共有

Di Bawah Jemarinya yang Panas
Di Bawah Jemarinya yang Panas
作者: Liam

Bab 1

作者: Liam
"Kumohon, jangan .... Ini studio tari!"

Aku didorong ke cermin oleh pemilik klub, dan memohon dengan malu.

Dia terkekeh pelan. Hembusan napas panasnya menyembur ke telingaku.

"Apa yang kamu takutkan? Aku hanya mengajarimu cara melenturkan ... persendian terdalam di tubuhmu."

Namaku Natasha Juanda, lulusan akademi tari yang bekerja sebagai pelatih magang di Platinum Fitness, klub kebugaran paling bergengsi di kota ini.

Bisa terus bekerja di sini dan menjadi karyawan tetap merupakan impian terbesarku saat ini.

Jadi, ketika rekan-rekanku pulang setelah jam kerja usai, aku selalu tinggal sendirian di studio tari untuk berlatih.

Begitu juga dengan malam ini.

Studio tari yang luas itu hanya memiliki beberapa lampu penerangan, dengan keempat sisinya berupa cermin halus, yang memantulkan bayanganku berkali-kali.

Aku hanya mengenakan leotard berwarna merah muda pucat tanpa lengan yang ketat membalut tubuhku yang agak berisi, dan kakiku yang panjang terbalut stoking tari hitam yang memanjang hingga ujung jari kakiku.

Agar lebih leluasa bergerak, aku hanya mengenakan celana dalam thong yang sangat tipis di bawah pakaian latihanku.

Sembari mendengarkan musik yang menenangkan, aku melakukan berbagai gerakan peregangan. Keringat dengan cepat membasahi punggungku, dan lekuk tubuhku makin terlihat jelas di balik kain yang ketat.

Aku menatap diriku di cermin dan melakukan gerakan split yang sempurna. Kakiku terentang lurus, dan tubuh bagian atasku perlahan turun, dadaku hampir menyentuh lantai.

Ini adalah gerakan yang menunjukkan kelenturan maksimal seorang penari, dan ini juga hal yang paling kubanggakan.

Saat aku sedang menikmati kepuasan karena berhasil mengendalikan tubuhku, sebuah suara laki-laki yang dingin tetapi memikat tiba-tiba terdengar dari ambang pintu.

"Posturnya bagus, tapi sayangnya, kekuatan otot intinya masih lemah."

Aku begitu terkejut hingga seluruh tubuhku gemetar, lalu spontan mendongak.

Entah sejak kapan, seorang pria telah berdiri di ambang pintu. Pria itu berperawakan tinggi, mengenakan setelan olahraga hitam yang pas di badannya dengan resleting terbuka, memperlihatkan kaus abu-abu ketat di bawahnya yang menonjolkan bahu lebar dan dada berototnya.

Karena pencahayaannya redup, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tetapi aura intimidasi yang kuat membuatku langsung mengenalinya.

Vincent Sanjaya.

Pemilik misterius klub ini dan juga pria yang kehadirannya kerap dianggap tidak nyata.

Aku sudah bekerja selama tiga bulan, dan hanya pernah melihatnya sekali dari jauh, di sebuah rapat karyawan. Dia duduk di tengah panggung, memancarkan aura yang mengesankan, bak seorang raja.

Mengapa dia ada di sini?

Aku berusaha keras untuk bangkit dari lantai, tetapi karena gerakanku terlalu besar, otot-ototku tiba-tiba berkedut, dan rasa sakit itu membuatku terengah-engah.

"Jangan bergerak." Vincent berjalan mendekatiku hanya dengan beberapa langkah panjang, lalu menatapku dari atas.

Bayangannya sepenuhnya menyelimutiku. Aroma maskulin yang menyenangkan dengan sedikit sentuhan seperti aroma kayu cedar, tercium ke arahku.

Aku benar-benar sangat malu. Kondisiku masih dalam posisi split, kakiku terbuka lebar, dengan bagian pribadiku menghadap ke arahnya. Meskipun pakaian latihanku menutupi tubuhku, lapisan kain tipis itu praktis tidak berguna saat ini. Garis-garis yang kencang itu malah menonjolkan bentuk bagian pribadiku.

Aku merasa tatapannya seperti pisau hangat, menggoresku inci demi inci.

"Pak ... Pak Vincent." Suaraku bergetar karena gugup, dan pipiku terasa sangat panas bagai bara api yang tertiup angin.

Dia tidak menjawab, tetapi berjongkok, menyejajarkan matanya dengan mataku.

Kini, akhirnya aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia sangat tampan, dengan alis yang tegas, mata yang cerah, hidung mancung, dan bibir tipis yang terkatup rapat, memancarkan aura dingin yang membuat orang asing menjauh.

Dia lebih muda dari yang kubayangkan, mungkin sekitar awal tiga puluhan, usia di mana seorang pria paling menawan.

"Siapa namamu?" tanyanya dengan suara sedalam suara cello.

"Na ... Natasha Juanda."

"Pekerja magang?"

"Ya."

Dia mengangguk, pandangannya tertuju pada pahaku yang tegang, lalu tiba-tiba mengulurkan tangan dan memijatnya dengan ringan.

"Ah!" seruku. Tubuhku tersentak mundur seolah-olah tersengat listrik.

Kulit yang disentuhnya terasa terbakar.

Telapak tangannya lebar dan hangat, dengan kapalan di ujung jarinya karena bertahun-tahun berolahraga. Melalui stoking tari yang tipis, tekstur kasarnya terlihat sangat jelas dan menakutkan, seolah-olah bisa tercetak langsung di kulitku.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 14

    "Sudah, kamu boleh keluar sekarang," kata Vincent kepada Pengacara Arvin.Pengacara Arvin mengangguk, mengambil dokumen-dokumen itu, lalu keluar.Sekali lagi, hanya kami berdua yang tersisa di kantor.Suasana seketika menjadi ambigu.Vincent berjalan mendekatiku, mengulurkan tangan, dan dengan lembut mengusap pipiku."Kalau begitu, Pelatih Natasha." Dia sengaja menekankan kata 'pelatih'. "Sekarang, bisakah kamu mulai 'pekerjaanmu'?"Jantungku berdebar kencang, dan secara naluriah mundur selangkah."Sekarang? Di ... di sini?""Kalau nggak?" balasnya. "Apa kantorku nggak cukup untuk kamu gunakan?"Sambil berbicara, dia mengangkatku dan menempatkanku di atas meja besar itu."Ah!"Aku tersentak dan refleks mengulurkan tangan untuk memeluk lehernya.Dalam posisi ini, aku duduk di atas meja, sementara dia berdiri di depanku.Garis pandangku tepat sejajar dengan garis pandangnya.Dia menopang tubuhnya di atas meja dengan kedua tangan, menjebakku dalam pelukannya."Katakan padaku, kamu ingin a

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 13

    Pihak Pertama perlu membayar Pihak Kedua 'gaji' sebesar satu miliar per bulan.Satu miliar!Di sepanjang hidupku, aku bahkan belum pernah melihat uang sebanyak 100 juta.Dia justru memberiku gaji sebanyak satu miliar sebagai tunjangan bulanan.Ironis sekali."Bagaimana?" Vincent menatapku, ada sedikit nada mengejek dalam suaranya. "Harga ini cukup untuk membeli 'jasamu', 'kan?"Saat melihat kontrak itu, aku merasakan berbagai macam emosi.Kemarahan, penghinaan, ketidakengganan ....Dan juga ada sedikit rasa tergoda, yang bahkan tidak berani kuakui sendiri.Satu miliar per bulan? Aku tidak akan pernah bisa menghasilkan uang sebanyak itu dalam hidupku.Dengan uang ini, aku bisa membeli rumah yang lebih besar untuk orang tuaku di kampung, membayar biaya kuliah adik laki-lakiku, juga ....Hidupku akan berubah total.Namun, harga yang harus kubayar adalah menjual tubuh dan harga diriku.Apa itu layak?Aku tidak tahu.Yang kutahu hanyalah pria ini telah mendorong hidupku ke ambang jurang.Ma

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 12

    "Ada masalah apa?" tanyanya. Nadanya dingin, seolah-olah sedang berbicara dengan orang asing.Aku sangat marah sampai sekujur tubuhku gemetaran.Aku berjalan ke depan mejanya, meletakkan tanganku di permukaan meja, dan mencondongkan tubuh untuk menatapnya."Vincent, apa maksudmu?""Apa maksudku?" tanyanya, berpura-pura tidak tahu."Kenapa memecatku?" tanyaku dengan nada menuntut."Oh, itu?" katanya dengan santai. "Menurutku, kemampuanmu nggak memenuhi persyaratan perusahaan kami.""Kemampuan?" Aku tertawa kesal. "Kemampuan profesionalku adalah yang terbaik di antara semua pekerja magang! Kamu bilang aku nggak memenuhi persyaratan?""Yang kubicarakan adalah aspek lain." Dia menatapku, senyum mengejek tersungging di bibirnya. "Sebagai pekerja di industri jasa, kalau kamu bahkan nggak punya kesadaran dasar tentang 'menyenangkan' pelanggan, katakan padaku, apa gunanya mempertahankanmu?""Kamu!"Kata-katanya bagaikan pisau beracun, menusuk di hatiku.Ternyata, baginya, aku bahkan bukan seor

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 11

    Saat ini, aku tidak bisa menahan diri lagi dan menangis tersedu-sedu.Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Sampai suaraku menjadi serak, aku baru berhenti.Aku menyeret tubuhku yang kelelahan, mandi, dan berganti pakaian.Saat aku keluar dari ruang ganti, seluruh lantai masih kosong.Suasana di sekitar kolam renang juga tenang.Dia sudah pergi.Bagus juga.Aku terkekeh sendiri dan masuk ke dalam lift.Aku tidak masuk kerja keesokan harinya.Aku mengirim pesan kepada atasanku untuk mengatakan bahwa aku tidak enak badan dan perlu mengambil cuti beberapa hari.Kemudian, aku mengunci diri di kamar kost-ku dan tidur selama dua hari berturut-turut.Aku mencoba melupakan semua yang terjadi malam itu dengan tidur, berusaha melupakan pria bernama Vincent itu.Namun, aku tidak bisa melakukannya.Begitu memejamkan mata, yang terbayang adalah dirinya yang 'membimbingku' di studio tari dengan telapak tangannya yang panas.Di adegan kolam renang itu, dia menggunakan ciuman yang mendominasi dan t

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 10

    Astaga ....Ini ....Sebelum aku sempat pulih dari keterkejutan, dia meraih tanganku, melingkarkannya di benda besar itu, dan mulai menggerakkannya perlahan ke atas dan ke bawah."Kamu suka 'peralatan latihanku' nggak?" tanyanya sambil tertawa kecil. "Ini disiapkan khusus untukmu."Wajahku terasa sangat panas, seperti hampir berdarah.Aku tidak bisa membayangkan akan jadi seperti apa jika benda ini benar-benar masuk ke dalam tubuhku.Saat aku sedang melamun, dia tiba-tiba dia meraih pinggangku dan mengangkatku dengan paksa!Aku tersentak kaget, tubuhku terangkat ke atas tanpa terkendali.Dan benda besar itu, memanfaatkan situasi tersebut, menempel erat pada bagian terlembut dan paling basah dari lubang masukku.Tinggal sedikit lagi ....Tinggal sedikit lagi akan masuk!"Jangan!"Akhirnya aku kembali sadar sepenuhnya setelah kenikmatan yang luar biasa itu dan berteriak ketakutan.Kami belum mengambil tindakan pencegahan apa pun, dan ... dan aku bahkan tidak tahu orang seperti apa dia!A

  • Di Bawah Jemarinya yang Panas   Bab 9

    Aku terpaksa mendongak dan menahan serangan brutalnya.Tangannya yang satunya lagi pun tidak tinggal diam.Tangan besar itu menelusuri perutku yang rata dan masuk ke dalam air.Kemudian, dengan tepat menemukan tepi baju renangku.Jari-jarinya yang ramping dengan mudah menyingkirkan kain tipis itu dan menyelip ke dalamnya."!"Kontras antara ujung jari yang dingin dan area sensitif yang sangat panas membuatku merinding.Secara naluriah aku ingin mencoba merapatkan kakiku, tetapi kakiku masih bertumpu di pundaknya, dan aku tidak bisa menggerakkannya sama sekali.Aku hanya bisa menyaksikan tanpa daya saat dia melakukan apa pun yang dia inginkan padaku.Jari-jarinya begitu terampil.Dia tidak terburu-buru untuk masuk lebih dalam, tetapi dengan lembut memijat dan memainkan bagian luarnya.Setiap sentuhan tepat mengenai titik paling sensitifku.Dia sudah hampir membuatku gila.Panas di dalam tubuhku makin kuat, nyaris menelanku hidup-hidup."Mau?" tanyanya dengan suara serak, menggigit bibir

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status