Share

Bab 7

Auteur: Mona
Risa duduk tanpa ekspresi, menegakkan punggung, dan menatap lurus ke arah podium pelelangan di depan. Hingga di tengah acara, Risa tetap tampak lesu dan tak bersemangat. Sampai pelelang membuka kain sutra merah di atas baki beludru, dan kalung mutiara itu memantulkan cahaya hangat di bawah lampu sorot. Pupil Risa seketika menyempit, matanya terbelalak.

Risa teringat masa kecilnya, saat ibunya selalu mengenakan kalung itu ke pesta. Mutiara itu menempel di lehernya yang ramping, bergoyang perlahan mengikuti langkahnya yang anggun, bagaikan sinar bulan yang lembut.

“Kamu menyukainya?” Suara rendah Niko terdengar di telinga Risa.

Risa tak menjawab, langsung mengangkat kartu lelang. “Seratus miliar.”

“Seratus dua puluh miliar.”

Sebuah suara manis terdengar dari samping. Dinda menoleh dan tersenyum tipis. “Kakak, aku juga sangat menyukai kalung itu. Siapa yang menawar lebih tinggi, dialah yang mendapatkannya. Kakak tidak keberatan, kan?”

Jari Risa menekan telapak tangannya sendiri. “Seratus enam puluh miliar.”

“Dua ratus miliar.”

“Empat ratus miliar.”

“Enam ratus miliar.”

Harga terus meroket hingga dua triliun. Uang hasil penjualan mas kawin Risa hampir habis, namun Dinda tetap tenang, kartu lelang miliknya tetap diangkat, wajahnya tersenyum yakin bahwa kalung itu pasti akan menjadi miliknya.

“Dua triliun, satu kali.” Pelelang menatap Risa. “Nona Risa, mau menambah tawaran lagi?”

Tenggorokan Risa sesak. Dia tidak pernah membayangkan ada hari di mana dia merendah demi sebuah kalung.

“Aku tawar lagi.” Risa mengucapkan kata itu dengan susah payah, lalu menoleh dan meraih lengan Niko. “Niko, pinjamkan aku uang .…”

Suara Risa bergetar. “Kalung itu peninggalan ibuku. Aku harus mendapatkannya.”

Niko jelas terkejut. Ia belum pernah melihat Risa yang selalu penuh kebanggaan dan cerah itu merendah seperti ini.

“Anggap saja aku memohon padamu,” kata Risa, matanya memerah, suaranya lemah hingga nyaris tak terdengar.

Tangan Niko meraih ke dalam saku jasnya, hendak mengeluarkan kartu hitam.

“Kak Niko.” Dinda tiba-tiba menarik lengan pria itu dengan mata berkaca-kaca. “Aku benar-benar menyukai kalung itu .…”

Dinda menggigit bibir. “Ini pertama kalinya aku begitu menyukai sesuatu. Tolong jangan bantu Kak Risa, ya?”

Ruangan seakan membeku. Risa menatap Niko, menatap pria yang dulu pernah melindunginya dari badai kehidupan. Alisnya sedikit mengerut, pandangan matanya berpindah-pindah antara Risa dan Dinda.

Setelah keheningan yang panjang, Niko akhirnya menatap Risa dan perlahan berkata, “Serahkan pada Dinda saja.”

Empat kata itu ringan terdengar, namun menusuk hati Risa seperti pisau.

Palu pelelangan diketuk. “Terjual! Selamat untuk Nona Dinda!”

Risa berdiri terpaku, seluruh tubuhnya bergetar. Ia menatap Dinda mengambil kalung mutiara itu, menatap senyum puas yang dilemparkan padanya. Jari-jari Risa mencengkeram telapak tangan sendiri begitu keras hingga kuku menembus kulit, darah menetes ke karpet, namun Risa tak merasakan sakit sedikit pun.

Niko baru melihat Risa seperti ini untuk pertama kalinya. Matanya merah, namun ia menolak menangis. Bibirnya pucat, namun tetap menegakkan punggung dengan keras kepala. Entah mengapa, hati Niko tiba-tiba dipenuhi rasa pahit yang aneh.

“Kak Niko ….” Dinda bersandar lemah. “Aku sedang tidak enak badan karena datang bulan, bisa ambilkan aku selimut?”

Niko terdiam sejenak, namun akhirnya bangkit dan pergi. Risa sepenuhnya kehilangan minat pada pelelangan. Dia duduk kembali, telinganya berdengung, dan matanya terus menampilkan bayangan ibunya tersenyum mengenakan kalung itu.

Begitu acara pelelangan selesai, Risa langsung menghadang Dinda.

“Jual kalung itu padaku.” Risa berkata dengan suara serak. “Apa pun syaratnya, aku bisa berikan.”

Dinda tertawa ringan. “Apa pun? Kalau begitu, aku mau kamu berlutut, bagaimana?”

Tubuh Risa gemetar hebat. Ia teringat kata-kata ibunya saat sekarat dan menarik tangannya. “Riri, apapun yang terjadi, hiduplah dengan penuh martabat.”

Namun sekarang, demi sebuah kalung, Risa rela mengorbankan harga diri terakhirnya.

“Baik.” Kata itu terdesak keluar dari celah giginya. Risa mulai berlutut dengan mata merah, perlahan.

“Jangan berlutut.” Dinda tiba-tiba memotong dengan tawa. “Berlutut pun tidak akan berguna.”

“Kalung sialan itu sudah aku kasih ke anjing liar di pinggir jalan.”

Dinda mengeluarkan ponsel, menggeser beberapa kali, dan layar menampilkan seekor anjing jalanan kotor, di lehernya tergantung kalung mutiara yang penuh lumpur.

“Barang milik ibumu, memang pantas dipakai anjing.” Dinda mendekat ke telinga Risa, mengucapkan setiap kata dengan tajam, “Bagaimanapun juga, pelacur memang cocok dengan anjing, abadi selamanya.”

Pupil Risa mendadak menyempit. Seluruh tubuhnya gemetar, telinga berdengung, seolah-olah seseorang memukul pelipisnya dengan palu besi. Wajah pucat ibunya saat sekarat terlintas di depan matanya. Kalung mutiara yang dulu melingkari leher ibunya dengan anggun kini malah ….

“Ulangi sekali lagi.” Suara Risa terdengar pelan tapi mengerikan.

Dinda tersenyum puas. “Pelacur memang cocok dengan anjing, abadi selamanya. Bagaimana, kurang jelas?”

Risa perlahan menengadah, matanya merah membara. “Tangan mana yang kau pakai untuk membuang kalung itu?”

“Yang ini.” Dinda dengan sombong mengangkat tangan kanannya. “Kenapa, kamu mau ....”

Belum sempat Dinda menyelesaikan kalimat, Risa sudah menatap sekilas ke piring buah di sampingnya, meraih pisau buah, dan dengan satu gerakan keras menikam telapak tangan Dinda.

“Aaah!”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status