MasukBeberapa meter dari sana, Bhaga berdiri mematung di tengah sawah. Tangannya yang penuh lumpur, mengepal. Dia menunduk menatap hasil karyanya yang telah berhasil menanam padi, tapi senyum yang dia harapkan justru sedang diberikan ke pria lain. Dia kembali mendongak, menatap Binar dengan perasaan yang campur aduk, karena tak hanya Binar ... Ardan pun tak meliriknya sama sekali.Seorang petani yang berdiri di dekatnya tersenyum. "Mbak Binar memang cepat akrab sama Mas Aditya.""Iya. Mereka sama-sama ingin memajukan desa ini." Bhaga hanya mengangguk dan tersenyum tapi dadanya bergemuruh hebat.Bhaga terkekeh kecil, menertawakan dirinya sendiri, dan memilih kembali bergabung dengan calon mertuanya dari pada kepalanya semakin pening karena panas. Entah karena panas matahari atau panas hatinya.Perjalanan pulang berlangsung jauh lebih sunyi dibanding saat berangkat. Ardan masih sibuk bercerita sambil melewati pematang sawah."Papa! Tadi combinya keren banget. Bisa motong padi dengan cepat."
Matahari sudah mulai meninggi. Teriknya mulai menyengat kulit, tapi Bhaga justru sedang berdiri ragu di pinggir sawah sambil memicing. Dia menelan ludah dengan susah payah, tapi detik kemudian bibirnya dipaksa tersenyum saat menyadari calon mertuanya sedang memperhatikan.Tak jauh di depannya, Pak Ridwan menyeringai geli sambil menyodorkan sepasang sepatu bot berwarna hitam."Kalau takut lumpur, lebih baik kamu pulang, Nak. Rasanya akan gatal dan sangat lelah pinggangnya setelah selesai."Dalam hati Bhaga ketar ketir, tapi malu kalau pulang. Dia menatap sepatu itu, kemudian memindai hamparan sawah yang membentang luas di depan matanya. Angin berembus pelan. Bulir-bulir padi menguning bergoyang mengikuti arah angin. Suara burung pipit bersahutan dari kejauhan. Pemandangan itu indah, tetapi jelas sangat jauh dari ruang rapat berpendingin udara yang biasa dia tempati."Saya mau belajar, Pak," Bhaga terkekeh pelan. “Saya bisa memimpin ribuan karyawan. Masa kalah sama sawah."Pak Ridwan ju
Acara lamaran dilanjutkan di dalam rumah secara kekeluargaan dengan hamparan tikar dan aneka kue juga makanan yang disajikan bergotong-royong oleh tetangga yang berdatangan membantu.Kopi, teh panas tersaji. Pisang goreng, kue cucur, wajik, talam, onde-onde memenuhi meja. Kepala desa baru selesai membagi petuah hakikat rumah tangga sesuai sunah agama. Tepuk tangan dan puji syukur terdengar di mana-mana setelah penentuan tanggal dari sesepuh desa juga keluarga Binar dan calon kedua mempelai disetujui.Obrolan santai dan waktunya menikmati hidangan berlangsung kini. Semua menikmati makanannya. Saat itulah Bhaga mulai menyadari sesuatu. Dia menatap Nurma. “Mami. Mami sebenarnya tidak sakit parah, kan?”Nurma tersedak tawanya. Djati langsung mengelus punggungnya.Bhaga menyipitkan mata. “Mami.” Matanya menuntut.Nurma akhirnya menyerah. Dia berbisik, “Kalau tidak Mami dorong begini, kamu melamar tahun depan juga belum tentu.”“Mami!”Djati ikutan menyeletuk. “Papi juga setuju.” Bhaga m
“Ini acara apa, sih, sebenernya?” Gumam Binar saar keluar dari kamar sambil memperhatikan sekeliling. Dia menghampiri orang yang meneleponnya kemarin. “Bude, ibu kemana ya?”“Bude juga enggak tau, tapi tadi kayanya ada di depan sedang menyapa tamu.”Binar mengangguk dan mengelus lengan wanita itu sembari pamit ingin mencari ibunya. Tapi langkahnya terhenti, saat dihadang oleh beberapa tetangganya.“Ya ampun, Binar apa kabar? Tambah ayu banget.” Salah satu dari mereka langsung memeluk Binar hangat. Yang lainnya juga tak kalah ramah, mereka bertanya segala macam dan beberapa mengelus pipi Binar juga lengannya karena takjub.Binar pusing. Semua bersikap seperti ibunya dan mami Nurma, di tanya hal apa, jawabannya berbeda. Tak mendapatkan jawaban, dia kembali pamit untuk mencari ibunya.Namun, dia kembali berhenti di ambang pintu dengan dahi berkerut.Ruang tamu yang tadi masih terlihat biasa kini berubah total. Kain putih menghiasi beberapa sudut ruangan. Vas bunga segar berjejer di atas
"Bu, Binar datang." Suara Binar pecah begitu kakinya melangkah memasuki ruang tengah. Tas ranselnya tergantung lemas di bahu, rambutnya berantakan setelah perjalanan semalaman yang penuh gelisah. Matanya sembap, bukan hanya karena kurang tidur, tapi karena air mata yang tak henti mengalir sejak di dalam bus. Bu Nuri, yang beberapa jam lalu membuatnya panik setengah mati, kini duduk di sana, sedang mengupas salak dengan santai. Sesaat, dunia Binar berhenti berputar. Dia mengerjap sambil ternganga. "Ibu..." bisiknya serak. Bu Nuri menoleh. Salak di tangannya jatuh ke lantai dengan bunyi kecil. Wajahnya berubah dalam sekejap, dari tenang menjadi terkejut, lalu air mata langsung mengalir deras, tertampar keras oleh gelombang rindu yang selama ini dipendam. "Binar... Nduk ..." Tanpa kata lagi, Bu Nuri bangkit dan membuka tangan. Binar langsung berlari ke pelukannya. Mereka bertemu dalam dekapan yang begitu erat, seolah takut satu sama lain akan hilang lagi. Tubuh Binar gemetar hebat
"Mami?" Nama yang muncul di layar ponsel membuat dada Bhaga langsung berdebar. Belakangan ini, setiap ada telepon dari Nurma atau Djati, selalu membuat jantungnya berdebar tidak nyaman. Dia takut mendengar kabar buruk dari dokter dan mendengar kondisi yang tidak ingin didengar.Siang itu seharusnya menjadi hari yang tenang. Bhaga sengaja istirahat. Tidak ada rapat atau kunjungan proyek, juga agenda perusahaan yang mendesak. Namun pikirannya tetap berada di rumah sakit. Sejak Nurma dirawat, ketenangan seperti meninggalkan dirinya. Ditambah lagi, saat ini Binar sedang tak ada di sisinya.Bhaga berdiri di dekat jendela ruang kerja sambil memandangi halaman rumah. Ardan sedang bermain bola bersama satpam di taman depan. Tawa bocah itu terdengar sampai ke dalam. Biasanya pemandangan itu cukup membuatnya tenang namun ternyata tidak untuk saat ini. Dia mengakui satu hal yang selama ini berusaha diabaikan. Binar benar. Mungkin untuk sementara dia memang harus lebih banyak berada di dekat







