji raksasa bergambar tengkorak berduri, lambang dari Komandan Zhurong, salah satu jenderal kepercayaan Mo Tian yang terkenal sadis dan tak kenal ampun.Aku berdiri di puncak bukit batu, membiarkan jubah kasarku berkibar diterpa angin kencang yang membawa hawa membeku. Di sebelah kiriku, Kaelan berdiri bagaikan gunung batu yang tak tergoyahkan, memegang belati raksasa

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 16

    Suara getaran lonceng besi dari menara pusat Kota Dinding Merah berdentang tiga kali, menandakan masuknya pergantian jaga malam. Di dalam ruang strategi balai kota, peta kulit binatang yang membentang di atas meja kayu pualam dipenuhi oleh penanda-penanda merah. Kaelan berdiri tegap di sudut ruangan, sibuk mengasah belati raksasanya dengan batu asah, sementara Su Chen duduk di sisiku, dengan cermat memeriksa daftar pasokan obat-obatan dan batu sihir yang baru saja diserahterimakan oleh tiga keluarga bangsawan.Keberadaan Naga Xuanwu yang menampakkan diri di Lembah Bintang semalam benar-benar melumpuhkan niat perlawanan dari para simpatisan Mo Tian di sekitar kota. Tak ada satu pun faksi yang berani melakukan gerakan mencurigakan. Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna ini, dadaku justru merasa tidak tenang. Ada firasat aneh yang terus mengusik jalan pikiranku sejak pertempuran di tebing berakhir."Yang Mulia," Kakek Lu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru, wa

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pertemuan dengan Guru Bai

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pembentukan Fondasi

    Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap masuk dari jendela kecil menerpa wajahku. Cahaya itu hangat, tapi entah kenapa malah membuatku mengerang pelan. Sakit kepala ini... ya ampun, seperti ditampar bolak-balik semalaman. Aku memegang kepalaku, mencoba meredakan denyutan di pelipis. Ini gara-gara

  • Dendam Kaisar Surgawi   Kenangan Masa Lalu

    Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng

  • Dendam Kaisar Surgawi   Keluarga Lin

    Aku berjalan perlahan di jalan tanah yang sempit, mencoba meresapi setiap langkah dengan tubuh baruku ini. Kaki terasa lemah, nyaris tak bertenaga. Rasanya seperti membawa beban berat di kedua kaki—padahal dulu aku biasa melayang di angkasa, melampaui awan, melawan badai tanpa takut. Sekarang? Jala

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status