Share

Bab 6

Auteur: Mona
Saat kembali membuka mata, Risa dibangunkan oleh seorang perawat.

“Kenapa tidak ada yang menjaga? Darahnya sudah naik ke selang infus. Sedikit lagi bisa jadi masalah besar!” seru perawat itu cemas.

Risa sedikit mengangkat tangan. Baru saat itu ia menyadari punggung tangannya sudah bengkak. Ia mengambil ponselnya dan mendapati bahwa tujuh jam telah berlalu. Dan Niko tidak kunjung kembali.

“Nona, pacar Anda yang sangat tampan itu ke mana?” tanya perawat sambil mengganti obat. “Kalau infus tidak dijaga itu tidak boleh, itu berbahaya sekali.”

Risa menarik sudut bibirnya tipis. “Dia bukan pacarku.”

Risa berjalan seorang diri menyusuri dinding menuju bangsal. Namun suara-suara perbincangan di lorong menusuk telinganya seperti jarum.

“Nona Dinda benar-benar beruntung. Ayah tiri memperlakukannya sebaik itu, pacarnya juga sangat tampan!”

“Aku dengar pacarnya bukan cuma menyewa satu lantai ruang VIP, tapi juga mendatangkan dokter spesialis dari luar negeri untuk konsultasi. Seharian penuh menemaninya, tidak beranjak selangkah pun. Ayah tiri dan pacarnya benar-benar memanjakannya habis-habisan. Nona Dinda pasti sudah menyelamatkan dunia di kehidupan sebelumnya .…”

Tanpa sadar, langkah Risa terhenti di depan kamar itu. Lewat celah pintu yang setengah terbuka, ia melihat Niko membungkuk, mengatur kecepatan infus Dinda. Jari-jarinya yang panjang memutar pengatur dengan gerakan ringan dan hati-hati.

Ayahnya duduk di sisi ranjang, mengupas apel untuk Dinda. Kulit apel terkelupas memanjang tanpa putus, dan potongan daging buah itu disuapkan satu per satu ke mulut Dinda.

Tiba-tiba Risa merasa sulit bernapas. Air mata jatuh tanpa peringatan, panas menyengat pipinya. Ia segera mengangkat tangan dan menyeka air mata itu.

“Risa,” bisiknya pelan untuk dirinya sendiri di lorong yang kosong. “Kamu menangis untuk siapa? Tidak ada yang akan bersimpati denganmu. Kamu tidak boleh menangis!”

Saat berbalik, Risa menegakkan punggungnya, melangkah cepat dan mantap. Telapak tangannya yang tergenggam erat-erat itu, perlahan mengeluarkan titik-titik darah.

Beberapa hari berikutnya, Niko tak pernah muncul. Hingga hari Risa keluar dari rumah sakit, Risa baru melihat mobil hitam yang begitu dikenalnya terparkir di depan. Kaca jendela mobil itu turun, memperlihatkan wajah samping Niko yang tegas dan berlekuk jelas.

“Naik,” ucapnya, suaranya tetap dingin dan datar.

Risa berbalik dan langsung pergi.

“Kamu ingin aku menyeretmu masuk ke mobil di depan banyak orang?”

Kalimat itu membuat langkah Risa mendadak terhenti. Ia tak percaya kata-kata seperti itu bisa keluar dari mulut Niko. Dulu, demi "mendidiknya", Niko memang sering mengancam seperti ini. Saat itu Risa hanya menganggapnya sebagai bumbu hubungan, semacam permainan. Tapi sekarang? Cinta pertamanya sudah kembali. Atas hak apa dia masih memperlakukan Risa seperti ini?

Dengan rahang terkatup erat, Risa akhirnya naik ke mobil. Niko menyerahkan sebuah katalog lelang padanya.

“Kamu kelihatan tidak bahagia akhir-akhir ini. Bukankah dulu kamu paling suka belanja? Hari ini aku akan membawamu ke pelelangan.”

Risa hendak menolak, namun saat jarinya membalik ke salah satu halaman, pupil matanya langsung menyusut tajam.

Kalung mutiara itu, kalung milik ibunya!

Sejak Tika masuk ke rumah, dengan alasan sering mimpi buruk, ia memaksa ayahnya menyingkirkan seluruh barang peninggalan ibu. Risa pernah memohon dengan putus asa, tapi yang ia dapat hanya satu kalimat dingin, “Orangnya sudah mati, menyimpan barang-barangnya cuma membawa sial.”

Ia tak pernah menyangka akan melihat kembali kalung kesayangan ibunya di tempat seperti pelelangan.

Jari-jari Risa mencengkeram katalog itu erat-erat, hingga kertasnya kusut dalam telapak tangannya. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan ponsel dan cepat-cepat mengirim pesan pada pengacara pribadinya.

[Segera jual semua mas kawin yang ada di brankas bank milikku!]

Demi kalung ini, meski nanti menikah tanpa mas kawin dan jadi bahan ejekan orang, Risa rela.

Gedung pelelangan itu berkilauan megah. Saat Risa mengikuti Niko masuk ke area VIP, sekilas ia langsung melihat Dinda yang sudah duduk di kursi reservasi. Perempuan itu mengenakan gaun putih, menoleh dan tersenyum manis ke arahnya.

“Kakak!” Dinda dengan akrab menggandeng lengan Risa. “Aku bilang ingin minta maaf padamu di pelelangan. Tidak kusangka Kak Niko benar-benar membawamu.”

Dinda berkedip polos. “Hubungan kalian benar-benar baik ya.”

Seluruh tubuh Risa menegang. Ia perlahan menoleh menatap Niko. Pria itu sedang menunduk memeriksa daftar lelang. Wajah sampingnya tampak sempurna bak pahatan di bawah cahaya lampu, namun ia bahkan tidak melirik Risa sedikit pun.

Begitu rupanya. Risa dibawa ke sini bukan karena Niko menyadari suasana hatinya yang sedang jelek. Bukan pula untuk menghiburnya. Risa hanya diajak karena Dinda ingin meminta maaf. Dan Risa hanya sekadar properti yang ikut terbawa.

Namun anehnya, rasa sakit yang Risa bayangkan tak kunjung datang. Yang tersisa di dada Risa hanyalah kehampaan, seakan ada bagian yang dicabut paksa, namun darahnya sudah tak lagi mengalir.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status