LOGINSaat belajar menyetir dengan ayah sahabatku, dia memintaku duduk di atas pangkuannya. Jalannya bergelombang sehingga aku terombang-ambing di atasnya. Aku bisa merasakan dengan jelas di balik bokongku, ada sesuatu yang keras dan panas, yang menekan bagian bawah tubuhku setiap kali aku bergerak. Ayah sahabatku terus mengelus tubuhku, dengan alasan untuk melatih konsentrasiku. Ketika tangannya masuk ke pakaianku, aku merasakan dengan jelas sensasi basah di bawah sana. Detik itu juga, aku tahu segalanya menjadi di luar kendali.
View MoreKetika kemaluanku terpampang di hadapannya, tubuhku gemetar semakin hebat. Saat dia terkekeh-kekeh dan menerjang ke arahku, dari luar tiba-tiba terdengar keributan. Polisi akhirnya datang.Pria paruh baya yang belum sempat melampiaskan nafsunya itu tampak enggan. Dia meremas tubuhku dengan keras beberapa kali sebelum akhirnya keluar dengan enggan. Begitu pintu mobil dibuka, dia langsung ditahan polisi.Aku mengenakan kembali pakaianku, lalu turun dari mobil dan pergi ke kantor polisi bersama mereka. Setelah diperiksa, dipastikan bahwa aku memang dipaksa.Maxim tidak menyangka aku berani melapor ke polisi. Dia bahkan tidak sempat melakukan persiapan apa pun dan langsung dibawa ke kantor polisi. Video-video itu pun tentu saja belum sempat disebarkan. Ini sudah termasuk keberuntungan di tengah kemalangan.Dengan dorongan dan dukungan dari polisi, para mahasiswi juga akhirnya mengungkapkan fakta bahwa mereka dipaksa. Catatan percakapan dan bukti transfer di ponsel Maxim pun membuktikan kej
Om Maxim menutup pintu mobil. Dua pria itu menekanku ke jok dan ingin merobek pakaianku."Aku sudah lama ingin mencicipimu. Kata Pak Maxim, kamu itu super genit. Temani kami main yang puas ya.""Buset, gede banget. Satu tanganku saja nggak cukup buat megang. Duit yang aku keluarin ini benar-benar sepadan. Aku harus main sampai puas.""Dasar payah. Asal ada duit, perempuan kayak begini mau diapain aja bisa. Lain kali kita bisa lanjut main lagi."Mendengar kata-kata mereka dan merasakan tangan-tangan besar itu bergerak di tubuhku, wajahku langsung berubah.Duit yang dikeluarkan benar-benar sepadan? Mau diapakan saja bisa? Aku tiba-tiba paham. Kursus mengemudi tempat Om Maxim ini mencari uang dengan cara yang tidak benar. Asal bayar, orang-orang ini bisa seenaknya menganiaya para murid perempuan. Kalau begitu, apakah murid lain juga mengalami hal yang sama?Kalau memang begitu, berarti Om Maxim dan mereka memanfaatkan kami untuk mencari uang.Semakin kupikirkan, semakin aku ketakutan. Tub
Aku baru teringat pada mobil-mobil yang kulihat bergoyang itu. Di dalamnya, mungkin kejadiannya memang seperti ini semua.Jangan-jangan mahasiswi lainnya juga .... Begitu memikirkan itu, aku langsung menyesal setengah mati. Akulah yang menyeret mereka semua ke dalam jurang.Karena panik ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, aku mendorong keras instruktur itu dan berlari cepat ke arah kantor. Aku harus mencari Om Maxim dan meminta penjelasan."Om Maxim, bukankah sebelumnya kamu bilang ini demi performa kursus mengemudi? Kenapa semua teman perempuanku malah ...." Kalimat selanjutnya sulit sekali keluar dari mulutku.Mendengar perkataanku, Om Maxim sama sekali tidak tampak bersalah. Dia mengambil gelas air di atas meja, meneguknya, lalu memberi isyarat agar aku mendekat. Aku masih diliputi amarah dan tetap berdiri di tempat.Om Maxim menggeleng, lalu mengeluarkan sebuah amplop tebal dari laci. Dia menghampiriku dan merangkul pinggangku. Amplop itu diselipkannya ke dalam kerah bajuku.Ba
Aku menelepon beberapa teman perempuanku. Begitu mendengar ada diskon, mereka pun setuju untuk belajar.Keesokan hari, aku membawa mereka ke kursus mengemudi. Om Maxim benar-benar memberi mereka diskon, juga mengatur instruktur berpengalaman untuk mereka.Melihatnya, aku merasa lega. Bagaimanapun, aku yang membawa mereka kemari. Kalau hasilnya tidak bagus, aku yang akan merasa tidak enak hati.Setelah mereka pergi, Om Maxim merangkul pinggangku. "Yessy, kangen Om nggak?"Sambil berbicara, tangannya mulai bergerak dengan nakal."Om, jangan begini ...."Kami sedang berada di kantor. Aku takut ada yang masuk, jadi buru-buru mendorongnya.Om Maxim tertawa, lalu berujar, "Ayo, kita pergi belajar nyetir."Dia menarikku ke samping mobil, lagi-lagi menyuruhku duduk di pangkuannya."Om, harus seperti ini cara belajarnya?" Wajahku memerah karena teringat kejadian kemarin. Om Maxim ingin seperti kemarin lagi?Om Maxim merangkul pinggangku secara alami. "Nanti juga terbiasa. Begini baru kamu bisa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.