Share

Bab 6

Penulis: Dwi Maula
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-22 17:11:13

Gadis itu merasa sangat khawatir dan iba, hingga insting seorang manusia menggerakkan Aisha untuk menggenggam jemari Cakrawala.

"Jangan sentuh saya sembarangan!" potong Cakrawala, gemetar.

"Tapi ...." Aisha tak benar-benar menggubris perkataan sang CEO. Dia hanya mengikuti kata hati untuk menggenggam jemari Cakrawala lebih erat, dan berniat menopang tubuh panjang itu untuk memapahnya ke sofa.

Akan tetapi, tubuh Cakrawala tak menunggu perintah untuk roboh. Lutut pria itu telah melemah, dunianya pun seolah berbutar tanpa ujung. Dalam detik yang rapuh, dia masih memegang prinsip, 'Jangan sentuh siapa pun'. Namun, prinsip itu luntur juga.

Aisha telah menyentuh tubuhnya, bahkan gadis itu tak memedulikan ponsel yang telah terjatuh. Yang dipikirkan Aisha hanya satu: menangkap tubuh bongsor sang CEO yang akan segera tumbang!

Bahu Cakrawala yang dingin kini menempel di lengan Aisha, sementara telapak tangan Aisha telah sibuk menahan punggung sang bos.

Dengan langkah yang terseok-seok, Aisha benar-benar memapah Cakrawala untuk berbaring di sofa panjang sudut ruangan. Saat itu, mata Cakrawala telah terpejam rapat, dengan kesadaran jiwa yang tinggal seujung jari.

"Maaf," ucap Aisha takut-takut. "Saya hanya ... ingin menolong Anda saja, nggak bermaksud lebih." Aisha segera menjelaskan yang sebenarnya, agar bosnya tidak terlalu banyak berpikir.

Dalam sisa kesadaran itu, Cakrawala ingin menolak, ingin berlari sejauh mungkin agar tak menyentuh sembarang orang. Tapi tenaganya telah lenyap. Dia hanya bisa menggeleng kecil saat Aisha mengangkat kakinya yang jenjang naik ke sofa.

Lalu ....

Sesuatu hal yang tak pernah disangka pun terjadi, sebuah keajaiban yang bahkan belum pernah tercatat di laporan medis seluruh dunia.

Kulit Cakrawala yang tadinya sedingin es, kini tiba-tiba menghangat, seolah mendapat tiupan nyawa yang mustahil. Perlahan-lahan, tetapi nyata dan konsisten.

Napas yang semula kehilangan jalur, saat ini telah menemukan ritmenya lagi. Detak jantung yang hampir terhenti, sekarang berdegup lagi. Lebih kuat, lebih hidup.

Cakrawala terkejut di kepingan kesadaran yang berangsur kembali.

'Apa ini?' batin pria itu.

Aisha masih di dekatnya, panik. Gadis itu mengernyitkan dahi, seraya menyelipkan tangan kiri di bawah kepala Cakrawala. Dia berjongkok, sambil mengusap punggung tangan sang CEO, seraya berharap ada bantuan yang segera datang.

"Ponselku," desis gadis itu, teringat akan perintah Cakrawala tadi. Dia segera menarik tangan dan bangkit.

Dan di permukaan sofa itu, tubuh Cakrawala telah mendapat kesadaran penuh. Pria itu mengerang, sehingga menghentikan gerakan Aisha.

"Pak, Anda sudah sadar?" Aisha kembali berjongkok, memperhatikan mata Cakrawala yang perlahan terbuka.

Aisha tersenyum lega, lalu berkata, "Maaf, ponsel saya terjatuh karena saya harus membantu Anda terlebih dahulu. Tunggulah sebentar, saya akan mengambil ponsel dan segera memanggil dokter."

"Tidak perlu," balas Cakrawala, yang merasakan tubuhnya telah bertenaga lagi.

"Apa? Kenapa?" Aisha terkejut. Dia refleks bangkit dan berdiri, tetapi tubuh Cakrawala telah terduduk tegak, menahan tangan gadis itu di genggamannya.

Cakrawala menutup mata, menghirup napas pelan dengan sangat rileks. Dia menghayati dan menikmati setiap tarikan oksigen yang terasa hidup dan menenangkan.

Saat pria itu kembali membuka mata, dia mulai berpikir, 'Apa ini sebuah keajaiban? Apa tubuhku benar-benar bisa stabil karena sentuhannya?'

"Pak," sapa Aisha ragu-ragu, karena mengamati sang bos yang tiba-tiba melamun. Ditambah lagi, satu tangannya masih terperangkap di sana.

"Ah, sudahlah. Saya nggak apa-apa." Cakrawala membuang tangan Aisha dari genggaman dengan asal.

CEO itu segera berdiri, merapikan jas seolah tak pernah terjadi apa pun, lalu langsung memerintah, "Kembalilah bekerja, sekarang!"

"Baik!" Aisha yang masih terpaku di dalam kebingungan langsung keteteran. Dia segera menenangkan diri, dan kembali ke tempat duduknya untuk menyelesaikan pekerjaan.

"Hah!" Cakrawala mengacak rambutnya dengan perasaan bingung, lalu segera pergi ke ruang kerjanya untuk menenangkan diri.

Di kursi putarnya, Aisha memejamkan mata dan menekuk wajahnya ketika suara pintu yang terbanting memenuhi ruangan.

"Huh! Dasar, pria aneh!" Aisha menggerutu dengan bibir yang mengerucut, tetapi dia tetap menyelesaikan pekerjaannya tanpa merasa terpengaruh.

Di sekitar gadis itu, suasana benar-benar sepi. Dari luar, tak ada lagi suara makhluk hidup yang menemaninya, meskipun hanya sekadar derap langkah kaki. Hanya ketukan tuts papan huruf yang terdengar jelas, saat Aisha terbnjkkkk menggerakkan sepuluh jemari di sana.

Sementara di ruang kerja CEO, Cakrawala meremas kepalanya.

"Apa-apaan ini? Siapa gadis itu sebenarnya?!" Cakrawala merasa gusar karena dia tak menemukan jawabannya.

Pria itu melempar cangkir bekas minumnya hingga menimpa pintu dan pecah berkeping-keping, menciptakan suara yang menggelegar, seolah itu dapat meredamkan rasa ingin tahunya yang menyiksa.

"Kalau begitu, akan aku pastikan bahwa jawaban itu akan kudapatkan secepatnya. Jadi, gadis itu nggak akan aku biarkan lolos, hingga aku benar-benar membuktikannya." Cakrawala mengelus dagunya, seraya tersenyum licik saat mulai meramu suatu rencana!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 60

    "Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 59

    "Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 58

    "Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 57

    "Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 56

    "Lilly, istriku sayang, apa yang baru saja kamu lakukan?" tanya Julian segera, ketika memastikan Cakrawala telah pergi dari kamarnya."Hihihi." Lilly tersenyum dengan puas. "Juju, coba tebak. Apa yang baru saja aku lakukan?" Wanita itu malah dengan percaya diri menantang sang suami dengan lirikan nakal dari mata tuanya."Apa?!" Bahu Julian langsung merosot tajam. Dia benar-benar tak punya waktu dan tenaga lagi untuk bermain-main. "Lilly-ku sayang, aku tahu kamu suka bermain-main. Tapi suamimu ini sudah terlalu tua untuk mengikuti permainanmu itu," keluh Julian dengan ekspresi malas. "Hahaha!" Tawa Lilly semakin menjadi-jadi. Dia menutupi sebagian mulutnya yang terbuka karena mulai merasa malu.Julian hanya menggeleng tak habis pikir, sambil menanti sang istri bercerita dengan suka rela."Baiklah, Juju. Aku akan menceritakan hal yang begitu seru." Lilly segera menyudahi tawanya. Dia juga tak lagi bertele-tele atau pun bermain-main.Di luar, suasana siang semakin terik dengan sinar me

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 55

    "Hei, kita sudah sampai. Ayo, turun!" Cakrawala segera turun dari mobil. Dia rela mengitari bagian depan mobil, hingga sampai pada pintu samping dengan maksud membukakannya untuk Aisha, sebelum istrinya itu tersadar dan menolak dibukakan. "Hm." Aisha menegakkan wajah. Dia turun begitu saja, berlalu menuju kamar pribadinya yang amat mewah, tanpa memedulikan suaminya yang mulai mencari perhatian padanya. "Hah! Dasar gadis kecil. Pikirannya masih sangat labil," gerutu Cakrawala cepat. Dia merasa sangat sebal karena merasa tak dipedulikan oleh Aisha. Pria itu segera menuju kamar pribadinya sendiri, tepatnya kamar yang dijadikannya sebagai kamar pengantin baru, yang katanya selalu menjadi tempat berdua untuk dirinya bersama Aisha. Pada saat ini, Lilly melintas di depan Cakrawala sambil membawa setumpuk sandwich di atas piring. "Cakra cucuku, kenapa Nenek sering melihat kamu sendirian saja di kamar? Dan kenapa istri kamu malah sering masuk ke kamar sebelah?" tanya wanita tua itu. Ekspr

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status