Share

Bab 5

Auteur: Dwi Maula
last update Dernière mise à jour: 2025-12-31 15:37:48

Aisha sedikit berjingkat karena merasa terkejut dan takut. Bibir merah muda wanita itu tergigit dengan keras, hingga dia benar-benar bisa mengingat kembali ucapan sang bos kemarin.

Sementara itu, pandangan Cakra belum berpindah dari mata Aisha, membuat wanita muda itu sulit untuk bernapas di tempatnya.

"Cih!" Cakra melipat tangan serta memiringkan bibir dengan sinis. "Baru kesan pertama, tapi Anda sudah nggak bisa menjaganya!" cetus Cakra.

Aisha melambaikan tangan saat berkata, "Nggak, Tuan. Eh, maksud saya ... Pak Cakra."

Wajah tegang Cakra mengendur, tergantikan dengan senyum kepuasan yang begitu terlihat samar di garis bibir sang CEO.

Aisha menekuk wajahnya, hingga merasakan situasi yang tegang kini telah melunak. Barulah gadis itu merasa lega dan berani menatap sekeliling.

"Ingat-ingat panggilan itu. Sekarang, ikut saya ke ruangan Anda untuk memulai hari pertama bekerja!" perintah Cakra dengan suara finalnya. Pria itu keluar dari ruangan, lalu membanting pintu dengan keras.

Aisha kembali terlonjak karena melihat sikap buruk sang bos. Gadis itu hanya bisa meringis dengan pasrah, mengusap dadanya yang sudah kenyang dengan banyak kejutan di hari pertama bekerja di Pierce Holdings!

Cakra tidak memanggil pihak HRD. Pria itu memutuskan untuk terjun langsung agar bisa memantau hasil kerja sekretaris barunya. Cakra berjalan lebih dulu untuk menunjukkan apa yang seharusnya Aisha kerjakan.

Aisha tak berbicara lagi. Wanita yang masih berstatus mahasiswi itu berjalan mengikuti sang CEO dengan otak yang berusaha mencatat semua hal yang diperlukan.

Sang CEO berhenti tepat di depan pintu ruangan

yang atasnya bertuliskan "Executive Assistant - Aisha N. Willow".

"Masuklah. Ini ruangan kerja Anda!" Cakra masuk terlebih dahulu.

Aisha mengikuti sang CEO dengan patuh. Gadis itu menelan ludah dengan perasaan campur aduk yang tak dimengertinya. Antara takut, gugup, panik, dan ... bangga.

Hidung Aisha terasa masam, matanya pun berangsur memanas. Dia terharu dengan pencapaian yang teraih dengan usahanya sendiri. Meskipun baru titik awal, tetapi ini cukup berharga untuk membuktikan kemampuan Aisha di hadapan sang ayah, Silas Willow!

Aisha mengerjap ke sekeliling ruangan. Dia memeluk lengannya sendiri dengan ekspresi takjub. Di ujung dinding, jam digital menyala tenang, dengan detik yang terus melaju tanpa bersuara.

Karpet biru gelap di bawah kaki Aisha terasa empuk, meredam langkah siapa pun yang menginjaknya.

Lorong di depan ruangan terhampar dengan ukuran yang ideal, cukup sunyi untuk membuat para pekerja merasa sedang diawasi, oleh standar yang tak tertulis!

Dia menarik napas sekali, menguatkan diri dan meyakinkan diri bahwa ini semua adalah nyata. Bukti bahwa seorang Aisha layak dan mampu untuk mendapatkan pencapaian terbaiknya.

Di depan pintu, Cakra berdiri mematung, menyorot setiap inci pergerakan Aisha dengan penuh perhitungan!

"Bagaimana? Anda mengerti dengan apa yang saya ucapkan?" Cakra mendekati Aisha yang sedang berdiri memperhatikan sekeliling.

"Ya, Pak Cakra," jawab Aisha lugas, yang langsung menghadap ke sumber suara dengan siaga.

Ruangan kerja ini benar-benar menyambung langsung dengan ruang kerja sang CEO. Hanya saja, tersekat oleh kaca buram setinggi dada.

"Duduklah, dan kenali fasilitas yang perusahaan berikan pada Anda!" Cakra memberikan instruksi dengan suara datar tanpa menoleh pada Aisha. Pria itu berjalan lurus melewati sosok Aisha, menetap di sofa empuk sudut ruangan dan duduk di sana.

"Baik, Pak." Aisha segera mengerti, dia duduk tegak di kursi putarnya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke objek sekeliling. Begitu minimalis. Begitu fungsional. Nyaris terlalu rapi untuk diri Aisha yang merupakan pekerja baru.

Aisha menenangkan diri, mencoba menyentuh meja kerja lebar berwarna abu gelap di hadapannya.

"Tenang, Aisha. Meja ini nggak akan menggigit kamu." Aisha menggumamkan kalimat lelucon untuk mencairkan ketegangan.

Aisha menggeser tangannya, menyentuh komputer lipat perusahaan yang terkunci oleh fingerprint.

Gadis itu menjeda napas, merasakan barang-barang di sekitarnya yang terasa begitu formal.

Ketika telah puas menghibur diri, Aisha melanjutkan petualangannya. Dia menelisik dan menyentuh telepon internal khusus eksekutif yang begitu menarik perhatian.

Begitu merasa cukup, Aisha yang duduk segera berdiri, menyusuri rak arsip tipis dengan kode warna di sebelah meja kerja.

Dari benda-benda itu, Aisha kini mengerti satu fakta. Ruangan ini tidak didesain untuk membuat betah, tetapi untuk orang-orang yang kuat bertahan seperti dirinya!

"Sudah cukup." Cakra berdiri dari duduknya, mendekati Aisha yang selalu sigap menoleh pada pria itu.

"Sekarang, waktunya Anda untuk bekerja. Kembalilah untuk duduk!" perintah Cakra.

"Iya." Aisha yang berdiri segera berbalik ke kursi dan duduk di sana.

Cakra berdiri di dekat Aisha, dengan satu tangan yang bertumpu pada meja, dan tangan lain yang bertolak pada pinggang.

Di bawah pria itu, Aisha tentu merasa sedikit gugup dan nervous. Gadis muda itu belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Apalagi di waktu sekarang, Aisha telah berinteraksi jarak dekat dengan seorang bos dari perusahaan impiannya!

Sementara itu, Cakra juga merasakan hal yang sama. Namun, sang COE berusaha menekan dan mengabaikannya.

"Anda akan menyusun jadwal ulang di hari ini, juga memfilter panggilan masuk." Cakra mulai menjelaskan mekanisme kerja Pierce Holdings untuk Aisha.

"Baik." Aisha segera memulai bekerja.

Jemari panjang nan ramping wanita muda itu lincah bergerak menekan papan huruf, serta sorot mata fokus yang berganti-ganti dari buku catatan pemberian Cakra ke layar komputer lipat.

Di tempatnya, Cakra masih berdiri kokoh dengan ketenangan yang tak bersuara. Kilat mata CEO itu begitu jeli dalam memperhatikan setiap jengkal pergerakan sang sekretaris yang memulai bekerja.

Hingga akhirnya, tenang itu retak tanpa aba-aba!

Dingin yang familiar menusuk tajam ke tengkuk Cakra, menjalar dengan cepat ke seluruh anggota tubuhnya. Napas lelaki itu mulai terasa berat, dengan pandangan yang mengabur hingga berangsur gelap.

Dunia seolah menyempit, lalu menarik Cakra ke dalam kehampaan ruang yang tak pernah bisa dipahami. Dia merasakan jemari yang bergetar hebat dan tak lagi bisa ditahan.

'Nggak. Bukan sekarang!' Cakra menjerit parau di dalam hati.

Tubuh Cakra mulai goyah, dengan kaki yang mundur selangkah, lalu dua langkah, tanpa persetujuannya. Pria itu sangat tahu dengan tanda-tanda serangan yang datang pada tubuhnya.

Tubuh Cakra kini kehilangan suhu panas, denyut nadi pun melambat, dan kesadaran yang terasa menjauh.

Cakra segera berbalik, menjauh dari sosok Aisha.

"Aisha." Cakra refleks memanggil gadis asing di hadapannya. Suara sang CEO masih terdengar tegas, meski tubuhnya telah berkhianat.

"Iya, Pak?" Gadis muda itu menoleh dengan sigap.

"Segera ambil ponselmu. Hubungi dokter pribadi saya sekarang. Cepat!" Suara Cakra berubah menjadi lemah.

Aisha segera mengambil ponsel miliknya di dalam tas di dalam kebingungan. 'Ada apa dengan Pak Cakra? Sepertinya dia sedang sakit.'

"Dapat!" Gadis itu segera menyalakan ponsel.

Cakra langsung sigap menyebutkan nomor yang telah dia hafal di luar kepala.

Aisha langsung berdiri, tetapi tubuhnya terasa terpaku begitu melihat wajah Cakra yang berubah sepucat kertas.

Aisha memperhatikan kulit sang CEO yang membiru, dengan bibir yang juga telah kehilangan warna. Tubuh tinggi itu bergoyang, seperti menara yang kehilangan fondasi!

"Pak ...." Aisha benar-benar tak bisa lagi menahan diri.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 62

    "Lepaskan!" pekik Aisha dengan ekspresi panik saat menarik kembali jarinya. Dia benar-benar merasa malu, sekaligus takut."Hhh!" Cakrawala malah memiringkan bibirnya, dia tersenyum dengan sinis."Apa yang kamu lakukan?" tanya pria itu saat dirinya refleks segera duduk."Ng-nggak ada," jawab Aisha yang masih terlihat gelagapan. Dia buru-buru menggeleng dengan cepat.Tubuh gadis itu bergetar hebat, dengan wajah yang telah memerah seperti tomat. Cakrawala pun tak kuasa menahan senyum, seraya memicingkan mata pada Aisha."Nggak ada, tapi kenapa harus sentuh-sentuh bibirku? Lampunya kamu nyalakan terang pula! Itu sangat mengganggu dan bikin tidur lelapku terbangun!""Em, iya, aku akan matikan lagi," sahut Aisha cepat, sambil berlari kecil ke arah saklar lampu dan segera mematikannya."Kenapa? Bibirku pasti seksi, 'kan? Kamu jadi tergoda dan nggak tahan untuk menyentuhnya," duga Cakrawala dengan penuh percaya diri, sambil menyentuh bibirnya yang kini berubah lembab."Mana ada, Pak?" Aisha l

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 61

    "Nggak masalah. Bunuh aku saja jika perkataanku tadi nggak benar," gumam Cakrawala lirih sambil bangkit dan berlalu dari kamar pengantin, tapi masih dapat didengar sangat jelas oleh telinga Aisha."Apa?! Bunuh?" Aisha merasa ini sangat tak masuk akal. Tanggapan Cakrawala terhadap tuntutan Aisha barusan memanglah berlebihan dan terasa agak bualan. Jika pun benar, itu adalah respon dari seorang pria yang benar-benar jatuh cinta terhadap wanitanya. Aisha merasa hal itu tidaklah mungkin, karena pernikahan kilat dan rahasia ini memang murni untuk kepentingan bisnis yang dapat dibayarkan dengan uang. Sedangkan dia tahu betul, jika cinta tak pernah bisa diukur dengan apa pun, apalagi jika hanya dengan sejumlah uang.Lalu, apakah perkataan Cakrawala harus dia percayai?....Ketika Cakrawala telah merampungkan pekerjaannya, waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia teringat pada Aisha yang kemungkinan besar telah tertidur lelap, jadi pria itu berusaha untuk tak membuat suara saat mema

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 60

    "Pak, bolehkah saya memakan Anda sekarang?!" teriak Aisha yang sedang memancarkan rasa kesalnya sampai puas. Dia menonjok bantal di genggamannya hingga bulu-bulu putih pun terhambur dan terbang.Sebelum itu, kepalanya benar-benar terasa nyaris meledak. Barulah ketika dia berteriak dengan leluasa, rasa menyiksa di kepala gadis itu perlahan-lahan redam.Di dekat kapstok dinding, Cakrawala sontak menghentikan gerakannya, sambil menikmati taburan bulu-bulu putih yang menghujaninya begitu saja."Memakan? Apa kamu mampu?" Cakrawala tersenyum dengan dingin. Dia segera memutar badan dan menghadap Aisha dengan sorot mata menantang."Pak, aku cuma nggak menyangka kalau tujuan Anda mengharuskan saya tidur sekamar dengan Anda hanyalah untuk menyenangkan Nenek Lilly," ujar Aisha sambil menahan kepalanya untuk tetap tegak dan tidak sampai menunduk.Gadis itu juga menajamkan matanya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Cakrawala sekarang. Aisha berpikir, jika lelaki dan perempuan harus setara. D

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 59

    "Tentu saja, Nek. Lihatlah, aku sudah berhasil membujuk cucu menantumu itu untuk tidur di kamarku. Dan malam ini, kami berdua akan memulai untuk tidur bersama," sahut Cakrawala dengan senyum merekah yang tak kalah terlihat hangat.Pada saat ini, Aisha masih bertahan di tempatnya, sambil melebarkan mata dan menutupi mulut dengan kedua telapak tangannya. Gadis itu benar-benar tak tahu harus percaya atau tidak dengan pemandangan nyata di depannya. Yang pasti, dirinya merasa bersalah terhadap Cakrawala karena selalu berprasangka buruk pada suami sahnya sendiri.'Jadi, Pak Cakra membujuk aku itu karena keinginan nenek? Dan dia nggak mau buat neneknya kecewa?' pikir Aisha di dalam hati."Ya Tuhan, kenapa Pak Cakra sangat aneh dan misterius? Aku benaran nggak bisa menebak sikap dia yang sebenarnya," gumam Aisha yang kini telah menutup pintu kamarnya. Gadis itu berjalan menuju ranjang kamar dengan perasaan yang rumit.Ketika Aisha telah merebahkan tubuh dengan segudang misteri, obrolan antar

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 58

    "Akhirnya, kamu menepati janjimu juga!" ujar Cakrawala datar kala melirik sosok wanita muda yang baru saja masuk ke kamarnya. Aisha menghela napas, lalu menyahut, "Tentu saja, Pak. Aku bukan wanita yang suka menye-menye.""Apa benar begitu?" Tanpa disadari, Cakrawala malah menantang Aisha. Hal itu membuat adrenalin Aisha terpacu secara signifikan.Aisha mengencangkan kedua tangan yang tergantung di sisi tubuhnya. Kilat kebencian mulai muncul di kerling mata gadis muda itu."Apa pernyataanku tadi belum cukup meyakinkan?" Aisha mengukuhkan kakinya dengan kekuatan penuh. Dia mulai berani bersikap dingin di hadapan sang suami.Dia benar-benar ingin menjadi wanita yang tangguh, dan tak pernah sudi membiarkan seorang pria menjatuhkan harga dirinya.Menjadi istri rahasia Cakrawala selama hampir dua minggu membuat Aisha mulai beradaptasi dan memahami pola yang berlaku. Gadis itu telah mengerti, suami sahnya selalu memandangnya rendah karena adanya banyak ketimpangan yang jauh di antara merek

  • Diabaikan Keluarga, Diratukan CEO Misterius    Bab 57

    "Hanya maaf katamu?" Cakrawala merasa tak terima. Dia benar-benar merasa sangat terhina. Di hadapan seorang gadis kecil, niat baiknya justru membuat dirinya celaka dan malu."Ya, aku memang salah, Pak," aku Aisha dengan pasrah. Air matanya tumpah begitu saja, tanpa dia tahu apa sebabnya."Dan aku ... benar-benar minta maaf." Aisha hanya menunduk. Sebenarnya, dia ingin menatap mata Cakrawala, tapi ada tangis tak biasa yang menuntut untuk disembunyikan olehnya."Sudahlah. Maaf dari kamu itu nggak berguna. Nggak bisa memperbaiki keadaan bahwa kamu sudah membuat aku malu dan terjatuh ke lantai," gerutu Cakrawala dengan dingin. Dia memutar badan membelakangi Aisha."Baiklah. Aku akan menebus kesalahan itu, Pak. Aku bersedia melakukan apa pun yang Anda minta," kata Aisha dengan seketika.Gadis itu memang tak sengaja, tapi tak bisa membuatnya terlepas dari diri yang memang bersalah. Jadi, dia harus bertanggung jawab dan menebusnya."Bagus," sahut Cakrawala, suaranya lirih. Senyum liciknya t

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status