Masuk#Dua
Giliran ketiga teman Catelyn mendekat.“Aku tidak percaya ini!” Inez sekuat tenaga menahan diri agar suaranya tidak lepas melengking, begitu ia memiliki kesempatan mendekati Catelyn.“Kau sahabatku paling istimewa!” klaim Misha sambil merangkul bahu Catelyn sementara sebelah tangan menggenggam kaki gelas champagne. “Tanpamu, seumur hidup mana mungkin aku memiliki kesempatan bertemu langsung orang-orang ternama!”“Kalian, jaga sikap,” Dana berdiri tenang, namun matanya terus melirik sosok yang tentu saja ia tak pernah berani memimpikan akan dapat melihat secara langsung.Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat James dan Gerard Wayne, lalu sosok besar yang menyandang nama Ellworth. “Apakah itu bos besar AE Group? Astaga…” gumamnya penuh ketakjuban.Tak pernah ia bayangkan, bisa melihat sosok besar yang selalu misterius dan tak pernah ditampilkan media itu.“Kalian tahu Ethan akan melamarku? Mengapa kalian diam saja,” Catelyn berpura cemberut.Inez melambaikan sebelah tangan. “Bagaimana
Ethan menangkap sorot itu dengan baik.Ia amat tahu, di balik sifat dinginnya, Arion sangat peduli.Itu adalah caranya menunjukkan kebahagiaan bagi orang-orang yang ia anggap penting.Tanpa perlu bertanya atau mendengar ucapan selamat secara eksplisit, Ethan mengerti.Ia mengangguk mantap.Dalam keheningan yang sesaat itu, aura keduanya begitu mendominasi.Ethan Wayne, dengan senyumnya yang ramah dan penuh percaya diri, dan pesona seorang pria yang tahu cara memenangkan dunia.Arion Ellworth, dengan sorot tajam dan kharisma-nya yang tenang, penuh wibawa dan dominasi.Dua pria tampan dan gagah yang sangat berbeda, tetapi memiliki satu kesamaan—mereka saling memahami lebih dari apa yang bisa diungkapkan dengan kata-kata.Seketika, angin malam berembus pelan, membelai rambut mereka yang tertata rapi.Cahaya lampu yang hangat menerpa wajah mereka, menegaskan ketampanan masing-masing dengan cara yang begitu berbe
Catelyn membelalakkan mata. Tidak mungkin.Di ketinggian ini? Saat mereka masih jatuh bebas?Dia bahkan tidak bisa mengeluarkan suara saking terkejutnya.Napasnya benar-benar tercekat.Ia menoleh ke samping, di mana Ethan menempelkan dagu di bahunya.Suara Ethan terdengar penuh ketulusan dan cinta saat dia berkata―meski suaranya sedikit tersapu angin, “Catelyn, aku tak ingin hanya melayang bersamamu hari ini. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Maukah kau menikah denganku?”Catelyn hampir lupa bernapas.Dadanya terasa sesak oleh emosi yang membuncah. Ini adalah sesuatu yang bahkan dalam mimpi terliarnya pun, tak pernah terbayangkan.Air matanya mulai menggenang.Meski mereka masih berada di langit, meski angin masih berdesir liar di telinganya, ia tahu jawaban dari pertanyaan itu.Dia mengangguk cepat, sekuat tenaga meremas tangan Ethan yang menggenggamnya.Ethan tertawa kecil sebelum
Pagi itu, langit membentang luas dengan warna biru jernih, dihiasi awan tipis yang melayang tenang, mengapung seperti kapas. Angin sepoi-sepoi mengalir lembut di landasan pacu pribadi yang disewa Ethan Wayne, sang CEO G&P Ltd.Di sisi lain landasan, Catelyn menatap ke langit dengan mata berbinar, semangat dan jantung yang berdebar kencang.Matanya memandang pesawat Pilatus PC-12 yang akan membawa mereka ke ketinggian 15.000 kaki.Dia masih tidak percaya Ethan berhasil meyakinkannya untuk melakukan skydiving—hal yang tak pernah terlintas dalam pikirannya sebelumnya.Dua hari lalu, Ethan mengatakan akan mengajaknya melakukan sesuatu untuk menghilangkan stres dan kejenuhan.Bahkan Ethan menambahkan, dirinya bisa berteriak sepuasnya.Namun tak pernah Catelyn duga, Ethan mengajaknya melakukan olahraga ekstrim ini.Skydiving.“Aku masih ragu ini ide yang bagus, Ethan.” Catelyn menatapnya dengan was was, sementara seorang instruktur tengah memasangkan harness di tubuhnya.Ethan tertawa, eksp
Beberapa hari kemudian, Denver menyambut pagi dengan langit biru pucat dan udara yang masih menyimpan sisa dingin pegunungan.Catelyn berdiri sejenak di depan gedung Aurora Development Group (ADG) sebelum melangkah masuk. Ia menarik napas panjang.Ia sudah selamat. Ia sudah kembali.Namun “normal” kini terasa seperti sesuatu yang harus ia perjuangkan setiap hari.Di lobi, dua pria berpakaian formal berdiri tak jauh darinya. Axel berada beberapa langkah di belakang—tenang, waspada seperti biasa. Ethan kini menambahkan dua pengawal lain selain Axel.Awalnya Catelyn merasa risih. Terlalu mencolok. Terlalu berlebihan.Namun setiap kali bayangan ruangan gelap dan bau gudang itu muncul sekilas di benaknya, ia sadar—tragedi bisa datang tanpa peringatan. Dan untuk saat ini, ia memilih menerima.Ia melangkah ke lantai kantornya.Begitu ia masuk ke dalam ruangan divisinya, tiga pasang mata langsung menatap lekat padanya.Dana. Misha. Inez.Tatapan mereka sama—bersalah.Catelyn pura-pura tak men
“Aku anak keempat,” jawab Catelyn pelan. “Perempuan satu-satunya. Aku punya tiga kakak laki-laki. Aku sempat kewalahan meyakinkan mereka untuk membiarkanku meninggalkan Basalt untuk tinggal di Denver.”“Oh? Keluarga kalian tinggal di Basalt?” Elara tampak tertarik. “Apa yang mereka lakukan?”Catelyn menelan ludah tipis. Ia tak pernah merasa malu pada keluarganya—namun duduk di meja semegah ini membuatnya tiba-tiba sadar akan perbedaan latar belakang mereka.“Kakak sulungku, Gabriel, pemandu wisata di Aspen,” katanya. “Vincent… kepala polisi Basalt. Dan Noah punya kios suvenir kecil di Aspen.”Ia sempat menunduk, khawatir jawaban itu terdengar terlalu sederhana di tengah keluarga Wayne.Namun yang terjadi justru sebaliknya.“Pemandu wisata di Aspen?” Elara tersenyum lebar. “Itu pekerjaan yang luar biasa. Aspen bukan kota kecil sembarangan.&r
Catelyn menatap layar ponsel Nielson dengan jantung berdegup kencang.Ia mencoba beberapa kombinasi angka yang mungkin menjadi kata sandi. Ulang tahun Nielson. Gagal.Tanggal mereka pacaran? Masih gagal.Bahkan ulang tahun Molly yang ia cari tahu sebelumnya melalui akun media sosial juga tidak berha
Catelyn duduk di depan komputer, menyelesaikan input data terakhir untuk hari itu.Hari menjelang sore, ia meregangkan tubuh, bersandar ke kursinya, lalu membiarkan pikirannya melayang sejenak.Insiden pagi tadi kembali terlintas dalam benaknya, membuat hatinya menghangat dan pipinya merona.Ethan
Suasana kantor kepolisian Denver dipenuhi hiruk-pikuk aktivitas.Beberapa petugas sibuk berbicara melalui telepon, mengetik laporan di komputer, atau berdiskusi dengan pengacara dan warga yang datang mengurus berbagai kasus. Lampu putih terang di langit-langit menciptakan nuansa dingin dan kaku, se
"Aku ingin kau pindah ke sini, Catelyn," kata Ethan, suaranya rendah dan penuh keyakinan.Catelyn terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Tawaran Ethan begitu tiba-tiba, begitu intens, hingga membuatnya tanpa sadar melangkah mundur."Ethan, ini terlalu cepat… Aku butuh waktu untuk berpikir," katan







