Mag-log inPagi itu, usai pertemuan dengan para selir, Isabella memilih berdiam di kamarnya. Hari ini, Tabib Ethan akan datang kembali, sesuai janji mereka kemarin.
Di meja telah tersusun hidangan ringan, lengkap dengan teh peony kesukaannya. Sambil menanti, Isabella menyibukkan diri dengan menyulam. Jarum dan benang menari di antara jemarinya yang lentik, menenangkan pikirannya yang masih gelisah. “Sepertinya Anda sedang sibuk, Permaisuri?” Suara itu terdengar lembut namun tiba-tiba, membuat Isabella menoleh. Di sana, berdiri Ethan dengan pakaian rapi — kemeja putih bersih berbalut rompi hitam yang menegaskan bahunya yang tegap. “Kau sudah datang?” ucap Isabella, mencoba menutupi senyum kagumnya. Namun Ethan justru menatapnya tajam. “Wajah Anda tampak sembab, Permaisuri.” Isabella sontak tertegun. Padahal ia sudah menutup bekas tangisan semalam dengan riasan cukup tebal, tapi tampaknya mata Ethan terlalu jeli untuk tertipu. “Malamku berakhir berantakan lagi,” lirih Isabella, meletakkan sulamannya dan beranjak ke meja. “Duduklah.” Ethan menuruti perintah itu. “Bukankah kemarin sudah teratasi?” tanyanya ragu. Isabella menatap kosong pada permukaan teh. “Kupikir begitu... tapi ternyata belum.” Ethan menarik napas pelan. “Kalau begitu, kita perlu memastikan. Mungkin Anda belum benar-benar sembuh.” Isabella menuangkan teh ke dalam cangkir dan menyodorkannya padanya. “Bagaimana bisa begitu?” “Cairan yang saya berikan kemarin bukan obat penyembuh, Permaisuri. Itu hanya untuk memastikan apakah penyebabnya penyakit... atau kutukan.” Ethan berhenti sejenak, menatap dalam wajah Isabella yang murung. Deg. Tanpa aba-aba, ia menggenggam tangan Isabella. Gerakan itu spontan, membuat Isabella tersentak dan segera menarik tangannya. “Apa yang kau lakukan, Ethan?” serunya kaget. Ethan tak menjawab. Matanya memandangi tangan Isabella, lalu menatap wajahnya lagi. Tidak ada perubahan warna. Tidak ada rasa sakit. “Lihat, Anda baik-baik saja, Permaisuri.” Isabella menatap kulitnya, tak percaya. “Tapi... semalam aku kembali membiru! Aku merasakannya sendiri!” Ethan mengerutkan dahi. “Aneh...” gumamnya pelan. Ia menyesap teh, pikirannya berputar cepat. Jika bukan penyakit, dan efek itu tak muncul padanya — berarti hanya terjadi saat disentuh Kaisar? “Bagaimana kalau kita mencoba sesuatu yang lain?” katanya akhirnya. Isabella menatap curiga. “Maksudmu, membiarkan semua pria menyentuhku begitu saja?” Ethan menggeleng cepat. “Tidak, Permaisuri. Cukup satu orang saja. Kita perlu tahu pasti apa yang terjadi pada tubuh Anda.” Isabella terdiam lama. Meski tersinggung, logika Ethan masuk akal. Reaksi itu memang hanya muncul saat bersama Kaisar — atau, jangan-jangan... tubuhnya hanya bereaksi berbeda pada Ethan? “Lusi!” panggilnya lantang. “Ya, Yang Mulia?” sahut dayangnya dari balik pintu. “Beritahu Ibu Suri, aku membutuhkan seorang pria untuk percobaan.” Lusi terkejut sejenak, tapi kemudian menunduk patuh dan berlalu. Isabella tahu, percobaan ini harus dilakukan dengan rahasia penuh. “Untuk sementara, nikmatilah camilan itu,” ujar Isabella datar, mencoba menenangkan suasana yang mendadak canggung. --- Tak lama kemudian, Lusi kembali bersama Ibu Suri dan dua orang lainnya — bibi dayang tua dan seorang pengawal dari kediaman sang Ratu Ibu. Ethan berdiri dan menunduk sopan. “Yang Mulia, mohon maaf, bisakah Anda meninggalkan kami sebentar? Pengobatan ini lebih baik dilakukan tanpa banyak orang.” “Aku ingin tahu hasilnya,” sahut Ibu Suri hati-hati. “Saya akan melaporkan hasilnya nanti. Tapi proses ini akan terasa canggung bila disaksikan banyak mata.” Ibu Suri berpikir sejenak, lalu mengangguk dan keluar bersama Lusi serta dayang tua itu. Kini, hanya mereka bertiga yang tersisa di kamar: Isabella, Ethan, dan sang pengawal. “Permaisuri, silakan sodorkan tangan Anda,” ucap Ethan. Isabella mengulurkan tangannya perlahan. Ethan lalu menatap pengawal itu. “Cobalah sentuh tangan Permaisuri.” Pengawal menelan ludah, jelas gugup. “Julurkan tanganmu... dan tundukkan pandanganmu,” titah Isabella tegas. Dengan ragu, pengawal menunduk, memejamkan mata, lalu menyentuhkan ujung jemarinya ke tangan sang Permaisuri. Sekejap, tubuh Isabella menegang. Napasnya memburu, dadanya mulai sesak. Ia menahan diri sejenak, lalu menepis tangan kasar itu sebelum rasa sakit semakin parah. “Pergilah. Jangan menoleh ke arah Permaisuri,” perintah Ethan cepat. Pengawal segera bergegas keluar, meninggalkan keheningan tegang. Ethan mendekat, menatap wajah Isabella yang kini pucat dan menggigil. Tanpa pikir panjang, ia memegang kedua bahu wanita itu. “Permaisuri, buka mata Anda. Tatap saya,” suaranya tegas namun lembut. Isabella membuka mata perlahan, tubuhnya masih gemetar. “Sakit...,” lirihnya. “Tenanglah... tenangkan diri Anda, Permaisuri. Saya di sini. Anda tidak sendiri,” ucap Ethan, matanya memancarkan ketulusan yang sulit dipungkiri. Isabella menatap wajahnya. Di balik pandangan teduh itu, ia merasakan sesuatu yang lain — bukan sekadar belas kasih, tapi empati yang dalam. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah. “Bukankah aku menjijikkan, Ethan?” suaranya pecah, nyaris tak terdengar. Dada Ethan bergemuruh. Ia tidak tahu kenapa, tapi hatinya perih mendengar kalimat itu. Spontan, ia menarik Isabella ke dalam pelukannya. “Kau tidak menjijikkan. Kau akan baik-baik saja. Aku berjanji akan menyembuhkanmu.” Pelukannya kuat, namun penuh kehati-hatian. “Tenanglah... tenanglah, Permaisuri,” bisiknya lembut. Aroma mint dari tubuh Ethan menguar, menenangkan pikiran Isabella. Perlahan, rasa sesak di dadanya mereda, warna biru di kulitnya pun menghilang. Ketika kesadarannya pulih, ia baru menyadari dirinya masih dalam pelukan pria asing itu. Tapi tenaganya sudah terkuras, membuatnya tak kuasa menolak. “Permaisuri...” suara Ethan pelan, menatapnya dengan cemas. Ia melepaskan pelukan, lalu menatap mata Isabella. Hembusan napasnya yang hangat menyapu wajah sang Permaisuri. “Syukurlah... kau baik-baik saja,” ucapnya tulus. Isabella terpaku. Dada yang tadi sakit kini berganti dengan debar aneh yang tak bisa dijelaskan. “Lelaki ini... kenapa memperlakukanku begitu lembut?” batinnya menjerit. Dalam hatinya, Isabella tahu kedekatan ini tidak pantas. Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ia tak bisa membohongi diri—bahwa pelukan itu membuatnya merasa dihargai, diterima, bahkan... dicintai. “Ethan...” “Kenapa bukan Kaisar yang seperti itu?”Lapangan militer Kekaisaran dipenuhi derap langkah para ksatria sejak fajar menyingsing. Debu beterbangan, bendera kekaisaran berkibar tinggi, dan sorak sorai prajurit yang berkumpul menciptakan atmosfer tegang namun membara. Hari ini bukan hari biasa—hari ini adalah seleksi jenderal.Sepuluh kandidat berdiri berjajar di tengah arena. Mereka adalah para ksatria terbaik dari berbagai wilayah, masing-masing membawa reputasi, luka pertempuran, dan ambisi yang tersembunyi di balik wajah dingin.Di antara mereka, Maxime Sun Astrum berdiri tegak, bahunya lurus, tatapannya lurus ke depan. Baju zirah peraknya sederhana, tanpa hiasan berlebihan—berbeda dengan beberapa kandidat lain yang sengaja menampilkan lambang kehormatan mereka.Namun justru kesederhanaan itulah yang membuatnya menonjol.“Semua kandidat harap bersiap!”Suara komandan arena menggema.Di tribun kehormatan, Julius duduk di singgasananya, mengenakan jubah kebesaran. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya tajam saat menata
Maxime Sun Astrum, putra sulung dari Grand Duke William Astrum—kakak kandung Isabella—adalah seorang ksatria Kekaisaran yang kini bertugas di wilayah perbatasan. Usianya baru menginjak dua puluh lima tahun, namun pengalamannya di medan tempur telah membentuknya menjadi sosok yang disegani.Seharusnya, Maxime telah menggantikan posisi ayahnya sebagai Duke di wilayah Eve East. Namun takdir membawanya memilih jalan lain. Selama Isabella berada di istana sebagai permaisuri, Maxime merasa tanggung jawabnya belum selesai. Ia ingin meraih jabatan jenderal—jabatan yang akan menempatkannya di pusat kekuasaan, dekat dengan adiknya, sekaligus mengamankan posisi Isabella dari segala ancaman.Lagipula, Grand Duke William masih cukup muda dan mampu menangani urusan wilayah seorang diri. Terlebih lagi, putra bungsunya telah berusia lima belas tahun dan menempuh pendidikan di Academy. Kelak, dialah yang akan meneruskan kekuasaan keluarga Astrum di Eve East.Kesempatan kali ini tak boleh disia-siakan.
Vena kembali ke Paviliun Senja dengan tubuh gemetar. Setiap langkahnya terasa berat, seolah lantai marmer yang dingin ikut menekan jantungnya. Ia tahu, Ivony pasti akan murka jika mengetahui kaisar lebih memilih menetap bersama Selir Imelda daripada menemuinya.Begitu pintu paviliun terbuka, Ivony sudah berdiri menunggu, wajahnya dihiasi senyum penuh harap yang rapuh.“Mana kaisar?” tanya Ivony, suaranya dibuat selembut mungkin, meski sorot matanya tak bisa menyembunyikan kegelisahan.Vena menunduk, jemarinya saling menggenggam kuat. Ia tak berani berucap sepatah kata pun. Sikap itu justru membuat ekspresi Ivony perlahan mengeras, senyumnya memudar, digantikan tatapan tajam yang menusuk.“Cepat katakan, di mana kaisar!” bentak Ivony, nada suaranya meninggi.Vena spontan bersujud, dahinya menyentuh lantai.“Ampun, Selir Agung. Yang Mulia Kaisar memerintahkan tabib untuk memeriksa Anda. Beliau tidak mau meninggalkan Paviliun Bulan,” papar Vena dengan suara bergetar, rasa takut jelas ter
“Yang Mulia Kaisar tiba….”Suara pengumuman terdengar lirih namun jelas.Julius melangkah memasuki kamar Selir Imelda di Paviliun Bulan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, tirai tipis bergoyang perlahan tertiup angin malam. Aroma wangi yang lembut namun hangat segera menyergap indra penciumannya.Imelda telah menunggu.Ia berdiri anggun di dekat ranjang, mengenakan gaun tidur tipis berwarna gading yang jatuh mengikuti lekuk tubuhnya. Rambutnya terurai rapi, bibirnya dihias senyum lembut yang sengaja dibuat menggoda. Para pelayan yang sebelumnya mendampingi segera menunduk dan keluar, menutup pintu rapat, meninggalkan Imelda dan Julius berdua.“Kaisar…” panggil Imelda lirih.Ia melangkah mendekat, tangannya terulur membuka jubah kebesaran yang dikenakan Julius. Dengan gerakan halus, Imelda memapahnya ke tepi ranjang. Kehangatan tubuhnya dan aroma wewangian yang dipakainya menciptakan sensasi aneh—menenangkan sekaligus membakar.Imelda tersenyum samar.Ia memang sengaja memilih
Desa Kraven diliputi kabut tipis sejak pagi.Bangunan-bangunan kayu yang rusak tampak muram. Atap-atap roboh, papan-papan patah berserakan, menyisakan rangka-rangka rapuh sebagai saksi bisu longsor yang belum lama terjadi. Tanah berlumpur, jerami basah menempel di telapak kaki, dan bau lembap bercampur getir penderitaan menyelimuti udara.Para penduduk berdiri berjejer di sisi jalan utama.Wajah-wajah mereka letih, mata cekung, pakaian lusuh menempel di tubuh kurus. Anak-anak digendong erat, para lansia bersandar pada tongkat rapuh yang nyaris tak mampu menopang tubuh renta mereka. Tak ada sorak. Tak ada sambutan meriah.Tak ada harapan besar.Mereka sudah terlalu sering berharap—dan terlalu sering kecewa.Namun pagi itu terasa berbeda.Derap kaki kuda menggema dari kejauhan, memecah kesunyian desa. Perlahan, barisan prajurit bersenjata lengkap memasuki Kraven dengan langkah tertib dan teratur. Bendera Eve East berkibar anggun di udara, biru keperakan, bersih, dan tegas—kontras dengan
Aula Paviliun Mentari pagi itu dipenuhi cahaya keemasan. Tirai tipis bergoyang pelan, membiaskan sinar matahari ke lantai marmer yang berkilau. Para selir telah berkumpul, duduk anggun sesuai kedudukan masing-masing.Sejak awal, Selir Agung Ivony tak melepaskan pandangannya dari Isabella.Tatapan itu tajam, dingin, dan sarat kecemburuan.Meski tak terang-terangan, Isabella merasakannya jelas. Dari ekor matanya, ia menangkap kilat amarah yang berusaha disembunyikan Ivony di balik senyum bangsawan. Diam-diam, Isabella mengulas seringai tipis—halus, nyaris tak terlihat.“Bagaimana malammu, Selir Imelda?” tanya Isabella ringan, seolah tak terjadi apa-apa.Selir Imelda tersentak kecil, lalu tersenyum tersipu. Wajahnya merona, matanya berbinar.“Terima kasih atas bantuan Anda, Yang Mulia,” ucapnya dengan nada hormat.Ivony langsung menoleh. Ada sesuatu dalam sorot matanya—tajam, menguji. Seolah ia ingin menguliti setiap kata yang keluar dari mulut Imelda.D







