Mag-log inSaat bersembunyi di sudut ruangan sambil gemetaran karena kecanduan seks, tak disangka aku malah berpapasan dengan dokter yang paling membenciku. Pria yang biasanya tenang dan pendiam itu menatapku yang sedang dalam kondisi malang tanpa mengatakan apapun. Dia hanya diam-diam menutup pintu, lalu mendekat dan kedua tangannya yang cekatan, menyentuh tubuhku perlahan. “Bagian sini yang nggak nyaman? Bukan… sepertinya bukan bagian ini.” Dia menjelajahi tubuhku layaknya sedang meneliti sebuah penyakit. Jari-jarinya menari di area-area sensitifku, perlahan-lahan mendekati bagian paling berbahaya. Sementara itu, aku sama sekali tak bisa mengendalikan diri akibat sentuhannya. Kewarasan dan pikiranku perlahan runtuh, aku hanya bisa pasrah menyaksikan diriku semakin tenggelam ke dalam jurang hasrat….
view moreKarena jasanya yang besar dalam membongkar kasus ini, ditambah dengan kemampuannya yang memang luar biasa, Rian pun naik jabatan dengan sangat mulus menjadi wakil direktur rumah sakit termuda.Dia membeli rumah, mobil dan memberikan segala kemewahan materi yang diimpikan oleh semua wanita untukku.Dia memperlakukanku dengan sangat baik, bahkan sangking baiknya hingga tak ada celah untuk dikritik.Dia selalu ingat siklus menstruasiku dan akan menyiapkan wedang jahe hangat untukku. Dia menemaniku belanja, menungguku dengan sabar saat diriku mencoba satu demi satu bajuku. Dia bahkan mau turun tangan untuk memasakkan iga asam manis, makanan kesukaanku.Semua orang iri padaku. Mereka bilang aku beruntung bisa mendapatkan pria idaman yang tampan, kaya dan perhatiannya luar biasa.Namun, hanya diriku yang sadar bahwa semua ini hanyalah bentuk tebusan darinya.Dia telah menghancurkan rasa cintaku, jadi mencoba menebusnya dengan materi.Kami hidup layaknya sepasang kekasih yang paling mesra, ti
Begitu turun dari kereta, aku melangkah kembali ke rumah sakit dengan lesu, seperti ayam jago yang kalah bertarung.Rian sudah menungguku di dalam ruang kantornya.Dia duduk di balik meja kerja, menatapku dengan santai seolah sedang melihat seekor burung kenari yang pulang sendiri ke sangkarnya.“Sudah puas mainnya?” tanyanya.Aku tak bersuara, hanya menatapnya lekat-lekat dengan penuh amarah.“Kenapa? Nggak terima?” Dia berdiri, melangkah ke hadapanku, lalu mencengkeram daguku dan melanjutkan, “Kamu pikir aku bakal benar-benar membiarkanmu pergi?”“Rian, sebenarnya apa maumu?” Akhirnya aku tak tahan lagi dan berteriak histeris, “Kamu sudah punya Felly, kok masih nggak mau melepaskanku?”“Siapa yang bilang aku sudah punya Felly?” tanyanya sambil mengangkat alis.“Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri! Kamu memapahnya masuk ke dalam hotel!”“Lalu?” Dia menatapku dengan pandangan gemas dan melanjutkan, “Kamu lihat kami check-in? Atau kamu lihat kami tidur bersama?”Aku langsung terdiam.
Koridor kembali diselimuti keheningan.Rian berbalik dan menatapku dengan tatapan mata yang sulit diartikan.“Mulai sekarang, jauhi dia,” ujarnya.“Kenapa?” tanyaku.“Nggak perlu tanya kenapa.” Rian melepaskan genggaman tangannya, lalu berbalik dan melangkah masuk ke dalam ruang kantornya.Melihat punggungnya yang menjauh, sebuah spekulasi berani mendadak terlintas di benakku.Dia menyuruhku menjauhi Felly bukan karena takut diriku akan mencelakainya.Namun, karena takut Felly akan mencelakaiku.Kesadaran itu bagaikan sebutir batu yang dilempar ke dalam hatiku, menimbulkan riak ombak.Mungkin dia bukan tak punya perasaan sama sekali padaku.Aku pun mulai mencoba untuk mengambil kendali.Aku tak lagi pasif menunggu ‘panggilan’ darinya, melainkan mulai aktif bergerak.Aku mulai membawakannya bekal makan siang masakanku sendiri. Saat dia sedang operasi, aku akan menyiapkan air hangat dan handuk bersih untuknya lebih dulu.Aku bahkan mulai belajar meniru gaya Felly, bersikap manja dan agak
Renda hitam itu membalut tubuhku yang proposional dengan sempurna. Roknya sangat pendek, nyaris tak mampu menutup bokongku, sementara kakiku yang jenjang memantulkan kilau lembut di bawah cahaya lampu.Napas Rian terdengar jelas jadi lebih berat.“Silvia, kamu sudah gila?”“Iya, aku sudah gila.” Aku melangkah ke hadapannya, lalu duduk mengangkang di atas pangkuannya sambil melingkarkan kedua lenganku di lehernya, melanjutkan, “Aku sudah gila karena dirimu.”Aku menunduk, inisiatif mencium bibirnya lebih dulu.Dia tak mendorongku.Tangannya seolah bergerak dengan sendirinya, mulai meraba punggungku yang mulus, lalu terus meluncur turun dan menyusup ke balik renda hitam yang misterius.“Dasar genit,” bisiknya sambil menggigit daun telingaku dengan suara yang sangat serak.“Sudah begitu merindukanku?”“Iya,” jawabku sambil menempelkan tubuh ke dadanya, merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang.“Rindu sampai mau mati rasanya.”“Rian, jangan buang aku.”Ada nada memohon yang terseli
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.