Share

Bab 21

Auteur: Mona
Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.

Pulau pribadi, senja hari.

Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.

“Nyonya … tolong minum sedikit.”

Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”

“Pak Niko bilang setelah urusan peru
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 22

    Risa belajar untuk patuh pada hari kedua puluh tujuh sejak ia dikurung. Ia tak lagi melawan, tak lagi mogok makan, bahkan sesekali tersenyum pada Niko. Awalnya, Niko tetap waspada. Namun perlahan, ia mulai percaya bahwa perempuan itu mungkin benar-benar telah menyerah pada nasibnya.“Apa yang ingin kamu makan hari ini?” tanya Niko di pagi hari. Ia berdiri di sisi ranjang sambil merapikan dasinya.Risa bersandar di kepala ranjang, rambut panjangnya tergerai di bahu. Nada suaranya tenang. “Masakanmu.”Jari Niko sempat terhenti. Kilatan terkejut melintas di matanya, lalu ia tersenyum tipis. “Baik.”Niko berbalik menuju dapur. Untuk pertama kalinya, langkahnya terlihat begitu rileks. Begitu punggung pria itu menghilang di balik pintu, senyum di wajah Risa lenyap. Ia langsung menyingkap selimut dan mengeluarkan sebuah komputer mikro dari bawah kasur, benda yang diam-diam ia curi dari ruang kerja Niko seminggu lalu.Jari Risa bergerak cepat, kode demi kode mengalir di layar. Sistem keamanan

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 21

    Karena tumpukan pekerjaan di Grup Sutomo yang tidak bisa ditunda, Niko terpaksa kembali untuk menanganinya.Pulau pribadi, senja hari.Pada hari ketiga sejak kepergian Niko, Risa berdiri di depan jendela kaca besar, menatap sisa cahaya matahari di cakrawala yang perlahan ditelan laut. Seorang pelayan masuk dengan langkah hati-hati, meletakkan segelas susu hangat.“Nyonya … tolong minum sedikit.”Risa tak bergerak. Ia hanya bertanya pelan, “Kapan dia kembali?”“Pak Niko bilang setelah urusan perusahaan selesai, beliau akan ....”Prang!Gelas itu menghantam dinding. Pecahannya beterbangan, susu tumpah membasahi lantai.“Aku bukan nyonya siapa pun.” Risa tertawa dingin. “Keluar.”Pelayan itu pucat pasi, segera mundur dan menutup pintu. Risa membungkuk dan mengambil sepotong pecahan kaca yang paling tajam....Di saat yang sama, di Kota Utara, kantor pusat Grup Sutomo. Di ruang rapat, Niko duduk di kursi utama, mendengarkan laporan para eksekutif. Jarinya tanpa sadar mengusap layar ponsel.

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 20

    Pulau pribadi, pagi hari.Helikopter mendarat di helipad di tengah pulau. Deru baling-baling perlahan mereda, menyisakan suara ombak yang menghantam karang.Risa digendong turun oleh Niko. Begitu kakinya menyentuh tanah, Risa langsung mendorong Niko menjauh.“Penculikan?” Risa mencibir dingin. Ekor gaun pengantinnya berkibar liar diterpa angin laut. “Sejak kapan Pak Niko melakukan hal serendah ini?”Niko tidak marah. Justru ia tersenyum ringan. “Memangnya kenapa?”Niko mengangkat tangan dan menyentuh pipi Risa. Ujung jarinya dingin, namun tatapannya panas sampai terasa menakutkan. “Riri, kamu milikku.”“Dalam hidup ini, jangan pernah bermimpi menikah dengan orang lain.”Di dalam vila utama. Niko membawanya berkeliling seluruh pulau.“Semua yang ada di sini adalah milikmu.” Niko mendorong pintu kaca besar. Angin laut yang asin menerobos masuk. “Taman, kolam renang, perpustakaan … bahkan lautan itu.”Risa tetap tak bergeming. “Aku ingin pulang.”“Riri, lupakan semua hal yang tidak menyen

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 19

    Sehari sebelum pernikahan, di vila pribadi Keluarga Badara.Risa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, ujung jarinya mengusap lembut taburan berlian kecil di gaun pengantinnya. Cahaya matahari di luar jendela terasa pas. Di dalam vila, para pelayan sibuk menata lokasi pernikahan esok hari, semuanya tampak begitu sempurna. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu.“Kak?”Juan mendorong pintu dan masuk. Di tangannya ada secangkir teh mawar merah hangat, sementara tangan lainnya memegang kotak beludru kecil yang indah. Ia mengenakan setelan jas hitam yang rapi, kerahnya sedikit terbuka. Di balik kacamata berbingkai emas, tatapannya begitu lembut, terlalu lembut untuk sekadar kepura-puraan.“Kamu hampir tidak menyentuh sarapanmu,” kata Juan sambil meletakkan cangkir teh di dekat tangan Risa, nada suaranya mengandung sedikit keluhan. “Orang dapur bilang kamu hanya minum setengah gelas susu.”Risa menatap Juan dan tersenyum tipis. “Pak Juan mau memarahiku secara langsung?”“Tidak be

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 18

    “Bukankah Keluarga Badara di Kota Selatan dan Keluarga Sutomo di Kota Utara tidak pernah akur? Kenapa … Pak Niko datang ke sini?”Bisik-bisik para tamu menyebar di seluruh aula pesta.Semua pandangan tertuju pada sosok tinggi ramping di ambang pintu. Niko berdiri di sana, setelan jasnya rapi sempurna, namun sorot matanya gelap dan mengerikan. Tatapannya terpaku pada tangan Risa dan Juan yang saling bertaut dengan erat, seolah ingin membakar tangan itu hingga berlubang.“Kenapa Pak Niko menatap Nona Risa seperti itu? Jangan-jangan dia datang untuk merebut pengantin?”Seketika, Juan menarik Risa ke dalam pelukannya. Lengannya terentang di depan tubuh Risa, membentuk dinding tak kasatmata untuk melindungi Risa. Namun Risa justru terlihat sangat tenang. Ia menatap Niko, lalu tersenyum.“Pak Niko, kenapa Anda datang? Apa Anda ke sini untuk mengantarkan hadiah pernikahan?”Kalimat itu bagaikan sebilah pisau tajam yang menghunjam langsung ke dada Niko. Rahangnya mengeras, urat-urat di pelipis

  • Dia Tertidur Dalam Malam Abadi   Bab 17

    “Sepuluh tahun lalu, di pesta kapal pesiar di Kota Utara .…”“Kamu lupa siapa yang kamu selamatkan?”Risa tertegun. Ingatannya tiba-tiba terseret kembali ke sepuluh tahun silam. Di pesta itu, ia berdiri di tepi dek, menikmati hembusan angin laut, ketika tiba-tiba terdengar suara “Byuurr!”Seorang anak laki-laki terjatuh ke laut. Orang-orang di sekitar belum sempat bereaksi, sementara Risa sudah lebih dulu melompat turun. Air laut sedingin es, menusuk tulang. Risa berenang sekuat tenaga menuju sosok yang meronta itu. Setelah beberapa kali menelan air asin hingga tersedak, akhirnya Risa berhasil menyeret anak itu kembali ke atas.“Kamu tidak apa-apa?” Tubuh Risa basah kuyup, namun ia tak sempat memedulikan dirinya sendiri. Ia berlutut di lantai dek, memberi pertolongan pertama pada bocah itu.Anak kecil itu memuntahkan beberapa teguk air. Saat membuka mata, bulu matanya masih menggantungkan butiran air. Risa melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh kecil yang gemetar itu.“Dasar bocah, lai

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status