Share

Bab 9. Rencana Gagal

Penulis: Nana
last update Tanggal publikasi: 2025-09-25 17:38:27
"Apakah kamu gila?"

Ucapan Javier itu hanya masuk telinga kanan Lisa dan keluar dari telinga kiri Lisa tanpa meninggalkan kesan apa pun. Lisa sendiri memilih bersiul santai sambil memasukkan tangannya ke saku jaketnya. Lisa bersikap seolah tidak peduli dengan kemarahan Javier. Dengan langkah santai, Lisa berjalan menjauh dan meninggalkan Javier yang semakin kesal. Javier memandang Lisa dengan mata marah, tapi Lisa tetap tidak memperdulikannya.

Dengan langkah tegap dan wajah marah, Javier m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 26. Javier dan Pesan Tidak Dikenal

    Langkah Javier terasa berat saat ia kembali menapakkan kaki di apartemen Hana yang sunyi. Keheningan di dalam sana terasa begitu pekat seolah-olah setiap sudut ruangan sedang menahan napas. Javier melepaskan napas panjang dan menyadari bahwa ia baru saja memutus tali terakhir yang menghubungkannya dengan kekuasaan ayahnya. Mulai detik ini, ia benar-benar sendirian. Namun anehnya, ada secercah rasa bebas yang mulai mekar di dadanya. "Apakah ini rasanya bebas?" tanya Javier pelan sambil memasuki apartemen itu sekali lagi. Kali ini dengan mata yang lebih jeli. Jemarinya menekan saklar lampu hingga satu apartemen itu dipenuhi cahaya kekuningan yang temaram. Javier berdiri diam di tengah ruangan sambil mencoba membayangkan apa yang dilakukan Hana tepat sebelum ia menghilang tanpa jejak. "Hana, kamu di mana?" bisik Javier dengan suaranya yang parau. Pandangannya tertuju pada kompor yang dingin dan kaku di dapur. Biasanya pada jam segini, Hana pasti sedang sibuk berkutat dengan panci

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 25. Langkah Lisa

    “Siluet pria berdandan wanita.” Kalimat itu bukan sekadar kata-kata. Kalimat itu seperti belati yang digerakkan dengan presisi maut untuk membelah tepat di jantung harga diri Lisa. Hinaan itu menghantamnya begitu telak. Jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan mana pun yang pernah ia lalui di masa lalu. Lisa terpaku dan kakinya seolah tertanam di lantai marmer kamar tidurnya yang dingin. Kamar ini, menjadi saksi bisu keangkuhannya yang melambung setinggi langit dalam beberapa jam yang lalu. Ia sempat merasa berada di puncak dunia dan yakin bahwa malam ini adalah malam penaklukannya. "Aku cantik!" bisiknya dengan suara yang mulai gemetar dan mencoba mencari pembenaran dari pantulan di depannya. Namun, cermin itu seolah telah disihir untuk mengkhianatinya secara kejam. Tidak ada lagi sosok dewi sempurna yang ia puja sejak sore tadi. Yang tersisa hanyalah sebuah distorsi visual yang tampak asing, aneh, dan mendadak mengerikan. Di bawah pendar lampu kristal yang memancarkan cahay

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 24. Kecurigaan Jevan

    "Apakah kamu bisa melaporkan kegiatan Mela?" Pertanyaan itu ditujukan kepada salah satu pengawal kepercayaan milik Jevan. Jevan sengaja menyewa khusus pria itu untuk mengawasi Mela secara rahasia. Pria itu memiliki tubuh yang besar. Bahunya yang lebar dan padat tersembunyi di balik setelan hitamnya yang dipotong rapi. Hal ini justru membuat otot-ototnya semakin terlihat menonjol. Wajahnya keras yang ditandai dengan rahang kotak yang tegas dan mata sipit yang selalu waspada. "Jawab pertanyaanku!" perintah Jevan lagi dengan nada lebih tinggi. Ia sama sekali tidak suka dengan kebisuan pengawalnya yang berlarut-larut. Keheningan itu hanya menambah kecemasan Jevan tentang apa yang sedang dilakukan Mela. Ia butuh laporan segera. Kemudian pengawal itu langsung berdiri kaku dengan ekspresi seriusnya yang kini terlihat sedikit gelisah. Ia jelas merasa tertekan karena gagal dalam tugas yang seharusnya mudah. "Nyonya sulit sekali untuk kita buntuti, Tuan!" ucap pengawal itu dengan nada me

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 23. Kemarahan Javier

    "Dimana adik aku, si Hana?!" teriak Javier pada ayahnya. Suaranya meledak penuh amarah dan kecemasan di ruang kerja ayahnya yang mewah dan sunyi. Teriakan itu bukan hanya karena frustrasi, melainkan karena rasa panik yang nyata. Awalnya, Javier berencana akan mengajak Hana makan malam di restoran favorit Hana, sebuah tempat kecil dan tenang di sudut kota. Rencana ini sudah ia susun setelah ia seharian penuh berjuang membungkam para media, bernegosiasi, dan memberikan uang tutup mulut agar segera menghilangkan berita perselingkuhan Lisa dengannya. Namun, ia hanya menemukan tempat itu apartemen Hana kosong ketika ia pulang kesana untuk menjemput Hana makan malam. Pintu apartemen Hana tidak terkunci, lampu dapur masih menyala, tetapi Hana tidak ada. Tidak ada catatan yang ditinggal. Tiada pesan apapun. Hanya keheningan yang menyesakkan. Insting pertama Javier langsung menunjuk pada satu-satunya orang yang selalu mencoba mengendalikan setiap aspek kehidupan mereka berdua, yaitu ayahny

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 22. Mela dan Paman Djewo

    "Paman!" Djewo membalikkan badannya dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan. Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak terkejut. Ia sudah menduga Mela akan datang. Perempuan itu ada di pemakaman Haris dan berdiri tak jauh dari makam yang masih baru. Seolah-olah kehadiran Mela sudah Djewo prediksi sebagai bagian dari skenario yang lebih besar yang sudah ia susun di kepalanya. Djewo memang sudah menantikan Mela menghampirinya. Wajah Djewo yang keras terlihat tenang dan bahkan ia sempat melayangkan senyum mencibir yang meremehkan. Ia mengenakan setelan jas abu-abu mahal yang kontras total dengan suasana duka dan tanah yang basah. Pilihan pakaiannya yang mencolok adalah disengaja seolah-olah ia ingin menampilkan aura kekuasaan yang tak tergoyahkan bahkan di tempat peristirahatan terakhir. Di hadapan kematian, Djewo tetap ingin menjadi yang paling dominan. Djewo melangkah mendekat. "Keponakan Paman ini datang," ujar Djewo dengan nada suaranya yang terdengar seperti seo

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 21. Rencana Lisa yang Gagal

    "Malam ini akan berakhir menarik," Lisa menatap bayangannya di cermin. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia sudah siap. Sorot matanya yang tajam memancarkan tekad yang kuat. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa setiap detail telah sempurna. "Aku yakin bahwa aku sempurna," bisik Lisa sambil menghembuskan napas perlahan. Lisa mengenakan gaun malam berwarna emerald green yang mewah dan terbuat dari satin tebal. Gaun itu memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan dan presisi. Meskipun memamerkan sosoknya, gaun tersebut tetap berhasil menonjolkan profesionalisme yang menggoda dan berkelas. Potongan A-line yang panjang mengalir hingga ke lantai dan memberikan ilusi ketinggian dan gerakan yang anggun. Seluruh penampilannya memancarkan aura berkelas dan mahal, sebuah statement visual yang sengaja ia kirimkan kepada Jevan. "Hanya orang bodoh yang tidak tergoda denganku," ucap Lisa pelan sambil memperhatikan make up wajahnya. Make up yang Lisa gunakan pun tebal. Ia memasang bulu mata pal

  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 6. Niat Licik Lisa

    "Semoga si tua bangka Javier tidak pernah menghubungi Mela. Omong-omong soal Mela. Aku penasaran sama suaminya. Seberapa kayanya si Jevan sampai Mela mau," lirih Mela sambil menatap kepergian Tuan Javier dari area kantornya melalui jendela ruang kerjanya. Kemudian, Lisa berjalan menjauhi jende

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 20. Darah

    "Apakah kamu atau ayahmu adalah dalang dibalik kematian Haris Haris itu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Damar. Nada suaranya tidak lagi terdengar bujukan manis atau rayuan konyol, tetapi ketegasan yang dingin dan penuh kecurigaan. Damar menoleh ke belakang, ke arah istrinya. Damar menunggu bal

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 15. Pergerakan Pion

    "Hahahahha!" Tawa Mela menggelegar di dalam studio bioskop yang remang-remang. Tawa yang lepas dan tulusnya bercampur sempurna dengan keriuhan tawa penonton lainnya. Ia sedang menonton film komedi bersama Jevan. Mela mencondongkan tubuhnya ke depan dan memukul lutut Jevan berkali-kali saking geli

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Dendam yang Tak Terlupakan   Bab 14. Satu Hari Menjadi Damar

    Damar bangun jauh sebelum alarmnya berbunyi dan jauh sebelum fajar menyentuh tirai kamar. Udara pagi masih dingin dan pekat. Ia segera menyibakkan selimut tebalnya dan membiarkan Lisa tetap terlelap dalam posisi memeluk bantal. Ada keheningan aneh dalam ruangan itu, tetapi kekacauan justru baru d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status