LOGINSatu ranjang yang salah mengubah duka menjadi candu ketika seorang wanita terjebak dalam tuntutan "tanggung jawab" dari adik sahabatnya yang perjaka, dan pria itu kini tak mau berhenti mengejarnya sejak kenikmatan pertamanya.
View More“Raka... kumohon, pelan sedikit....”
Suara Alya terdengar putus asa, tertahan di antara deru napas yang memburu. Udara di dalam kamar itu terasa pekat oleh hawa panas dan aroma keringat yang bercampur. Raka duduk bersandar di kepala ranjang dengan napas sama kasarnya, sementara Alya berada di atas pangkuannya. Wanita berusia tiga puluh tiga tahun itu kini sepenuhnya terkurung dalam dekapan pria yang usianya jauh lebih muda darinya. Dua tangan kekar Raka mencengkeram erat pinggang ramping Alya, menahan tubuh wanita itu sekaligus mendikte setiap pergerakannya. Hentakan pinggul Raka terasa begitu deras, tanpa ampun. Alya terpaksa mengikuti irama liar yang menghancurkan akal sehatnya. “Akh...,” geram Raka pelan. Pria itu memejamkan mata, rahangnya mengeras tajam menahan sensasi luar biasa dari pengalaman pertamanya. Jari-jari Alya mencengkeram kuat bahu lebar Raka. Kuku-kukunya memutih, berusaha mencari tumpuan agar tubuhnya tidak jatuh. Ia menunduk lemas, rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya yang memerah. "Raka... tolong, aku mohon...," rintih Alya lagi. Hawa panas tubuhnya yang terlalu intens membuat dadanya sesak. Namun pria itu tak berniat melambatkan gerakannya. Raka justru menarik pinggang Alya lebih dekat, menghilangkan jarak di antara mereka hingga tubuh keduanya berbenturan keras. Di sela deru napas tak beraturan keduanya, ingatan Alya berputar pada kejadian beberapa jam lalu. Tenggorokannya terasa terbakar sesaat setelah menenggak habis sebotol minuman tanpa label di meja kamar sahabatnya. Ia pikir itu hanya air biasa. Namun, dalam hitungan menit, panas membara menyelimuti tubuhnya. Dengan napas tersengal dan tubuh gemetar, ia melangkah keluar kamar. Di lorong itulah ia berpapasan dengan Raka. Adik sahabatnya itu baru saja pulang kerja. Kemejanya masih menempel dengan lengan tergulung asal. Wajah lelah pria itu seketika berubah kaget saat Alya merintangi jalannya. "Tolong...," rintih Alya saat itu. Tanpa menunggu reaksi, Alya meraih kerah kemeja Raka. Ia yang melangkah lebih dulu. Ia yang mengunci bibir pria itu dengan ciuman paksa dan putus asa. Kini, Alya harus menelan akibatnya. Raka yang awalnya menolak dan kebingungan, kini memegang kendali penuh. “Kamu yang datang padaku, Alya,” bisik Raka parau tepat di telinga wanita itu. Napasnya yang panas menerpa kulit leher Alya, membuat tubuh wanita itu semakin menegang. Pria itu memiringkan kepala, menelusuri leher jenjang Alya tanpa ampun. Gerakannya dari bawah semakin cepat dan dalam. Alya tak bisa lagi membalas. Ia hanya bisa mendongak, meloloskan erangan panjang saat tubuhnya dihempaskan ke puncak, sebelum akhirnya dunia terasa gelap dan kesadarannya hilang seketika. *** “Apa yang terjadi?” Suaranya parau. Kesadarannya merayap naik, dan hawa dingin seketika memeluk kulit polosnya. Hanya selembar selimut yang menutupi tubuhnya. Jantungnya bergemuruh keras. Jari-jarinya refleks mencengkeram kain selimut, menariknya rapat menutupi dada. Ia menoleh ke sisi ranjang, dan napasnya seakan terenggut. Raka terlelap damai di sampingnya, tertidur dengan posisi tengkurap dan punggung polos yang terekspos. “Ya Tuhan….” Tangannya gemetar hebat. Bergumul dengan adik sahabatnya sendiri adalah kesalahan fatal. Terlalu memalukan. Dengan gerakan panik, ia memungut pakaiannya yang berserakan di karpet dan memakainya asal. Instingnya hanya satu: lari. Ia melirik ngeri ke arah ranjang. Raka masih memejamkan mata. Tanpa suara, Alya menyeret kakinya keluar dari kamar itu, dan berlari seperti buronan. Pagi itu, ia langsung menuju salon tempatnya bekerja. Saat jeda, Alya pergi ke ruang loker belakang, sekadar untuk menenangkan diri. Ia merasa hidupnya berantakan. Tangan Alya masih bergetar saat menyusun botol minyak pijat, bayangan Raka dan rengkuhannya malam itu masih menyelimuti pikirannya. Tiga tahun lalu, hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan mantan suaminya yang berselingkuh. Alya memutuskan merantau ke kota untuk menemui Raya, sahabat kuliahnya yang mapan. Ia berharap bisa memperbaiki ekonomi demi merebut kembali anak-anaknya. Namun, sebelum keuangannya stabil, Alya justru membuat kesalahan fatal: ia tidur dengan adik sahabatnya. Tiba-tiba, derap langkah kaki dari luar memecah lamunannya. Jantung Alya berpacu liar. Saat ia melangkah keluar, Raka sudah berdiri angkuh bersandar di meja resepsionis. Mata tajam pria itu langsung menguncinya. “Mau ngobrol?” tanya Raka. Terdengar ringan, namun terdengar seperti ancaman. Tubuh Alya menegang kaku. “A–aku…” Tanpa menunggu Alya menyelesaikan ucapannya, Raka menarik lengan mulus Alya dan membawanya keluar salon. Kafe di sebelah temat kerjanya tak terlalu riuh. Alya duduk dengan punggung tegak, meremas jemarinya sendiri. Berbanding terbalik dengan Raka yang duduk menyandar rileks di depannya. “Tadi kamu pergi tanpa bilang apa-apa,” ucap Raka membuka percakapan. Alya mengangkat wajah pucatnya. “Maaf.” Raka memundurkan punggungnya. “Cuma itu?” Alya menunduk dalam. "Maaf, maafin aku. Sumpah, aku nggak sengaja. Aku melakukannya semalem karena pengaruh obat." Alis Raka terangkat. Ada kepuasan melihat raut ketakutan wanita itu. “Kamu mau bilang, karena minuman itu makanya kamu berani datang ke kamarku dan memaksaku?” tembaknya lugas. “Kamu yang mulai. Terus sekarang bilang nggak sengaja?” Kalimat itu menampar Alya. Ingatannya kembali utuh, bagaimana sentuhan liarnya mematahkan penolakan Raka hingga pertahanan pemuda itu runtuh. “Aku nggak sadar,” bisik Alya parau. Raka mencondongkan tubuhnya ke depan. Tatapannya menelanjangi. “Oke. Terus sekarang?” Kening Alya berkerut. “Te-rus?” Seringai Raka semakin dalam. “Setelah malam itu, apa? Kamu nggak mikir semua akan selesai di sini, kan? Coba kamu pikir, aku akan gimana setelah ini? Aku cowok normal, Alya. Aku ngerasain itu untuk pertama kalinya. Dan sekarang, aku tahu rasanya.” Saliva Alya terasa mengganjal di tenggorokan. “Kamu mau aku bagaimana?” tanyanya berhati-hati. “Kamu harus tanggung jawab!” tuntut Raka tegas. Seringainya lenyap. “Tanggung jawab? Aku harus apa?” Alya kebingungan. Raka laki-laki, tak mungkin dia hamil. “Puaskan aku lagi!”Suara napas yang memburu memenuhi setiap sudut kamar suite hotel mewah. Di atas tempat tidur berseprai putih, Zahira melengkungkan punggungnya dengan mata terpejam rapat. Jemarinya mencengkeram kuat helaian rambut Hendri yang kini tengah berada di atas tubuhnya, menyalurkan seluruh gelora yang membuncah."Ah... enak banget, terusin!" ucap Zahira di sela desahnya, suara serak penuh kepuasan yang mengalun tanpa peduli lagi pada benteng martabatnya sebagai wanita terpandang."Aku suka! Kamu hebat!" puji Zahira lagi, mengaburkan batasan antara majikan dan bawahan di atas ranjang.Zahira terus mengerang, melontarkan kata-kata parau, hingga sesekali berteriak meluapkan puncak kenikmatan yang dihadiahkan oleh sang sekretaris. Gerakan konstan yang diberikan Hendri sukses membawanya menembus batas kewarasan, merengkuh kepuasan mutlak yang terasa bagai surga dunia.Keringat membasahi tubuh kedua manusia yang kini telanjang bulat itu. Aktivitas panas ini rupanya telah menjelma menjadi rutinitas
Malam itu, begitu tiba di rumah, langkah Raya langsung membawanya menuju kamar sang adik. Di dalam, Raka baru saja selesai membersihkan diri selepas aktivitas yang melelahkan. Namun, Raka langsung disambut dengan wajah sang kakak yang tertekuk masam.Hubungan kakak-beradik itu memang tengah sedikit renggang akhir-akhir ini. Raya salah paham mengira Raka tidak menyukai kedekatannya dengan Kevin, akibat sikap dingin sang adik pada pria tersebut. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Raka hanya sedang berusaha melindungi kakaknya dari niat buruk yang tak ia ketahui."Ada apa?" tanya Raka dingin, suaranya datar sambil terus melangkah mengambil handuk kecil untuk mengeringkan rambutnya.Tanpa basa-basi, Raya langsung meluapkan unek-uneknya. "Alya ngajak kedua anaknya pulang ke apartemennya, juga pengasuh anak-anaknya."Raka mengangguk pelan, merespons dengan nada santai. "Bagus, aku nggak mau Alya tinggal di rumah mantan suaminya lama-lama.""Iya, aku juga nggak mau. Makanya aku yang minta dia k
Hari berganti membawa ritme baru yang menuntut ketegaran lebih dari Alya. Sejak insiden mengerikan kemarin, wanita tersebut memilih untuk mendedikasikan seluruh waktunya demi merawat dan menjaga kedua buah hatinya di kediaman Emran.Pagi-pagi sekali, Alya sudah disibukkan dengan rutinitas rumah tangga. Ia menyiapkan sarapan, mengantar Nana ke sekolah dengan senyuman yang dipaksakan agar sang anak tidak merasakan kecemasan di hatinya, lalu kembali ke rumah untuk menemani Rio bermain. Kedua anak itu sengaja tidak diajak ke rumah sakit. Alya sengaja menyembunyikan kenyataan pahit itu karena ia takut mental anak-anaknya terguncang atau ketakutan jika harus melihat kondisi fisik ayah mereka yang kini tengah berjuang menahan sakit akibat luka bakar serius.Sementara itu, suasana di koridor rumah sakit terasa begitu senyap. Zahira berdiri tegak di depan pintu ruang rawat inap tempat Emran dirawat. Tatapannya dingin menerawang ke dalam ruangan melalui jendela kecil di daun pintu.Wanita itu l
Mentari pagi baru saja merayap naik, membawa serta sisa-sisa lelah dari malam sebelumnya. Di kediamannya, Raya memutuskan bahwa ia butuh jarak. Beban pikiran yang menghimpit dada sejak perdebatan dengan orang tuanya membuatnya sesak. Tanpa pikir panjang, ia memutuskan untuk pergi ke luar kota. Selain untuk menenangkan diri dan menjauh sejenak dari bayang-bayang dingin Sanjaya serta Soraya, perjalanan ini juga dimanfaatkannya untuk memantau perkembangan salon miliknya yang ada di luar kota. Raya tahu ia bisa sedikit bernapas lega karena telah mempercayakan operasional utama kepada Sarah, orang kepercayaan yang ia rekrut dan ia andalkan untuk mengelola semuanya dengan baik.Sementara itu, di pusat kota, jarum jam menunjukkan pukul dua siang saat Kevin tiba di gedung perkantoran tempat Raka bekerja. Pertemuan itu diatur atas permintaan Raka sebelumnya.Di dalam ruang kerja pribadi, Raka menyambut kedatangan Kevin dengan postur angkuh, duduk bersandar malas di sofa mewah. Di hadapannya, R
Raya tidak langsung pergi ke salon seperti rencananya semula. Setelah menemui Raka di kantor dengan perasaan kacau, ia justru memacu kendaraannya menuju rumah orang tuanya. Hari itu menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Raya.Sesampainya di rumah, Raya langsung menuju ke kamar orang tuanya.
Hening menyelimuti area parkir apartemen yang dingin. Raka masih bersandar di kap mobilnya, napasnya perlahan teratur meski tatapannya tak pernah lepas dari Alya. Setelah cukup lama menatap wanita itu dengan sorot mata yang penuh kepemilikan dan sisa amarah, Raka akhirnya menghela napas panjang."M
Di dalam mobil, suasana begitu hening. Keheningan itu terasa menyesakkan hingga rasanya oksigen pun enggan masuk ke paru-paru. Kontras dengan keributan tadi, tapi setidaknya Alya sudah meninggalkan mantan suaminya.Alya duduk meringkuk di kursi penumpang, memeluk dirinya sendiri seolah sedang mengu
Detak jam dinding di apartemen kecil itu terasa seperti dentum lonceng kematian bagi Alya. Sudah pukul tujuh malam, kurang satu jam lagi sebelum Raka datang untuk menagih "tanggung jawab" yang ia tuntut. Pikiran Alya kalut. Bayangan ia harus menyerahkan dirinya dalam keadaan sadar kepada pria yang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews