Masuk"Ibu jangan kenapa-kenapa, ya..." Suara itu terucap lirih bersama isak yang berusaha ditahan. Binar memalingkan wajah ke jendela bus. Dia tak tahu apa yang terjadi pada ibunya hingga tiba-tiba datang. Rasanya dia mau marah dan berusaha tak peduli, tapi tidak bisa. Kekuatirannya lebih kuat dibanding rasa penasarannya.Bus eksekutif mulai meninggalkan terminal. Lampu-lampu jalan sama sekali tak membuat Binar terhibur. Lampu-lampu kota bergerak menjauh satu per satu. Hujan tipis membasahi kaca. Sejak menerima telepon dari kampung, pikirannya hanya dipenuhi oleh ibunya.Lamunannya buyar, dia tersentak kecil ketika ponselnya bergetar. Nama Bhaga muncul di layar. "Udah jalan bisnya?”“Udah. Belum lama.”“Kalau ada apa-apa telepon ya!" "Iya." "Rasanya aku enggak tega, Sayang. Kamu turun saja dari bis ya. Aku susul dan antar kamu." Binar terkekeh pelan."Ini bisnya sudah mau masuk tol." "Aku kepikiran terus. Please, turun saja di pintu tol. Aku datang. Tunggu sebentar ya." "Nggak. Aku
Dunia Binar siang ini rasanya jungkir balik. Selama ini dia sudah hidup dengan tenang dan berdamai dengan keadaan. Bagaimana dia tak merasakan kasih sayang kedua orang tua sejak kecil dan ketika bertemu salah satunya, ayahnya justru memperlakukan dengan jahat hingga Bhaga turun tangan dan memenjarakan ayahnya.Kini, dia mengernyit dalam. Saat telepon genggamnya berdering dan nama tetangganya di kampung yang tertera di layar.Dia berdeham. “Ya, Bude. Apa kabar?”“Bude baik-baik aja. Alhamdulillah. Kamu piye kabare?”“Aku baik juga, Bude. Ada apa, Bude? Apa rumah nenek ada yang mau beli?”“Ndak, Bin. Bude justru bingung ini mau gimana ngomongnya.”“Ngomong aja, Bude. Ada yang bisa aku bantu?”“Ndak, Bin. Bude ndak mau minta apa-apa. Ini, loh.” Suaranya terdengar ragu dan kikuk. “Ibumu.”DegBinar mengerjap sambil menelan ludah. Tiba-tiba tenggorokannya tercekat. “I-ibu? I-ibu ke-kenapa, Bude?”“Ibumu … pulang.”“Apa?! Kok bisa?!”“Bude juga ndak tau, Bin. Tau-tau aja ibumu ngetok rumah
"Ardan, kalau menangis lagi, Papa tinggal di sini sendiri ya!""Tinggal saja!" balas Ardan tanpa takut. "Aku bisa pulang naik taksi!"Bhaga memejamkan mata dramatis. Tangannya terangkat dan memijat pelipis sambil berulang kali mengatur napasnya agar bisa kembali tenang.Satu pemain biola langsung berhenti memainkan nada romantis karena terkejut mendengar teriakan bocah itu dan dua pelayan di dekat mereka saling melirik.Sementara itu, Bhaga merasa harga dirinya baru saja dijatuhkan dari lantai dua puluh tujuh di salah satu gedung tertinggi kota. Padahal tiga jam sebelumnya semuanya terlihat sempurna.Rendi berdiri di tengah restoran La the Le Château yang malam itu disewa penuh oleh Bhaga. Lampu kristal berkilau lembut. Rangkaian bunga putih menghiasi setiap sudut. Lilin-lilin kecil menyala di sepanjang lorong menuju meja utama. Empat pemain biola terlatih dengan seragam siap memainkan lagu. Pemandangan kota terlihat indah dari balik dinding kaca raksasa.Rendi memeriksa semuanya seka
"Aku jamin kau bakal ditertawakan semua orang kalau melamar Binar di restoran mewah." Bhaga yang sedang menyeruput kopi langsung menurunkan cangkirnya. Dia menatap Rendi—teman yang sudah lama tak dia temui, dan hari ini pria itu terpaksa datang untuk membantunya mencari solusi untuk melamar—dari balik meja kerja dengan sorot mata tidak percaya. "Apa maksudmu ditertawakan? Itu cara yang keren." "Maksudku sederhana." Rendi bersandar santai di kursi. "Kau terlalu lama jadi CEO sampai lupa cara menyenangkan perempuan jaman sekarang." Bhaga mengembuskan napas panjang. Pagi itu ruang kerjanya berubah menjadi markas darurat lamaran. Berkas laporan perusahaan tersingkir ke sudut meja. Laptop terbuka menampilkan berbagai model cincin berlian. Beberapa gambar restoran mewah juga bergantian memenuhi layar. "Coba lihat yang ini." Bhaga menunjuk salah satu foto. "Menurutmu bagaimana?" "Cantik." "Nah, keren bukan pilihanku?" "Terlalu mahal." Rendi menggelengkan kepala. Bhaga mendecak kesal
"Mi, Papi akan menggantikan Bhaga menjaga Mami. Bhaga pulang ya?""Pulang saja sana! Mami enggak suka anak laki-laki yang enggak bisa serius dengan hidupnya. Masa depan enggak dipikirkan. Kasihan Binar, cuma buat mainanmu!" Nurma bahkan tak mau menengok pada wajah Bhaga. Bhaga baru hendak menjawab, tapi kalimat Nurma membuat bibirnya tertutup rapat.“Kalau kamu enggak mau menikahi Binar, biar mami nikahkan dia dengan anak teman arisan mami yang enggak kalah tampan dan kaya.” Nurma melirik kesal sekilas ke Bhaga. “Dan mami pastikan, Binar akan menyetujui."Tak ada lagi obrolan, karena Djati langsung mendorong Bhaga untuk keluar dari kamar itu.Langkah Bhaga terasa berat saat melintasi koridor sepi rumah sakit malam menjelang pagi itu. Djati yang tak bisa tidur memutuskan tidur di rumah sakit lalu menyuruh Bhaga pulang di jam dua pagi. Setelah meninggalkan diskusi panas di rumah sakit, rasa bersalah karena kemarahan Nurma masih menggerogoti dadanya saat dia tiba di rumah.Suara langka
Hari dijalani dengan begitu tenang, Bhaga kembali merasakan kedamaian yang belakangan tak dia miliki karena kecemasan yang berlebihan. Tak hanya Ardan, Binar pun menjadwalkan Bhaga untuk bertemu juga dengan psikolog dan hal itu membuat semua menjadi jauh lebih baik.Hingga, siang itu ada telepon yang berulang kali masuk dari nomor rumah orang tua Bhaga. Awalnya Bhaga mengira kedua orang tuanya pasti menanyakan kabar karena dia sudah lama tidak pulang kesana. Tapi ketika suara asisten Djati yang terdengar, hatinya mulai kuatir.Benar saja.“Pak Bhaga, Nyonya Nurma masuk rumah sakit.” “Apa?!” Bhaga yang baru saja memulai rapat langsung membeku. Dia bingung, rasanya baru semalam dia mendengar maminya telepon dengan Binar dalam keadaan sehat, kenapa tiba-tiba masuk rumah sakit?Panggilan itu masih berlangsung, tapi pikiran Bhaga mendadak blank. Sampai telinganya menangkap suara Rudi yang sedikit panik saat mencoba menyadarkannya. “Kami baru dapat kabar dari Pak Djati. Tekanan darah be







