Beranda / Romansa / Di Balik Pintu Gelap Diplomat / Bagian 38 - Labirin Digital dan Sisa Intimidasi

Share

Bagian 38 - Labirin Digital dan Sisa Intimidasi

Penulis: Daisy
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-21 09:50:16

“Huhh... huhhh,” napas Maira tersengal, memburu di udara apartemennya yang terasa semakin panas.

Tubuhnya masih gemetar, sisa-sisa kontraksi dari pelepasan paksa yang diperintahkan Wisnutama masih terasa seperti sengatan listrik di pangkal paha. Si gadis masih dalam posisi yang memalukan dengan satu kaki di atas kursi, tubuh polos yang berkeringat dan mata yang masih berair menatap layar ponsel yang kini hanya menampilkan wajah Wisnutama dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Wisnutama tidak segera
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 42 - Puncak Tekanan di Ruang Bawah Tanah

    Dengan jemari yang masih bergetar, Maira melepas kancing blazer abu-abunya satu per satu. Kain formal itu merosot, menyingkap kemeja putih tipisnya yang kini sedikit lembap oleh keringat dingin. Wisnutama tidak melepaskan pandangannya sedikit pun, seolah-olah setiap inci pergerakan Maira adalah bagian dari data yang harus ia audit."Duduk kembali," perintah Wisnutama sembari menarik kursi besi lain untuk dirinya sendiri, menempatkannya tepat di samping Maira hingga paha mereka bersentuhan.Layar laptop menjadi satu-satunya sumber cahaya di ruangan beton itu. Wisnutama mengambil alih kendali kursor, jemarinya bergerak dengan kecepatan predator yang sedang melacak mangsa.Jemari besar itu membuka source code dari situs tempat Maira mengunduh dokumen tersebut, matanya bergerak lincah membedah barisan perintah yang rumit."Kamu menggunakan onion routing versi lama, Maira. Ceroboh," gumam Wisnutama tanpa menoleh."Inilah alasan mengapa mereka bisa menanamkan beacon. Mereka tidak perlu meme

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 41 - Sangkar di Cakrawala Pasir

    Mobil SUV perak itu terus menderu, membelah lautan pasir yang kian memerah terpapar matahari senja. Pria itu sama sekali tidak menunjukkan simpati. Matanya terpaku pada sebuah alat navigasi militer genggam yang tidak terhubung dengan jaringan publik."Pak, tolong... ponsel saya," bisik Maira dengan suara parau.Maira menatap nanar pada ponselnya yang kini berada di genggaman Wisnutama. "Saya hanya ingin mengirim satu pesan singkat pada Ibu. Hanya agar beliau tidak cemas."Wisnutama menoleh lambat. Tanpa sepatah kata pun, Wisnutama membuka jendela mobil sedikit, lalu dengan gerakan santai, ia melempar ponsel mahal milik Maira ke luar. Benda itu menghilang dalam sekejap, tertelan debu dan pasir yang berterbangan di belakang ban mobil."TIDAK!" jerit Maira.Tubuh mungil itu berbalik, menempelkan wajahnya ke kaca belakang yang gelap, melihat sisa-sisa dunianya hancur di tengah gurun tak bertuan."Itu adalah nyawamu yang baru saja saya selamatkan," suara Wisnutama terdengar dingin, nyaris

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 40 - Pelarian di Bawah Terik Matahari

    Tanpa sempat bertanya lebih jauh, tanpa sempat mencerna pengkhianatan atau perlindungan yang baru saja pria itu tawarkan, Maira menyambar laptopnya. Sudah tidak ada lagi ruang untuk logika lagi, insting bertahannya telah lumpuh, digantikan oleh kepatuhan mutlak pada satu-satunya otoritas yang ia kenal di gedung ini."Jalan, Maira. Jangan menoleh," bisik Wisnutama tajam, suaranya seperti perintah militer yang tak terbantahkan.Maira melangkah keluar melalui pintu samping yang tersembunyi di balik panel kayu ruang kerja Wisnutama, sebuah akses staf yang jarang digunakan. Jantungnya berdentum keras, menciptakan irama panik di dadanya.Kakinya menyusuri lorong sempit yang dingin, melewati dapur diplomatik yang sibuk, hingga akhirnya ia keluar ke area parkir belakang yang menyengat.“Apa yang sudah aku lakukan,” gumam Maira dengan ketakutan.Udara panas Abu Dhabi menghantam wajahnya, namun Maira justru merasa menggigil. Dengan sesegera mungkin memanggil taksi daring dengan tangan yang geme

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 39 - Audit di Ruang Berkaca

    Pukul 06:55 AM. Cahaya matahari Abu Dhabi yang mulai menyengat menembus kaca patri gedung Kedutaan Besar, menciptakan bayangan panjang yang distorsi di koridor marmer. Maira berdiri di depan pintu kayu ek berat bertuliskan nama Wisnutama – Atase Riset & Kerjasama Strategis.“Relax... tenang. Aku bisa,” gumam Maira untuk menguatkan diri.Tangannya yang memeluk tas laptop terasa dingin, kontras dengan suhu udara luar yang mencapai 38°C. Maira menarik napas dalam, membetulkan letak kemeja putihnya yang tertutup blazer abu-abu formal.Pagi ini, ia harus kembali menjadi Maira sang peneliti yang brilian dan efisien."Masuk," suara bariton itu terdengar segera setelah Maira mengetuk.Wisnutama duduk di balik meja jati besarnya, tampak segar dengan setelan jas navy yang disetrika sempurna. Tidak ada tanda-tanda kelelahan atau sisa gairah dari kejadian semalam. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya sambil membaca berkas fisik."Letakkan di sini," perintahnya tanpa menoleh, menunjuk ke area ko

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 38 - Labirin Digital dan Sisa Intimidasi

    “Huhh... huhhh,” napas Maira tersengal, memburu di udara apartemennya yang terasa semakin panas.Tubuhnya masih gemetar, sisa-sisa kontraksi dari pelepasan paksa yang diperintahkan Wisnutama masih terasa seperti sengatan listrik di pangkal paha. Si gadis masih dalam posisi yang memalukan dengan satu kaki di atas kursi, tubuh polos yang berkeringat dan mata yang masih berair menatap layar ponsel yang kini hanya menampilkan wajah Wisnutama dengan ekspresi yang sulit dibaca.Wisnutama tidak segera memutus sambungan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja di seberang sana, mengancingkan kembali kemejanya dengan gerakan pelang, seolah baru saja menyelesaikan rapat koordinasi, bukan memaksa mahasiswi risetnya melakukan tindakan asusila di depan kamera."Bersihkan dirimu, Maira," suara Wisnutama kembali ke nada baritonnya yang dingin dan datar.Otoritas itu kembali utuh, seolah gairah yang tadi sempat menggetarkan suaranya hanyalah ilusi optik."Dan jangan berpikir bahwa pertunjuka

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 37 - Layar Ponsel

    Maira merasakan udara di sekitarnya seolah menipis. Perintah Wisnutama bukan sekadar permintaan, melainkan sebuah cara untuk mendominasi, untuk memastikan bahwa Maira benar-benar berada di bawah kendalinya, baik secara fisik maupun mental.Dengan tangan gemetar, Maira melonggarkan ikatan jubah mandinya. Kain kimono berbahan lembut itu merosot perlahan dari bahunya, menyingkap kulitnya yang masih lembap oleh sisa air mandi. Ia membiarkan kain itu tertahan di lipatan siku, mengekspos bagian atas dadanya di depan kamera ponsel yang ia sandarkan pada tumpukan buku di meja."Terus," suara Wisnutama terdengar lebih serak.Maira menelan ludah, memejamkan mata sesaat, mencoba mencari sisa keberanian yang entah bersembunyi di mana."Pak... tolong," bisik Maira lirih, sebuah upaya negosiasi yang sia-sia."Saya tidak suka mengulang perintah, Maira. Buka sepenuhnya. Sekarang."Dengan gerakan yang sangat lambat, kain kimono itu meluncur jatuh, menyingkap seluruh bagian dadanya yang putih dan kenca

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status