Share

121. Orang Baru

Penulis: Keke Chris
last update Tanggal publikasi: 2025-12-16 17:48:28

[Maaf mengganggu, Binar. Tapi aku rasa kamu berhak tahu. Bhaga ada di sini, bersamaku. Dia butuh seseorang malam ini, dan tampaknya... bukan kamu.]

Pesan itu masuk ke ponsel Binar dengan sebuah foto, diambil dari sudut yang jelas menunjukkan Selene dan Bhaga berbaring di atas bantal yang sama, tanpa busana.

Dengan sedikit gemetar, Binar menekan tombol telepon dan benar, suara Selene yang menjawab.

“Kau mencari Bhaga?”

Detik berikutnya, Selene mengalihkan panggilan suara itu menjadi panggi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Ranjang Majikanku   275.Celia Keluar

    Langit Jakarta tertutup awan gelap yang mengantung rendah. Angin bertiup kencang, membuat bulu kuduk sedikit merinding karena dingin yang menusuk. Suasana di depan rumah sakit jiwa terlihat mencekam, karena sekitarnya gelap. Lampu-lampu jalan tak bisa menyinari secara maksimal, membuat cahaya hanya berpendar seadanya.Celia berdiri di depan pintu keluar utama. Wajahnya datar tanpa ekspresi, dingin, dan tangannya mencengkeram tas selempang kecil yang dia bawa delapan bulan lalu. Tubuhnya kelihatan kurus, rambutnya diikat asal dan tak ada riasan, membuat tulang pipinya lebih menonjol.Dia menajamkan mata ke luar, tak ada sedikit pun ketakutan. Seolah dirinya menyatu dengan kegelapan di sekitarnya. Seringai tipisnya hadir, sangat tipis, hingga tak ada yang menyadari.Tak ada yang menjemput. Karena keluarganya sudah tak lagi pernah mencarinya sejak dia masuk ke rumah sakit jiwa. Memalukan, kata itu yang menempel padanya sejak itu.Kepalanya menunduk, menatap pakaian sederhana yang menempe

  • Di Ranjang Majikanku   274. Mimpi Buruk

    Entah angin apa yang merasuki Binar malam ini. Dia tiba-tiba begitu berhasrat pada Bhaga padahal pria itu tak melakukan apa pun. Darahnya berdesir saat Bhaga berbisik. Dia bahkan tak mendengarkan dengan baik, tapi napas hangat Bhaga seolah menggelitiki kulitnya, menyusup ke dalam pakaiannya dan membuat puncak dadanya menegang sempurna.Bhaga terkejut.Binar tahu itu, dia merasakan ketegangan tubuh Bhaga yang mendadak kaku. Tapi dia tak berhenti. Bibirnya terus merayu, memanjakan bibir Bhaga dengan lidahnya, dan lumatan itu akhirnya terbalas dengan gairah yang sama.Binar mendongak.Tanga Bhaga melingkar lebih erat, menarik tubuh Binar agar semakin menempel padanya dan tangannya menjelajahi kulit Binar seolah tak ada lagi hari esok. Dia terbakar oleh panas tubuh Binar.Bibir keduanya bergerak semakin liar, basah, dan sedikit membengkak.Tubuh keduanya mulai bergerak. Gerakan yang jelas bukan untuk bersiap tidur. Tapi saling menggoda dan memuaskan. Memancing semakin dalam gairah yang ki

  • Di Ranjang Majikanku   273. Tidak Pernah Sebaik Ini

    Bhaga menuruni tangga dengan santai. Dia baru menyelesaikan sisa pekerjaannya dan sekarang ingin makan malam. Tapi saat tiba di bawah, dia mengernyit.Kenapa sepi sekali? Tanyanya dalam hati. Rasanya tadi Binar sedang bermain bersama Ardan, tapi kemana semua orang sekarang.Kepalanya menoleh, menyisir seluruh ruangan dan benar-benar hening. Dia kemudian melangkah ke meja makan dan duduk di sana, menunggu."Selamat sore, Tuan.""Bi." Bhaga menumpukan tangan di atas meja. "Ardan?""Di kamarnya. Sebentar lagi mungkin akan turun juga." Maryam menjeda. Tangannya meremas ujung apron. "Em, Tuan … Nyonya Nurma, beliau tadi datang dan baru saja pulang."Bhaga menegakkan tubuhnya.“Nona Binar sepertinya masih di depan, mengantar beliau pulang.”Dia mendongak dengan cepat, menatap wajah Maryam yang pias."Mengapa tak ada yang memberitahukanku?!"Maryam menunduk sedikit. “Nyonya Nurma yang melarang, karena kedatangannya memang untuk berbicara dengan Nona Binar.” Dia terdiam sesaat. “Mohon maaf, T

  • Di Ranjang Majikanku   272. Terima Kasih, Papi.

    Hanya tinggal mereka berdua di ruangan itu.Ardan sudah naik ke kamarnya, ditemani oleh Sari. Langkah kecilnya yang semakin tak terdengar, membuat ketegangan semakin meningkat di tengah keheningan itu.Tak ada yang membuka suara lebih dulu. Beberapa kali mereka beradu tatap dengan beragam emosi, tapi keduanya msih tetap diam.Binar duduk di kursi seberang. Tidak terlalu jauh, masih bisa mendengar bahkan bila Nurma berbisik sekalipun. Jarinya sesekali saling meremat di atas meja, dia gugup, tapi bisa menguasai diri.Nurma menatapnya. Mendengus dan matanya menyisir tiap inci dari Binar. “Kamu terlihat lebih terawat.” Nadanya penuh dengan cibiran. “Ya, Baguslah. Setidaknya enggak terlalu memalukan.”Binar menatap balik. Tidak tersenyum berlebihan. Tapi tak ada kalimat pembelaan atas sekedar jawaban basa basi. Dia masih setia menunggu, inti dari apa yang ingin Nurma sampaikan.Nurma menarik napas panjang dan melepaskannya dengan cepat. Seolah membuang segala apa yang dia rasakan sejak tad

  • Di Ranjang Majikanku   271. Kedatangan Nurma

    Tak ada yang tahu Nurma akan datang ke rumah Bhaga malam itu. Nurma tidak menghubungi siapa pun sebelum datang, dia pergi secara impulsif karena terpicu oleh rasa penasaran.Mobilnya terparkir di halaman rumah Bhaga saat hari mulai malam. Sopirnya baru saja turun, berniat untuk membukakan pintu, tapi Nurma sudah berjalan duluan. Saking terburu-burunya, dia tak mengganti pakaiannya dan masih mengenakan sandal rumah. Tak ada barang lain yang dibawanya kecuali tas yang kini ada di genggamannya. Dia mengetuk pintu dan Maryam yang membukakannya dengan wajah yang sedikit terkejut, tapi kemudian tersenyum ramah. “Nyonya Besar,” sapanya. “Silakan masuk.” “Dimana semua orang?” Tanya Nurma saat dia melangkah masuk. “Sedang di ruang makan, Nyonya. Bersiap untuk makan malam. Mari saya antar, Nyonya.” Tangan Nurma terangkat. “Tidak perlu. Aku bisa sendiri.” Maka, Maryam pun sedikit membungkuk dan undur diri dari sana. Nurma melangkah dengan langkah cepat. Dari dalam terdengar suara tawa

  • Di Ranjang Majikanku   270. Nurma Penasaran

    Sore itu Nurma tiba-tiba saja menelepon ke rumah Bhaga. Semua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing dan Maryam yang menerima panggilan itu.Seperti biasa, Ardan adalah hal pertama yang ditanyakan. Setelahnya keadaan rumah dan kesehatan Bhaga. Dan Maryam menjawab semua dengan jujur."Iya, Nyonya. Den Ardan sehat. Minggu lalu baru saja mengadakan piknik kecil di halaman belakang rumah dengan beberapa teman sekolahnya.""Piknik? Siapa yang urus?""Non Binar dengan Tuan Bhaga, Nyonya. "Nurma diam sebentar di ujung telepon. Maryam tidak menyadari keheningan itu sebagai sesuatu yang salah. Dia kembali melanjutkan ceritanya, karena Nurma bertanya lagi, "Apa-apa saja yang disiapkan?"Maryam bercerita dengan detil tentang acara kecil itu dan Nurma mendengarkan dengan suara yang masih terdengar ramah.Lalu Maryam menyebutkan sesuatu yang membuat Nurma terdiam lebih lama."Tuan besar juga beberapa kali datang dan bicara dengan Non Binar di ruang kerja, Nyonya. Dan belakangan Non Binar dis

  • Di Ranjang Majikanku   40. Kita Belum Selesai

    Kilatan flash dari ponsel Celia menyambar bagai kilat di kegelapan, membekukan momen memalukan antara Bhaga dan Binar di dalam mobil. Celia tersenyum puas. Bhaga mendesis kesal. Matanya menyipit karena silau, sebelum amarah yang membara meledak. “Celia!” Dengan gerakan kasar dia menarik celananya

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Di Ranjang Majikanku   36. Pilih Kak Binar Atau Mama

    Hening. Semua seolah sunyi, tak ada suara. Tenggorokan Bhaga tercekat, hatinya serasa diremas kuat. Sakit sekali. Rasa bersalah dan penyesalan perlahan mulai memenuhi dirinya. Kenapa, Bhaga? Dia bertanya dalam hati. “Ardan,” lirihnya. Bhaga terdiam, menatap telapak tangannya sendiri yang masih te

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Di Ranjang Majikanku   35. Peringatan Papi

    Udara di ruang kerja Bhaga terasa membeku. Bhaga yang masih berdiri kehilangan tenaga untuk bergerak. Setiap kata dari Djati menghunjam harga dirinya. Berselingkuh dengan pembantu. Lalu bagaimana dengan Celia? Apa merasakan kebahagiaan itu dilarang? Bersama Celia, bahkan untuk tersenyum saja teras

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Di Ranjang Majikanku   43. Kado Spesial

    Mobil mewah itu meluncur mulus dan berhenti di bawah sebuah menara apartemen berlantai lima puluh yang megah. Kaca-kacanya berkilauan memantulkan sinar matahari. Binar yang masih mengenakan pakaian sederhananya merasa tidak pantas menginjakkan kaki di area ini."Kita ke mana?" tanyanya bingung saat

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status