Share

63. Euphoria

Penulis: Wideliaama
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-28 23:02:00
Dua hari sebelumnya...

Hujan belum berhenti ketika Regan kembali ke gedung tua tempat para tetua menunggu. Ia melangkah tenang dengan mantelnya yang basah dan berdiri di tengah aula, menatap lingkaran wajah-wajah tua yang menagih kepastian.

Satu bulan lalu, Regan berdiri di tempat yang sama untuk menyerahkan Edward dalam keadaan nyaris tidak bisa dikenali, dan kini ia berdiri untuk menagih hasil dari kesepakatan yang telah mereka buat.

“Sudah selesai,” katanya singkat tanpa perlu menjelaskan detail.

Para tetua saling bertukar pandang, membaca kesimpulan dari nada suaranya yang mengartikan bahwa sudah tidak ada lagi ancaman bagi klan mereka. Satu urusan ditutup. Regan tidak menunggu pujian, ia hanya menunggu pengesahan sampai ketukan tongkat terdengar pelan tanda bahwa laporan diterima.

Ia berbalik dengan langkah yang selalu tenang dan ringan. Ia pergi meninggalkan aula, meninggalkan klan, meninggalkan darah dan warisan.

“Jadi kau benar-benar berpikir ini pengorbanan?” Ru
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   73. Jatuh Dan Kalah

    Beberapa potong ingatan Clara memang sudah kembali meski hanya berupa kilasan-kilasan singkat, dan sedikit demi sedikit Clara juga mulai menyadari jika hubungannya dengan Regan memang tidak diawali dengan cara yang baik. Ada satu momen dari ingatannya yang membuat Clara merasa cemas. Yaitu saat ia menandatangani dokumen pernikahan dengan kebencian yang ia sendiri pun belum mengingat alasannya. Yang jelas, Clara sudah tahu bahwa Regan berbohong soal pernikahan mereka yang dilandasi cinta, tapi Clara juga tidak meragukan kasih sayang Regan yang selama ini tulus padanya. Meski ingatannya perlahan pulih, Clara memilih untuk merahasiakannya karena ia takut Regan akan bersikap obsesif lagi. Sebenarnya Clara juga hanya mengikuti naluri hatinya yang saat ini merasa sedang jatuh cinta pada suaminya yang masih terasa misterius itu. Regan terlihat serius membahas spesifikasi handphone dengan seorang pramuniaga yang menjajarkan beberapa model berbeda, sedangkan Clara hanya mengiyakan saja setia

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   72. Kemewahan

    Untuk mempertahankan kebahagiaan di wajah istrinya, Regan sudah menyiapkan hadiah berupa beberapa unit mobil yang akan dikirim hari ini oleh pihak dealer. Mereka sedang sarapan ketika kepala pelayan mengabari bahwa mobil-mobil itu baru saja tiba. “Maaf mengganggu waktu sarapan, Tuan Besar,” ucapnya pelan. “Pihak dealer baru saja mengabarkan bahwa beberapa unit mobil telah tiba dan kini terparkir di garasi utama.”Tuan Jusuf mengangkat alisnya, menoleh sekilas ke arah Regan sebelum bertanya, “Mobil?”“Itu milikku, Kakek.” Jawab Regan menyeringai kecil. Regan merasa tidak perlu izin kakeknya untuk membeli apa pun selama ia menggunakan uang pribadi. Lalu ia menoleh pada Clara. “Ayo, Bee. Aku ingin kamu melihatnya langsung.”Regan sudah berdiri lebih dulu, menggenggam tangan Clara sebelum wanita itu sempat bertanya. Ia juga tidak menerima penolakan walaupun Clara sepertinya akan protes. “Regan, tunggu—” Clara sempat bersuara, namun kalimatnya terputus. “Kali ini, jangan protes dulu." R

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   71. Hadiah

    Regan membiarkan tubuhnya diguyur air dingin dari shower ketika matahari belum sepenuhnya terbit. Selain karena kebiasaan, ia membutuhkan sensasi menusuk itu untuk menjernihkan pikirannya, atau setidaknya meredam kekacauan yang sejak semalam tidak juga reda.Ia tahu seharusnya ia merasa lega setelah mendengar tanggapan Clara kemarin. Namun ketenangan Clara justru meninggalkan rasa ganjil di dadanya. Ia sudah bersiap menghadapi amarah, penolakan, bahkan kebencian, tetapi yang ia dapatkan justru sikap santai yang tidak bisa ia baca. Regan bertanya-tanya apakah ketenangan itu bukan tanda penerimaan, melainkan jeda sebelum sesuatu yang jauh lebih menentukan.Ia terlalu sibuk dengan isi kepalanya sampai tidak menyadari kehadiran Clara yang membuatnya sedikit terkejut ketika wanita itu memeluknya dari belakang. "Apa yang sedang kamu pikirkan sampai tidak menyadari kedatanganku?"Regan mematikan keran dan langsung berbalik menatap wajah Clara yang sudah ikut basah karena memeluk punggungnya

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   70. Sumpah

    Regan menampar wajahnya sekali lagi begitu keras sampai suaranya terdengar perih meninggalkan bekas yang terpampang nyata. Regan mengutuk dirinya sendiri karena telah menyakiti Clara seperti seorang bajingan padahal ia sudah berjanji untuk tidak melakukannya. "Aku sudah menyakitimu lagi," sesal Regan. Pandangannya jatuh pada pergelangan tangan Clara yang memerah bekas cengkeramannya, juga jejak giginya yang masih terlihat di beberapa bagian tubuh wanita itu."Demi Tuhan aku tidak bermaksud melukaimu. Aku hanya..." Regan menunduk malu karena ia bahkan tidak bisa menjelaskan kekalutan yang ada di dalam dirinya pada perempuan yang paling ia cintai. Regan Oliver Mananta bukan hanya mewarisi kekayaan dari dua garis keluarga, tetapi juga sisi gelap keluarga Oliver—obsesi yang berlebihan terhadap apa pun yang ingin dimiliki. Seperti Maria yang mengejar kekuasaan hingga rela mengorbankan putranya sendiri, Regan sadar bahwa cinta yang ia rasakan pada Clara telah melampaui batas kewajaran. Ia

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   69. Lepas Kendali

    Pintu utama rumah Mananta terbuka perlahan, disusul aroma kayu tua dan wangi mawar dari taman samping yang selalu dirawat dengan telaten. Rumah besar itu akan selalu menyambut kedatangan mereka sebab di sana lah Regan dan Clara telah tumbuh meski dengan status yang berbeda. "Dimana Kakek?" Regan bertanya pada Rose yang menyambut di depan pintu. "Tuan Besar ada di ruang tengah, Tuan Muda." Regan membawa Clara masuk, tangannya tetap menggenggam jemari wanitanya dengan erat. Langkah mereka menyusuri lorong panjang berlantai marmer yang berkilau, dindingnya masih dipenuhi foto-foto lama keluarga Mananta. Di ruang tengah, Tuan Jusuf berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman. Tubuhnya masih tegap, bahunya lebar. Rambutnya memang telah memutih sebagian, namun sorot matanya tajam dan penuh wibawa. Saat mendengar langkah mereka, Tuan Jusuf berbalik.“Kalian akhirnya pulang,” ucapnya tenang, namun ada nada sindiran tipis yang jelas ditujukan pada cucunya. Sorot mata Tuan Jusuf ta

  • Di Ranjang Sepupu Suamiku   68. Kecemasan

    Clara cepat-cepat menyeka air matanya sebelum isaknya sempat terdengar. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Namun tubuhnya berkhianat. Kakinya terasa lemah, dan punggungnya bersandar pada dinding dingin di koridor dapur. “Bee?” Suara Regan memanggilnya lembut, namun cukup untuk membuat Clara terlonjak. Ia tidak tahu sejak kapan pria itu menyadari kehadirannya. Regan mematikan kompor dan berbalik, wajahnya langsung berubah saat melihat mata Clara yang memerah. “Ada apa?” cemasnya sambil melangkah mendekat. Clara menggeleng cepat. “Tidak apa-apa. Aku hanya baru bangun.” Regan tidak langsung percaya, tetapi ia memilih diam. Ia meraih tangan Clara, menggenggamnya hangat lalu menariknya masuk ke pelukan. Aroma masakan, sabun, dan dirinya sendiri menyatu dan itu saja sudah cukup untuk membuat Clara merasa lebih tenang. “Kamu menangis,” ucap Regan. “Aku hanya mimpi aneh. Mungkin karena kelelahan.” Regan menghela napas,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status