Mag-log inPemuda yang berdiri di ambang pintu itu bernama Long Hu. Ia adalah sepupu jauh Long Tian yang selalu jumawa hanya karena telah mencapai tingkat ketiga ranah Penguatan Tubuh. Di lingkungan keluarga cabang yang terpencil ini, kekuatan itu sudah cukup bagi Long Hu untuk merasa seperti raja kecil. Baginya, Long Tian hanyalah karung pasir manusia yang bisa ia pukuli kapan saja untuk meluapkan kekesalan atau sekadar mencari hiburan.
Namun hari ini, hawa dingin yang tidak biasa merayap di tengkuk Long Hu saat menatap mata Long Tian. Mata itu tidak lagi memancarkan ketakutan, melainkan ketenangan sedalam samudra yang mematikan. Seolah-olah yang sedang ia tatap bukan lagi seorang pemuda lumpuh, melainkan seekor naga purba yang siap menelan siapa pun yang berani mengusiknya.
"Kau... berani-beraninya menatapku seperti itu?" Long Hu membentak, mencoba mengusir rasa tertekan yang tiba-tiba menghimpit dadanya. "Cepat serahkan Batu Qi itu! Ibumu yang penyakitan itu tidak butuh obat, dia hanya membuang-buang sumber daya keluarga! Lebih baik batu itu kugunakan untuk kultivasiku daripada disia-siakan untuk wanita yang sudah hampir mati."
Mendengar penghinaan terhadap ibunya, sepercik api amarah muncul di dada Long Tian. Meskipun ini bukan ibu kandungnya dari kehidupan sebelumnya, memori tubuh ini memiliki ikatan emosional yang sangat kuat. Qin Rou adalah satu-satunya cahaya yang melindungi pemilik tubuh asli ini di tengah kekejaman keluarga Long.
"Tarik kembali kata-katamu," ujar Long Tian datar. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang membuat udara di dalam gubuk mendadak terasa berat, seolah gravitasi meningkat berkali-kali lipat.
Long Hu tertawa terbahak-bahak, meski telapak tangannya mulai berkeringat dingin. "Tarik kembali? Wah, tampaknya otakmu ikut rusak. Sampah sepertimu ingin memerintahku? Rasakan ini!"
Long Hu meluncur maju. Tinjunya yang dilapisi energi Qi mengarah langsung ke pelipis Long Tian serangan yang berniat melumpuhkan total. Di mata orang biasa, gerakan ini sangat cepat. Namun bagi sang mantan Penguasa Alam Dewa, gerakan Long Hu tampak sangat amatir, lambat, dan penuh celah.
Tepat saat tinju itu hampir menyentuh wajahnya, Long Tian menggeser kakinya hanya beberapa inci ke samping. Sebuah gerakan minimalis namun sempurna.
Wusss!
Tinju Long Hu hanya mengenai udara kosong. Kehilangan keseimbangan, tubuhnya condong ke depan. Long Tian tidak menyia-nyiakan sedetik pun. Dengan presisi veteran perang, ia menekuk sikunya dan menghantamkannya tepat ke ulu hati Long Hu.
Bugh!
"Khuekk!" Long Hu membelalak. Wajahnya seketika berubah ungu gelap. Oksigen seolah direnggut paksa dari paru-parunya. Ia jatuh berlutut, memegangi perutnya yang terasa seolah dihantam godam besi. Air liur menetes dari mulutnya yang ternganga lebar.
Long Tian menjambak rambut Long Hu dengan kasar dan memaksa pemuda itu mendongak. Sorot mata Long Tian kini menusuk langsung ke jiwa Long Hu, memberikan tekanan dalam yang begitu kuat hingga Long Hu merasa jantungnya hampir berhenti berdetak. Aura mantan Kaisar Dewa terpancar meski hanya setitik.
"Dengarkan baik-baik" bisik Long Tian tepat di telinga Long Hu. "Mulai detik ini, setiap helai rambut yang hilang dari kepala ibuku, aku akan mematahkan satu tulangmu. Jika ia menitikkan satu tetes air mata karena ulahmu, aku akan memastikan kau memohon kematian sebagai anugerah terbesarmu. Mengerti?"
Ketakutan murni menjalar ke seluruh tulang belakang Long Hu. Ia merasa sedang menatap maut itu sendiri. Tanpa daya, ia hanya bisa mengangguk dengan gemetar hebat.
"Pergi. Dan jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi jika masih ingin melihat matahari esok hari," Long Tian melepaskan jambakannya dan menendang Long Hu hingga terpelanting keluar gubuk.
Setelah suara langkah kaki Long Hu yang panik menghilang, Long Tian menghela napas panjang. Ia segera menutup pintu kayu yang rusak itu dan duduk bersila. Pertarungan singkat tadi telah menguras hampir seluruh tenaga tubuhnya yang masih sangat rapuh.
"Tubuh ini benar-benar di ambang kehancuran," gumamnya sambil memeriksa pembuluh darah Qi-nya melalui penglihatan batin.
Pembuluh darah tubuh ini tersumbat kotoran hitam yang tebal dan beracun. Namun bagi Long Tian, ini hanyalah gerbang yang terkunci. Ia mulai menjalankan Teknik Napas Naga Terlarang, sebuah seni kuno yang brutal. Ia tidak menyerap energi murni, melainkan menghisap energi liar dari sekitarnya untuk menghancurkan segala sumbatan secara paksa.
Krak! Krak!
Suara gemeretak tulang terdengar mengerikan. Rasa sakit luar biasa menyerang, seolah ribuan pisau menguliti pembuluh darahnya. Cairan hitam berbau busuk merembes keluar dari pori-porinya. Ini adalah pembersihan sumsum tulang yang ekstrem. Kultivator biasa akan meledak, namun Long Tian memiliki kontrol mental tingkat Dewa.
Hingga fajar menyingsing, Long Tian membuka matanya. Sepasang matanya bersinar dengan cahaya emas redup. Ia telah berhasil menembus tingkat pertama ranah Penguatan Tubuh hanya dalam satu malam, dengan fondasi yang sepuluh kali lebih kuat dari orang biasa.
"Langkah pertama selesai," bisiknya. Ia berdiri, auranya kini tajam seperti pedang yang baru keluar dari tungku api.
Tiba-tiba, suara batuk yang berat terdengar dari balik tirai kamar sebelah. Itu adalah Qin Rou, ibunya. Long Tian segera bergegas menuju ke sana dengan hati yang dipenuhi tekad baru. Perjalanan panjang untuk membalas dendam baru saja dimulai.
Bersambung
Kegelapan kembali menyelimuti Pengadilan Pedang Darah.Long Tian berdiri sendirian.Ingatan tentang Bai Jian telah berakhir, tetapi kalimat terakhirnya masih menggema di dalam pikirannya.“Aku memilih menjadi pengkhianat... agar Long Tian tetap hidup.”Long Tian menatap tempat di mana bayangan Bai Jian menghilang.Selama bertahun-tahun ia mengira Bai Jian telah meninggalkannya.Ternyata orang itu justru mati demi melindunginya.Namun ada satu hal yang mengganggunya.Perempuan yang disebut Bai Jian sebagai Su Yan.Bai Jian telah menitipkan pesan.Jik
Cahaya putih memenuhi seluruh medan perang.Sosok yang menyebut dirinya utusan dari Alam Dewa Sejati berdiri di hadapan Bai Jian tanpa menunjukkan sedikit pun keraguan.Tekanan yang keluar dari tubuhnya membuat seluruh medan perang seolah kehilangan warna.Bai Jian masih menggenggam pedangnya.Tubuhnya telah terluka parah, tetapi punggungnya tetap tegak.“Keselamatan sekte,” kata sang utusan dengan tenang, “ada di tanganmu.”Bai Jian menatapnya.“Jelaskan.”“Serahkan jejak Long Tian.”Sang utusan mengangkat satu tangan.Sebuah cahaya muncul di udara.
Gerbang pertama tertutup di belakang Long Tian.Suara langkahnya menggema di lorong baru yang jauh lebih sempit daripada sebelumnya. Tidak ada cahaya di sepanjang dinding. Hanya garis merah tipis yang bergerak mengikuti langkahnya, seolah-olah Pengadilan Pedang Darah sedang membaca setiap jejak yang ia tinggalkan.Jimat suara Qin Rou masih berada di dekat dadanya.Long Tian menyentuhnya sebentar.Ia tidak mengaktifkannya.Suara Qin Rou telah membantunya keluar dari lapisan pertama. Namun setelah melewati ujian itu, Long Tian menyadari bahwa ia tidak bisa selamanya bergantung pada suara orang lain.Jika ingin mengetahui kebenaran tentang Bai Jian, ia harus melihatnya sendiri.Di ujung lorong, sebuah cahaya putih munc
Ruangan itu kembali sunyi.Bayangan Su Yan telah menghilang.Namun kata-katanya masih tertinggal di dalam pikiran Long Tian.“Niat baik tidak selalu menghapus akibat buruk.”Long Tian berdiri tanpa bergerak.Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu apakah harus membantah atau menerima.Pengadilan Pedang Darah telah memperlihatkan sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini ia yakini.Ia memang pernah menjadi korban.Bai Jian mungkin dijebak.Su Yan mungkin menyimpan rahasia.Para Dewa Agung mungkin telah memainkan peran yang jauh lebih besar dalam kehan
Su Yan berdiri di hadapan Long Tian.Tidak ada pedang di tangannya.Tidak ada aura pembunuh.Ia hanya mengenakan jubah putih yang sederhana, sama seperti sosok yang tersimpan dalam ingatan Long Tian dari masa lalu.Namun justru kesederhanaan itu membuat Long Tian semakin waspada.Ia telah melihat terlalu banyak hal di Pengadilan Pedang Darah.Korban yang menuntut jawaban.Perang yang selama ini hanya ia ingat dari sudut pandangnya sendiri.Dan sekarang...Su Yan.Perempuan yang namanya selalu terhubung dengan luka terdalam dalam kehidupannya.“Su Yan.”Long Tian menyebut namanya perlahan.Perempuan itu menatapnya.Tatapannya tidak menunjukkan kebencian.Tidak pula kasih sayang.Hanya ketenangan yang aneh.“Aku dipanggil sebagai saksi,” katanya.Suara itu sama.Terlalu sama.Long Tian tidak segera menjawab.“Kalau begitu katakan.”Su Yan berjalan perlahan mendekati kursi saksi.Setiap langkahnya meninggalkan riak cahaya putih di lantai hitam.“Apa yang ingin kau dengar?”“Kebenaran.”S
Pertanyaan itu terus bergema.“Long Tian... jawab kami.”Long Tian berdiri di tengah lautan bayangan.Tidak ada satu pun pedang yang diarahkan kepadanya.Tidak ada serangan.Namun tekanan yang ia rasakan jauh lebih berat daripada tekanan dari ribuan pendekar.Karena untuk pertama kalinya, ia tidak sedang berhadapan dengan musuh.Ia sedang berhadapan dengan akibat dari dirinya sendiri.Sebuah bayangan bergerak.Pengadilan Pedang Darah kembali memperlihatkan masa lalu.Long Tian melihat dirinya dalam kehidupan sebelumnya.
Cahaya emas redup yang menyelimuti tubuh Long Tian sepanjang malam perlahan menyusut, mengalir kembali melalui pori-pori kulitnya saat fajar menyingsing. Ketika ia membuka mata, sepasang pupil matanya berkilat sesaat dengan warna emas tipis sebelum kembali menjadi hitam pekat yang tenang.‘Napas Nag
Long Cheng tertawa terbahak-bahak, tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa ngerinya melihat ketenangan Long Tian. Di matanya, pemuda di depannya ini tetaplah "sampah" yang entah bagaimana mendapatkan sedikit keberanian. Bagi seorang kultivator tingkat ketujuh ranah Penguatan Tubuh seperti dirinya,
Long Tian menyibak tirai kain usang yang sudah tipis dan berlubang. Bau obat-obatan murah yang sudah basi bercampur aroma lembap kayu lapuk langsung menyergap indranya. Di atas ranjang kayu yang berderit ringkih, seorang wanita paruh baya terbaring dengan napas yang terdengar pendek dan berat.Itu
Puncak Langit Abadi kini telah berubah menjadi ladang pembantaian yang mengerikan. Langit yang seharusnya biru cerah tertutup oleh awan hitam pekat yang berputar layaknya pusaran neraka. Sambaran petir ungu terus menghantam bumi, mencerminkan gejolak energi Qi yang tidak stabil dari sang penguasa y







