MasukAisha sedikit berjingkat karena merasa terkejut dan takut. Bibir merah muda wanita itu tergigit dengan keras, hingga dia benar-benar bisa mengingat kembali ucapan sang bos kemarin.
Sementara itu, pandangan Cakra belum berpindah dari mata Aisha, membuat wanita muda itu sulit untuk bernapas di tempatnya. "Cih!" Cakra melipat tangan serta memiringkan bibir dengan sinis. "Baru kesan pertama, tapi Anda sudah nggak bisa menjaganya!" cetus Cakra. Aisha melambaikan tangan saat berkata, "Nggak, Tuan. Eh, maksud saya ... Pak Cakra." Wajah tegang Cakra mengendur, tergantikan dengan senyum kepuasan yang begitu terlihat samar di garis bibir sang CEO. Aisha menekuk wajahnya, hingga merasakan situasi yang tegang kini telah melunak. Barulah gadis itu merasa lega dan berani menatap sekeliling. "Ingat-ingat panggilan itu. Sekarang, ikut saya ke ruangan Anda untuk memulai hari pertama bekerja!" perintah Cakra dengan suara finalnya. Pria itu keluar dari ruangan, lalu membanting pintu dengan keras. Aisha kembali terlonjak karena melihat sikap buruk sang bos. Gadis itu hanya bisa meringis dengan pasrah, mengusap dadanya yang sudah kenyang dengan banyak kejutan di hari pertama bekerja di Pierce Holdings! Cakra tidak memanggil pihak HRD. Pria itu memutuskan untuk terjun langsung agar bisa memantau hasil kerja sekretaris barunya. Cakra berjalan lebih dulu untuk menunjukkan apa yang seharusnya Aisha kerjakan. Aisha tak berbicara lagi. Wanita yang masih berstatus mahasiswi itu berjalan mengikuti sang CEO dengan otak yang berusaha mencatat semua hal yang diperlukan. Sang CEO berhenti tepat di depan pintu ruangan yang atasnya bertuliskan "Executive Assistant - Aisha N. Willow". "Masuklah. Ini ruangan kerja Anda!" Cakra masuk terlebih dahulu. Aisha mengikuti sang CEO dengan patuh. Gadis itu menelan ludah dengan perasaan campur aduk yang tak dimengertinya. Antara takut, gugup, panik, dan ... bangga. Hidung Aisha terasa masam, matanya pun berangsur memanas. Dia terharu dengan pencapaian yang teraih dengan usahanya sendiri. Meskipun baru titik awal, tetapi ini cukup berharga untuk membuktikan kemampuan Aisha di hadapan sang ayah, Silas Willow! Aisha mengerjap ke sekeliling ruangan. Dia memeluk lengannya sendiri dengan ekspresi takjub. Di ujung dinding, jam digital menyala tenang, dengan detik yang terus melaju tanpa bersuara. Karpet biru gelap di bawah kaki Aisha terasa empuk, meredam langkah siapa pun yang menginjaknya. Lorong di depan ruangan terhampar dengan ukuran yang ideal, cukup sunyi untuk membuat para pekerja merasa sedang diawasi, oleh standar yang tak tertulis! Dia menarik napas sekali, menguatkan diri dan meyakinkan diri bahwa ini semua adalah nyata. Bukti bahwa seorang Aisha layak dan mampu untuk mendapatkan pencapaian terbaiknya. Di depan pintu, Cakra berdiri mematung, menyorot setiap inci pergerakan Aisha dengan penuh perhitungan! "Bagaimana? Anda mengerti dengan apa yang saya ucapkan?" Cakra mendekati Aisha yang sedang berdiri memperhatikan sekeliling. "Ya, Pak Cakra," jawab Aisha lugas, yang langsung menghadap ke sumber suara dengan siaga. Ruangan kerja ini benar-benar menyambung langsung dengan ruang kerja sang CEO. Hanya saja, tersekat oleh kaca buram setinggi dada. "Duduklah, dan kenali fasilitas yang perusahaan berikan pada Anda!" Cakra memberikan instruksi dengan suara datar tanpa menoleh pada Aisha. Pria itu berjalan lurus melewati sosok Aisha, menetap di sofa empuk sudut ruangan dan duduk di sana. "Baik, Pak." Aisha segera mengerti, dia duduk tegak di kursi putarnya. Gadis itu mengedarkan pandangan ke objek sekeliling. Begitu minimalis. Begitu fungsional. Nyaris terlalu rapi untuk diri Aisha yang merupakan pekerja baru. Aisha menenangkan diri, mencoba menyentuh meja kerja lebar berwarna abu gelap di hadapannya. "Tenang, Aisha. Meja ini nggak akan menggigit kamu." Aisha menggumamkan kalimat lelucon untuk mencairkan ketegangan. Aisha menggeser tangannya, menyentuh komputer lipat perusahaan yang terkunci oleh fingerprint. Gadis itu menjeda napas, merasakan barang-barang di sekitarnya yang terasa begitu formal. Ketika telah puas menghibur diri, Aisha melanjutkan petualangannya. Dia menelisik dan menyentuh telepon internal khusus eksekutif yang begitu menarik perhatian. Begitu merasa cukup, Aisha yang duduk segera berdiri, menyusuri rak arsip tipis dengan kode warna di sebelah meja kerja. Dari benda-benda itu, Aisha kini mengerti satu fakta. Ruangan ini tidak didesain untuk membuat betah, tetapi untuk orang-orang yang kuat bertahan seperti dirinya! "Sudah cukup." Cakra berdiri dari duduknya, mendekati Aisha yang selalu sigap menoleh pada pria itu. "Sekarang, waktunya Anda untuk bekerja. Kembalilah untuk duduk!" perintah Cakra. "Iya." Aisha yang berdiri segera berbalik ke kursi dan duduk di sana. Cakra berdiri di dekat Aisha, dengan satu tangan yang bertumpu pada meja, dan tangan lain yang bertolak pada pinggang. Di bawah pria itu, Aisha tentu merasa sedikit gugup dan nervous. Gadis muda itu belum pernah sedekat ini dengan seorang pria. Apalagi di waktu sekarang, Aisha telah berinteraksi jarak dekat dengan seorang bos dari perusahaan impiannya! Sementara itu, Cakra juga merasakan hal yang sama. Namun, sang COE berusaha menekan dan mengabaikannya. "Anda akan menyusun jadwal ulang di hari ini, juga memfilter panggilan masuk." Cakra mulai menjelaskan mekanisme kerja Pierce Holdings untuk Aisha. "Baik." Aisha segera memulai bekerja. Jemari panjang nan ramping wanita muda itu lincah bergerak menekan papan huruf, serta sorot mata fokus yang berganti-ganti dari buku catatan pemberian Cakra ke layar komputer lipat. Di tempatnya, Cakra masih berdiri kokoh dengan ketenangan yang tak bersuara. Kilat mata CEO itu begitu jeli dalam memperhatikan setiap jengkal pergerakan sang sekretaris yang memulai bekerja. Hingga akhirnya, tenang itu retak tanpa aba-aba! Dingin yang familiar menusuk tajam ke tengkuk Cakra, menjalar dengan cepat ke seluruh anggota tubuhnya. Napas lelaki itu mulai terasa berat, dengan pandangan yang mengabur hingga berangsur gelap. Dunia seolah menyempit, lalu menarik Cakra ke dalam kehampaan ruang yang tak pernah bisa dipahami. Dia merasakan jemari yang bergetar hebat dan tak lagi bisa ditahan. 'Nggak. Bukan sekarang!' Cakra menjerit parau di dalam hati. Tubuh Cakra mulai goyah, dengan kaki yang mundur selangkah, lalu dua langkah, tanpa persetujuannya. Pria itu sangat tahu dengan tanda-tanda serangan yang datang pada tubuhnya. Tubuh Cakra kini kehilangan suhu panas, denyut nadi pun melambat, dan kesadaran yang terasa menjauh. Cakra segera berbalik, menjauh dari sosok Aisha. "Aisha." Cakra refleks memanggil gadis asing di hadapannya. Suara sang CEO masih terdengar tegas, meski tubuhnya telah berkhianat. "Iya, Pak?" Gadis muda itu menoleh dengan sigap. "Segera ambil ponselmu. Hubungi dokter pribadi saya sekarang. Cepat!" Suara Cakra berubah menjadi lemah. Aisha segera mengambil ponsel miliknya di dalam tas di dalam kebingungan. 'Ada apa dengan Pak Cakra? Sepertinya dia sedang sakit.' "Dapat!" Gadis itu segera menyalakan ponsel. Cakra langsung sigap menyebutkan nomor yang telah dia hafal di luar kepala. Aisha langsung berdiri, tetapi tubuhnya terasa terpaku begitu melihat wajah Cakra yang berubah sepucat kertas. Aisha memperhatikan kulit sang CEO yang membiru, dengan bibir yang juga telah kehilangan warna. Tubuh tinggi itu bergoyang, seperti menara yang kehilangan fondasi! "Pak ...." Aisha benar-benar tak bisa lagi menahan diri."Lebih gila lagi, kamu mengajak kami ramai-ramai untuk berlibur ke Kota Elarion?! Aisha, kamu dan suamimu memang sudah terlewat segalanya!""Terlewat baik hati, terlewat kaya, pokoknya kalian benaran pasangan terbaik yang sama sekali nggak tanggung-tanggung dalam semua hal-hal yang baik."Karena terlalu menggebu-gebu dalam mengungkapkan kegembiraannya, Reya sampai lupa untuk bernapas.Gadis itu sampai terengah-engah dan hampir pingsan karena kehebohannya sendiri.Untungnya, ada Lora yang mau peduli padanya. Meski dengan ekspresi malas, gadis itu tetap membantu Reya untuk mengatur napas dengan baik. Dia juga menyodorkan air putih agar cairan di tubuh Reya tetap stabil.Sementara itu, Aisha dan Cakrawala hanya bisa saling menggenggam tangan dengan hati yang hangat. Menyenangkan banyak orang sudah cukup membuat pasangan muda itu selalu dalam perasaan yang positif.Waktu berangkat berlibur ke Kota Elarion telah tiba. Persiapan sudah dilakukan dengan matang sejak dua hari yang lalu.Pukul
Cakrawala menerima mikrofon dengan gerakan formal. Dia menatap Aisha yang berada di sampingnya, sebelum beralih kepada seluruh tamu yang memenuhi aula. Pria itu memberikan salam pembuka sekadarnya dan permintaan maaf pada semua orang yang hadir. Baru kemudian, dia mulai mengutarakan maksudnya. "Selama satu tahun terakhir, ada satu kenyataan yang sengaja kami simpan." Suasana semakin terasa sunyi. Semua orang menatap pria itu dengan fokus penuh, sampai tak berani untuk bersuara sepatah kata pun. "Saya dan Aisha ... sebenarnya telah resmi menikah sejak satu tahun yang lalu," kata Cakrawala dengan lugas dan tetap tenang. Tatapan terkejut saling beradu dari segala arah. Mereka terlihat saling menoleh dengan tatapan seolah mempertanyakan kebenaran. Cakrawala melanjutkan dengan suara stabil, "Keputusan untuk merahasiakan pernikahan kami, semata-mata bukan karena malu." Dia menoleh pada Aisha. Mereka sama-sama saling beradu senyum yang tipis. "Tetapi karena dari awal, saya me
Aisha langsung diserbu dengan banyak pertanyaan dari segala arah. Namun, semua mendadak musnah ketika seorang pembawa acara mulai mengumumkan jika acara wisuda segera dimulai.Aisha langsung menghela napas lega. Setidaknya, dia terselamatkan dari banyak pertanyaan yang membuatnya pusing.Saat ini, aula utama kampus telah dipenuhi oleh lautan toga hitam yang tersusun rapi. Di balkon, keluarga para wisudawan sudah mulai memenuhi kursi tamu.Alunan musik orkestra mengalun lembut, menambah sakral suasana wisuda yang tengah berlangsung. Di barisan undangan VVIP, Cakrawala duduk berdampingan dengan keluarga Aisha, juga keluarganya. Pria itu menatap lurus ke panggung, tak pernah lepas dari sosok Aisha yang duduk di barisan ketujuh peserta wisuda.Detik berikutnya, pembawa acara segera naik ke podium."Selamat pagi, dan salam sejahtera bagi kita semua."Suara tepuk tangan sontak bergetar memenuhi udara. "Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, Prosesi Wisuda Fakultas Ke
Cakrawala menuntun Aisha untuk masuk ke mobil perlahan-lahan. Begitu mereka berdua telah duduk di jok mobil secara berdampingan dengan tenang, Daniel mulai menyalakan mesin. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya Kota Valemont. Di mobil lain yang cukup besar, Philip menyetirnya dengan baik, dengan posisi tepat di belakang mobil Rolls Royce-Ghost. Mobil itu mengangkut seluruh anggota Keluarga Pierce dan Keluarga Willow.Mereka semua ingin menyaksikan keberhasilan Aisha secara langsung.Tak butuh waktu lama, dua mobil telah sampai di rest area Universitas Internasional Eldenford. Saat turun dari mobil, para panitia wisuda bergerak cepat dan profesional untuk mengarahkan keluarga besar itu ke auditorium yang telah dipersiapkan.Cakrawala selalu setia untuk menuntun Aisha hingga sampai di belakang panggung. Pria itu tak perlu menyembunyikan keberadaan dan kebersamaannya lagi. Karena sebentar lagi, tepat bebarengan dengan dipanggilnya Aisha ke atas panggung, Cakrawala aka
Hari ini, wisuda kelulusan untuk Aisha akan dilaksanakan. Sejak fajar menyingsing, mata gadis itu sudah tak bisa lagi dipejamkan.Dia sudah terbangun dengan kesadaran penuh karena merasa sangat terharu, tak menyangka, bangga, sekaligus antusias.Tadi malam, Aisha dan Cakrawala memang sengaja untuk tidur, sekaligus menghabiskan detik-detik terakhir menjelang wisuda di villa mewah pemberian Silas. Di samping letak villa yang strategis, semua juga agar pikiran Aisha semakin rileks dan bahagia. Cakrawala belum terbangun dari tidurnya. Jadi, Aisha memutuskan untuk membangunkan suaminya pelan-pelan."Pak Cakra, ayo bangun. Ini sudah subuh." Aisha menepuk-nepuk pipi Cakrawala lembut, sampai pria itu bergerak sedikit dan mulai mengeliat."Argh ...." Cakrawala mengerang sedikit, kemudian membuka matanya perlahan-lahan."Sudah pagi, ya?" tanya Cakrawala pelan sambil mulai duduk dan mengucek mata.Aisha menjawab dengan penuh semangat, "Ya, sebentar lagi MUA yang aku pesan kemarin pasti datang.
"Wah, wah, wah. Sepertinya, ada yang baru saja menerima hadiah besar nih karena prestasinya."Lilly yang kembali dengan membawa beberapa piring menu jamuan tiba-tiba ikut bersuara."Nenek, aku dapat villa dari Ayah." Sontak, Aisha langsung melompat dari tempat duduknya.Dia berjalan cepat ke arah Lilly, lalu membantu wanita tua itu meletakkan piring-piring yang telah berisi beragam menu masakan ke atas meja."Aisha, Nenek ikut senang mendengarnya, Sayang." Lilly menahan haru saat Aisha memeluk tubuhnya dengan gerakan spontan."Ya, Nenek. Akhirnya, Tuhan sudah mengabulkan doa-doaku." Aisha mengeratkan pelukannya."Itu memang bagus, Sayang. Kamu sudah terlalu lama berjuang dan bersabar. Mungkin, sekarang saatnya kamu menikmati buah dari kesabaran kamu." Lilly membimbing cucu menantunya untuk duduk kembali di sofa dengan tenang."Hm, makan yang banyak, Nak. Siapkan energi yang besar untuk menyambut hadiah dari suami kamu nanti." Lilly menyodorkan sepiring nasi beserta pelengkap yang tela
Mata indah Aisha berkilat nanar, tubuhnya terasa nyaris ambruk dengan kalimat sang CEO yang baru saja meluncur. Kalimat yang jatuh dengan sempurna. Tanpa pemanis, atau pun filter.Sang CEO melihat perubahan emosi Aisha. Rona kepuasan sedikit menyembul dari mata hitamnya. Senyum samar yang manipulat
"Aku harus bisa keluar dari sini dengan keadaan hidup!"Hanya ada dua kemungkinan di ruang yang kejam ini. Serupa antara hidup dan mati bagi seorang manusia. Entah apa yang membuatnya begitu kuat menghadapi dunia. Ruang yang dingin ini, kini mencekik seorang gadis dalam kesunyian.Aisha Nasywah Wil
Gadis itu merasa sangat khawatir dan iba, hingga insting seorang manusia menggerakkan Aisha untuk menggenggam jemari Cakrawala."Jangan sentuh saya sembarangan!" potong Cakrawala, gemetar. "Tapi ...." Aisha tak benar-benar menggubris perkataan sang CEO. Dia hanya mengikuti kata hati untuk menggeng
Silas hanya bungkam di tempatnya, menahan dada yang terasa panas karena tersulut emosi.Daphne menggulir pandangan mata ke arah sang putri dengan ekspresi tersiksa. Bagaimanapun, Aisha sama dengan Philip di hati Daphne. Melihat satu buah cinta yang bernasib malang, tentu saja membuat hati ibu mana







