Chapter: Bab 154. TAMAT“Aduh!” Nilna memegangi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Ia meringis dan terduduk di lantai panggung, ketika kamera baru selesai mengambil gambar wisudanya sebagai lulusan Sastra Arab Terbaik tahun ini.Gaun toga hitam yang membalut tubuh Nilna ikut roboh, disusul dengan tali rumbai yang bergoyang, serta topi wisuda yang nyaris jatuh. Tepat saat itu, Bagas segera bangkit dan menghampiri sang istri ke atas panggung.Seluruh audiens yang hadir langsung bersorak kebingungan. Peserta wisuda langsung panik dan ikut berkerumun ke arah Nilna, meninggalkan sepasang mahasiswa yang berdiri mematung dalam kebingungan.Dafa telah melamar Asna, di saat wisuda nyaris selesai. Ini adalah kado yang telah dipersiapkan lelaki itu untuk Nilna. Itulah yang membuat Nilna terkejut dan bahagia, hingga tubuhnya tak kuasa dan jatuh di tempat penghargaan terbaiknya.Dalam dunia ini, rasa cinta memang tak harus memiliki. Terkadang, bersikap dewasa dan tenang adalah pilihan yang selalu baik. Dengan ketenangan
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-21
Chapter: Bab 153. Kejutan Besar“Apa?!” Qaila sontak tercengang. Dua matanya yang lebar bertambah luas. Ia benar-benar kehabisan kata-kata, bahkan suara wanita itu terdengar begitu kecil.Ilham melihat ketegangan pada kerling mata istrinya. Namun tentu saja, pria itu tak bermaksud buruk, atau ingin menguliti Qaila hingga membuat wanita itu merasa sangat malu.“Adik, kamu tenang, ya,” bisik Ilham lembut. Ia kembali merengkuh tubuh bergetar Qaila. Lelaki itu dapat menangkap rasa hancur dan malu dari gelagat sang istri yang cenderung menghindar.“Maaf, Istriku.” Pria itu kembali menangkup wajah cemas istrinya, hingga wajah mereka berada pada satu garis lurus. Dekat, tanpa jarak. “Em.” Wajah Qaila benar-benar menjadi pucat pasi. Bukan karena sakit fisik, tetapi merasa malu dan menyesal adalah hal yang amat menyiksanya.“Adik lihat mata Mas baik-baik, hm?!” Ilham terus menahan wajah Qaila agar tetap menatapnya, tidak bergeser apa lagi berpaling.Qaila hanya bisa terpaku, membiarkan air mata memalukan yang dengan beringa
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-21
Chapter: Bab 152. Bisik yang Menusuk“Ya, tentu saja itu benar.” Qaila berkata dengan sungguh-sungguh.“Kalau begitu, kamu harus berusaha untuk bersikap rileks. Jangan tegang seperti itu.” Ilham membiasakan diri untuk menatap Qaila tanpa rasa canggung, meski masih terlihat kesulitan.Qaila memiringkan wajah. “Oh, ya? Bukankah Anda sendiri yang tegang?” tanya Qaila balik, dengan mata yang menelisik.“Hah!” Ilham langsung gelagapan. Lelaki itu melihat dan mengamati dirinya sendiri di dalam kebingungan.Qaila malah tertawa lebar.Ilham mengernyitkan dahi, menghela napas pasrah, menyaksikan tawa istrinya dengan sabar hingga benar-benar selesai.Qaila semakin menjadi. Wanita itu benar-benar mulai terbiasa dengan ikatan pernikahan yang baru saja terjalin, hampir tak ada lagi canggung yang dirasakannya. Ia tertawa nyaring hingga tubuhnya bergetar, dengan napas tersendat-sendat, serta mata yang menyipit sampai sedikit mengeluarkan air mata, bahkan juga memegangi perutnya yang terasa kesakitan.“Ahaha …. Duh, aku nggak kuat lagi
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-20
Chapter: Bab 151. Terlampau ManisBab 151. Terlampau Manis“Hehe, belum.” Nilna tertawa getir.“Aduh!” Bagas menepuk dahi dengan ekspresi putus asa.“Mereka masih bertengkar saja, Mas, setiap bertemu.” Nilna menopang dagu dengan malas.“Untuk sekarang ini, mereka itu bagaikan siang dan malam. Mereka selalu berdampingan, tapi belum mau menyatu,” lanjut Nilna.“Yah, mau bagaimana lagi? Itu memang bukan kendali kita,” imbuh Bagas, menyetujui penjelasan Nilna.….“Il-ham ….” Qaila tampak canggung di malam pertama setelah menjadi seorang istri. Wanita itu bahkan sangat terbata-bata ketika memanggil nama suaminya. “Em.” Ilham pun tak kalah kikuk. Di kamar pengantin yang masih bertaburan hiasan bunga, lelaki itu hanya bisa menunduk. Usianya cukup di bawah sang istri untuk membuatnya merasa bak seorang anak kecil. Namun, dalam Islam tetaplah dikukuhkan. Kedudukan seorang suami adalah yang paling tua, meski kenyataannya tidaklah demikian.“Maaf.” Akhirnya, setelah bergulat dengan perasaan campur aduk yang terasa mencekik, Il
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-20
Chapter: Bab 150. Menyatukan dengan Sempurna“Mas, perut aku rasanya begah banget,” keluh Nilna dengan gelagat tak nyaman. Wanita itu segera bangkit dari dada bidang Bagas, lalu duduk dengan wajah tertekuk.“Begah?” Bagas ikut bangkit, ia segera menawarkan solusi, “Gimana kalau Mas pijat pelan-pelan perut kamu, pakai minyak zaitun?” Lelaki itu langsung tanggap, ia membuka laci dan segera mengambil botol kecil dari sana.“Hah!” Nilna memasang ekspresi muram. Perempuan itu masih ingat betul bagaimana sang suami kebablasan bercinta saat memijatnya sebulan yang lalu.“Kenapa?” Bagas terlihat bingung.“Pasti nanti kamu kebablasan lagi,” duga Nilna takut-takut.Bagas terkekeh-kekeh. “Ya, gimana sih, Dek. Itu memang naluri seorang suami, Sayang,” ungkapnya sambil memegang bahu istrinya.Nilna belum bergerak sedikit pun. Wanita itu masih mempertahankan ekspresi cemberutnya yang menggemaskan.“Iya, iya. Mas salah. Mas janji nggak akan bercinta lagi tanpa persetujuan kamu. Maaf, ya.” Bagas berkata dengan penuh kesungguhan, mengecup punggu
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-19
Chapter: Bab 149. Senyum Miring“Hei, ada kerusuhan di kelas kamu, Dafa!” Seorang mahasiswa tiba-tiba menggedor pintu ruang rapat dan langsung berlari-lari menjauh dengan ekspresi panik. “Apa? Di kelasku?!” Dafa sedang berada di forum musyawarah Dewan Mahasiswa ketika mendengar perundungan yang terjadi di kelasnya. Pemuda itu langsung panik dan segera mengakhiri musyawarah.“Ya, cepatlah ke sana!” desak mahasiswa lain yang juga bergegas meninggalkan ruang rapat.Sementara di kelas, keadaan berangsur tenang, beriring dengan kehadiran dosen, rektor, dan para organisasi mahasiswa. Namun, Nilna tak bisa menyangga tubuh untuk tetap berdiri tegak. Perempuan itu meringkuk di sudut kelas dengan badan yang terasa lemas. Tangannya mencengkeram kepala yang berdenyut hebat, dengan sorot mata kosong yang menatap lurus keempat temannya yang telah diamankan oleh tim kampus.“Nilna!” Dafa langsung terduduk dengan hati hancur di dekat Nilna. “Maaf, aku sudah terlambat menangani keributan di kelas. Banyak yang bilang, mereka cari
Zuletzt aktualisiert: 2026-01-19
Chapter: Bab 101Tanpa Arsen duga, sosok yang sangat memenuhi ruang pikirnya tiba-tiba menghampiri, menatap matanya dengan pandangan menelisik.Sebelum itu, Cakrawala merasa jengah dan berniat ingin mencari udara segar. Dia memutuskan untuk keluar dari ruang rawat sejenak. Namun ketika baru saja berdiri dan memutar badan, pria itu menangkap tubuh Arsen yang telah berjalan menjauh beberapa langkah dari ruang rawat Aisha."Arsen, kenapa gerak langkahnya terlihat nggak seperti biasanya? Apa dia sedang sakit, atau berada dalam suatu masalah?" renung Cakrawala ketika terus melanjutkan langkah dan telah berada di luar ruang rawat. Dia mengerutkan kening, seraya terus mengikuti intuisinya untuk masuk ke ruang pribadi Arsen."Ck, ck, ck, luar biasa, Arsen!" seru Cakrawala sambil menepuk tangan dan menggelengkan kepala. Dia merasa tak habis pikir dengan tingkah sang sahabat yang agak lalai.Detik itu juga, Arsen sontak tertarik dan kelyar dari tabir lamunannya. Untuk sesaat, dia hanya bisa terdiam, lalu menol
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-03
Chapter: Bab 100Daphne mengatupkan bibir, lalu mendesah pelan. Wanita itu tak menyangka jika putri kecilnya yang baru saja beranjak dewasa, tapi sudah berhadapan dengan situasi yang mengancam nyawa. "Kenapa harus putri kecilku yang mengalami semua ini? Kenapa bukan aku saja yang sudah tua?" gumam Daphne pilu. Suaranya terdengar sangat tak memiliki daya.Saat itu, perawat wanita telah melangkahkan kaki untuk meninggalkan ruang rawat. Namun ketika tak sengaja mendengar gumaman itu, dia tersenyum kecil, lalu membalikkan badan ke sumber suara."Nyonya, justru itulah keistimewaan putri Anda!" seru sang perawat wanita dengan ekspresi yakin.Daphne merasa sedikit terkejut dan membeku selama beberapa saat. Kala selesai menghela napas cepat, wanita itu menengok ke samping, menatap sosok perawat wanita yang sedang tersenyum dengan apa adanya."Yang diuji oleh Tuhan adalah manusia terpilih dan hebat. Putri Anda dipilih oleh Tuhan untuk mengalami ujian ini karena dia akan menjadi individu yang kuat dan bernilai
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-02
Chapter: Bab 99"Lalu, apa manfaat dari ini semua untuk mereka?" Daphne segera merespon dengan menyodorkan sebuah pertanyaan. Wanita itu berniat masuk semakin jauh ke pembahasan para muda-mudi di hadapannya, agar mereka tak sampai mencium aroma pernikahan dadakan Aisha dan bosnya. Lora langsung tersenyum simpul setelah mendengar pertanyaan dari Daphne yang memang tampak polos. "Bibi, tentu saja itu akan membuat mereka samgat puas," terang gadis itu, sambil memperagakan kemungkinan yang terjadi dengan kedua tangan yang bergerak lincah. Reya ikut merasa gemas sambil menahan senyum. Dia hanya bertolak pinggang, seraya mengamati Lora yang masih menjelaskan dengan menggebu-gebu. Sementara itu, Nate mengajak Elias dan Keenan untuk mencari udara segar dulu di luar, karena Bibi Daphne mereka sepertinya sudah lebih baik ketika mendapat penghiburan dari Lora dan Reya. "Baiklah." "Ya." Keenan dan Elias menanggapi ajakan Nate bersamaan, tapi dengan kata yang berbeda. Mereka bertiga pun memberi kode pada
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-20
Chapter: Bab 98"Apa?! Berita macam apa ini?" Daphne mengerutkan kening, lalu refleks menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan ketika baru saja melihat berita dari ponsel Reya.Dahi Reya ikut berkerut. Gadis itu merasa iba dengan respon Daphne yang terlihat kebingunan. Dia mendekap tubuh ibu sahabatnya itu dengan gerakan refleks."Bibi, tenanglah dulu." Lora ikut mendekat. Dia juga terlihat terpukul dengan semua yang telah terjadi pada Aisha, juga berita nyeleneh yang beredar, sehingga makin memperkeruh suasana. "Siapa yang membuat berita seperti itu? Bagaimana orang lain tahu jika Aisha telah kecelakaan, sementara aku yang ibunya saja baru mengetahuinya?" Daphne mengusap lengannya berkali-kali ketika dia mencoba berpikir dengan jernih.Tiga teman laki-laki Aisha tiba-tiba berdiri serempak. Nate, Elias, juga Keenan. Mereka saling pandang, hingga Keenan-lah yang akhirnya berjalan mendekati Daphne yang sedang ditenangkan oleh Reya dan Lora. "Bibi, saya adalah teman dekat Aisha sejak kecil." Keena
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-19
Chapter: Bab 97"Aisha, kapan kamu akan bangun?" Cakrawala membungkuk sedikit. Dia mengusap bahu sang istri lembut ketika hendak beranjak dari ruang rawat karena harus bekerja."Sayang, aku harus bekerja. Nanti akan aku kabari Ibu Daphne untuk menjaga kamu," ujar pria itu lagi.Dia mulai mengayunkan langkah ke depan, meski teramat berat dirasa olehnya. Sesekali, Cakrawala menoleh pada Aisha, seperti meyakinkan diri sendiri jika istrinya itu masih tetap di tempat dengan penuh keamanan.Cakrawala berjalan dengan tenang menyusuri koridor rumah sakit. Saat ini juga, dia berpapasan dengan Daniel.Anak buah Cakrawala itu terlihat seperti baru saja menjalani pemeriksaan. Terlihat jelas jika tangan kanannya memang sedikit cidera dan sedang dibungkus perban putih."Tuan, maaf, saya bahkan belum bisa menjaga Nyonya Aisha sesuai kesepakatan," ujar Daniel yang tiba-tiba bersimpuh di kaki Cakrawala. Cakrawala mengerutkan kening. Dia menunduk sedikit dan menatap Daniel yang memang terlihat sangat menyesal."Bangu
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-18
Chapter: Bab 96"Cakra, tetap saja aku lebih baik dari kamu!" tegas Arsen dengan senyum yang terlihat menusuk. Di kursinya, Cakrawala mengepalkan tangan."Apa maksud dia?" gumam Cakrawala, mengepalkan kedua telapak tangan kuat-kuat. Namun, dia tetap bertahan di tempat, tak menampakkan kemarahannya pada Arsen. Cakrawala menanti kelanjutan kalimat yang akan diucapkan oleh Arsen untuk menjatuhkan dirinya."Apa menurut kamu, aku ini pulang ke tanah air tanpa tujuan?" Arsen menepuk bahu Cakrawala, seolah dengan hangat, seperti tidak sedang berdebat."Hmh!" Cakrawala melipat tangan di dada, malas menanggapi. "Lalu apa kalau bukan tanpa tujuan?" tanya pria itu seketika. Arsen menimbang sejenak. Dia berjalan santai ke arah pintu, kemudian berujar, "Sangat menakjubkan. Jatuh cinta, ternyata bisa membuat seorang Cakrawala melupakan apa pun. Bahkan hari penting di hidupnya."Saat ini juga, Cakrawala langsung bereaksi. Pria itu menegakkan kepala, tercengang selama beberapa detik.Dia mulai memutar pikiran, hi
Zuletzt aktualisiert: 2026-03-17