LOGINLautan awan putih di puncak tertinggi Alam Langit mendadak terbelah dihantam tebasan angin puyuh keemasan. Dari balik celah dimensi yang terbuka, Naga Xuanwu melayang turun dengan raungan menggelegar, membumbung tinggi tepat di atas pelataran Pintu Gerbang Gerhana. Di belakangnya, lima ribu prajurit gabungan Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno melayang dengan jubah dan zirah yang membara, memancarkan aura pertarungan yang sanggup menggetarkan pilar-pilar langit.Di hadapan kami, Gerbang Gerhana berdiri megah namun mengerikan. Struktur batu hitam setinggi puluhan meter itu dipagari oleh rantai-rantai sihir sebesar tubuh naga, menumpahkan uap pekat berwarna ungu kehitaman yang berbau belerang. Di atas benteng gerbang, belasan ribu prajurit zirah iblis milik Mo Tian berbaris rapat. Di tengah-tengah mereka, berdiri empat Jenderal Pelindung Takhta dengan jirah baja berduri dan senjata raksasa yang sudah teraliri petir hitam.Aku berdiri di atas puncak kepala Naga Xuanwu, membiarkan juba
Uap dingin merayap perlahan dari sela-sela bebatuan di puncaknya Gunung Langit Putih, tempat rombongan terdepan aliansi kami berhenti untuk mendirikan kemah darurat. Di bawah sana, hamparan awan putih membentang bagaikan lautan kapas yang membeku, menyembunyikan pemandangan Dataran Tengah yang telah hancur oleh perang. Jauh di atas kepala kami, puncak Istana Surgawi sudah mulai terlihat samar, memancarkan pendar cahaya keemasan yang kini terasa makin asing dan menindas.Di dalam tenda utama, aku bersila di atas tikar kain tebal dengan tubuh Su Chen yang terbaring lemah di hadapanku. Napasnya masih sangat tipis, dan lingkaran hitam di bawah matanya makin memperjelas betapa kejamnya racun Pemakan Jiwa Kuno yang terus menggerogoti daya hidupnya. Kakek Lu dan Kaelan berdiri berjaga di dekat pintu tenda, tak berani mengeluarkan suara agar tidak mengganggu pemusatan energiku."Lin Feng..." bisik Kakek Lu ragu, matanya menatap cemas ke arah wajah Su Chen. "Energi Api Teratai Putih milikmu su
Lantai pualam aula utama Benteng Langit Hitam hancur menjadi debu halus di bawah tekan aura yang meruap dari tubuhku. Gelombang panas berwarna merah darah bergulung kencang, menyapu habis racun dan asap hitam di udara hingga tak bersisa. Di belakangku, Kakek Lu dengan sigap mendekap tubuh Su Chen yang tak berdaya, melindunginya dari gejolak energi yang membakar sekeliling.Aku melangkah maju pelan, tapi setiap pijakan kakiku meninggalkan retakan mendalam yang memancarkan pendar lahar keemasan. Pandanganku terkunci rapat pada Guixu.Jenderal Guixu, yang tadinya bertingkah jumawa di atas pilar batu, kini merasakan bulu kuduknya berdiri tegak. Sensasi dingin yang merayap dari tulang belakangnya membuat napasnya tertahan. Ini bukan cuma aura seorang kultivator kuat, ini adalah niat membunuh murni dari sosok yang pernah bertakhta di puncak tertinggi alam semesta."Jangan cuma diam! Bantai dia! Meledakkan diri kalian sekarang juga!" teriak Guixu histeris, suaranya melengking tinggi penuh ke
Aroma daging panggang dan gurihnya kuah rempah memenuhi aula utama Benteng Langit Hitam. Gelak tawa para prajurit Sembilan Sekte dan Batalyon Iblis Kuno membumbung tinggi, mengalahkan hembusan angin dingin yang menerpa dinding-dinding batu. Setelah pertempuran brutal yang meruntuhkan gerbang utama, pertahanan musuh di Dataran Tengah akhirnya lumpuh total. Bagi ribuan prajurit yang telah bertahun-tahun hidup dalam pelarian dan ketakutan, malam ini adalah kali pertama mereka bisa bernapas lega tanpa perlu khawatir tersergap oleh panah beracun.Aku duduk di ujung meja kayu panjang bersama Su Chen, Kaelan, dan Kakek Lu. Di sekeliling kami, deretan cawan perak berisi anggur buah merah berbaris rapi. Su Chen tampak sedikit lebih tenang, warna kemerahan mulai kembali ke pipinya yang sempat pucat setelah menyalurkan energi pemulihan sepanjang hari."Yang Mulia," Kakek Lu berdiri sambil mengangkat cawan peraknya tinggi-tinggi, matanya yang tua berbinar haru. "Malam ini kita tidak hanya merebut
Aroma asap belerang dan bau darah pekat menyergap indra penciumanku saat kami memandang benteng raksasa di hadapan kami. Benteng Langit Hitam berdiri kokoh mencakar angkasa, dipagari oleh dinding batu hitam berukir mantra iblis purba yang memancarkan pendar keperakan dingin. Tempat ini adalah gerbang terakhir dan benteng pertahanan paling ganas yang memisahkan wilayah perbatasan dengan Dataran Tengah tempat Istana Surgawi berada.Di atas dinding benteng, ribuan prajurit iblis berbaju zirah besi tebal berdiri rapat, menggenggam busur panah raksasa yang sudah dilapisi racun pemakan jiwa. Di tengah-tengah mereka, berkibar panji raksasa bergambar tengkorak berduri, lambang dari Komandan Zhurong, salah satu jenderal kepercayaan Mo Tian yang terkenal sadis dan tak kenal ampun.Aku berdiri di puncak bukit batu, membiarkan jubah kasarku berkibar diterpa angin kencang yang membawa hawa membeku. Di sebelah kiriku, Kaelan berdiri bagaikan gunung batu yang tak tergoyahkan, memegang belati raksasa
Suara getaran lonceng besi dari menara pusat Kota Dinding Merah berdentang tiga kali, menandakan masuknya pergantian jaga malam. Di dalam ruang strategi balai kota, peta kulit binatang yang membentang di atas meja kayu pualam dipenuhi oleh penanda-penanda merah. Kaelan berdiri tegap di sudut ruangan, sibuk mengasah belati raksasanya dengan batu asah, sementara Su Chen duduk di sisiku, dengan cermat memeriksa daftar pasokan obat-obatan dan batu sihir yang baru saja diserahterimakan oleh tiga keluarga bangsawan.Keberadaan Naga Xuanwu yang menampakkan diri di Lembah Bintang semalam benar-benar melumpuhkan niat perlawanan dari para simpatisan Mo Tian di sekitar kota. Tak ada satu pun faksi yang berani melakukan gerakan mencurigakan. Namun, di tengah ketenangan yang tampak sempurna ini, dadaku justru merasa tidak tenang. Ada firasat aneh yang terus mengusik jalan pikiranku sejak pertempuran di tebing berakhir."Yang Mulia," Kakek Lu melangkah masuk ke dalam ruangan dengan terburu-buru, wa
Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela
Udara sore itu terasa lembap, dengan sisa-sisa embun yang masih menggantung di daun-daun di sekitar desa. Aku berjalan perlahan di jalan setapak menuju rumah Guru Bai, pria tua yang pertama kali menemukanku setelah insiden di tebing. Pria itu... entahlah, dari caranya bicara dan bertindak, dia jela
Pagi itu, sinar matahari yang menyelinap masuk dari jendela kecil menerpa wajahku. Cahaya itu hangat, tapi entah kenapa malah membuatku mengerang pelan. Sakit kepala ini... ya ampun, seperti ditampar bolak-balik semalaman. Aku memegang kepalaku, mencoba meredakan denyutan di pelipis. Ini gara-gara
Langit masih mendung, dengan sisa-sisa hujan menetes pelan dari daun-daun di atas kepalaku. Tanah di bawah kakiku sudah berubah jadi lumpur, licin dan basah. Aku berjalan pelan, berusaha agar tidak terpeleset, sambil sesekali melihat ke langit yang kelabu. Suara gemericik air dari pepohonan terdeng







