مشاركة

Bab 12

مؤلف: Faizal Arjuna
Benar-benar tidak mungkin lagi. Sejak aku melihat sendiri dia dan Chicco berciuman mesra di depan semua orang, sejak aku menuliskan surat perpisahan itu, kami benar-benar sudah berakhir.

"Kamu yakin?" Nindy menatap wajahku yang tetap tenang seperti biasa. Amarah di hatinya sontak padam, lalu entah kenapa dia mulai panik.

Ray adalah suami yang emosinya selalu stabil. Dia bukan belum pernah melihatku dalam keadaan tenang. Namun, ketenanganku hari ini justru membuatnya gelisah. Hatinya hampa, seolah-olah ada sesuatu yang penting hilang begitu saja.

"Mm. Kalau kamu nggak ada urusan lagi, pergilah. Aku sedang cuti."

Aku tidak punya kesabaran untuk terus berurusan dengan Nindy di sini. Setelah meliriknya sekali, aku berniat melewatinya dan pergi.

Namun detik berikutnya, Nindy meraih lenganku. "Tunggu."

Sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman mengejek. Dia berkata dengan nada meremehkan, "Ray, karena kamu yakin, oke, aku setuju. Kita bisa cerai. Senin kita ke pengadilan negeri. Setelah itu, semuanya selesai. Kamu berani datang?"

Nindy menatap mataku tajam setelah mengatakan itu. Dalam hatinya, dia yakin Ray yang sekarang tampak tenang hanya sedang berpura-pura.

Sampai di titik ini pun dia tidak mau mengakui kesalahannya? Berani mengancam pakai kata 'cerai'? Kali ini, dia pasti akan membuat Ray sadar, bahwa cara seperti ini tidak pernah berhasil pada dirinya!

Namun, yang tidak disangka Nindy adalah Ray ternyata masih tetap bertahan. Dia melihat Ray mengangguk tenang, bahkan terlihat lega saat menyetujuinya.

"Bagus kalau kamu setuju. Sampai ketemu Senin nanti." Begitu kalimat itu keluar, aku melepaskan tangan Nindy dan pergi tanpa menoleh. Jalan di depanku terasa sangat terang!

Setelah aku pergi, Nindy masih terpaku di tempat untuk waktu yang lama. "Nggak mungkin ... nggak mungkin .... Ray, kamu sungguh mengira aku nggak tahu isi pikiranmu? Kamu masih pura-pura kuat, mau memaksaku mengalah? Nggak mungkin. Aku nggak pernah mengalah pada siapa pun!"

Nindy bergumam. Pikirannya hampa ketika masuk ke mobil. Saat dia mengangkat kepala dan melihat kantor pemadam kebakaran di depannya, perasaan familier itu justru terasa kurang satu sosok penting.

Seketika, Nindy kembali kehilangan kendali. Bam! Matanya memerah. Dia memukul keras setir mobil.

"Ray, aku sudah memberimu jalan hari ini, tapi kamu sendiri yang menolak. Oke, aku pasti akan membuatmu menyesali semua yang kamu lakukan hari ini!"

Mata Nindy berkilat oleh air mata. Dia hampir menggertakkan giginya saat mengucapkan dua kalimat itu.

Setelah menenangkan diri di mobil selama beberapa saat, dia kembali pada sosoknya yang anggun dan dingin. Dia mengambil ponsel dan menelepon Chicco.

Panggilan segera tersambung. Dari seberang, terdengar suara gembira Chicco. "Nindy, ada apa? Kenapa tiba-tiba telepon?"

"Nggak ada apa-apa. Hanya ... sedikit merindukanmu."

"Hah?" Ucapan itu membuat Chicco tertegun. Setelah sadar, hatinya langsung berbunga-bunga. "Aku juga sangat merindukanmu, Nindy!"

"Mm. Malam ini kamu ada waktu?"

"Ada, tentu ada! Kenapa?"

"Kalau ada waktu, biarkan Andrew menonton kartun sendirian di rumah. Temani aku ke bar minum malam ini, gimana?" Ketika berbicara, bibir merah Nindy terangkat sedikit.

"Nggak masalah!"

"Oke! Aku tunggu kamu!"

Mendengar ajakan ke bar, Chicco langsung bersemangat dan menyetujuinya tanpa pikir panjang, "Oke, aku akan segera ke sana."

Setelah menutup telepon dengan Chicco, Nindy tidak langsung pergi. Dia menelepon asistennya.

"Bu Nindy, ada perintah?"

"Malam ini aku akan ke bar bersama Chicco. Pakai otakmu sedikit, buat Ray bisa melihat aktivitasku. Ngerti?"

"Eh? Oh, ngerti, ngerti!" Asisten itu sempat tertegun, tetapi segera memahami dan mengiakan.

Setelah telepon ditutup, asisten itu menatap riwayat panggilannya dan bergumam dengan heran, "Bu Nindy makin aneh. Mau memprovokasi Pak Ray seperti itu? Apa nggak bahaya?"

Di sisi lain, setelah terbebas dari Nindy, langkahku terasa ringan. Aku berjalan di jalanan sambil memikirkan rencana ke depan.

Gajiku lumayan, tetapi dibandingkan perusahaan besar keluarga Nindy, jelas hanya setetes air. Meskipun begitu, aku membayar 50% untuk membeli rumah vila yang kami tempati dulu dan nama kami berdua tercatat di sertifikat rumah.

Mobil-mobil di rumah semua milik Nindy, tabungan juga tidak ada hubungannya denganku. Mobil dan tabungan itu bisa aku tinggalkan.

Namun, separuh vila itu milikku. Untuk itu, aku menghabiskan semua tabungan hasil bekerja selama bertahun-tahun, bahkan menggadaikan rumah lama orang tuaku agar bisa membelinya.

Kalaupun tidak mendapat uangnya, setidaknya rumah orang tuaku harus kembali padaku. Kalau dipikir-pikir, lima tahun menikah, aku benar-benar keluar tanpa apa-apa.

Tidak masalah. Yang penting aku bisa segera menjauh dari wanita yang tidak mencintaiku itu.

"Tapi sekarang, aku tetap butuh tempat tinggal."

Sisa uang yang kupunya tidak banyak. Rencanaku adalah menginap dua hari di hotel. Namun, melihat respons Nindy yang terlalu cepat tadi, aku rasa masalah ini tidak sesederhana yang terlihat.

Sampai Senin, entah apa lagi yang akan dia lakukan. Proses cerai pun entah berapa lama. Hotel terlalu mahal, jadi lebih baik menyewa rumah.

Aku tetap bekerja di kota ini. Meskipun bercerai, aku tidak akan pulang kampung. Lagi pula, cepat atau lambat aku akan menyewa rumah. Jadi, lebih baik sekarang saja.

Saat sedang berpikir, aku melihat agen properti di pinggir jalan. Aku menarik koper dan masuk. Setelah menjelaskan kebutuhan dan anggaranku, kami langsung mulai melihat rumah.

Tak terasa malam tiba. Aku melihat tiga sampai lima rumah, lalu akhirnya cocok dengan satu apartemen yang memiliki dua kamar. Model, lokasi, dan harga sangat pas. Perabotan lengkap, jadi tinggal bawa koper.

Si agen langsung memanggil pemilik rumah. Setelah kami menandatangani kontrak, aku membayar uang sewa dan deposit, juga biaya agen. Setelah itu, agennya pun pergi.

Pemilik rumah ini adalah seorang wanita paruh baya. Dia belum pergi dan menjelaskan hal-hal seperti pembayaran listrik dan air, serta fasilitas sekitar.

"Terima kasih, Bibi. Aku sudah lama tinggal di kota ini, jadi cukup familier dengan daerah sini."

"Oh? Baguslah. Ray, kamu kerja apa ya?" Bibi itu berhenti berbicara setelah mendengar jawabanku, tetapi matanya terus mengamatiku. Kemudian, dia mencari tahu soal pekerjaanku.

"Hehe, aku petugas pemadam kebakaran."

"Petugas pemadam kebakaran? Wah, bagus sekali! Berarti tubuhmu pasti kuat ya?" Begitu mendengar "petugas pemadam kebakaran", mata bibi itu langsung berbinar, menatapku dengan semakin antusias.

"Ya ... lumayan." Melihat ekspresi antusiasnya itu, ditambah tatapannya yang penuh senyuman, aku langsung merasa agak aneh.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 625

    Aku sama sekali tidak menghiraukannya. Aku tetap menatap Xavian dengan dingin, lalu mencibir."Xavian, apa otakmu rusak? Aku sudah lama cerai dengan wanita ini. Hubungan kami sudah berakhir.""Kamu nggak bisa mengancamku dengan dia.""Bisa. Ray, aku juga nggak pernah melakukan sesuatu yang keterlaluan padamu. Setelah hari itu, aku juga nggak pernah ganggu Shiesta lagi.""Apa sulitnya membiarkan keluargaku pergi?" Wajah Xavian tampak muram. Sorot matanya dipenuhi kebencian."Kalau aku bisa berdiri di sini, berarti semua yang kamu lakukan sudah kuketahui." Ekspresiku tetap datar.Mendengar itu, Xavian menggertakkan gigi. Wajahnya menjadi makin suram. "Jadi memang nggak ada yang bisa dirundingkan?""Bagus! Bagus sekali! Ray, kamu memang kejam. Tapi aku lebih kejam darimu! Kalaupun mati, aku akan menyeretmu ikut mati!"Selesai berbicara, Xavian tiba-tiba mendorong Nindy. Dari balik pakaiannya, dia mengeluarkan sebilah belati. Dengan wajah penuh kegilaan, dia menerjang ke arahku.Aku langsu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 624

    "Mati lagi?"Aku terkejut mendengarnya. Di dalam hati, aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.Para petinggi Grup Wardoyo yang melompat dari gedung karena takut dihukum masih bisa dimengerti. Bagaimanapun juga, seperti yang dikatakan Nicole, kejahatan yang mereka lakukan sangat keji dan cukup untuk membuat mereka mendekam di penjara seumur hidup.Namun, kasus Grup Pariaman tidak separah itu. Sekalipun Winardi ditangkap polisi, hukumannya paling sekitar sepuluh tahun. Apa sampai harus bunuh diri karena takut dihukum?"Ada yang nggak beres. Suruh Nicole dan para elite Grup Ghifari memanfaatkan jaringan intelijen keluarga. Selidiki apa masih ada sesuatu yang disembunyikan Winardi atau ada pihak lain di belakangnya.""Baik." Bella langsung mengangguk. Dia mengeluarkan ponselnya, menghubungi Nicole, lalu menyampaikan perintah Ray.Sementara itu, semua ancaman di Kota Shandro sebenarnya sudah berhasil kuselesaikan. Satu-satunya masalah yang tersisa hanyalah Keluarga Maldini di Kota Oc

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 623

    Aku menepuk bahunya pelan, lalu berkata dengan suara lembut, "Semangat sedikit. Di area pertambangan masih banyak pekerja yang butuh bantuanmu untuk koordinasi.""Aku masih punya urusan yang harus diselesaikan. Untuk sementara, bisa kuserahkan urusan di Kota Shandro kepadamu? Termasuk Grup Wardoyo dan Grup Pariaman."Mendengar itu, mata Nicole membelalak karena terkejut. "Grup Pariaman juga mau kamu tumbangkan?""Ya, semuanya sudah terungkap. Winardi bukan hanya sekongkol dengan para calo untuk menaikkan harga obat, tapi juga melakukan banyak perbuatan kotor lainnya.""Saat ini, di mata sebagian warga Kota Shandro, Farmasi Rising Dragon sudah dianggap sebagai perusahaan kapitalis yang dibenci.""Kalau ingin terus berkembang di Kota Shandro, kita harus menyingkirkan Grup Pariaman, lalu mengungkap seluruh kebenaran kepada publik dan memulihkan nama baik Farmasi Rising Dragon."Mendengar itu, Nicole langsung mengangguk. "Kalau Pak Ray sudah bicara seperti ini, apalagi kamu juga sudah memb

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 622

    "Rising Dragon masih belum cukup kuat. Tapi sekarang, dengan sumber daya dari Keluarga Ghifari di ibu kota, akhirnya aku bisa bergerak tanpa ragu."Mendengar itu, Clara mengangguk mengerti. Entah kenapa, pria yang masih tersenyum santai di hadapannya itu tiba-tiba memancarkan aura seolah ingin menaklukkan dunia.Setelah itu, aku membawa kembali beberapa botol minuman berkualitas. Aku juga mengajak Clara makan bersama kakekku."Ray, selama kamu bisa menerima semua ini, Kakek sudah merasa tenang. Di pihak Grup Ghifari, Kakek sudah mengatur semuanya. Kamu tinggal mengambil alih semuanya sebagai pewaris muda, lalu wujudkan cita-citamu."Kakekku memandangku dengan mata penuh kebanggaan. "Untuk sementara, urusan di ibu kota akan Kakek tahan dulu. Tunggu sampai kamu selesaikan semua urusanmu, lalu kembali secara resmi.""Saat itu, biarkan mereka semua tahu, yang kembali ke Keluarga Ghifari bukanlah seorang anak terlantar dari luar, melainkan seekor naga sejati yang selama ini bersembunyi di k

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 621

    "Hamid pasti salah satunya, 'kan? Lalu Bella, ahli bela diri sehebat itu, apa dia juga termasuk?""Masih ada yang lain. Tokoh-tokoh besar yang tiba-tiba muncul, yang dulu pernah kutolong. Mereka semua juga pengaturan Kakek?"Mendengar itu, kakekku tertegun sesaat, lalu menggeleng. "Bukan. Hanya Hamid yang memang Kakek atur. Sisanya adalah hasil usahamu sendiri."Hanya Hamid. Bisa dibilang, dialah orang pertama yang membawa keberuntungan dalam hidupku. Tanpa Hamid, mustahil aku bisa sampai pada titik ini. Namun, ternyata sejak awal dia sudah tahu identitasku?"Pantas saja Hamid berkali-kali rela mempertaruhkan nyawanya demi melindungiku. Dia membantuku agar bisa naik status? Harga yang dia bayar benar-benar terlalu besar."Aku tersenyum pahit. Otakku segera menyusun kembali semua kejadian, dari masa lalu hingga sekarang. Semua orang, semua peristiwa, bagaimana aku harus menghadapi semuanya mulai sekarang?"Mau gimana kamu menilai, Kakek nggak akan ikut campur. Kakek percaya pada kemampu

  • Diabaikan! Mati Satu, Tumbuh Seribu!   Bab 620

    Mendengar itu, Clara hanya tersenyum misterius, lalu berkata penuh makna,"Nanti setelah kamu bertemu dengan beliau, semuanya akan menjadi jelas."Beliau? Aku makin bingung. Namun, karena sudah telanjur datang, aku tetap mengikuti Clara masuk.Begitu memasuki ruang VIP, hanya ada seorang pria tua yang duduk di dalam. Auranya begitu berwibawa, mengenakan pakaian yang mewah dan elegan."Beliau ini ...?" Aku melirik pria tua itu. Entah kenapa wajahnya terasa sangat familier. Bahkan bisa dibilang ada sedikit kemiripan denganku.Namun, Clara tidak menghiraukanku. Dalam sekejap, sikapnya berubah menjadi penuh hormat."Kakek Ghifari, Ray sudah kubawa.""Terima kasih."Pria tua yang duduk di kursi utama akhirnya memperlihatkan senyuman tipis, lalu melambaikan tangan kepadaku. "Ray, cepat mendekat ke Kakek.""Aku?" Saat itu juga aku benar-benar terkejut. Dengan wajah tak percaya, aku menunjuk diriku sendiri.Pria tua ini juga bermarga Ghifari, bahkan mengaku sebagai kakekku? Jangan-jangan ....

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status