Chapter: Bab 155"Wow!" seru Arsen fantastis. "Aisha, ternyata kamu sehebat itu, ya." Arsen memberikan tepuk tangan yang meriah untuk Aisha. Aisha sontak langsung berbuat sedikit salah tingkah ketika dirinya harus dielu-elukan di depan mata sendiri.Sambil menutupi eskpresi wajah dengan malu-malu, Aisha lantas berujar, "Eh, Dokter Arsen, Pak Galang, saya nggak sesempurna yang Anda berdua katakan.""Sudahlah, Aisha. Akui saja kehebatan kamu ini," tegas Galang seraya mengibaskan satu tangan di depan wajah Aisha.Di tengah mereka, Arsen pun menahan senyum takjub sambil geleng-geleng kepala. Sementara Aisha, gadis itu menautkan telapak tangannya sambil tersenyum kikuk."Baiklah, Aisha. Persiapkan diri kamu. Lima belas menit lagi, saya akan kembali ke sini, mengajak kamu untuk mengikuti observasi neurologi ringan siang ini."Arsen undur diri sejenak. Pria itu harus mengoordinasikan tenaga kerja yang bersangkutan untuk mempersiapkan ruangan yang dibutuhkan agar bisa kondusif untuk ruangan belajar Aisha.A
Last Updated: 2026-05-26
Chapter: Bab 154"Pak Galang, stop!"Merasa tidak tahan lagi, Aisha akhirnya mengatakan kalimat itu. Begitu mendengar seruan seperti demikian, Galang langsung menghentikan ucapannya dengan ekspresi rumit."Saya baik-baik saja, Pak," aku Aisha sambil tetap tersenyum seperti biasa."Sekarang, kita makan siang dan istirahat dulu. Satu jam lagi, kita harus menyelesaikan agenda berikutnya." Aisha berusaha mengingatkan dosennya dengan lugas dan realistis agar pria itu tidak semakin salah mengartikan.Galang tak lagi mengeluarkan argumennya. Bagaimanapun, ego sebagai seorang dosen dalam diri pria itu merasa cukup tersentil ketika Aisha mengingatkannya.Tapi untungnya, pria itu cukup sadar dan malu sendiri. Aisha sampai menegurnya karena memang dirinya yang sudah over protektif dan kehilangan kendali.Satu jam pun telah berlalu dengan cukup efektif. Aisha merasa lebih baik setelah mendapat waktu yang cukup untuk beristirahat. Agenda berikutnya kini telah berada di depan mata. Lobi rumah sakit Valemont Med
Last Updated: 2026-05-25
Chapter: Bab 153"Hah?!" Aisha mengerjap tak menyangka."Bertindak aneh-aneh gimana maksudnya, Pak?" tanya gadis itu sambil mengernyit. Dia benar-benar tak mengerti terkait apa yang Galang bicarakan.Bukannya menjawab dengan jelas, Galang justru bersikap seperti sedang bermain tebak-tebakan.Pria itu malah menghela napas kasar sambil menyentuh kepalanya. Ekspresi pria itu pun bertambah lesu tanpa Aisha ketahui apa sebabnya."Aisha, kamu jangan pura-pura nggak tahu." Galang berbicara dengan sangat pelan ketika dua rekannya masih sibuk mengurus urusan lain.Pria itu bahkan celingukan ke sana ke mari, seperti memastikan kedua rekannya tak mengetahui bahwa dia sedang bercakap-cakap dengan Aisha.Kening Aisha semakin berkerut dalam. Dia ingin bertanya apa maksud dari pembicaraan Galang. Namun, sebelum gadis itu angkat bicara, sang dosen telah berujar lagi."Aisha, kemarin kamu bilang, kamu dijemput sama teman, 'kan?" tanya Galang, masih dengan suara yang berbisik. Mata pria itu juga masih sibuk mengawasi
Last Updated: 2026-05-24
Chapter: Bab 152"Dia sahabat aku sejak kami SMA," jawab Cakrawala. "Kalau kamu belajar di sana, pasti akan lebih mudah karena kamu adalah istri aku. Dokter Arsen pasti akan membantu kamu dengan senang hati."Aisha hanya mengangguk samar ketika Cakrawala selesai menjawab."Sini." Aisha mengambil alih gelas dari tangan Cakrawala. Perlahan-lahan, gadis itu menyeruput jus alpukat hingga tersisa setengah gelas.Cakrawala yang melihat itu, tentu saja merasa senang. Senyumnya tampak semringah saat berkata, "Enak, 'kan?"Alih-alih menjawab, Aisha justru mengedikkan bahu, dan malah mendekatkan gelas ke bibir Cakrawala."Coba sendiri," kata Aisha dengan alis mata yang bergerak naik turun."Hm." Cakrawala meneguknya sampai nyaris habis."Enak," aku pria itu, sambil membusungkan dada dengan bangga.Aisha hanya tersenyum cuek. Lalu, dia menghabiskan sisa jus alpukat hingga tandas.Begitu memandang gelas yang telah kosong di waktu yang sama, Cakrawala langsung tersenyum canggung.Sementara Aisha, dia malah membuan
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Bab 151"Kamu percaya diri banget sih!" Aisha berseru dengan raut wajah tak peduli ketika memutar badan dan menatap Cakrawala dengan intens.Cakrawala mengerjapkan mata perlahan. Dia nyaris tak percaya dengan sikap Aisha yang bisa sefrontal ini."Kenapa kamu bisa yakin kalau jus alpukat itu aku yang buat? Kalau yang buat orang lain, gimana?"Aisha kembali bersuara dengan emosi yang meluap. Beberapa hari ini, hormon menstruasi memang membuat suasana hatinya sering memburuk.Cakrawala masih bertahan di posisinya. Pria itu tetap berdiri tenang dan tak goyah sedikit pun. Meski Aisha sudah bersikap dingin padanya, tapi Cakrawala dapat melihat ketidaksesuaian di kerling mata sang istri tercinta.Pria itu tahu jika Aisha bersikap demikian bukan murni atas kemauan hatinya, melainkan karena ego dan suasana hati yang lapar, lalu menuntutnya untuk bersikap demikian."Aisha, apa kamu tahu tentang naluri cinta?" Cakrawala tetap mempertahankan senyumnya yang tulus. Dia menatap Aisha dengan begitu fokus.S
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Bab 150"Akhirnya, jus spesial buatanku untuk Aisha sudah siap!"Cakrawala berjingkat kegirangan begitu mesin blender telah berhenti berdengung. Dengan penuh semangat, pria itu mengambil gelas cantik dan nampan kecil. Pelan-pelan, dia mulai menuangkan cairan hijau muda itu ke dalam gelas hingga habis."Ya, aku harus bisa memperbaiki keadaan kacau yang aku buat sendiri," gumamnya ketika kedua tangan pria itu telah disibukkan membawa nampan kecil berisi segelas jus alpukat.Tanpa menunggu lagi, Cakrawala pun segera meluncur ke taman halaman rumah di mana Aisha berada.Begitu sampai di teras, Cakrawala langsung melihat sosok Aisha yang tengah berjongkok menghadap depan.Cakrawala mencoba tersenyum dengan natural. Setelah yakin dan merasa tenang, pria itu berjalan menuju bangku panjang taman, kemudian meletakkan jus alpukat di sana.Pria itu menegakkan punggung, seraya menghela napas pelan. Dia menggesek-gesekkan kedua telapak tangan agar hatinya lebih rileks."Aisha, kamu lagi ngapain?" tanya C
Last Updated: 2026-05-23
Chapter: Bab 154. TAMAT“Aduh!” Nilna memegangi perutnya yang tiba-tiba bergejolak. Ia meringis dan terduduk di lantai panggung, ketika kamera baru selesai mengambil gambar wisudanya sebagai lulusan Sastra Arab Terbaik tahun ini.Gaun toga hitam yang membalut tubuh Nilna ikut roboh, disusul dengan tali rumbai yang bergoyang, serta topi wisuda yang nyaris jatuh. Tepat saat itu, Bagas segera bangkit dan menghampiri sang istri ke atas panggung.Seluruh audiens yang hadir langsung bersorak kebingungan. Peserta wisuda langsung panik dan ikut berkerumun ke arah Nilna, meninggalkan sepasang mahasiswa yang berdiri mematung dalam kebingungan.Dafa telah melamar Asna, di saat wisuda nyaris selesai. Ini adalah kado yang telah dipersiapkan lelaki itu untuk Nilna. Itulah yang membuat Nilna terkejut dan bahagia, hingga tubuhnya tak kuasa dan jatuh di tempat penghargaan terbaiknya.Dalam dunia ini, rasa cinta memang tak harus memiliki. Terkadang, bersikap dewasa dan tenang adalah pilihan yang selalu baik. Dengan ketenangan
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Bab 153. Kejutan Besar“Apa?!” Qaila sontak tercengang. Dua matanya yang lebar bertambah luas. Ia benar-benar kehabisan kata-kata, bahkan suara wanita itu terdengar begitu kecil.Ilham melihat ketegangan pada kerling mata istrinya. Namun tentu saja, pria itu tak bermaksud buruk, atau ingin menguliti Qaila hingga membuat wanita itu merasa sangat malu.“Adik, kamu tenang, ya,” bisik Ilham lembut. Ia kembali merengkuh tubuh bergetar Qaila. Lelaki itu dapat menangkap rasa hancur dan malu dari gelagat sang istri yang cenderung menghindar.“Maaf, Istriku.” Pria itu kembali menangkup wajah cemas istrinya, hingga wajah mereka berada pada satu garis lurus. Dekat, tanpa jarak. “Em.” Wajah Qaila benar-benar menjadi pucat pasi. Bukan karena sakit fisik, tetapi merasa malu dan menyesal adalah hal yang amat menyiksanya.“Adik lihat mata Mas baik-baik, hm?!” Ilham terus menahan wajah Qaila agar tetap menatapnya, tidak bergeser apa lagi berpaling.Qaila hanya bisa terpaku, membiarkan air mata memalukan yang dengan beringa
Last Updated: 2026-01-21
Chapter: Bab 152. Bisik yang Menusuk“Ya, tentu saja itu benar.” Qaila berkata dengan sungguh-sungguh.“Kalau begitu, kamu harus berusaha untuk bersikap rileks. Jangan tegang seperti itu.” Ilham membiasakan diri untuk menatap Qaila tanpa rasa canggung, meski masih terlihat kesulitan.Qaila memiringkan wajah. “Oh, ya? Bukankah Anda sendiri yang tegang?” tanya Qaila balik, dengan mata yang menelisik.“Hah!” Ilham langsung gelagapan. Lelaki itu melihat dan mengamati dirinya sendiri di dalam kebingungan.Qaila malah tertawa lebar.Ilham mengernyitkan dahi, menghela napas pasrah, menyaksikan tawa istrinya dengan sabar hingga benar-benar selesai.Qaila semakin menjadi. Wanita itu benar-benar mulai terbiasa dengan ikatan pernikahan yang baru saja terjalin, hampir tak ada lagi canggung yang dirasakannya. Ia tertawa nyaring hingga tubuhnya bergetar, dengan napas tersendat-sendat, serta mata yang menyipit sampai sedikit mengeluarkan air mata, bahkan juga memegangi perutnya yang terasa kesakitan.“Ahaha …. Duh, aku nggak kuat lagi
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 151. Terlampau ManisBab 151. Terlampau Manis“Hehe, belum.” Nilna tertawa getir.“Aduh!” Bagas menepuk dahi dengan ekspresi putus asa.“Mereka masih bertengkar saja, Mas, setiap bertemu.” Nilna menopang dagu dengan malas.“Untuk sekarang ini, mereka itu bagaikan siang dan malam. Mereka selalu berdampingan, tapi belum mau menyatu,” lanjut Nilna.“Yah, mau bagaimana lagi? Itu memang bukan kendali kita,” imbuh Bagas, menyetujui penjelasan Nilna.….“Il-ham ….” Qaila tampak canggung di malam pertama setelah menjadi seorang istri. Wanita itu bahkan sangat terbata-bata ketika memanggil nama suaminya. “Em.” Ilham pun tak kalah kikuk. Di kamar pengantin yang masih bertaburan hiasan bunga, lelaki itu hanya bisa menunduk. Usianya cukup di bawah sang istri untuk membuatnya merasa bak seorang anak kecil. Namun, dalam Islam tetaplah dikukuhkan. Kedudukan seorang suami adalah yang paling tua, meski kenyataannya tidaklah demikian.“Maaf.” Akhirnya, setelah bergulat dengan perasaan campur aduk yang terasa mencekik, Il
Last Updated: 2026-01-20
Chapter: Bab 150. Menyatukan dengan Sempurna“Mas, perut aku rasanya begah banget,” keluh Nilna dengan gelagat tak nyaman. Wanita itu segera bangkit dari dada bidang Bagas, lalu duduk dengan wajah tertekuk.“Begah?” Bagas ikut bangkit, ia segera menawarkan solusi, “Gimana kalau Mas pijat pelan-pelan perut kamu, pakai minyak zaitun?” Lelaki itu langsung tanggap, ia membuka laci dan segera mengambil botol kecil dari sana.“Hah!” Nilna memasang ekspresi muram. Perempuan itu masih ingat betul bagaimana sang suami kebablasan bercinta saat memijatnya sebulan yang lalu.“Kenapa?” Bagas terlihat bingung.“Pasti nanti kamu kebablasan lagi,” duga Nilna takut-takut.Bagas terkekeh-kekeh. “Ya, gimana sih, Dek. Itu memang naluri seorang suami, Sayang,” ungkapnya sambil memegang bahu istrinya.Nilna belum bergerak sedikit pun. Wanita itu masih mempertahankan ekspresi cemberutnya yang menggemaskan.“Iya, iya. Mas salah. Mas janji nggak akan bercinta lagi tanpa persetujuan kamu. Maaf, ya.” Bagas berkata dengan penuh kesungguhan, mengecup punggu
Last Updated: 2026-01-19
Chapter: Bab 149. Senyum Miring“Hei, ada kerusuhan di kelas kamu, Dafa!” Seorang mahasiswa tiba-tiba menggedor pintu ruang rapat dan langsung berlari-lari menjauh dengan ekspresi panik. “Apa? Di kelasku?!” Dafa sedang berada di forum musyawarah Dewan Mahasiswa ketika mendengar perundungan yang terjadi di kelasnya. Pemuda itu langsung panik dan segera mengakhiri musyawarah.“Ya, cepatlah ke sana!” desak mahasiswa lain yang juga bergegas meninggalkan ruang rapat.Sementara di kelas, keadaan berangsur tenang, beriring dengan kehadiran dosen, rektor, dan para organisasi mahasiswa. Namun, Nilna tak bisa menyangga tubuh untuk tetap berdiri tegak. Perempuan itu meringkuk di sudut kelas dengan badan yang terasa lemas. Tangannya mencengkeram kepala yang berdenyut hebat, dengan sorot mata kosong yang menatap lurus keempat temannya yang telah diamankan oleh tim kampus.“Nilna!” Dafa langsung terduduk dengan hati hancur di dekat Nilna. “Maaf, aku sudah terlambat menangani keributan di kelas. Banyak yang bilang, mereka cari
Last Updated: 2026-01-19