Share

Bab 78. Mirip

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-24 13:11:35

Nala mendongak, menatap seseorang yang tanpa sengaja ia tabrak, tapi membuatnya terjatuh. Tampak seorang pria bertubuh tinggi, memakai setelan jas rapi berwarna navy, berdiri dihadapannya.

"Wow, Om tinggi banget! Ganteng lagi, hihi." Nala terkagum-kagum melihat pria didepannya.

"Ayo sini, saya bantu berdiri, Nak." Tangan pria dewasa itu terulur dan membantu Nala berdiri. Tatapannya terkunci pada sepasang mata Nala yang tidak asing, mengingatkannya pada seseorang.

"Pak Bara, apa bapak tidak apa-
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (15)
goodnovel comment avatar
Dewi Arum
semoga indira bisa mmbalaskan dendam nya kpda bella, bara & mayang,,
goodnovel comment avatar
Yuliani Padaunan
ditunggu kelanjutannya ya kak
goodnovel comment avatar
jeane
plis indira lamaran dewa trima
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 200. Calon Mantu Saya!

    Mendengar kalimat Hendri, Safira seperti tersambar petir di siang bolong. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, antara marah dan takut."Kamu gila, Hendri! Aku sekarang istri orang! Lagi hamil pula! Kamu nggak punya perasaan apa?!" desis Safira, berusaha sekeras mungkin menjaga volume suaranya agar tak terdengar siapapun.Terutama Sherry dan Reina yang setahunya sedang tidur. Tawa Hendri kembali terdengar, panjang dan menyebalkan. "Perasaan? Sayang, dulu saat kamu meninggalkan aku demi Dewa, apa kamu pakai perasaan? Kamu tinggalin aku dan anak kita, Sherry, demi mengejar pria lain. Sekarang jangan sok suci di hadapanku."Safira menggigit bibirnya. Setiap kata Hendri adalah tusukan pisau tepat di ulu hatinya. Kenangan masa lalu yang pahit itu kembali terkuak. Ya, ia memang pergi meninggalkan Hendri karena tak tahan dengan sikap kasar mantan suaminya itu. Tapi ia membawa Sherry serta. Ia tidak meninggalkan anaknya."Tapi sekarang aku bawa

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 199. Menghangatkanku

    Malam di rumah Safira dan Dewa terasa lebih dingin dari biasanya. Udara tidak bersahabat, atau mungkin hanya perasaan Dewa saja yang membeku sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.Vas bunga itu meleset. Pecahan kaca berserakan di dekat kaki Dewa, berkilauan terkena lampu ruang tamu. Safira berdiri di hadapannya dengan dada naik turun, matanya memerah, tangannya masih gemetar. Suasana menjadi panas mendadak. Bukan dingin lagi."Ngaku! Kamu selingkuh sama dia itu, kan?! Indira!" suara Safira melengking, memecah keheningan malam.Dewa menghela napas panjang. Lelah. Bukan hanya lelah fisik karena semalam suntuk menemani ibunya di rumah sakit, tapi lelah hati. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja, lalu duduk di sofa tanpa menggubris amukan istrinya."Aku ngomong sama kamu, Dewa!"Dewa membuka dasi yang masih melingkar di lehernya. "Safira, aku capek. Jangan bikin ribut.""Jangan bikin ribut?!" Safira tertawa miris. "Suamiku ketahuan ngobrol mesra sama mantan tunangannya di r

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 198. Bukan Anak Haram

    Nathan duduk di samping, diam. Ia menatap Bara yang ikut duduk di lantai kamar."Pa... Nathan bukan anak haram, kan?" tanyanya lagi. Kali ini nadanya lebih lirih.Bara menarik napas dalam. Ia mendekat, duduk di depan Nathan, lalu menatap mata bocah itu dengan serius. "Denger ya, Nak. Kamu itu anak Papa. Papa sayang banget sama kamu. Kamu dan Nala itu anak Papa dan Mama. Titik."Nathan mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Luka itu sudah terlanjur menggores.***Malam semakin larut. Indira akhirnya bisa menidurkan kedua anaknya setelah membacakan dua dongeng dan menyanyikan satu lagu. Bara menunggu di ruang tamu, duduk diam dengan segelas air putih yang sudah habis sejak setengah jam lalu."Udah tidur?" tanyanya saat Indira turun."Udah," jawab Indira lemas. Ia duduk di sofa, memejamkan mata. "Makasih, Mas. Udah bantuin tadi.""Bukan Masalah. Nathan Nala kan anakku juga.""Kalau gitu aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabarin aku," kata Bara kemudian pamit. Ha

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 197. Emosi

    Tubuh Nathan menegang. Bocah kecil itu menatap Bira dengan sorot mata yang tidak biasa, bukan sekadar marah, tapi ada luka yang menganga di sana. Nala merapat ke samping kakak kembarnya, tangannya meraih lengan Nathan dengan erat."Ka-kakak... aku takut..." bisik Nala, matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kata itu. "Suster Bira jadi jahat."Bira tersentak. Ia sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya. Tapi ego dan kekesalannya sudah terlanjur memuncak. Selama ini ia merasa direndahkan, dianggap hanya sebagai pembantu, sementara Indira, wanita yang menurutnya hanya 'bekas istri orang kaya raya', hidup dengan segala kemewahan dan perhatian dari Bara."Kalian pikir kalian siapa? Sok tahu, sok mandiri. Suster ini capek ngurusin kalian dari pagi, tapi kalian gak pernah dengerin omongan suster!" Bira membentak, melampiaskan kekesalannya pada dua anak kecil di depannya.Nathan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. "Kami bukan

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 196. Permintaan Mayang

    Ruang rawat ICU terasa lebih hangat dari biasanya. Mesin monitor masih berbunyi pelan, selang infus tergantung di sisi tempat tidur, dan aroma obat-obatan menguar memenuhi udara. Namun bagi Bara, semua itu tak lagi menakutkan saat ia melihat sepasang mata yang sangat ia kenal perlahan menatap ke arahnya.“Mama…” suara Bara bergetar.Mayang tersenyum lemah. Wajahnya pucat, pipinya sedikit tirus, namun sorot matanya hidup. Indira berdiri di samping Bara, menahan haru yang mendadak menyeruak.“Bara…” bisik Mayang lirih.Tanpa menunggu lagi, Bara mendekat dan memeluk tubuh ibunya dengan hati-hati. Ia menunduk, mencium tangan Mayang lama sekali.“Alhamdulillah… Mama masih di sini. Aku takut, Ma…” suaranya pecah, tak lagi setegar biasanya.Mayang mengusap kepala putranya pelan. “Mama belum mau pergi. Belum lihat kamu bahagia. Mana bisa Mama pergi dan membiarkan kamu kesepian?"Indira menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka akan melihat momen seharu ini. Mayang menoleh padany

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 195. Bertemu Mantan

    Pintu lift rumah sakit terbuka pelan.Dewa melangkah keluar dengan wajah lelah. Kemeja yang tadi pagi masih rapi kini kusut, rambutnya sedikit berantakan. Ia benar-benar kembali ke rumah sakit, setelah hanya mengambil bajunya di rumah. Ia berjalan menyusuri lorong ICU, niatnya hanya satu, mengecek kondisi pasien yang ia titipkan pada dokter jaga.Namun langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, di bawah lampu lorong yang temaram, Indira berdiri memeluk Bara. Bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang penuh kelelahan, ketakutan, dan kebutuhan.Indira menyandarkan kepalanya di dada Bara. Tangan Bara melingkar protektif di punggung Indira. Seolah dunia mereka hanya berdua.Dewa terpaku, dadanya seperti diremas sesuatu yang tak terlihat. Melihat adegan di depannya itu.Ia tak punya hak apa-apa untuk cemburu. Ia bukan siapa-siapa lagi di hidup Indira. Tapi kenapa hatinya sakit seperti ini?Indira yang pertama menyadari kehadiran Dewa. Tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia melepask

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status