Short
Karena Ganti Kunci, Aku Menceraikannya

Karena Ganti Kunci, Aku Menceraikannya

Par:  Sumur BiruComplété
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapitres
3.0KVues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Istriku selalu tidak suka membawa kunci. Namun kali ini, dia mengganti kunci pintu rumah dari kunci sandi menjadi kunci model lama yang harus diputar dengan anak kunci. Bahkan saat mandi pun dia akan mengunci pintu rumah. Setiap kali aku pulang, aku harus meneleponnya dulu, setelah dia membukakan, barulah aku bisa masuk. Aku tidak bisa menerima penghinaan seperti ini. Di acara kumpul keluarga, aku pun mengeluarkan surat perjanjian cerai. Semua orang mengira aku hanya mabuk dan sedang bercanda. Istriku menampar wajahku dengan keras, lalu menatapku dengan penuh amarah. "Cuma menelepon dulu saja, susah sekali? Bukankah dulu kamu berjanji akan menghormatiku seumur hidup!" Aku menatapnya dengan dingin, lalu tersenyum sinis. "Kalau sudah bercerai dan aku langsung nggak pulang lagi, bukankah itu justru lebih menghormatimu?"

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1

"Diam kamu!"

"Eduardo, kalau dulu saat mengandung putri kita, aku nggak dilanda depresi, aku juga takkan kehilangan rasa aman seperti ini!"

"Alasan cerai yang nggak masuk akal seperti ini, aku nggak terima!"

Silviana menunjuk tepat ke hidungku, matanya mulai memerah.

Aku bahkan malas menatapnya. Sambil menutup tas kerjaku, aku berkata dengan dingin, "Tanda tangani. Jangan paksa aku."

Setelah berkata begitu, aku segera membawa barang-barangku dan pergi.

Seluruh keluarga menatap Silviana yang gemetar di sekujur tubuhnya dan aku yang pergi dengan tekad bulat.

Terdengar bisikan pelan.

Mereka merasa heran, bagaimana mungkin aku yang dulu selalu menempatkan Silviana di atas segalanya kini bersikeras bercerai hanya karena hal sepele seperti ini.

Silviana tertegun sejenak, berusaha mengulurkan tangan untuk menarikku.

Ayahnya, Pak Nicholas, juga gelisah hingga hendak berdiri.

Aku baru saja meninggalkan kursi, tetapi tiba-tiba dokter psikolog Silviana, Stylon, menekanku kembali ke kursi.

"Pak Eduardo, istrimu mengalami depresi pascamelahirkan yang sangat serius, dia sangat kekurangan rasa aman."

"Dia mengunci pintu hanya untuk melindungi dirinya sendiri! Sebagai suami, bagaimana kamu bisa begitu kejam?"

"Justru karena kamu terus mencari-cari masalah seperti ini, kondisi Silviana makin hari makin memburuk!"

Para kerabat segera berpihak kepada Stylon.

"Dokter Stylon benar!"

"Menurutku anak ini cuma sedang kesal, lalu melampiaskannya pada istrinya!"

"Seorang menantu yang tinggal bergantung pada keluarga istri saja masih berani bersikap begitu! Kalau bukan karena Silviana menyukainya, mana mungkin dia bisa hidup senyaman sekarang!"

Satu tatapan dari Silviana segera menghentikan omongan para kerabat, lalu dia memandangku dengan lemah lembut, menurunkan suaranya untuk membujuk, "Suamiku, maaf ya."

"Aku tahu penyakitku ini membuatmu merasa tertekan. Dulu kamu nggak pernah meninggikan suara kepadaku. Demi sepuluh tahun kasih sayang kita sebagai suami istri, jangan marah lagi, ya."

"Apa biaya pengobatan ibumu kurang lagi? Jangan sungkan untuk bicara, ibumu juga keluargaku."

Melihat Silviana membujukku dengan suara rendah seperti itu, semua orang terus memuji-mujinya, tetapi tatapan mereka kepadaku justru makin tajam.

"Ardo, Viana sebagai orang sakit, masih bisa memperlakukanmu seperti ini, kamu seharusnya sudah puas."

"Masalah ibumu, kapan keluarga kami nggak memikirkannya? Berapa pun biayanya, katakan saja, pasti ada jalan."

Pak Nicholas berkata perlahan sambil bertumpu pada tongkatnya.

Aku tahu, dia mengira aku terlalu menjaga hati nurani dan harga diri, merasa sungkan meminta bantuan lagi pada Keluarga Luis, sehingga aku memakai cara ini.

Aku dengan tenang menatap Silviana yang hendak menarik tanganku, lalu dengan ringan menghindar dan berkata datar, "Perasaanku sudah nggak ada. Kita bercerai saja."

Seluruh ruangan segera menjadi sunyi senyap.

Silviana berlari memelukku, berseru dengan suara tercekat tangis, "Ardo, jangan bohongi aku ...."

Aku segera mendorongnya menjauh dan mundur dua langkah.

"Ini kenyataan!"

"Sampai di sini saja. Sisakan sedikit harga diri."

Silviana berdiri terpaku di tempatnya, sementara putri kami di dalam kereta bayi menangis keras.

Aku pun mengabaikan semua orang di ruangan itu dan segera berjalan pergi.

Pranggg!

Sebuah gelas kaca dilempar Stylon, menghantam keras di depan kakiku.

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Ichsan Ghani
Ichsan Ghani
okfzfxhcjvkb
2026-04-27 01:28:35
0
0
10
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status