Short
Pengobatan Rahasia Si Perawat

Pengobatan Rahasia Si Perawat

By:  LiamKumpleto
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
13Mga Kabanata
7views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

Saat bersembunyi di sudut ruangan sambil gemetaran karena kecanduan seks, tak disangka aku malah berpapasan dengan dokter yang paling membenciku. Pria yang biasanya tenang dan pendiam itu menatapku yang sedang dalam kondisi malang tanpa mengatakan apapun. Dia hanya diam-diam menutup pintu, lalu mendekat dan kedua tangannya yang cekatan, menyentuh tubuhku perlahan. “Bagian sini yang nggak nyaman? Bukan… sepertinya bukan bagian ini.” Dia menjelajahi tubuhku layaknya sedang meneliti sebuah penyakit. Jari-jarinya menari di area-area sensitifku, perlahan-lahan mendekati bagian paling berbahaya. Sementara itu, aku sama sekali tak bisa mengendalikan diri akibat sentuhannya. Kewarasan dan pikiranku perlahan runtuh, aku hanya bisa pasrah menyaksikan diriku semakin tenggelam ke dalam jurang hasrat….

view more

Kabanata 1

Bab 1

“Jangan gerak, biar kuperiksa.”

Di koridor yang sepi larut malam itu, suara kepala departemen, si Rian terdengar sangat dingin dan akurat bagaikan pisau bedah yang membelah keheningan.

Namaku Silvia, seorang perawat magang di Rumah Sakit Universitas Amarta. Tiga bulan lagi, nasibku akan ditentukan, apakah akan dipertahankan atau dipecat.

Dan aku menyimpan sebuah rahasia yang terlalu memalukan untuk diceritakan.

Aku mengidap kelainan saraf tepi yang langka. Setiap bulan selalu ada beberapa hari di mana tubuhku terasa seperti mengalami korslet. Dari tulang ekor, aliran listrik halus menjalar ke seluruh tubuh dalam sekejap.

Perasaan itu bukan rasa sakit, melainkan sensasi geli dan kebas yang membuat tubuh merinding, bahkan sela-sela tulangku pun ikut terasa geli.

Agar tidak ada yang menyadari keanehanku, setiap kali gejala itu kambuh, aku akan bersembunyi di gudang penyimpanan paling terpencil.

Aku akan menekan tubuhku kuat-kuat ke lemari besi yang dingin, menggunakan rasa sakit untuk menahan getaran hebat yang menyiksa itu.

Namun hari ini, Rian malah memergokiku.

Dia baru saja menyelesaikan operasi yang berlangsung selama sepuluh jam. Meski tampak lelah, tatapannya masih setajam elang.

Saat itu, aku sedang meringkuk di sudut ruangan. Karena posisiku yang membungkuk, ujung rok seragam perawatku tersingkap hingga ke pangkal paha. Kedua kakiku yang dibalut stoking putih bergetar pelan tanpa bisa kukendalikan.

Aku mengira dia akan memarahiku karena bermalas-malasan.

Namun, ternyata tidak.

Dia hanya menatapku beberapa detik, lalu menutup pintu gudang, mengunci dunia luar di balik pintu.

Di ruang yang sempit itu, hanya tersisa suara napas kami yang terdengar semakin jelas dan aroma samar cairan disinfektan dari tubuhnya, serta aroma maskulin pria yang terasa asing, tapi sangat dominan.

“Kakimu kram?” tanyanya sambil melangkah mendekat. Sosoknya yang tinggi langsung mengurungku.

Aku menggigit bibir bawah dan tak berani mengangkat kepala. Aku hanya bisa mengangguk asal.

“Kaki yang mana?” Dia membungkuk, hembusan napas hangatnya terasa di atas kepalaku.

Tubuhku kaku seperti batu.

Sensasi kebas yang mengganggu itu kembali menjalar dari tulang belakang. Aku mencengkeram telapak tanganku sendiri erat-erat, berharap rasa sakit bisa mengalahkan semuanya.

Namun, tangannya sudah lebih dulu mendarat di pergelangan kaki kananku yang bergetar paling hebat.

Meski terhalang lapisan stoking yang tipis, kehangatan telapak tangannya terasa begitu jelas.

“Yang ini?”

Jarinya bergerak perlahan mengikuti lekuk betisku.

Itu bukan sentuhan genit, melainkan pemeriksaan profesional yang menekan otot dan urat dengan gerakan yang akurat.

Setiap tekanan terasa seperti menekan sakelar di sistem sarafku.

Tubuhku bergetar hebat dan sebuah erangan tertahan nyaris lolos dari tenggorokanku.

“Hm….”

Detak jantungku melewatkan satu ketukan.

Dia tahu.

Dia pasti menyadari sesuatu.

Aku mencoba menarik kakiku dengan panik, tapi dia malah menggenggamnya lebih kuat. Tangannya seperti penjepit besi yang mengunci pergelangan kakiku, tak memberiku ruang untuk bergerak.

“Jangan tegang,” katanya, seolah menyadari ketakutanku. Nada suaranya agak melunak, tapi tangannya sama sekali tak melepaskan genggamannya, “Aku hanya seorang dokter.”

Iya, dia itu dokter.

Kepala departemen dokter termuda dan paling berwibawa di departemen bedah jantung, sekaligus atasan yang bisa menentukan nasibku.

Sedangkan diriku hanyalah seorang peserta magang biasa yang bisa digantikan kapan saja.

Apapun yang ingin dia lakukan padaku, rasanya diriku tak punya banyak ruang untuk menolak.

Di tengah rasa takut dan malu, muncul pula secercah harapan yang aneh.

Aku ingin dia melanjutkan pemeriksaannya.

Aku ingin dia menggunakan tangan yang biasa memegang pisau bedah itu untuk mengungkap rahasia tubuhku dan mencari tahu dari mana sebenarnya asal sensasi aneh yang selama ini menghantuiku.

Seolah mendengar isi hatiku, jarinya kembali bergerak.

Kali ini, dia tak melanjutkan ke atas betis, melainkan meraba bagian belakang lututku, area lipatan dalam yang lembut dan sensitif.

“Sshhh….”

Aku menarik napas dalam-dalam, seluruh kakiku terasa lemas.

Di sanalah tempat berkumpulnya jaringan saraf yang paling padat. Biasanya, sentuhan ringan saja akan membuat aku merinding.

Saat ini, ujung jari Rian sedang membuat gerakan melingkar perlahan di sana dengan tekanan yang pas, tidak kuat dan tidak lembut.

“Bagaimana rasanya di sini?” Suaranya terdengar sangat dekat di telingaku, hembusan napas hangatnya membuat daun telingaku terasa geli.

Apa yang harus kujawab?

Haruskah aku bilang kalau diriku hampir meleleh? Haruskah aku bilang kalau aliran listrik di tubuhku telah berubah menjadi lautan yang siap menenggelamkanku?

Aku hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat, menelan kembali semua desahan.

Namun, tubuhku malah mengkhianatiku.

Sudah terjadi perubahan di balik rok perawat yang kupakai. Celana dalam thong tipis itu hampir basah kuyup karena cairan yang membanjir.

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
13 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status