Share

19. Tidak Senonoh

Author: NARA
last update publish date: 2026-09-17 18:36:31

Belle terus memundurkan langkah, dadanya beredar tidak karuan. Dan tatapannya tidak lepas menatap pada Mattias.

Belle kira ia sudah bisa menjauh dari Mattias, apalagi pria itu tidak mengirim pesan seperti beberapa hari lalu.

Tapi kini Belle bertemu dengan Mattias, dan menjadi sekretaris pria itu. Hal yang tidak pernah Belle bayangkan sebelumnya.

Mattias tersenyum dan beranjak dari duduknya. "Kenapa menjauh, sayang. Mendekatlah," Pinta Mattias, lalu melangkah mendekati Belle.

Belle menggelengkan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    27. Mattias Sialan

    "Tolong sayang, mau ya. Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau," kata Mattias, masih berusaha membujuk Belle agar menerima tawarannya. "Tenang saja, istriku tidak akan tahu."Mattias bahkan berusaha meyakinkan Belle bahwa hubungan mereka bisa dilakukan tanpa diketahui siapa pun. Baginya, uang, kemewahan, dan apa pun yang Belle inginkan bukanlah masalah, karena Mattias hanya ingin Belle.Namun, Belle sama sekali tidak tertarik menanggapi ucapan pria itu.Belle justru memilih turun dari atas ranjang. Tubuhnya memang masih terasa sedikit lemas dan kepalanya masih terasa pusing, tetapi Belle tidak ingin berlama-lama berada di kamar hotel tersebut."Sayang, kamu mau ke mana?" tanya Mattias ketika melihat Belle hendak melangkah pergi.Tangannya segera meraih pergelangan tangan Belle, membuat langkah gadis itu terhenti."Aku harus segera pulang," jawab Belle tanpa menatap ke arah Mattias."Tapi kamu sedang sakit, sayang.""Aku sudah sembuh." Belle berusaha melepaskan tangannya. "Nenek pas

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    26. Main Sendiri

    Setelah minum obat dan juga vitamin yang diberikan Mattias, Belle merasa tubuhnya jauh lebih enak. Demam dan juga pusing perlahan berkurang, meskipun kepalanya masih terasa sedikit berat.Belle membuka matanya perlahan. Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar hotel dengan tatapan kosong. Ia bahkan tidak langsung menyadari berada di mana. Sampai akhirnya ingatannya kembali sedikit demi sedikit.Mattias pria itu yang memberikan obat dan vitamin kepadanya sebelum Belle akhirnya tertidur begitu nyenyak.Belle mengembuskan napas pelan, lalu mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Ia menoleh ke sekeliling kamar hotel yang luas itu.Tidak ada Mattias, Belle langsung merasa sedikit lega. Ia sempat mengira pria itu sudah pergi. Setidaknya, dengan begitu, Belle tidak perlu terus-menerus merasa waspada terhadap pria yang selalu berhasil membuat jantungnya berdetak tidak beraturan.Belle meraih tas miliknya yang berada di meja kecil tepat di samping ranjang. Tangannya segera mencari

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    25. Syarat

    Belle melepaskan diri dari pelukan Mattias, lalu menatap pria itu dengan wajah pucat. Napasnya terasa berat, sementara tubuhnya mulai kehilangan tenaga."Maaf, Pak. Aku akan menarik perkataanku tadi," ujar Belle pelan. Ia benar-benar tidak ingin mengulang malam panas itu bersama Mattias. Baginya, perkataan yang sempat ia ucapkan hanyalah sebuah kesalahan yang tidak seharusnya terjadi.Namun, Mattias tidak langsung menanggapi ucapan Belle. Pria itu justru mengangkat satu tangannya, lalu menyentuh pipi Belle.Belle segera menyingkirkan tangan tersebut dan menjauhkan kepalanya."Sayang, kamu sedang tidak sakit, kan?" tanya Mattias ketika menyadari wajah Belle semakin pucat.Belle tidak menjawab, sebenarnya, sejak berada di dalam mobil menuju hotel, tubuhnya memang terasa tidak enak. Kepalanya pusing dan tubuhnya terasa lemas. Awalnya Belle mengira semua itu terjadi karena rasa takutnya kepada Mattias. Pria itu selalu berhasil membuatnya gugup, bahkan tidak mampu berpikir jernih.Namun, s

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    24. Mengulang Malam Panas Itu

    Senyum Mattias semakin lebar mendengar apa yang Belle katakan. "Oke, sayang," ucapnya ringan.Mattias kemudian meraih salah satu tangan Belle, menggenggamnya dengan lembut, lalu mengecup punggung tangan gadis itu. Ada kepuasan tersendiri yang terlihat jelas dari sorot matanya. Inilah yang sejak tadi ia inginkan, menghabiskan kembali malam bersama Belle, seperti malam panas itu.Sementara itu, dada Belle justru semakin berdebar. Entah mengapa, setelah mendengar tanggapan Mattias, Belle merasa dirinya begitu bodoh karena telah mengatakan bahwa malam ini ia bersedia menemani pria itu dengan imbalan lima ratus juta.Jumlah uang itu memang sangat besar. Bahkan terlalu besar untuk diabaikan.Namun, Belle mulai merasa bahwa uang tersebut tidak sebanding dengan kegelisahan yang sekarang memenuhi dadanya."Yud, pergi ke Hotel X," pinta Mattias kepada sopir pribadinya."Baik, Tuan."Mobil pun terus melaju membelah jalanan sore yang padat. Mattias masih duduk di samping Belle. Satu tangannya mem

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    23. Lima Ratus Juta

    "Kamu harus mengingat, Belle, perintah Pak Mattias adalah mutlak," Erlando kembali mengingatkan Belle dengan nada tegas. "Jadi, jangan membuat Pak Mattias menunggu lama. Atau kamu akan mendapat hukuman."Mendengar kata hukuman, Belle langsung terdiam, karena ia tahu hukuman apa yang akan Mattias berikan padanya.Akhirnya Belle segera beranjak dari tempat duduknya. "Baik, saya akan pulang dengan Pak Mattias," ujar Belle.Erlando menganggukkan kepala, kemudian berbalik dan mulai berjalan meninggalkan ruangan. "Silakan ikuti saya." Perintahnya.Belle pun tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti langkah pria itu. Mereka berjalan menuju lift khusus yang hanya digunakan oleh orang-orang tertentu di gedung tersebut.Sepanjang perjalanan menuju lantai tempat Mattias menunggu, Belle hanya diam. Ia bahkan sesekali menarik napas panjang, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Mattias tidak akan melakukan apapun padanya.Begitu keluar dari lift, Belle langsung melihat sebuah mobil hitam m

  • Di Bawah Kendali Sugar Daddy    22. Memuaskan Hasratnya

    "Matt, siapa dia?" tanya orang yang menghampiri meja dimana Mattias dan juga Belle berada, lalu menunjuk ke arah Belle.Belle menatap wanita cantik dengan pakaian formal yang baru saja mendatangi mejanya. Terlihat dari pakaian, riasan, tas, dan aksesorisnya, menandakan wanita tersebut bukan wanita sembarangan."Aku belum memberitahu kamu, dia sekretaris baruku." Mattias menjawab, tanpa menoleh pada wanita itu, ia justru menatap pada Belle."Tumben, kamu milih sekretaris yang masih muda." wanita itu bicara lagi, lalu menarik kursi dan duduk tepat di samping Mattias.Mattias tidak menimpali. "Kenapa kamu datang kesini?" tanyanya."Ada yang harus kita bicarakan, ini sangat penting.""Kita bisa bicara nanti, Selin. Aku sedang makan siang," ujar Mattias menyebut nama istrinya tersebut."Aku tidak bisa menunda.""Tapi aku tidak ingin di ganggu, apa kamu mengerti?" Mattias akhirnya menatap pada Selin. "Sejak kapan kamu merasa di ganggu saat makan siang dan aku ingin bicara?" tanya Selin, la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status