共有

Keluarga Lin

作者: M. Sevian F
last update 公開日: 2024-11-14 16:28:37

Aku berjalan perlahan di jalan tanah yang sempit, mencoba meresapi setiap langkah dengan tubuh baruku ini. Kaki terasa lemah, nyaris tak bertenaga. Rasanya seperti membawa beban berat di kedua kaki—padahal dulu aku biasa melayang di angkasa, melampaui awan, melawan badai tanpa takut. Sekarang? Jalan di jalan tanah saja terasa berat.

Matahari siang bersinar terik, tapi hawa dingin masih terasa menyelimuti Desa Lin. Desa kecil ini jauh berbeda dari istana megah yang biasa aku tinggali, yang penuh dengan lampu-lampu kristal dan jubah-jubah emas. Di sini hanya ada rumah-rumah kayu reyot, ladang kosong, dan orang-orang desa dengan wajah yang entah kenapa terasa lebih… asli. Lebih jujur, mungkin?

Ya, mereka mungkin tidak memiliki kekuatan atau kemewahan, tapi ada sesuatu dalam mata mereka. Semacam kepolosan yang sudah lama hilang dari dunia tempatku berasal.

Aku berjalan sambil merenung, mencoba mengingat kehidupan Lin Feng sebelum aku mengambil alih tubuhnya. Samar-samar, kenangan tentang keluarganya muncul. Ah, ya… keluarga Lin. Keluarga yang sama sekali bukan keluarga dalam arti sesungguhnya. Lin Feng yang asli tidak disayangi, tidak dihargai—dia hanyalah bayangan di dalam keluarganya sendiri.

Ayahnya, Lin Zhang, sepertinya tipe pria yang lebih menghargai kekuasaan dan kejayaan daripada darah dagingnya. Dan saudara-saudaranya? Ha, kalau mengingat Lin Jian, si kakak yang mencoba membunuhnya, rasanya sudah cukup untuk menjelaskan situasinya. Keluarga yang… penuh intrik dan kedengkian.

“Lin Feng!” Suara perempuan muda memanggil dari arah ladang. Aku menoleh dan melihat seorang gadis dengan rambut dikuncir sederhana sedang melambaikan tangan. Wajahnya berseri-seri, dan matanya… entah kenapa mata itu mengingatkan aku pada seseorang. Seorang pelayan di istana dulu, mungkin? Ah, sudahlah. Aku melambai balik, berusaha menampilkan senyum.

“Eh, kamu… kamu baik-baik aja?” Gadis itu mendekat, tangannya sedikit gemetar saat ia menggenggam kedua tanganku. “Waktu aku dengar kamu jatuh di tebing, aku… aku pikir…”

“Oh, iya, aku baik-baik saja,” jawabku, agak bingung. Aku benar-benar tidak tahu siapa dia. Tapi dari caranya melihatku, dia jelas punya hubungan dekat dengan Lin Feng yang asli. Mungkin teman kecilnya? Atau orang yang diam-diam menyukainya? Entahlah, tapi tatapannya tulus. Sesuatu yang, entah kenapa, terasa aneh bagiku.

“Syukurlah. Kamu bikin aku cemas, tahu?” katanya dengan nada lega. Senyumnya mengembang, meskipun bibirnya terlihat agak kering, mungkin karena udara dingin. Ia memandangi wajahku sejenak, seolah memastikan kalau aku benar-benar baik-baik saja.

Aku hanya mengangguk. Senyumku mungkin terlihat canggung, karena di dalam hati, aku masih mencoba mencerna semua ini. Aku? Membuat orang cemas? Dulu, kalau aku terluka, bahkan para jenderal surgawi tidak akan peduli. Tapi dia… gadis sederhana ini, bahkan hanya seorang gadis desa, tampak benar-benar peduli. Rasanya… aneh.

“Oh iya, aku harus pulang. Ayahmu—eh, maksudku, Paman Lin Zhang—meminta semua orang berkumpul di aula besar,” katanya sambil menghela napas. “Aku nggak tahu kenapa, tapi kelihatannya penting.”

Aula besar? Mendadak perutku bergejolak. Ah, ini dia. Pertemuan keluarga, ya? Dengan tubuh ini, aku harus menghadapi mereka lagi, orang-orang yang seharusnya mendukung Lin Feng, tapi malah berusaha menghancurkannya. Ada sedikit rasa muak yang menyelusup, tapi aku tidak bisa menahannya. Bagaimanapun juga, aku harus pergi.

“Baiklah, aku akan ke sana,” kataku sambil mencoba tersenyum. Aku melihat gadis itu sekali lagi sebelum melangkah pergi, tapi aku masih tidak tahu siapa namanya. Mungkin nanti aku bisa mencari tahu.

Aula besar keluarga Lin ternyata lebih lusuh dari yang aku bayangkan. Meja-meja kayu penuh debu, dinding-dinding batu yang mulai retak di sana-sini. Tidak ada yang menunjukkan kemegahan, apalagi wibawa. Tapi begitulah kenyataannya—keluarga Lin mungkin punya nama besar di desa ini, tapi mereka hanyalah keluarga yang rapuh dari dalam.

Saat aku masuk, mata-mata anggota keluarga lainnya menoleh. Ada tatapan penasaran, ada yang mencibir, ada juga yang acuh. Tapi, yang paling menyolok adalah tatapan Lin Jian, kakakku—eh, maksudku, kakaknya Lin Feng. Ia menyilangkan tangan di dada sambil menatapku dengan sorot sinis, seolah berkata, Apa kau sudah siap mati, Lin Feng?

Aku menelan ludah, meskipun di dalam hati aku mendidih. Dulu, sebagai Kaisar Surgawi, aku bisa menghancurkannya hanya dengan sekali pukul. Tapi sekarang, tubuh ini—aku bahkan tidak yakin bisa melawannya. Namun, aku tetap menatapnya balik, mencoba menunjukkan bahwa aku tidak gentar. Setidaknya, tidak akan membiarkannya berpikir aku ini lemah.

“Lin Feng,” suara berat terdengar dari ujung meja. Lin Zhang, ayah Lin Feng, memandangku dengan ekspresi yang sulit dibaca. Dingin, nyaris tanpa emosi. “Kau masih hidup.”

Ah, betapa manisnya sambutan itu. Bukan “syukurlah kau selamat”, atau “aku senang kau masih bersama kami.” Hanya… “kau masih hidup.” Seolah-olah aku hanyalah sebuah barang yang belum berhasil dibuangnya.

“Iya, Ayah. Aku… masih hidup,” jawabku, menahan nada sarkastik yang hampir lolos dari bibirku. Rasanya ingin sekali mengatakan sesuatu yang lebih tajam, tapi aku menahan diri. Aku perlu waktu. Kesempatan untuk membalas semua ini tidak bisa datang kalau aku ceroboh.

Lin Zhang mengangguk tipis. “Bagus. Maka, mulai sekarang, jangan buat masalah lagi. Kau sudah cukup mempermalukan keluarga ini dengan insiden di tebing. Aku tidak mau mendengar desas-desus dari penduduk desa bahwa anak keluarga Lin hampir mati karena ceroboh.”

Desahan keras dari ujung meja terdengar, dan aku tahu itu suara Lin Jian. Dia tertawa kecil, seolah meremehkanku. “Ya, Lin Feng. Kau beruntung sekali masih hidup. Tapi jangan berpikir bahwa keberuntungan akan selalu ada di pihakmu.”

Aku tersenyum tipis, menahan hasrat untuk membalas. Oh, Lin Jian, suatu hari nanti aku akan menunjukkan padamu apa artinya kuat. Tapi tidak sekarang. Sekarang, biar aku nikmati dulu permainan kecilmu ini.

“Terima kasih atas nasihatnya, Kak,” jawabku, sengaja memanggilnya dengan nada yang lebih lembut dari seharusnya. Aku bisa melihat kilatan amarah di matanya, mungkin karena ia menganggap aku ini tidak punya nyali untuk membalas.

“Baiklah, kalau tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, semuanya boleh pergi,” Lin Zhang mengibaskan tangannya, seolah-olah pertemuan ini tidak ada artinya sama sekali. Dan memang, sepertinya baginya, keberadaanku ini tak lebih dari gangguan kecil.

Aku berdiri dan berbalik, berjalan keluar dari aula besar dengan kepala sedikit menunduk. Tapi dalam hati, aku tahu, ini bukanlah akhir. Ini hanya awal dari perjalanan panjang yang harus aku tempuh. Tubuh ini mungkin lemah sekarang, tapi aku tahu cara untuk menjadi kuat lagi.

Sabarlah, Tian Yun, bisikku pada diriku sendiri. Sabar, dan biarkan mereka tertawa dulu. Akan tiba saatnya kau membuat mereka menunduk di hadapanmu.

Saat aku melangkah keluar, aku mendengar Lin Jian tertawa pelan di belakangku. “Kau tidak akan pernah berubah, Lin Feng. Selamanya pengecut.”

Tawa itu menggema di lorong yang sepi. Tapi aku tidak memperdulikannya. Entahlah, mungkin tubuh ini lemah, mungkin saat ini aku memang tampak tak berarti, tapi… di dalam hatiku, ada api yang menyala. Api yang perlahan-lahan akan membesar dan membakar semua yang ada di hadapanku.

Di luar aula, aku melihat langit mulai mendung. Hujan akan turun sebentar lagi, tapi aku tidak beranjak. Aku berdiri di sana, menikmati udara dingin yang menyusup ke dalam tulang. Biar saja. Toh, ini bukan yang terburuk yang pernah aku alami.

Dan di saat itulah aku berjanji, pada diriku sendiri, pada arwah Lin Feng yang asli, pada langit dan bumi, bahwa suatu hari nanti, aku akan menuntut balas. Tidak hanya untuk diriku, tapi untuk semua orang yang pernah merasa terhina, merasa direndahkan.

Dengan tekad yang semakin membulat, aku melangkah ke depan, membiarkan rintik hujan pertama jatuh di atas kepalaku.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 25

    Raungan Mo Tian masih menggema ketika tubuhnya terlempar ke belakang.Cahaya emas memenuhi ruang takhta.Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Kemudian terdengar suara retakan.Krakk.Salah satu pedang kegelapan pecah menjadi serpihan energi.Pedang kedua menyusul.Pedang ketiga masih bertahan, tetapi bilahnya telah dipenuhi retakan halus.Mo Tian berlutut.Sebagian tubuhnya telah kehilangan bentuk manusia. Sisik hitam menutupi wajah dan lehernya, sementara api keemasan dari Naga Xuanwu terus mengikis aura kegelapan yang mengelilinginya.Lin Feng tidak mengejar.Tatapannya justru tertuju kepada Lian Xue.Perempuan itu terbaring di lantai.Wajahnya pucat.Napasnya sangat tipis.Cacing Jiwa Iblis masih bergerak di bawah kulit lehernya.Su Chen berlutut di sampingnya."Jiwanya semakin lemah."Lin Feng mendekat.Ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda.Cacing itu bukan sekadar parasit.Ia telah menanamkan akar ke dalam jiwa Lian Xue selama bertahun-tahun. Sebagian kesadaran Lian X

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 24

    Ledakan itu belum berhenti.Ruang takhta berguncang hebat. Pilar-pilar kuno retak dari tengah, serpihan batu berjatuhan, sementara cahaya keemasan dan kegelapan saling menekan di udara.Lin Feng masih berdiri di tengah benturan.Kedua telapak tangannya menahan pedang ketiga Mo Tian.Jarak mereka tidak lebih dari beberapa langkah.Untuk pertama kalinya sejak pertempuran dimulai, Mo Tian tidak tertawa.Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya.Lin Feng juga tidak dalam keadaan lebih baik. Darah merembes dari sela jarinya. Energi dari pedang ketiga terus mencoba memutus hubungan antara jiwanya dan dunia.Ia menarik napas.Kemudian menoleh sedikit.Su Chen masih melindungi Lian Xue.Kaelan berdiri di depannya dengan satu tangan menekan bahu yang terluka akibat pedang kedua.Mereka masih bertahan.Itu cukup."Kaelan."Kaelan mengangkat kepala."Tarik mundur Su Chen.""Dan kau?"Lin Feng menatap Mo Tian."Aku akan mengakhiri ini."Mo Tian mendengar kalimat itu.Ia tertawa."Sendirian?""Sia

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 23

    Ruang takhta tidak lagi terasa seperti bagian dari Istana Surgawi.Dinding-dinding marmer yang dulu memantulkan cahaya keemasan kini menghitam. Urat seperti akar menjalar dari lantai, merambat ke pilar, lalu menghilang di balik langit-langit. Sesekali salah satu urat itu bergerak.Berdenyut.Seperti sesuatu yang hidup di dalam tubuh raksasa.Lian Xue masih berada di atas Takhta Teratai Surgawi.Kepalanya tertunduk. Rambut putih keemasannya jatuh menutupi sebagian wajah.Lin Feng tidak langsung mendekat.Ada sesuatu yang salah.Sejak memasuki ruangan itu, ia bisa merasakan aliran energi yang mengelilingi mereka. Bukan sekadar aura iblis. Energi tersebut berasal dari seluruh istana.Dinding.Lantai.Pilar.Bahkan segel kuno yang tertanam jauh di bawah fondasi Istana Surgawi.Semuanya sedang mengalir menuju satu titik.Mo Tian.Pria itu berdiri beberapa langkah dari takhta dengan kedua tangan berada di belakang punggung. Wajahnya masih menyerupai manusia, tetapi bayangan di bawah kakinya

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 22

    Pintu Ukir Lotus Emas yang telah retak hancur berantakan saat dorongan auraku menyentuhnya. Debu pualam dan pecahan batu mulia beterbangan ke udara, tertiup oleh hembusan angin dingin yang berbau hanyir darah dan belerang. Di dalam aula takhta yang dulunya dipenuhi oleh cahaya keemasan yang megah, kini suasana tampak begitu remang dan mencekam. Pilar-pilar raksasa yang menopang atap istana telah dilapisi oleh urat-urat hitam yang berdenyut lambat, mengisap sisa-sisa energi murni Alam Langit.Di ujung tangga pualam tertinggi, berdiri Takhta Teratai Surgawi.Di atas takhta itu, duduk Permaisuri Lian Xue. Gaun kebesarannya yang berwarna putih keemasan tampak koyak di beberapa bagian, ternoda oleh bercak darah kering yang menghitam. Kepala wanita itu tertunduk lunglai, dengan rantai-rantai sihir berwarna merah pekat yang menembus kedua pergelangan tangan dan dadanya, mengikatnya erat pada sandaran takhta.Di samping takhta, berdiri sesosok pria tinggi tegap yang dibungkus oleh jubah kegel

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 21

    Lautan awan putih di puncak tertinggi Alam Langit mendadak terbelah dihantam tebasan angin puyuh keemasan. Dari balik celah dimensi yang terbuka, Naga Xuanwu melayang turun dengan raungan menggelegar, membumbung tinggi tepat di atas pelataran Pintu Gerbang Gerhana. Di belakangnya, lima ribu prajurit gabungan Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno melayang dengan jubah dan zirah yang membara, memancarkan aura pertarungan yang sanggup menggetarkan pilar-pilar langit.Di hadapan kami, Gerbang Gerhana berdiri megah namun mengerikan. Struktur batu hitam setinggi puluhan meter itu dipagari oleh rantai-rantai sihir sebesar tubuh naga, menumpahkan uap pekat berwarna ungu kehitaman yang berbau belerang. Di atas benteng gerbang, belasan ribu prajurit zirah iblis milik Mo Tian berbaris rapat. Di tengah-tengah mereka, berdiri empat Jenderal Pelindung Takhta dengan jirah baja berduri dan senjata raksasa yang sudah teraliri petir hitam.Aku berdiri di atas puncak kepala Naga Xuanwu, membiarkan juba

  • Dendam Kaisar Surgawi   Chapter 20

    Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su

  • Dendam Kaisar Surgawi   Regresi

    Suara gemerisik dedaunan dan hembusan angin yang dingin menusuk terasa aneh di kulitku. Rasanya… entah, asing. Seperti perasaan kedinginan yang sudah lama hilang. Perlahan, aku membuka mata, mencoba memahami situasi aneh ini. Di atas sana, awan-awan kelabu menggantung rendah, menyelubungi langit.

  • Dendam Kaisar Surgawi   Konflik

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Pertemuan dengan Guru Bai

    Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela

  • Dendam Kaisar Surgawi   Kenangan Masa Lalu

    Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status